Reinkarnasi Sang Naga

Reinkarnasi Sang Naga

Bab 1: Kematian dan Kebangkitan Sang Naga

​Salju turun dengan lebat di Ibukota Jingcheng, menutupi jalanan yang dingin dengan selimut putih. Namun, rasa dingin dari salju itu tidak sebanding dengan hawa dingin yang menusuk tulang di sebuah gang sempit dan terpencil.

​"Uhuk...!"

​Lin Chen memuntahkan darah hitam, tubuhnya terhuyung dan membentur dinding bata yang kasar. Pakaiannya compang-camping, dipenuhi luka sayatan. Di depannya, berdiri sepasang pria dan wanita yang berpakaian mewah, menatapnya dengan tatapan jijik seolah melihat seekor kecoa yang sekarat.

​"Lin Chen, berhentilah meronta. Terimalah takdirmu sebagai sampah," ucap pria itu sambil tersenyum sinis. Dia adalah Lin Tian, adik tiri yang dulunya selalu bersikap manis dan memanggilnya 'Kakak', namun ternyata adalah ular berbisa yang merancang kejatuhannya.

​Di sebelah Lin Tian, berdiri seorang wanita cantik dengan mantel bulu rubah yang mahal. Dia adalah Ye Mei, wanita yang pernah berjanji akan sehidup semati dengan Lin Chen.

​"Ye Mei... kenapa?" suara Lin Chen serak, matanya merah menatap wanita itu. "Keluarga Lin memberimu segalanya. Aku... memberimu segalanya!"

​Ye Mei tertawa dingin, matanya memancarkan arogansi. "Memberiku segalanya? Kau sekarang hanyalah orang cacat yang meridiannya telah dihancurkan! Kau dibuang dari Keluarga Lin dan dituduh menggelapkan dana perusahaan. Menikah denganmu hanya akan membuatku menjadi bahan tertawaan di seluruh Jingcheng!"

​Tanpa peringatan, Ye Mei melangkah maju. Sebuah belati beracun berwarna kebiruan melesat dari tangannya dan menembus tepat di jantung Lin Chen.

​Jleb!

​Rasa sakit yang tak tertahankan meledak di dada Lin Chen. Kesadarannya mulai memudar. Di detik-detik terakhir hidupnya, ia mendengar tawa mengejek Lin Tian dan Ye Mei.

​Jika ada kehidupan selanjutnya... aku, Lin Chen, bersumpah akan mencabik-cabik kalian dan membuat kalian merasakan penderitaan ribuan kali lipat!

​Kegelapan menelan segalanya.

​Hah!

​Lin Chen membuka matanya dengan terengah-engah. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya secara refleks mencengkeram dadanya.

​Tidak ada belati. Tidak ada darah. Jantungnya berdetak dengan kuat dan normal.

​"Di mana aku...?"

​Ia menatap sekeliling. Alih-alih gang berdarah di Jingcheng, ia kini berada di sebuah kamar mewah yang didominasi warna monokrom. Desainnya sangat rapi, nyaris tanpa sentuhan personal, seperti kamar hotel berbintang.

​Mata Lin Chen tertuju pada jam digital di atas meja nakas. Tanggal yang tertera di sana membuat pupilnya mengecil drastis.

​12 Agustus 2021.

​Lima tahun! Ia telah kembali ke lima tahun yang lalu!

​Ingatan masa lalu mengalir deras ke dalam otaknya. Hari ini adalah hari paling memalukan dalam hidupnya. Hari ini adalah hari di mana ayahnya sendiri menendangnya keluar dari Keluarga Lin dalam keadaan meridian hancur, mengirimnya ke Kota Donghai yang terpencil, dan memaksanya menjadi "suami menumpang" di Keluarga Su.

​Di kehidupan sebelumnya, penghinaan di Kota Donghai inilah yang menghancurkan mentalnya sebelum akhirnya ia diseret kembali ke Ibukota hanya untuk dibunuh secara brutal.

​Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya, menghentikan laju pikirannya.

​[Ding!]

​[Mendeteksi fluktuasi jiwa yang kuat. Persyaratan Reinkarnasi Terpenuhi.]

​[Sistem Penguasa Urban Tertinggi sedang diikat...]

​[10%... 50%... 100%. Binding Sukses!]

​[Status Host: Meridian hancur, fisik sangat lemah (Status: Cacat).]

​[Memberikan Hadiah Pemula: 1x Pil Pembersih Sumsum Dewa, 1x Kitab Medis Sembilan Jarum Misterius.]

​Sistem?

​Lin Chen mengepalkan tangannya. Sebagai mantan Tuan Muda yang cerdas, ia dengan cepat memahami situasinya. Surga tidak hanya memberinya kesempatan kedua untuk hidup, tetapi juga memberinya sebuah kemampuan yang melampaui akal sehat manusia.

​Keluarga Lin, Ye Mei... tunggu aku. Hutang darah harus dibayar dengan darah.

​Cklek.

​Pintu kamar tiba-tiba didorong terbuka. Seorang wanita muda melangkah masuk. Ia mengenakan setelan jas kerja yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Kulitnya seputih salju, fitur wajahnya bagaikan mahakarya pelukis legendaris, namun ekspresinya sedingin es dari kutub utara.

​Dia adalah Su Ruoxue. CEO Grup Kosmetik Su, wanita tercantik di Kota Donghai, dan mulai hari ini... ia adalah istri sahnya di atas kertas.

​"Sudah bangun?" Suara Su Ruoxue sama dinginnya dengan wajahnya. Ia melemparkan sebuah map dokumen ke atas tempat tidur, tepat di pangkuan Lin Chen.

​"Jika sudah bangun, baca aturannya. Pernikahan ini hanya kesepakatan bisnis antara kakekku dan Keluarga Lin. Kau tidak lebih dari sebuah tameng bagiku. Mulai besok, tugasmu adalah membersihkan rumah dan memasak. Jangan pernah berani menyentuh barang-barangku, dan yang paling penting, jangan pernah berani memanggil dirimu sebagai suamiku di depan umum. Apakah kau mengerti?"

​Di kehidupan sebelumnya, Lin Chen yang saat itu masih berada dalam titik terendah kehidupannya—cacat, putus asa, dan kehilangan segalanya—hanya bisa menundukkan kepala, menerima penghinaan itu mentah-mentah.

​Namun kali ini, Lin Chen tidak menunduk. Ia perlahan mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Su Ruoxue.

​Mata itu tidak lagi memancarkan ketakutan atau keputusasaan. Sebaliknya, mata itu dalam bak jurang tak berdasar, memancarkan aura dominasi seorang kaisar yang baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang.

​Melihat tatapan itu, Su Ruoxue tanpa sadar menahan napas. Jantungnya berdebar kencang, sebuah firasat aneh merayapi tulang belakangnya. Ada apa dengan tatapan pria cacat ini? Kenapa dia menatapku seolah-olah aku hanyalah semut di bawah kakinya?

​"Ambil kembali dokumenmu," ucap Lin Chen dengan suara rendah dan tenang.

​"A-apa katamu?" Su Ruoxue mengerutkan kening, mencoba mengembalikan ketenangannya. "Lin Chen, jangan lupa statusmu! Kau bukan lagi Tuan Muda Jingcheng! Di sini, kau hanya menantu yang menumpang. Jika kau tidak mematuhi aturan ini, aku bisa langsung mengusirmu ke jalanan!"

​"Aku tahu siapa aku," Lin Chen menyela. Ia berdiri perlahan dari tempat tidur. Meskipun tubuhnya masih terasa lemah, auranya membuat seluruh ruangan terasa sesak.

​Ia mengambil map dokumen itu dan melemparkannya kembali ke meja dengan santai.

​"Aku, Lin Chen, tidak akan pernah menjadi pelayan siapa pun. Mengenai pernikahan ini, kau menganggapnya sebagai kesepakatan, maka biarlah menjadi kesepakatan. Aku tidak akan mencampuri urusanmu, dan kau... jangan coba-coba memerintahku."

​Su Ruoxue tertegun. Pria ini... apakah ini benar-benar Lin Chen, si "sampah cacat" yang rumornya telah tersebar di seluruh kalangan elit?

​"Kau akan menyesali kesombonganmu ini, Lin Chen!" Su Ruoxue mendengus dingin, memutar tubuhnya dan membanting pintu dengan keras saat ia keluar dari kamar.

​Setelah kepergian wanita itu, keheningan kembali menyelimuti kamar. Lin Chen mengalihkan pandangannya kembali ke udara kosong di depannya.

​"Sistem, ekstrak Pil Pembersih Sumsum Dewa."

​[Ding! Pil Pembersih Sumsum Dewa berhasil diekstraksi.]

​Dalam sekejap, sebuah pil berwarna emas seukuran kelereng muncul di telapak tangan Lin Chen. Aroma obat yang sangat harum langsung memenuhi ruangan, membuat pikiran Lin Chen yang tadinya berat menjadi sangat jernih.

​Tanpa ragu sedikit pun, Lin Chen menelan pil tersebut.

​BUM!

​Detik berikutnya, energi yang luar biasa panas meledak di dalam perutnya bak gunung berapi. Energi itu mengalir ke seluruh pembuluh darahnya, menabrak meridian-meridiannya yang telah hancur dan tersumbat lima tahun lalu.

​"Argh!"

​Lin Chen menggertakkan giginya hingga nyaris retak. Rasa sakitnya seperti tubuhnya sedang dirobek-robek dan dijahit kembali, diulang hingga ribuan kali. Keringat bercampur kotoran berwarna hitam berbau busuk mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Itu adalah racun dari Keluarga Lin dan kotoran duniawi yang selama ini menyumbat potensi tubuhnya.

​Proses itu berlangsung selama satu jam penuh. Ketika rasa sakit itu akhirnya mereda, Lin Chen jatuh terduduk di lantai, terengah-engah, namun matanya bersinar sangat terang.

​Ia mengepalkan tinjunya. Terdengar suara tulang berderak yang renyah. Tenaganya telah kembali! Bukan hanya kembali, fisiknya sekarang terasa sepuluh kali lebih kuat daripada saat ia berada di puncak masa kejayaannya sebelum dilumpuhkan!

​[Ding!]

​[Meridian berhasil diperbaiki dan diperkuat.]

​[Host telah melangkah ke Tahap Awal Seniman Bela Diri Tingkat Bumi!]

​Sebuah senyum dingin dan mematikan tersungging di sudut bibir Lin Chen. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan kotoran hitam di tubuhnya, membiarkan air dingin mengguyur kepalanya.

​"Keluarga Su menganggapku sebagai tameng... Keluarga Lin menganggapku sebagai sampah yang sudah mati..." Lin Chen menatap pantulan dirinya di cermin, matanya menajam.

​"Mulai hari ini, aku akan membalikkan langit Kota Donghai!"

Episodes
1 Bab 1: Kematian dan Kebangkitan Sang Naga
2 Bab 2: Tamparan Pertama Sang Naga
3 Bab 3: Mata Emas dan Harta Karun yang Tersembunyi
4 Bab 4: Kesetiaan yang Terukir dalam Darah
5 Bab 5: Jarum Dewa dan Hancurnya Rapat Direksi
6 Bab 6: Keajaiban Medis
7 Bab 7: Bayangan Naga di Bawah Rembulan
8 Bab 8: Pergeseran Hati sang Ratu Es
9 Bab 9: Setelan Jas dan Bayangan Gelap di Perjamuan
10 Bab 10: Benturan Energi dan Kartu As sang Naga
11 Bab 11: Retakan pada Vas Porselen dan Undangan Kematian
12 Bab 12: Kapal Pesiar Naga Hitam dan Lelang Kematian
13 Bab 13: Teh yang Belum Dingin dan Kematian Sang Grandmaster
14 Bab 14: Teror Tengah Malam
15 Bab 15: Rahasia Sang Kakek dan Lahirnya Paviliun Naga
16 Bab 16: Tiga Utusan Bayangan dan Sisik Terbalik Sang Naga
17 Bab 17: Pembersihan Darah
18 Bab 18: Ekspedisi Darah ke Pegunungan Kunlun
19 Bab 19: Guncangan di Dunia Bela Diri
20 Bab 20: Tiba di Jinling
21 Bab 21: Jarum Pembelah Kematian
22 Bab 22: Pameran Jinling
23 Bab 23: Malam Hujan di Jinling
24 Bab 24: Kepulangan Sang Naga
25 Bab 25: Kedalaman Air Ibukota
26 Bab 26: Pasar Gelap Bulan Darah
27 Bab 27: Lengan yang Terlahir Kembali
28 Bab 28: Panggung Berdarah di Pabrik Baja
29 Bab 29: Kematian Sang Langit
30 Bab 30: Fajar Pemulihan
31 Bab 31: Jaring Laba-laba Ibukota
32 Bab 32: Jenderal Tua di Ujung Telepon
33 Bab 33: Runtuhnya Perisai Besi
34 Bab 34: Altar Darah
35 Bab 35: Kabut Darah di Gunung Barat
36 Bab 36: Iblis Asura
37 Bab 37: Takhta Sang Ratu
38 Bab 38: Silinder Perunggu Kuno
39 Bab 39: Angin Kunlun
40 Bab 40: Teratai Es dan Taktik Sang Pengintai
41 Bab 41: Jarum Penyelamat
42 Bab 42: Labirin Ilusi
43 Bab 43: Amukan Buas dan Terbukanya Gerbang Makam Bintang
44 Bab 44: Tarian Kematian
45 Bab 45: Tumbal Darah dan Runtuhnya Gerbang Bintang
46 Bab 46: Domain Penelan Surga
47 Runtuhnya Makam Bintang
48 Bab 48: Enam Bayangan Berdarah
49 Bab 49: Badai Salju Buatan dan Jarum Pembeku Neraka
50 Bab 50: Maklumat Raja Bela Diri
51 Bab 51: Tabib Sakit-sakitan
52 Bab 52: Badai Salju Changbai
53 Bab 53: Tirani Tenda Merah
54 Bab 54: Jarum Penunda Kematian
55 Bab 55: Rahang Kehancuran
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Bab 1: Kematian dan Kebangkitan Sang Naga
2
Bab 2: Tamparan Pertama Sang Naga
3
Bab 3: Mata Emas dan Harta Karun yang Tersembunyi
4
Bab 4: Kesetiaan yang Terukir dalam Darah
5
Bab 5: Jarum Dewa dan Hancurnya Rapat Direksi
6
Bab 6: Keajaiban Medis
7
Bab 7: Bayangan Naga di Bawah Rembulan
8
Bab 8: Pergeseran Hati sang Ratu Es
9
Bab 9: Setelan Jas dan Bayangan Gelap di Perjamuan
10
Bab 10: Benturan Energi dan Kartu As sang Naga
11
Bab 11: Retakan pada Vas Porselen dan Undangan Kematian
12
Bab 12: Kapal Pesiar Naga Hitam dan Lelang Kematian
13
Bab 13: Teh yang Belum Dingin dan Kematian Sang Grandmaster
14
Bab 14: Teror Tengah Malam
15
Bab 15: Rahasia Sang Kakek dan Lahirnya Paviliun Naga
16
Bab 16: Tiga Utusan Bayangan dan Sisik Terbalik Sang Naga
17
Bab 17: Pembersihan Darah
18
Bab 18: Ekspedisi Darah ke Pegunungan Kunlun
19
Bab 19: Guncangan di Dunia Bela Diri
20
Bab 20: Tiba di Jinling
21
Bab 21: Jarum Pembelah Kematian
22
Bab 22: Pameran Jinling
23
Bab 23: Malam Hujan di Jinling
24
Bab 24: Kepulangan Sang Naga
25
Bab 25: Kedalaman Air Ibukota
26
Bab 26: Pasar Gelap Bulan Darah
27
Bab 27: Lengan yang Terlahir Kembali
28
Bab 28: Panggung Berdarah di Pabrik Baja
29
Bab 29: Kematian Sang Langit
30
Bab 30: Fajar Pemulihan
31
Bab 31: Jaring Laba-laba Ibukota
32
Bab 32: Jenderal Tua di Ujung Telepon
33
Bab 33: Runtuhnya Perisai Besi
34
Bab 34: Altar Darah
35
Bab 35: Kabut Darah di Gunung Barat
36
Bab 36: Iblis Asura
37
Bab 37: Takhta Sang Ratu
38
Bab 38: Silinder Perunggu Kuno
39
Bab 39: Angin Kunlun
40
Bab 40: Teratai Es dan Taktik Sang Pengintai
41
Bab 41: Jarum Penyelamat
42
Bab 42: Labirin Ilusi
43
Bab 43: Amukan Buas dan Terbukanya Gerbang Makam Bintang
44
Bab 44: Tarian Kematian
45
Bab 45: Tumbal Darah dan Runtuhnya Gerbang Bintang
46
Bab 46: Domain Penelan Surga
47
Runtuhnya Makam Bintang
48
Bab 48: Enam Bayangan Berdarah
49
Bab 49: Badai Salju Buatan dan Jarum Pembeku Neraka
50
Bab 50: Maklumat Raja Bela Diri
51
Bab 51: Tabib Sakit-sakitan
52
Bab 52: Badai Salju Changbai
53
Bab 53: Tirani Tenda Merah
54
Bab 54: Jarum Penunda Kematian
55
Bab 55: Rahang Kehancuran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!