Bab 5: Jarum Dewa dan Hancurnya Rapat Direksi

​Di dalam Presidential Suite Hotel Grand Donghai yang mewah, Paman Bai duduk bersila di atas ranjang king-size dengan tubuh telanjang dada. Luka-luka sayatan lama dan memar ungu menutupi kulitnya yang keriput, menceritakan penderitaan luar biasa yang ia alami selama lima tahun terakhir demi melindungi Lin Chen.

​Lin Chen berdiri di belakangnya, wajahnya sangat serius. Di atas meja di sebelahnya, terdapat set Jarum Perak murni yang baru saja ia beli, serta mangkuk giok berisi cairan kental berwarna merah keemasan hasil ekstraksi Teratai Salju Tianshan dan Lingzhi Darah.

​"Paman Bai, tahan sedikit. Proses penyambungan meridian ini akan terasa seperti ditusuk ribuan semut," ucap Lin Chen pelan.

​"Lakukan saja, Tuan Muda. Tulang tua ini sudah terbiasa dengan rasa sakit," jawab Paman Bai dengan senyum tegar, meskipun matanya masih memancarkan keraguan. Ia tahu meridiannya telah hancur total; bahkan Tabib Dewa di Ibukota pun tidak bisa menyembuhkannya.

​Lin Chen menarik napas panjang. Matanya seketika berubah tajam. Ia mengaktifkan pengetahuan dari [Kitab Medis Sembilan Jarum Misterius].

​Sring!

​Tangan kanan Lin Chen bergerak secepat kilat. Tiga jarum perak menyambar ke tiga titik akupuntur mematikan di punggung Paman Bai: Titik Baihui, Titik Mingmen, dan Titik Yongquan.

​Ini adalah Teknik Jarum Pembakar Langit, sebuah teknik medis legendaris yang telah hilang selama ribuan tahun!

​Begitu jarum-jarum itu menancap, energi Qi yang hangat dari tubuh Lin Chen mengalir melalui jarum dan masuk ke tubuh Paman Bai. Pria tua itu seketika melebarkan matanya. Ia bisa merasakan aliran energi yang luar biasa panas menyapu sumbatan di meridiannya yang telah mati.

​Lin Chen tidak berhenti. Jarum keempat, kelima, hingga kesembilan meluncur dengan presisi sempurna.

​"Argh!" Paman Bai memuntahkan seteguk darah hitam berbau busuk ke lantai.

​Namun, alih-alih melemah, napas pria tua itu justru menjadi panjang dan kuat. Kulitnya yang pucat dan keriput perlahan memerah dan mengencang. Esensi obat dari Teratai Salju dan Lingzhi Darah dengan rakus diserap oleh sel-sel tubuhnya.

​BUM!

​Sebuah gelombang udara yang kasat mata meledak dari tubuh Paman Bai, membuat tirai hotel berkibar kencang.

​Mata Paman Bai terbuka lebar, memancarkan kilau tajam bak pedang yang baru diasah. Ia mengepalkan tangan kanannya, merasakan kekuatan yang sudah lima tahun hilang kini kembali mengalir deras di pembuluh darahnya.

​"Tingkat Bumi... Tuan Muda, kultivasi saya... kultivasi saya pulih!" Paman Bai turun dari ranjang dan langsung berlutut, menangis tersedu-sedu. "Teknik medis Tuan Muda menembus surga! Hamba yang tidak berguna ini mendapatkan kehidupan kedua!"

​Lin Chen tersenyum tipis dan membantu pria tua itu berdiri. "Ini belum seberapa, Paman. Lengan kirimu yang buntung memang belum bisa kutumbuhkan sekarang, tapi begitu kekuatanku mencapai Tahap Grandmaster, aku akan mencari bahan obat surgawi untuk meregenerasi tulang dan dagingmu."

​Mata Paman Bai membelalak. Meregenerasi anggota tubuh? Itu adalah wilayah para Dewa! Namun menatap mata Tuan Mudanya yang penuh keyakinan, Paman Bai tahu Lin Chen tidak sedang membual. Sang Naga benar-benar telah terbangun!

​"Sekarang, Paman beristirahatlah di sini untuk menstabilkan Qi. Ada urusan kecil yang harus kuselesaikan," ucap Lin Chen, mengalihkan pandangannya ke sisa ekstrak herbal di atas meja.

​Ia mencampurkan sisa Teratai Salju, sedikit bubuk Mutiara Hitam, dan beberapa herbal penyejuk ke dalam sebuah wadah porselen kecil. Menggunakan Qi-nya untuk mencampur bahan-resep rahasia dari sistem, cairan itu mengkristal menjadi krim berwarna putih susu yang memancarkan aroma bunga yang sangat menyegarkan.

​Krim Awet Muda.

​Produk yang bisa menghilangkan bekas luka, memutihkan, dan mengencangkan kulit hanya dalam hitungan menit. Di dunia kosmetik modern, ini adalah senjata pemusnah massal.

​"Keluarga Zhao ingin menghancurkan Grup Su? Mari kita lihat siapa yang akan hancur hari ini," gumam Lin Chen dingin, lalu melangkah keluar dari kamar hotel.

​Sementara itu, di Gedung Pusat Grup Kosmetik Su.

​Suasana di ruang rapat dewan direksi sangat mencekam. Su Ruoxue, yang mengenakan setelan bisnis hitam, duduk di kursi direktur utama dengan wajah pucat pasi. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia belum tidur sama sekali.

​Di sekeliling meja oval, belasan pemegang saham menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh tekanan.

​Di kursi tepat di sebelah kanannya, duduk seorang pria paruh baya bertubuh gemuk dengan cerutu di tangan. Ia adalah Direktur Li, pemegang saham terbesar kedua setelah Keluarga Su.

​"Presiden Su, mari kita berhenti membuang waktu," ucap Direktur Li sambil mengetukkan jarinya ke meja. "Tiga pemasok bahan baku utama kita, Grup Huaxing, Grup Tianyao, dan Pemasok Chen, semuanya membatalkan kontrak sepihak pagi ini. Gudang produksi kita kosong. Saham kita anjlok 15% sejak bursa dibuka!"

​Su Ruoxue menggigit bibir bawahnya. "Direktur Li, kita semua tahu ini adalah sabotase dari Keluarga Zhao! Zhao Tian sengaja menekan para pemasok itu untuk mencekik kita!"

​"Lalu kenapa?!" bantah seorang pemegang saham lain dengan keras. "Bisnis adalah soal hasil, bukan alasan! Keluarga Zhao bersedia memompa dana 100 juta Yuan dan mengembalikan rantai pasokan kita. Syaratnya hanya satu: Anda harus menjual 40% saham Anda kepada Tuan Muda Zhao dan... menuruti permintaan pribadinya."

​"Itu pemerasan!" Su Ruoxue menggebrak meja, matanya memerah karena marah. "Kakekku membangun perusahaan ini dari nol! Aku tidak akan pernah menyerahkannya kepada bajingan seperti Zhao Tian!"

​"Kalau begitu, nona muda yang keras kepala, kami yang akan bertindak," Direktur Li tersenyum licik. Ia melempar sebuah dokumen ke tengah meja. "Sesuai undang-undang perusahaan, jika CEO menyebabkan kerugian masif dan gagal menyelesaikan krisis dalam 24 jam, pemegang saham berhak melakukan mosi tidak percaya. Tanda tangani surat pengunduran dirimu, serahkan posisimu, dan biarkan kami menjual perusahaan ini pada Keluarga Zhao!"

​"Benar! Mundur!"

"Gara-gara kesombonganmu, uang kami hangus!"

"Ceraikan saja suami sampahmu itu dan menikahlah dengan Zhao Tian, apa susahnya?!"

​Suara-suara makian dan desakan dari para pemegang saham menghantam Su Ruoxue dari segala penjuru. Ia merasa seolah langit runtuh menimpanya. Ia sendirian. Keluarga Su yang lain hanya peduli pada uang, tidak ada yang membelanya.

​Apakah ini akhirnya? Apakah ia harus menyerahkan warisan kakeknya pada lintah darat seperti Keluarga Zhao?

​Air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk mata Su Ruoxue. Tangannya bergetar saat ia meraih pena untuk menandatangani surat pengunduran diri tersebut.

​BRAAAK!

​Pintu ganda ruang rapat tiba-tiba ditendang hingga terbuka lebar, menghantam dinding dengan suara dentuman yang memekakkan telinga.

​Semua orang di ruangan itu tersentak dan menoleh ke arah pintu.

​Seorang pemuda berpostur tegap, mengenakan kemeja putih sederhana dengan tangan di dalam saku, melangkah masuk dengan langkah santai namun memancarkan aura dominasi absolut.

​Matanya menyapu seluruh ruangan bak pedang es, membuat suhu di ruang rapat seolah turun drastis.

​"Siapa yang berani memaksa istriku untuk mundur?"

​Suara itu terdengar datar, namun bergema di telinga setiap orang di sana seperti petir di siang bolong.

​Su Ruoxue melebarkan matanya tak percaya. "L-Lin Chen? Apa yang kau lakukan di sini?!"

​Ini adalah perusahaan. Lin Chen tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di sini sebelumnya. Pemegang saham lain saling berpandangan, bingung melihat pria asing yang tiba-tiba mengklaim Su Ruoxue sebagai istrinya.

​Direktur Li mengerutkan kening. Ia tiba-tiba teringat rumor tentang "suami sampah" dari Ibukota.

​"Oh, jadi kau adalah Lin Chen? Anjing cacat buangan dari Ibukota itu?" Direktur Li mendengus meremehkan, lalu menggebrak meja. "Satpam! Kenapa sampah ini bisa masuk?! Seret dia keluar!"

​Namun, tidak ada satpam yang datang. Jika Direktur Li melihat ke luar pintu, ia akan melihat empat penjaga keamanan bertubuh besar sedang terkapar pingsan di koridor.

​Lin Chen mengabaikan teriakan Direktur Li. Ia berjalan santai menghampiri meja Su Ruoxue. Matanya melirik surat pengunduran diri yang siap ditandatangani. Tanpa ragu, Lin Chen mengambil kertas itu, merobeknya menjadi dua, lalu membuangnya ke wajah Direktur Li.

​"Kau—!" Direktur Li berdiri dengan murka.

​"Tutup mulut anjingmu," potong Lin Chen dingin, auranya meledak dan menekan Direktur Li hingga pria gemuk itu tanpa sadar jatuh kembali ke kursinya, berkeringat dingin.

​Lin Chen menatap Su Ruoxue yang masih tertegun, lalu tersenyum tipis yang entah mengapa membuat hati Su Ruoxue terasa sedikit tenang.

​"Tidak ada yang bisa merampas apa pun darimu selama aku ada di sini, Ruoxue," ucap Lin Chen. Ia berbalik menghadapi para pemegang saham yang melotot ke arahnya.

​"Kalian panik karena beberapa pemasok rongsokan memutus kontrak? Kalian ingin menjual perusahaan karena takut bangkrut?" Lin Chen tertawa sinis, merogoh sakunya dan meletakkan wadah porselen kecil di atas meja.

​"Buka mata kalian lebar-lebar. Mulai hari ini, Grup Kosmetik Su tidak butuh pemasok bahan kimia sampah itu lagi. Dengan formula di dalam wadah ini, kita akan memonopoli pasar kosmetik, tidak hanya di Jiangnan, tapi di seluruh Tiongkok!"

​Ruangan itu hening sesaat, lalu meledak dalam tawa mengejek.

​"Hahahaha! Apa orang cacat ini sudah gila?"

"Formula? Sebuah guci kecil rongsokan yang dibeli dari pasar loak bisa memonopoli pasar Tiongkok?"

"Su Ruoxue, suamimu benar-benar badut!"

​Bahkan Su Ruoxue merasa wajahnya memerah karena malu. "Lin Chen, tolong jangan membuat masalah. Ini bukan tempat untuk bermain-main! Produk kosmetik membutuhkan uji klinis dan bahan baku massal, bukan sekadar—"

​"Aku tidak butuh orang percaya pada kata-kataku," potong Lin Chen, matanya menatap tajam ke seorang sekretaris wanita paruh baya di sudut ruangan. Wajah sekretaris itu dipenuhi bekas luka bakar parah di pipi kirinya akibat kecelakaan belasan tahun lalu.

​"Kau," Lin Chen menunjuk sekretaris itu. "Maju ke sini. Mari kita biarkan fakta yang menampar wajah anjing-anjing ini."

Terpopuler

Comments

Arinto Ario Triharyanto

Arinto Ario Triharyanto

yoiii lanjutken..😎

2026-08-13

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kematian dan Kebangkitan Sang Naga
2 Bab 2: Tamparan Pertama Sang Naga
3 Bab 3: Mata Emas dan Harta Karun yang Tersembunyi
4 Bab 4: Kesetiaan yang Terukir dalam Darah
5 Bab 5: Jarum Dewa dan Hancurnya Rapat Direksi
6 Bab 6: Keajaiban Medis
7 Bab 7: Bayangan Naga di Bawah Rembulan
8 Bab 8: Pergeseran Hati sang Ratu Es
9 Bab 9: Setelan Jas dan Bayangan Gelap di Perjamuan
10 Bab 10: Benturan Energi dan Kartu As sang Naga
11 Bab 11: Retakan pada Vas Porselen dan Undangan Kematian
12 Bab 12: Kapal Pesiar Naga Hitam dan Lelang Kematian
13 Bab 13: Teh yang Belum Dingin dan Kematian Sang Grandmaster
14 Bab 14: Teror Tengah Malam
15 Bab 15: Rahasia Sang Kakek dan Lahirnya Paviliun Naga
16 Bab 16: Tiga Utusan Bayangan dan Sisik Terbalik Sang Naga
17 Bab 17: Pembersihan Darah
18 Bab 18: Ekspedisi Darah ke Pegunungan Kunlun
19 Bab 19: Guncangan di Dunia Bela Diri
20 Bab 20: Tiba di Jinling
21 Bab 21: Jarum Pembelah Kematian
22 Bab 22: Pameran Jinling
23 Bab 23: Malam Hujan di Jinling
24 Bab 24: Kepulangan Sang Naga
25 Bab 25: Kedalaman Air Ibukota
26 Bab 26: Pasar Gelap Bulan Darah
27 Bab 27: Lengan yang Terlahir Kembali
28 Bab 28: Panggung Berdarah di Pabrik Baja
29 Bab 29: Kematian Sang Langit
30 Bab 30: Fajar Pemulihan
31 Bab 31: Jaring Laba-laba Ibukota
32 Bab 32: Jenderal Tua di Ujung Telepon
33 Bab 33: Runtuhnya Perisai Besi
34 Bab 34: Altar Darah
35 Bab 35: Kabut Darah di Gunung Barat
36 Bab 36: Iblis Asura
37 Bab 37: Takhta Sang Ratu
38 Bab 38: Silinder Perunggu Kuno
39 Bab 39: Angin Kunlun
40 Bab 40: Teratai Es dan Taktik Sang Pengintai
41 Bab 41: Jarum Penyelamat
42 Bab 42: Labirin Ilusi
43 Bab 43: Amukan Buas dan Terbukanya Gerbang Makam Bintang
44 Bab 44: Tarian Kematian
45 Bab 45: Tumbal Darah dan Runtuhnya Gerbang Bintang
46 Bab 46: Domain Penelan Surga
47 Runtuhnya Makam Bintang
48 Bab 48: Enam Bayangan Berdarah
49 Bab 49: Badai Salju Buatan dan Jarum Pembeku Neraka
50 Bab 50: Maklumat Raja Bela Diri
51 Bab 51: Tabib Sakit-sakitan
52 Bab 52: Badai Salju Changbai
53 Bab 53: Tirani Tenda Merah
54 Bab 54: Jarum Penunda Kematian
55 Bab 55: Rahang Kehancuran
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Bab 1: Kematian dan Kebangkitan Sang Naga
2
Bab 2: Tamparan Pertama Sang Naga
3
Bab 3: Mata Emas dan Harta Karun yang Tersembunyi
4
Bab 4: Kesetiaan yang Terukir dalam Darah
5
Bab 5: Jarum Dewa dan Hancurnya Rapat Direksi
6
Bab 6: Keajaiban Medis
7
Bab 7: Bayangan Naga di Bawah Rembulan
8
Bab 8: Pergeseran Hati sang Ratu Es
9
Bab 9: Setelan Jas dan Bayangan Gelap di Perjamuan
10
Bab 10: Benturan Energi dan Kartu As sang Naga
11
Bab 11: Retakan pada Vas Porselen dan Undangan Kematian
12
Bab 12: Kapal Pesiar Naga Hitam dan Lelang Kematian
13
Bab 13: Teh yang Belum Dingin dan Kematian Sang Grandmaster
14
Bab 14: Teror Tengah Malam
15
Bab 15: Rahasia Sang Kakek dan Lahirnya Paviliun Naga
16
Bab 16: Tiga Utusan Bayangan dan Sisik Terbalik Sang Naga
17
Bab 17: Pembersihan Darah
18
Bab 18: Ekspedisi Darah ke Pegunungan Kunlun
19
Bab 19: Guncangan di Dunia Bela Diri
20
Bab 20: Tiba di Jinling
21
Bab 21: Jarum Pembelah Kematian
22
Bab 22: Pameran Jinling
23
Bab 23: Malam Hujan di Jinling
24
Bab 24: Kepulangan Sang Naga
25
Bab 25: Kedalaman Air Ibukota
26
Bab 26: Pasar Gelap Bulan Darah
27
Bab 27: Lengan yang Terlahir Kembali
28
Bab 28: Panggung Berdarah di Pabrik Baja
29
Bab 29: Kematian Sang Langit
30
Bab 30: Fajar Pemulihan
31
Bab 31: Jaring Laba-laba Ibukota
32
Bab 32: Jenderal Tua di Ujung Telepon
33
Bab 33: Runtuhnya Perisai Besi
34
Bab 34: Altar Darah
35
Bab 35: Kabut Darah di Gunung Barat
36
Bab 36: Iblis Asura
37
Bab 37: Takhta Sang Ratu
38
Bab 38: Silinder Perunggu Kuno
39
Bab 39: Angin Kunlun
40
Bab 40: Teratai Es dan Taktik Sang Pengintai
41
Bab 41: Jarum Penyelamat
42
Bab 42: Labirin Ilusi
43
Bab 43: Amukan Buas dan Terbukanya Gerbang Makam Bintang
44
Bab 44: Tarian Kematian
45
Bab 45: Tumbal Darah dan Runtuhnya Gerbang Bintang
46
Bab 46: Domain Penelan Surga
47
Runtuhnya Makam Bintang
48
Bab 48: Enam Bayangan Berdarah
49
Bab 49: Badai Salju Buatan dan Jarum Pembeku Neraka
50
Bab 50: Maklumat Raja Bela Diri
51
Bab 51: Tabib Sakit-sakitan
52
Bab 52: Badai Salju Changbai
53
Bab 53: Tirani Tenda Merah
54
Bab 54: Jarum Penunda Kematian
55
Bab 55: Rahang Kehancuran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!