Bab 4: Kesetiaan yang Terukir dalam Darah

​Meninggalkan Pasar Antik Jiulong, Lin Chen berjalan menyusuri trotoar dengan langkah tenang. Modal awal sebesar 54 juta Yuan sudah ada di tangannya. Kini, prioritas utamanya adalah memulihkan fondasi kekuatannya secara utuh dan membangun pasukan.

​"Meskipun Pil Pembersih Sumsum Dewa telah memulihkan meridianku ke Tahap Awal Tingkat Bumi, tubuh fisikku masih belum cukup kuat untuk menampung energi Qi yang besar," gumam Lin Chen. "Aku butuh ramuan obat tradisional dengan usia ratusan tahun untuk menstabilkannya."

​Selain itu, ia juga ingat bahwa perusahaan istrinya, Grup Kosmetik Su, sedang berada di ambang kebangkrutan karena krisis bahan baku yang didalangi oleh Keluarga Zhao. Sebagai Tuan Muda yang pernah menguasai industri farmasi dan kecantikan di Ibukota, masalah ini hanyalah permainan anak-anak baginya.

​Ia bisa meracik "Pil Awet Muda"—sebuah resep kuno dari Kitab Medis Sembilan Jarum Misterius—untuk menghancurkan pasar kosmetik modern dan menjadikan Su Ruoxue sebagai Ratu Bisnis di Jiangnan.

​Tujuan Lin Chen saat ini adalah Baozhitang (Aula Ratusan Obat), apotek pengobatan tradisional Tiongkok terbesar dan paling bergengsi di Kota Donghai.

​Dua puluh menit kemudian, taksi yang ditumpangi Lin Chen berhenti di depan sebuah bangunan megah berarsitektur Tiongkok kuno. Aroma herbal yang pekat menguar dari dalam gedung.

​Namun, saat Lin Chen hendak melangkah melewati ambang pintu, langkahnya terhenti. Matanya tertuju pada sebuah keributan di area pelataran toko.

​Seorang pria tua berpakaian compang-camping tampak berlutut di lantai pualam. Rambutnya beruban dan acak-acakan. Lengan kiri bajunya kosong, melambai tertiup angin, sementara kaki kanannya tampak cacat. Pria tua itu sedang memohon pada seorang pelayan toko muda yang menatapnya dengan jijik.

​"Tuan, saya mohon... jual sisa-sisa akar ginseng merah itu kepada saya. Saya hanya punya 500 Yuan, ini semua tabungan saya. Cucu angkat saya sedang sakit parah, dia butuh obat itu..." suara pria tua itu bergetar parau, batuk darah sesekali menyelingi kalimatnya.

​Pelayan muda itu mendengus sinis. "500 Yuan? Kau pikir ini panti sosial?! Akar ginseng merah ini bernilai 5.000 Yuan! Pergi sana, pengemis tua! Kau membuat pelanggan VIP kami jijik dengan bau busukmu!"

​Tanpa belas kasihan, pelayan itu mengangkat kakinya dan menendang dada pria tua itu dengan keras.

​Brak!

​Pria tua cacat itu terpental mundur dan berguling di lantai. Tabung bambu kecil berisi uang receh dan uang kertas lusuh miliknya jatuh berserakan di tanah.

​Melihat pemandangan itu, tubuh Lin Chen membeku. Jantungnya seolah ditusuk oleh ribuan jarum. Matanya yang biasanya setenang air danau kini memerah, memancarkan niat membunuh yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa turun di bawah titik beku.

​Pria tua itu... bekas luka sabetan pedang di pipi kanannya, postur tubuhnya, wajahnya...

​Paman Bai!

​Ingatan dari kehidupan masa lalu membanjiri benak Lin Chen bagai kaset rusak. Bai Feng, sang Pengawal Bayangan Keluarga Lin. Di malam pengkhianatan itu, ketika ibu tiri dan adik tirinya mengirim lima Grandmaster untuk membunuh Lin Chen, Paman Bai-lah yang berdiri di depan.

​Pria tua ini membakar esensi darahnya, mengorbankan lengan kiri dan seluruh kultivasi bela dirinya hanya untuk membuka jalan darah agar Lin Chen bisa melarikan diri ke Kota Donghai.

​Setelah Lin Chen dibuang, Paman Bai menyusulnya dalam diam, hidup di daerah kumuh Donghai sambil memungut sampah hanya untuk diam-diam mengirimkan makanan dan obat-obatan ke kediaman Keluarga Su agar Lin Chen tidak mati kelaparan. Di kehidupan sebelumnya, Paman Bai meninggal kedinginan di jalanan, sebuah fakta yang baru Lin Chen ketahui saat ia diseret kembali ke Ibukota untuk dieksekusi.

​"Hei anjing tua, kubilang cepat menyingkir!" Pelayan toko itu tidak puas. Ia melangkah maju, mengangkat tongkat kayu untuk memukul kepala Paman Bai.

​Namun, sebelum tongkat itu turun, sebuah tangan seperti cakar naga mencengkeram leher pelayan itu dari belakang.

​"Kau... berani menyentuhnya?"

​Suara itu terdengar seperti bisikan iblis dari neraka tingkat kedelapan belas.

​Pelayan itu meronta, matanya melotot saat tubuhnya diangkat ke udara hanya dengan satu tangan. Lin Chen mencengkeram lehernya dengan erat.

​BAM!

​Lin Chen membanting pelayan itu ke rak etalase kaca dengan tenaga brutal. Kaca pecah berhamburan. Pelayan itu menjerit histeris, darah mengucur dari dahi dan hidungnya, tulang rusuknya patah beberapa buah, dan ia langsung pingsan di tempat.

​Keributan itu membuat seluruh pengunjung Baozhitang menjerit ketakutan.

​Bai Feng, yang masih terkapar di lantai, mendongak dengan pandangan kabur. Ketika matanya yang rabun menangkap sosok pemuda tegap yang berdiri di depannya, seluruh tubuhnya bergetar hebat.

​"T-Tuan Muda...?" suara Bai Feng bergetar, air mata seketika menggenang di pelupuk matanya yang keriput. Dengan panik, ia menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan lengannya yang buntung dan pakaiannya yang kumal, tidak ingin Tuan Mudanya melihat keadaannya yang menyedihkan.

​"Maafkan hamba, Tuan Muda... Hamba tidak pantas... Hamba gagal melindungi Anda..." bisik Bai Feng sambil tersedu.

​Lin Chen merasa hidungnya asam. Ia, Sang Penguasa yang tidak pernah meneteskan air mata bahkan saat dibunuh, kini menjatuhkan diri berlutut dengan satu kaki di depan pria tua itu.

​Ia tidak peduli lantai itu kotor, ia tidak peduli tatapan aneh orang-orang. Lin Chen menggenggam tangan kanan Paman Bai yang kasar dan penuh luka dengan erat.

​"Paman Bai... aku yang salah. Aku datang terlambat," ucap Lin Chen dengan suara serak, namun penuh dengan ketegasan yang tak tertembus. "Mulai hari ini, aku bersumpah kepada surga. Siapa pun yang berani membuatmu menundukkan kepala, aku akan memenggal kepalanya. Siapa pun yang berani melukaimu, aku akan menghancurkan seluruh garis keturunannya!"

​Tiba-tiba, suara marah menggelegar dari lantai dua.

​"Siapa yang berani membuat kerusuhan di Baozhitang milikku?!"

​Seorang pria paruh baya berkumis tebal turun dari tangga dengan wajah murka, diikuti oleh belasan penjaga keamanan berbadan kekar yang membawa tongkat listrik. Dia adalah Manajer Sun, pengelola cabang Baozhitang di Donghai.

​Manajer Sun melihat etalase yang hancur dan pelayannya yang berlumuran darah. Ia menunjuk Lin Chen dengan marah. "Bocah, kau cari mati! Patahkan kedua kaki dan tangannya, lalu buang dia ke kantor polisi!"

​Belasan satpam itu langsung merangsek maju mengepung Lin Chen.

​Lin Chen perlahan berdiri. Ia memapah Paman Bai ke kursi di dekatnya, lalu berbalik menatap Manajer Sun. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Lin Chen merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah kartu berwarna hitam keemasan tepat ke wajah Manajer Sun.

​Plak!

​Kartu itu mengenai dada Manajer Sun dan jatuh ke tangannya. Sang Manajer hendak mengumpat, namun saat matanya melihat lambang Naga Emas Keluarga Tang dan ukiran 'VIP' di kartu tersebut, seluruh darah di tubuhnya seolah terkuras habis.

​"K-K-Kartu Hitam Emas Keluarga Tang?!" Manajer Sun memekik ngeri, suaranya melengking seperti babi yang dicekik.

​Baozhitang memang apotek besar, tetapi di Kota Donghai, Keluarga Tang adalah penguasa mutlak! Memegang kartu ini berarti pemuda di depannya dianggap sebagai tamu agung setara dengan Kepala Keluarga Tang sendiri! Jika Keluarga Tang tahu ia menyinggung pemegang kartu ini, toko Baozhitang akan diratakan dengan tanah besok pagi!

​"Berhenti! Semuanya berhenti! Mundur, dasar idiot!" teriak Manajer Sun panik, menampar wajah kapten satpamnya sendiri agar mereka mundur.

​Manajer Sun langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri Lin Chen, punggungnya membungkuk hingga 90 derajat. Keringat dingin membasahi dahinya.

​"T-Tuan... maafkan mata buta anjing ini! Saya tidak mengenali Gunung Tai di hadapan saya! Pegawai bodoh itu memang pantas dihukum, saya akan memecatnya sekarang juga!" Manajer Sun gemetar ketakutan.

​Lin Chen menatapnya dengan dingin. "Paman Bai adalah keluargaku. Pegawaimu menendangnya. Apa kau pikir memecatnya saja cukup?"

​"T-Tentu saja tidak!" Manajer Sun segera mengambil tongkat dari satpam, berjalan ke arah pelayan yang pingsan, lalu dengan kejam memukul kedua kaki pelayan itu hingga terdengar suara tulang retak. Pelayan itu terbangun sesaat karena rasa sakit yang luar biasa sebelum akhirnya pingsan kembali.

​"Tuan, apakah ini cukup untuk meredakan kemarahan Anda?" tanya Manajer Sun sambil tersenyum menjilat.

​"Bawakan aku semua Ginseng Liar berusia di atas 50 tahun, Teratai Salju Tianshan, Lingzhi Darah, dan satu set Jarum Perak murni. Kualitas terbaik," perintah Lin Chen datar. "Jangan pikir aku akan mengambilnya gratis. Gesek dari kartuku."

​"B-Baik, Tuan! Tolong tunggu sebentar, saya akan mengambilkan stok rahasia kami!"

​Hanya dalam waktu sepuluh menit, Manajer Sun kembali dengan beberapa kotak kayu cendana yang memancarkan energi spiritual herbal yang sangat pekat. Total harganya mencapai 3 juta Yuan, namun Lin Chen membayarnya tanpa mengedipkan mata.

​Lin Chen mengambil kotak-kotak itu, lalu memapah Paman Bai keluar dari Baozhitang.

​"T-Tuan Muda... uang dari mana Anda mendapatkan semua ini? Anda tidak melakukan hal ilegal, kan?" tanya Bai Feng cemas saat mereka berada di dalam taksi.

​Lin Chen tersenyum hangat, sesuatu yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang yang benar-benar ia pedulikan.

​"Paman Bai, tenang saja. Langit telah memberiku kesempatan kedua. Kali ini, tidak ada yang bisa menginjak-injak kita lagi." Lin Chen menatap ke luar jendela taksi, menatap gedung-gedung tinggi Kota Donghai.

​"Tujuan kita sekarang adalah Hotel Bintang Lima Grand Donghai. Aku akan menyembuhkan meridian Paman yang hancur, dan kemudian... kita akan pulang ke Keluarga Su. Ada seorang 'istri' yang harus kuselamatkan perusahaannya, dan ada seekor lalat bernama Keluarga Zhao yang harus kuhancurkan."

​[Ding!]

​[Misi Sampingan Terpicu: Selamatkan Ratu Es!]

​[Deskripsi: Grup Kosmetik Su sedang disabotase. Gunakan pengetahuan medis Anda untuk meracik 'Pil Awet Muda' dan bantu Su Ruoxue menghancurkan monopoli Keluarga Zhao.]

​[Hadiah Misi: 5.000 Poin Sistem & Pembukaan Toko Sistem (System Shop).]

​Mata Lin Chen menyipit tajam. Keluarga Zhao... bersiaplah untuk kehilangan segalanya.

Terpopuler

Comments

Arinto Ario Triharyanto

Arinto Ario Triharyanto

yoiii😎

2026-08-13

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kematian dan Kebangkitan Sang Naga
2 Bab 2: Tamparan Pertama Sang Naga
3 Bab 3: Mata Emas dan Harta Karun yang Tersembunyi
4 Bab 4: Kesetiaan yang Terukir dalam Darah
5 Bab 5: Jarum Dewa dan Hancurnya Rapat Direksi
6 Bab 6: Keajaiban Medis
7 Bab 7: Bayangan Naga di Bawah Rembulan
8 Bab 8: Pergeseran Hati sang Ratu Es
9 Bab 9: Setelan Jas dan Bayangan Gelap di Perjamuan
10 Bab 10: Benturan Energi dan Kartu As sang Naga
11 Bab 11: Retakan pada Vas Porselen dan Undangan Kematian
12 Bab 12: Kapal Pesiar Naga Hitam dan Lelang Kematian
13 Bab 13: Teh yang Belum Dingin dan Kematian Sang Grandmaster
14 Bab 14: Teror Tengah Malam
15 Bab 15: Rahasia Sang Kakek dan Lahirnya Paviliun Naga
16 Bab 16: Tiga Utusan Bayangan dan Sisik Terbalik Sang Naga
17 Bab 17: Pembersihan Darah
18 Bab 18: Ekspedisi Darah ke Pegunungan Kunlun
19 Bab 19: Guncangan di Dunia Bela Diri
20 Bab 20: Tiba di Jinling
21 Bab 21: Jarum Pembelah Kematian
22 Bab 22: Pameran Jinling
23 Bab 23: Malam Hujan di Jinling
24 Bab 24: Kepulangan Sang Naga
25 Bab 25: Kedalaman Air Ibukota
26 Bab 26: Pasar Gelap Bulan Darah
27 Bab 27: Lengan yang Terlahir Kembali
28 Bab 28: Panggung Berdarah di Pabrik Baja
29 Bab 29: Kematian Sang Langit
30 Bab 30: Fajar Pemulihan
31 Bab 31: Jaring Laba-laba Ibukota
32 Bab 32: Jenderal Tua di Ujung Telepon
33 Bab 33: Runtuhnya Perisai Besi
34 Bab 34: Altar Darah
35 Bab 35: Kabut Darah di Gunung Barat
36 Bab 36: Iblis Asura
37 Bab 37: Takhta Sang Ratu
38 Bab 38: Silinder Perunggu Kuno
39 Bab 39: Angin Kunlun
40 Bab 40: Teratai Es dan Taktik Sang Pengintai
41 Bab 41: Jarum Penyelamat
42 Bab 42: Labirin Ilusi
43 Bab 43: Amukan Buas dan Terbukanya Gerbang Makam Bintang
44 Bab 44: Tarian Kematian
45 Bab 45: Tumbal Darah dan Runtuhnya Gerbang Bintang
46 Bab 46: Domain Penelan Surga
47 Runtuhnya Makam Bintang
48 Bab 48: Enam Bayangan Berdarah
49 Bab 49: Badai Salju Buatan dan Jarum Pembeku Neraka
50 Bab 50: Maklumat Raja Bela Diri
51 Bab 51: Tabib Sakit-sakitan
52 Bab 52: Badai Salju Changbai
53 Bab 53: Tirani Tenda Merah
54 Bab 54: Jarum Penunda Kematian
55 Bab 55: Rahang Kehancuran
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Bab 1: Kematian dan Kebangkitan Sang Naga
2
Bab 2: Tamparan Pertama Sang Naga
3
Bab 3: Mata Emas dan Harta Karun yang Tersembunyi
4
Bab 4: Kesetiaan yang Terukir dalam Darah
5
Bab 5: Jarum Dewa dan Hancurnya Rapat Direksi
6
Bab 6: Keajaiban Medis
7
Bab 7: Bayangan Naga di Bawah Rembulan
8
Bab 8: Pergeseran Hati sang Ratu Es
9
Bab 9: Setelan Jas dan Bayangan Gelap di Perjamuan
10
Bab 10: Benturan Energi dan Kartu As sang Naga
11
Bab 11: Retakan pada Vas Porselen dan Undangan Kematian
12
Bab 12: Kapal Pesiar Naga Hitam dan Lelang Kematian
13
Bab 13: Teh yang Belum Dingin dan Kematian Sang Grandmaster
14
Bab 14: Teror Tengah Malam
15
Bab 15: Rahasia Sang Kakek dan Lahirnya Paviliun Naga
16
Bab 16: Tiga Utusan Bayangan dan Sisik Terbalik Sang Naga
17
Bab 17: Pembersihan Darah
18
Bab 18: Ekspedisi Darah ke Pegunungan Kunlun
19
Bab 19: Guncangan di Dunia Bela Diri
20
Bab 20: Tiba di Jinling
21
Bab 21: Jarum Pembelah Kematian
22
Bab 22: Pameran Jinling
23
Bab 23: Malam Hujan di Jinling
24
Bab 24: Kepulangan Sang Naga
25
Bab 25: Kedalaman Air Ibukota
26
Bab 26: Pasar Gelap Bulan Darah
27
Bab 27: Lengan yang Terlahir Kembali
28
Bab 28: Panggung Berdarah di Pabrik Baja
29
Bab 29: Kematian Sang Langit
30
Bab 30: Fajar Pemulihan
31
Bab 31: Jaring Laba-laba Ibukota
32
Bab 32: Jenderal Tua di Ujung Telepon
33
Bab 33: Runtuhnya Perisai Besi
34
Bab 34: Altar Darah
35
Bab 35: Kabut Darah di Gunung Barat
36
Bab 36: Iblis Asura
37
Bab 37: Takhta Sang Ratu
38
Bab 38: Silinder Perunggu Kuno
39
Bab 39: Angin Kunlun
40
Bab 40: Teratai Es dan Taktik Sang Pengintai
41
Bab 41: Jarum Penyelamat
42
Bab 42: Labirin Ilusi
43
Bab 43: Amukan Buas dan Terbukanya Gerbang Makam Bintang
44
Bab 44: Tarian Kematian
45
Bab 45: Tumbal Darah dan Runtuhnya Gerbang Bintang
46
Bab 46: Domain Penelan Surga
47
Runtuhnya Makam Bintang
48
Bab 48: Enam Bayangan Berdarah
49
Bab 49: Badai Salju Buatan dan Jarum Pembeku Neraka
50
Bab 50: Maklumat Raja Bela Diri
51
Bab 51: Tabib Sakit-sakitan
52
Bab 52: Badai Salju Changbai
53
Bab 53: Tirani Tenda Merah
54
Bab 54: Jarum Penunda Kematian
55
Bab 55: Rahang Kehancuran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!