Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : Menghidupkan Api Cinta
Angin sore kota Batavia di tahun 1928 berhembus pelan, membawa aroma khas air asin dari pelabuhan Sunda Kelapa yang bercampur dengan bau uap kereta kuda dan jalanan beraspal panas. Di teras belakang rumah besar bergaya kolonial milik keluarga Liem di kawasan Menteng, Clara van der Berg duduk termenung di atas kursi goyang rotan. Pandangannya kosong menatap hamparan halaman rumput hijau yang terawat rapi, sementara jari-jarinya terus memutar cincin perunggu kuno bermotif daun zaitun yang melingkar di jari manisnya—benda peninggalan dari kehidupan pertamanya di Roma yang secara ajaib terus mengikuti ke mana pun jiwanya bereinkarnasi.
Bayangan percakapan antara ayahnya, Tuan Besar Ho, dan panglima kepercayaannya, Bang Jafar, di gudang pelabuhan kemarin masih terus berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan rekaman gramofon yang rusak. Ia tahu persis betapa berbahayanya situasi yang sedang ia hadapi. Ayahnya adalah penguasa sindikat bawah tanah yang memegang kendali penuh atas jaringan penyelundupan dan pelabuhan di pesisir utara Jawa, seorang pria yang tidak akan pernah ragu menghabisi siapa pun yang dianggap mengancam keselamatan keluarga atau bisnis gelapnya. Di sisi lain, Julian van Houten—reinkarnasi dari pangeran Marcus yang dulu pernah mempertaruhkan takhta kekaisaran demi dirinya—kini berdiri di pihak seberang, sebagai pewaris sah dari imperium bisnis kolonial keluarga Van Houten yang merupakan musuh abadi keluarga Liem.
Namun, di tengah ketakutan dan bayang-bayang ancaman pembunuhan yang diucapkan oleh ayahnya sendiri, ada satu hal yang jauh lebih kuat mendominasi relung hati Clara: kerinduan yang membakar dan keyakinan mutlak bahwa cinta mereka tidak diciptakan untuk kandas begitu saja di bawah langit kolonial ini.
"Nona Clara..." suara lembut Nyai Sumi, pengasuh setia yang telah merawatnya sejak kecil, membuyarkan lamunan panjang sang gadis. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat sambil membawa sebuah nampan kecil berisi secangkir teh melati hangat dan sepiring kue lapis legit tradisional. "Sore hari ini udara cukup lembap. Silakan diminum dulu tehnya, Nona. Wajah Nona terlihat sangat pucat sejak kemarin. Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nona? Jika Nona mencemaskan urusan Tuan Besar yang sibuk di pelabuhan, biarkan saya yang mendampingi beliau..."
Clara mendongak, menyunggingkan senyuman tipis yang dipaksakan untuk menenangkan wanita tua itu. Ia menerima cangkir teh hangat dari tangan Nyai Sumi, merasakan uap hangat mengepul menyentuh kulit wajahnya.
"Terima kasih, Bibi Sumi. Aku hanya... merasa sedikit lelah dengan suasana pesta gubernuran kemarin malam," jawab Clara dengan nada suara yang diusahakan selazim mungkin. Ia tidak ingin orang lain di rumah ini mencurigai rencana besar yang sedang bergolak di dalam benaknya.
Nyai Sumi menghela napas pelan, mengusap bahu Clara dengan penuh kasih sayang. "Nona adalah mutiara satu-satunya di rumah ini, Nona Muda. Tuan Besar sangat menyayangi Nona. Apa pun yang terjadi, beliau pasti akan selalu melindungi Nona dari kerasnya dunia luar."
Kata-kata Nyai Sumi justru membuat dada Clara semakin terasa sesak. Melindungi? Perlindungan yang diberikan oleh ayahnya adalah sangkar emas yang dipenuhi dengan senjata api, darah, dan ancaman kematian bagi siapa saja yang mendekatinya—termasuk pria yang paling dicintainya di dunia ini. Clara tahu, jika ia hanya berdiam diri dan menunggu takdir berjalan sesuai kehendak kedua keluarga besar mereka, sejarah tragis di Roma ribuan tahun lalu pasti akan terulang kembali. Kali ini, ia tidak akan membiarkan peluru penembus jantung atau bilah belati musuh merenggut kekasihnya untuk kedua kalinya.
Setelah Nyai Sumi membungkuk hormat dan meninggalkan teras belakang, Clara langsung bangkit dari kursi goyangnya. Keputusannya telah bulat. Ia harus menemui Julian. Ia harus mencari cara untuk berbicara secara langsung dengan pewaris keluarga Van Houten itu, menyusun strategi rahasia di belakang punggung ayah dan para petinggi sindikat, serta menghidupkan kembali api cinta yang sempat padam ditelan badai sejarah.
Malam harinya, ketika suasana rumah besar Menteng telah berangsur-angsur sunyi dan lampu-lampu koridor mulai diredupkan, Clara mengenakan mantel panjang berwarna hitam legam dengan tudung kepala yang menutupi sebagian besar wajahnya. Melalui pintu pelayan di bagian belakang rumah—sebuah jalur rahasia yang biasa digunakan oleh para pengantar pasokan dapur dan jarang sekali dijaga ketat oleh anak buah Bang Jafar—Clara menyelinap keluar menuju halaman belakang yang langsung berbatasan dengan jalan setingkat semak belukar.
Jantungnya berdegup kencang seirama dengan deru langkah kakinya yang cepat di atas jalanan berkerikil. Udara malam Batavia terasa lembap dan pekat oleh bau embun malam. Clara berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil di luar kawasan Menteng hingga ia berhasil mencapai sebuah titik temu yang telah disepakati melalui secarik catatan rahasia yang diselipkan di dalam gulungan beludru merah kemarin: sebuah kafe bergaya Eropa kuno di dekat kawasan Koningsplein yang sering dikunjungi oleh para pejabat dan kaum borjuis kolonial, tempat di mana Julian berjanji akan menunggunya.
Sesampainya di depan kafe tersebut, Clara menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan debaran jantungnya yang menggila. Ia merapatkan tudung mantelnya, lalu melangkah masuk melewati pintu kayu berukir kaca patri yang berderit pelan. Suasana di dalam kafe cukup temaram, diterangi oleh lampu gantung bergaya antik dengan alunan musik jazz piringan hitam yang diputar dari sudut ruangan.
Dan di meja paling pojok, di balik bayangan tirai renda jendela yang menghadap langsung ke jalan raya kolonial, duduklah sesosok pria berbalut jas rapi dengan sebatang cerutu yang belum dinyalakan di antara jemarinya. Manik mata hazel pria itu mendongak begitu menyadari kehadiran seseorang di dekat mejanya.
Julian van Houten.
Pria itu langsung berdiri dari kursinya. Begitu melihat wajah Clara di balik tudung mantel yang dibuka perlahan, ekspresi dingin dan angkuh yang biasa ia tunjukkan di hadapan para mitra bisnisnya seketika melebur, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa dan kilatan kerinduan mendalam yang tidak bisa disembunyikan.
"Kau datang..." bisik Julian tertahan, suaranya terdengar bergetar lembut saat ia melangkah cepat mendekati Clara dan langsung merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukan hangatnya.
Clara memejamkan matanya erat-erat, membiarkan dirinya tenggelam di dalam dekap bidang dada pria yang telah ia cintai melalui tiga siklus kehidupan yang berbeda. Air mata hangat yang sejak kemarin ia tahan akhirnya tumpah membasahi kerah jas Julian. Di dalam pelukan itu, aroma parfum kayu cedar dan tembakau mahal bercampur dengan detak jantung Julian yang berirama cepat, memberikan ketenangan abadi yang selama ini ia cari di tengah dunia kolonial yang kejam dan penuh darah.
"Aku datang, Julian..." bisik Clara parau di dada sang pemuda. "Aku datang karena aku tahu... kita tidak boleh membiarkan takdir merenggut kita lagi."
Julian melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangan kekarnya tetap memegang kedua bahu Clara, menatap lurus ke dalam manik mata legam gadis itu dengan intensitas yang membakar. Ibu jarinya dengan lembut mengusapusap jejak air mata di pipi Clara, seolah ia sedang menyentuh barang paling rapuh dan berharga di muka bumi ini.
"Ayahmu sedang mengawasimu, dan para tetua keluargaku sedang merencanakan kehancuran sindikat keluarga Liem," ucap Julian dengan suara rendah penuh ketegasan, namun sorot matanya menyiratkan kelembutan tanpa batas saat menatap wanita di hadapannya. "Mereka pikir mereka bisa mengatur hidup kita, mengatur siapa yang harus kita benci dan siapa yang harus kita cintai. Tapi mereka salah besar, Clara. Di kehidupan pertama kita di Roma, aku gagal melindungimu dari cengkeraman Senat. Di kehidupan kedua ini... aku bersumpah demi nyawaku sendiri, aku akan merobohkan tembok permusuhan darah ini, atau aku akan membawamu pergi jauh dari Batavia ke tempat di mana tidak ada lagi klan, tidak ada lagi sindikat, dan tidak ada lagi takdir kejam yang bisa memisahkan kita."
Mendengar sumpah setia tersebut, Clara merasakan gelombang kehangatan yang luar biasa menyelimuti seluruh jiwa raganya. Ketakutan yang selama ini menghimpit dadanya mendadak sirna, digantikan oleh keberanian baja yang sama kuatnya dengan tekad Julian.
Di meja pojok kafe kolonial yang temaram itu, di bawah ancaman pembunuhan dari ayah kandungnya sendiri dan buruan para algojo keluarga besar musuh, dua jiwa yang terikat oleh kutukan waktu itu resmi menyatukan strategi dan hati mereka. Mereka tidak lagi sekadar korban dari sejarah masa lalu; mereka adalah penentu takdir baru yang siap melawan arus dunia hitam Batavia demi mempertahankan api cinta abadi yang telah melintasi ribuan tahun usia bumi.
Namun, di luar jendela kafe, di balik kegelapan malam jalanan kolonial yang basah oleh gerimis, sepasang mata tajam dari anak buah Bang Jafar diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari dalam mobil sedan hitam yang terparkir di seberang jalan—membawa kabar buruk yang siap meledakkan perang darah terbesar di seluruh tanah Jawa keesokan paginya.
Matahari pagi di Batavia keesokan harinya tidak membawa kehangatan yang menenangkan, melainkan awan mendebarkan yang menggantung rendah di atas langit pesisir pelabuhan. Di ruang kerja utama rumah besar Menteng, suasana terasa sangat dingin dan mencekam. Tuan Besar Ho duduk di balik meja kerja kayu jati tuanya yang besar, memegang selembar laporan rahasia lengkap dengan beberapa potret hitam-putih yang baru saja diletakkan di atas meja oleh Bang Jafar.
Potret-potret itu memperlihatkan dengan sangat jelas detik-detik ketika Clara bermesraan dan berpelukan dengan Julian van Houten di dalam kafe sudut Koningsplein tadi malam.
Garis-garis wajah Tuan Besar Ho mengeras bagaikan pahatan batu granit. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut kencang, menahan amarah yang telah mencapai ambang batas ledakannya. Selama puluhan tahun membangun kekuasaan sindikat di Batavia, tidak seorang pun pernah berani mempermainkan perintahnya, apalagi melanggar aturan darah yang telah ia tetapkan. Dan orang yang melakukan pengkhianatan itu adalah putri kandungnya sendiri—darah daging yang paling ia cintai dan lindungi dengan seluruh nyawanya.
"Julian van Houten..." bisik Tuan Besar Ho dengan suara desis yang sangat dingin dan mematikan, membuat Bang Jafar yang berdiri tegak di samping meja kerja pun merinding ketakutan. "Anak itu benar-benar mencari kematiannya sendiri di tangan kita."
Tuan Besar Ho bangkit berdiri dari kursinya, mengambil sebuah pistol revolver perak berkilau dari laci meja kerjanya, lalu menyelipkan senjata mematikan itu ke balik jas mahalnya.
"Panggil pasukan khusus kita, Jafar," perintah Tuan Besar Ho dengan nada mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. "Kita datangi pertemuan rahasia keluarga Van Houten hari ini juga. Jika mereka ingin memulai perang darah, maka kita akan akhiri permusuhan ini dengan menghabisi pewaris tunggal mereka di depan mata kepala ayah mereka sendiri!"
Di saat yang bersamaan, di kamar tidurnya di lantai dua, Clara merasakan firasat buruk yang teramat kuat menghantam dadanya. Jantungnya berdegup kencang tanpa henti, dan cincin perunggu di jarinya terasa mendadak menghangat secara misterius. Gadis itu tahu, konfrontasi maut antara kedua keluarga besar telah pecah, dan waktu bergerak begitu cepat untuk menentukan apakah cinta mereka akan selamat atau kembali terkubur dalam tragedi berdarah.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*