Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampus
Akhirnya mereka sampai di depan sebuah ruangan kelas yang berada di lantai tiga gedung Fakultas Bisnis. Devan menghentikan langkahnya lalu menunjuk papan nama di atas pintu. "Nah, ini kelas pertama kamu."
Evelyn mendongak pelan membaca tulisan besar di sana.
Manajemen Bisnis Internasional - Kelas A.
"...akhirnya." Rasanya seperti baru selesai ekspedisi. Padahal cuma jalan dari parkiran.
Devan tertawa kecil melihat ekspresi lelahnya. “Kamu keliatan tegang banget."
"Ya gimana ya kak..." Evelyn memeluk tasnya dramatis. “Ini hari pertama kuliah. Aku takut salah masuk kelas terus malah ikut seminar bapak-bapak.”
Cowok itu sampai tertawa cukup keras. "Tenang aja, nggak bakal separah itu."
"Semoga."
Devan melirik jam tangannya sebentar sebelum akhirnya mundur pelan. “Oke kalau gitu aku duluan ya. Ada kelas juga."
"Oh iya kak." Evelyn langsung membungkuk kecil sopan. "Thank you banget udah nganterin."
"Santai." Devan tersenyum ringan. "Sampai ketemu lagi, Evelyn." Setelah itu ia pergi menyusuri koridor kampus.
Dan Evelyn baru sadar satu hal. "...orang sini senyum dikit aja kayak pemeran drama." Ia menggeleng pelan lalu menarik napas panjang di depan pintu kelas.
"Oke Evelyn."
"lo bisa. Minimal jangan jatuh di hari pertama." Dengan penuh tekad, ia membuka pintu kelas.
Ceklek.
Ruangan itu ternyata belum terlalu ramai. Baru ada beberapa mahasiswa yang duduk sambil bermain ponsel atau mengobrol kecil. Suasana khas kelas pagi sebelum dosen datang. Evelyn melangkah masuk perlahan sambil melihat sekitar.
Dan saat itulah-tatapannya bertemu dengan seseorang. Seorang gadis yang duduk di bangku tengah baris kedua. Rambutnya panjang bergelombang lembut. Matanya cantik. Dan wajahnya memiliki aura hangat yang langsung membuat orang merasa nyaman.
Mereka saling menatap beberapa detik. Entah kenapa... ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Sampai akhirnya gadis itu tersenyum lebih dulu.
"Hai." Suaranya lembut.
Membuat Evelyn yang sempat bengong langsung tersadar. "Oh-hai."
Gadis itu memiringkan kepala sedikit. “Kamu mahasiswa baru juga kan?"
Evelyn mengangguk cepat. "Iya."
Lalu setelah canggung sepersekian detik- ia memberanikan diri bertanya.
"...aku duduk di situ boleh?"
Gadis itu langsung menggeser tasnya dari kursi sebelah.
"Iya, sini aja." Senyumnya manis. "Daripada duduk sendirian."
Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa menenangkan. Evelyn langsung berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.
"Thanks." ucap Evelyn
"Nama kamu siapa?" tanya gadis itu.
"Evelyn."
"Evelyn?" Gadis itu tersenyum kecil. "Namanya cantik."
"Nama kamu?" giliran Evelyn yang bertanya.
"Celine Arthea."
"Wih." Evelyn langsung menatap kagum. "Nama orang sini emang nggak ada yang gagal ya."
Celine tertawa kecil. Dan jujur saja- tawanya enak didengar. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.
Hangat. "Kamu lucu ya."
"Banyak yang bilang gitu sih." ucap Evelyn.
"Pede banget."
"Kalau bukan aku yang percaya diri, siapa lagi?"
Celine kembali tertawa. Dan tanpa sadar, suasana canggung di antara mereka mulai menghilang begitu saja. Mereka mulai mengobrol ringan. Tentang jurusan. Tentang dosen. Tentang bagaimana besarnya kampus ini.
Semakin lama mengobrol... Evelyn makin merasa nyaman. Celine berbeda dari orang-orang yang selama ini ia temui di dunia novel ini. Tidak terasa seperti karakter drama. Tidak penuh topeng. Tidak membuatnya waspada. Dan untuk pertama kalinya sejak transmigrasi— Evelyn merasa mungkin... hidup di dunia ini tidak sepenuhnya buruk.
Sementara itu, Celine diam-diam memperhatikan gadis di sampingnya. Masker hitam. Kacamata bulat. Kepangan sederhana. Namun entah kenapa... Evelyn tetap terlihat mencolok. Bukan karena penampilannya. Melainkan karena energinya. Karena dari semua mahasiswa baru yang tampak sibuk menjaga image... gadis ini justru terlihat paling hidup.
\=\=\=\=
Akhirnya setelah beberapa jam penuh perkenalan dosen, penjelasan mata kuliah, dan kalimat sakral “nanti materinya saya upload sendiri”—
kelas pertama mereka selesai juga. Dan kabar terbaiknya? Hari itu tidak ada jadwal lagi. Begitu dosen keluar kelas, Evelyn langsung menyandarkan tubuh ke meja dengan dramatis. "Gue selamat..."
Celine tertawa kecil sambil merapikan buku. "Baru juga hari pertama."
"Justru itu." Evelyn menunjuk papan tulis. "Kalau hari pertama aja udah bikin otak gue buffering, minggu depan gue tinggal roh penasaran mungkin."
Celine sampai ngakak kecil mendengarnya. Dan entah sejak kapan- mereka sudah otomatis pakai "gue-lo”.
Cepat sekali akrabnya. Mungkin karena energi mereka nyambung. Atau mungkin karena Evelyn terlalu gampang berteman. Tak lama kemudian Evelyn berdiri sambil mengambil tasnya.
"Laper nggak?" tanya Evelyn.
"Lumayan.” jawab Celine.
"Mau makan?" Evelyn.
"Mau." Celine.
"Gas." Evelyn.
Dan begitulah. Dua mahasiswi baru itu berjalan menuju resto kampus sambil ngobrol random sepanjang jalan. Resto kampus Universitas Asterion jelas bukan kantin biasa. Tempatnya besar. Modern.
Bahkan ada lantai dua dan coffee bar sendiri. Evelyn sampai berdiri di depan pintu beberapa detik. "...kampus ini bikin gue minder."
"Kenapa?" tanya celine pandangannya masih lurus ke depan.
"Kantin kampus lama gue dulu kursinya aja beda-beda warna." jawab Evelyn sambil mengamati sekitar.
Celine tertawa sambil menarik lengannya masuk. Mereka memilih duduk di pojok dekat jendela. Setelah memesan makanan, keduanya mulai santai sambil menunggu pesanan datang. Dan seperti hukum alam pertemanan perempuan pada umumnya-
topik gosip pun dimulai. Celine mendekat sedikit sambil menatap Evelyn serius.
"Eh Ev." Celine.
"Hm?" Evelyn.
"Lo tau nggak?" Celine.
"Nggak." Evelyn.
"Belom gue kasih tau juga anjir." Celine.
"Oh iya juga." Evelyn.
Celine langsung menahan tawa sebelum lanjut berbisik heboh. "Di kampus ini banyak cowok ganteng."
Evelyn langsung mengangguk bijak. "Itu gue udah sadar dari tadi."
"Serius." Celine.
"NPC aja mukanya kayak model Pinterest." Evelyn.
Celine tertawa keras sampai hampir keselek minum. "Parah lo."
"Fakta." Evelyn.
Lalu Celine mulai
semangat.lima "Jadi nih ya, ada cowok semester lima..."
"Nah." Evelyn.
"Dia anggota BEM." celine.
"Oke." evelyn.
"Ganteng banget." celine.
"Standar." evelyn.
"Pinter." celine.
"Template." evelyn.
"Populer sekampus." celine.
"Udah pasti." evelyn.
"Dan katanya banyak anak jurusan lain ngejar dia." celine.
Evelyn yang tadi santai
mendadak diam. Otaknya
langsung otomatis waspada.
Semester lima. Cowok populer. Ganteng. Aktif organisasi. BEM.
Klaim
Deg.
"Jangan-jangan..." Pikiran pertama Evelyn langsung menuju satu nama mengerikan.
Altair Varellion.
Jantungnya mendadak deg-degan sendiri. Sedangkan Celine masih lanjut ngoceh penuh semangat. "Terus ada lagi ketua BEM."
Evelyn langsung makin tegang. "Yang itu auranya dingin banget katanya."
Deg.
"Orangnya jarang senyum."
Kata celine..
DEG.
"Tapi makin ganteng kalau diem." lanjut nya.
“ANJIR fix psikopat, "batin Evelyn panik.
Karena kalau menurut novel - Altair memang tipe cowok yang bikin orang bilang: "red flag tapi ganteng."
Dan pembaca gobloknya malah pada jatuh cinta. Celine masih sibuk fangirling.
"Pokoknya banyak yang suka sama mereka."
Sedangkan Evelyn mulai overthinking sendiri. "Jangan bilang..."
"Altair nyamar jadi anak BEM?"
"Biar gampang nyuci uang? Eh"
"Biar gampang nyari korban?"
"Biar gampang ngatur organisasi pembunuhan?"
Otaknya mulai terlalu liar.
Akhirnya Evelyn langsung bertanya hati-hati menatap wajah Celine. "...eh. Namanya siapa emang?"
Celine berpikir sebentar sambil menyeruput minuman.
"Kalo yang anggota BEM itu namanya Kael Renarth."
Evelyn langsung diam. 66 bukan." Napasnya sedikit lega.
"Kalau yang ketua BEM?... Oh itu!" Celine tersenyum. "Namanya Adrian Vale."
Dan lagi-lagi- bukan Altair.bEvelyn langsung hampir bersujud syukur dalam hati.
"Alhamdulillah..."
Namun detik berikutnya ia langsung ingat sesuatu. Altair bisa ganti identitas. Bahkan di novel dia pernah hidup dengan nama palsu berbulan-bulan tanpa ketahuan. Seketika ekspresi Evelyn kembali muram.
Celine mengernyit bingung. "Kenapa muka lo kayak habis lihat saldo minus?"
Evelyn langsung sadar lalu tertawa canggung. "Haha enggak..."
"Gue cuma takut ketemu cowok ganteng." ucap Evelyn minum jusnya.
"Hah?" Celine tapak bingung.
"Soalnya biasanya makin ganteng makin banyak masalah." lanjut Evelyn menatap temannya.
Celine langsung menunjuknya semangat. "NAH. Itu bener!"
"Kan?!" Evelyn.
"Iya!" celine.
Mereka langsung tos di meja seperti menemukan teori kehidupan bersama. Namun beberapa detik kemudian-Celine menatap Evelyn penasaran. "Tapi serius deh... Lo tuh tipe yang suka cowok kayak gimana?" tanya Celine penasaran.
Evelyn langsung menjawab tanpa mikir. "Yang nggak bunuh orang."
Hening.
Celine berkedip. "...hah?"
Evelyn langsung tersadar.
"...eh maksud gue yang green flag."
"OH." Celine mengangguk paham.
Sedangkan Evelyn langsung minum buru-buru sambil berkeringat dingin sendiri.
"Anjir hampir keceplosan...”
curang tauuu😒😒