Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Nismara membelalak. Dia mencermati pesan yang dikirim tertanggal kemarin pada dini hari itu. Sejenak hatinya menimbang-nimbang.

"Bukankah pihak kepolisian sudah menyelidiki dan memutuskan kalau Sherin itu benar-benar bunuh diri? Lagi pula untuk kepentingan apa Sherin dibunuh?" Nismara bermonolog dengan hatinya sendiri.

Ah, sungguh tidak masuk akal. Memang Siapa yang diuntungkan jika Sherin tiada? Dia hanyalah anak sekolah biasa yang kerjanya main dan bersenang-senang.

Memang diakui Nismara, jika setahun belakangan ini Sherin sering membuat ulah, tapi tindakannya masih masuk kategori kenakalan biasa, belum masuk ke ranah kriminal. Putri nya itu hanya suka membolos, semisal tidak ikut upacara, dan merusak alat-alat peraga di sekolahnya. Meski Sherin selalu berkelit bahwa itu kecelakaan bukan kesengajaan.

Terakhir yang agak besar adalah dia makan di restoran mahal bersama 10 orang temannya, tapi Sherin lupa tidak membawa dompetnya. Entah sengaja atau tidak, tapi saat Nismara dan Miranti yang kebetulan sedang di dekat restoran itu datang dan membayar, Sherin terlihat senyum-senyum bahagia. Wajah nya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah ketika Nismara mengeluarkan uang nyaris 10 juta untuk membayar makanan.

Nismara duduk dan menghela nafas. Setelah berpikir lama, dia menggerakkan jarinya untuk pindah ke email yang dia gunakan untuk sarana pekerjaan. Perempuan cantik itu menganggap pesan tersebut hanya dikirim oleh orang yang iseng belaka. Jadi Nismara tidak ingin memikirkannya lagi.

****

Keesokan harinya Nismara telah bersiap rapi. Dia mengenakan kacamata hitam untuk menutupi mata sembabnya.

"Hallo! Sayang." Samudra datang mendekat dan mencium puncak kepala Nismara sekilas. " Gimana perasaanmu hari ini?"

Nismara meringis. "Ya, lumayan. Mau sarapan dulu?"

Samudra menyapu makanan yang terhidang di meja. "Kamu yang masak?"

"Hahaha, tentu saja....... bukan!"

Samudra tergelak mendengar jawaban dari kekasihnya itu. " Ya, udah aku duga sih. Maksud ku tanya itu, kalau ternyata kamu yang masak, aku nggak mau makan, udah pasti nggak enak hahaha."

"Sialan! Makanya pikir lagi sebelum terlambat, aku bukan tipe perempuan ideal sebagai istri. Enggak bisa masak, nggak bisa beres rumah, ditambah suka marah dan keras kepala." Nismara menyahut panjang.

"Oh, tapi maaf cantik, itu semua adalah ciri-ciri istri ideal buat seorang Gigih Samudra." tukas laki-laki berkulit coklat itu.

Mereka tertawa berdua lagi.

"Kalau kamu udah siap, kita bisa pergi sekarang, sayang. Kebetulan aku ada rapat pagi ini." kata Samudra setelah mereka berhenti tertawa.

Nismara mengangguk. " Kalau begitu, ayok! Aku juga udah selesai makan."

"Eh, aku ke toilet sebentar." ucap Samudra sambil ngeloyor pergi.

"Aku tunggu di depan ya!" Nismara berseru seraya bergerak ke depan rumahnya.

Begitu Nismara mencapai teras rumah, Hasan, kepala pengurus rumahnya langsung menghampiri.

"Nyonya, untuk karangan bunga itu apakah sudah boleh disingkirkan?" tanya Hasan. "Mohon maaf, karena banyak sekali yang mengirim karangan bunga, Saya khawatir mengganggu tetangga kita."

"Ya Pak Hasan, segera dibersihkan saja." Nismara menjawab. Matanya berkeliling halaman rumahnya kini memang penuh garangan bunga berisi ucapan bela sungkawa untuk Sherin. Bahkan sampai luber di luar pagar rumah.

Nismara seketika memuja ketika melihat salah satu karangan bunga berwarna dominan biru, dengan tulisan yang dibuat dari bunga-bunga putih.

Duka cinta yang mendalam untuk yang sesungguhnya terjadi.

Pengirim : Peduli Kamu.

"Aaaa!" Nismara berteriak kaget saat tiba-tiba Samudra memegang pinggangnya.

"Hai, kenapa?" Samudra ikut kaget. Beberapa pekerja yang berada di halaman itu pun spontan menoleh ke arah mereka.

"Kamu ngelamun ya? Bisa sampai kaget gitu? Apa masih memikirkan Sherin?" tanya Samudra menyelidik. Pertanyaan bertubi-tubi.

Nismara menggeleng lalu dia melambai ke arah laki-laki tadi. "Pak Hasan!"

Yang dipanggil tergopoh-gopoh mendekat kembali ke majikannya.

"Ya, Nya."

"Itu karangan bunga dari siapa? Yang papan biru dengan bunga putih. Itu yang dipegang Arman." tunjuk Nismara.

Hasan mengikuti telunjuk Nismara. Sejenak mata tua Hasan menelisik, 9 detik kemudian perhatian Hasan kembali kepada Nismara. "Mohon maaf nyonya, kami kemarin tidak sempat mencatat untuk kiriman yang tidak ada nama jelasnya. Maaf, karena begitu banyak yang datang."

"Oh, Ya sudah nggak apa-apa Pak." jawab Nismara sembari menggandeng tangan Samudra. "Ayo, Sam, kita berangkat!"

Nismara menuju mobil Samudra.

"Ada apa sama papan bunga itu, Nis?" Samudra bertanya saat mereka sudah berada di dalam mobil.

"Itu pengirimnya.....eh." Nismara segera menutup mulutnya. Tiba-tiba Dia teringat surat kaleng yang dikirim ke emailnya. ' Jangan sembarang memberitahu info ini...'

"Pengirim nya kenapa?" Alis Samudra bertaut.

Nismara melirik Samudra. Apakah sebaiknya dia cerita ke Samudra saja? Tapi sepertinya itu adalah pesan iseng, kalau dirinya terpancing dan menjadi heboh, pasti ada dampak yang akan mengganggu hidupnya. Ah.......

"Nis, ngelamun lagi." Samudra menyentuh lembut kepala Nismara.

"Eh, nggak apa-apa. Maaf ya jadi ngerepotin kamu. Pak Dion mungkin baru kembali besok." kata Nismara berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Ya ampun, Nis. Meski Pak Dion udah balik, aku tetap bisa antar jemput kamu setiap hari. Aku malah senang loh." sahut Samudra.

Nismara tersenyum.

Dion adalah sopir pribadi Nismara, sekaligus suami dari Yuyun, pengasuh Sherin dari Sherin lahir. Dion dan Yuyun tentara sekali menjadi orang yang paling terpukul atas kematian Sherin yang begitu tragis, karena suami istri itu yang telah merawat dan memberikan kasih sayang kepada Sherin. Selama ini Nismara melihat Yuyun dan Dion tulus menyayangi Sherin seperti anak mereka sendiri.

Kemarin Yuyun minta izin cuti dan pulang kampung sebentar. Perempuan itu berkata ingin menenangkan diri dari peristiwa yang mengguncang ini. Yuyun sama seperti Nismara, pingsan lebih dari sekali saat mendengar kabar tersebut. Terlebih Dia paling banyak ditanya oleh polisi, sebab dialah orang yang sehari-hari bersama Sherin. Yuyun mengaku sedikit trauma dengan suasana introgasi yang terjadi. Bukan karena sikap polisinya tapi saat dia diminta mengenali tubuh Sherin yang setengah hancur.

Mengingat semua jasa dan kebaikan suami istri itu dan demi almarhumah anaknya, Nismara mengizinkan Dion dan Yuyun untuk cuti sampai batas tak terhingga. Jadi yang dia katakan kepada Samudra tadi hanya mengarang saja agar kekasihnya itu tidak lagi bicara soal karangan bunga yang di tunjuk Nismara.

Mobil Samudra sampai di kantor Nismara setelah menempuh perjalanan 20 menit, waktu yang cukup panjang, karena entah kenapa kota kecil ini lumayan macet di jam segini. Samudra hanya menurunkan Nismara di pintu masuk, untuk kemudian dia melaju lagi menuju ke tempat kerjanya sendiri.

"Bu Nismara!" Miranti berseru tak percaya ketika melihat Nismara di depan pintu ruang kerjanya.

Nismara tersenyum. Dia selalu suka dengan sikap profesional yang dimiliki sahabatnya itu. Saat di kantor dan di depan orang, Miranti selalu memanggil dan menghormati dirinya layaknya seorang bos. Tapi saat berdua saja dan di luar urusan kantor, dia kembali menjadi sahabat sejatinya.

Miranti hendak mengikuti Nismara, saat salah seorang staf mendekatinya dengan sebuah map di tangan. Miranti pun memilih untuk melayani staf itu dulu. Jadilah Nismara melinggang sendiri ke ruang kerja.

Nismara mencoba tersenyum untuk menguatkan dirinya sendiri. Tentang pesan di email dan karangan bunga itu, pasti hanya orang iseng belaka. Hidup nya terlalu sibuk untuk mengurusi hal seperti itu. Lagi pula Sherin sudah tiada, biarlah putrinya istirahat dengan tenang tanpa diganggu-ganggu lagi.

Tiba-tiba telepon berbunyi.

1
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!