Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tertinggal
Saat aku membuka mata, cahaya pagi masuk pelan lewat celah tirai. Orion duduk di tepi tempat tidurku, punggungnya tegap, menatap ke luar jendela seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tak bisa kudengar. Dia selalu begitu—seolah dia bisa mencium bahaya sebelum bahaya itu benar-benar terlihat.
"Kau bangun pagi sekali," bisikku, suaraku masih agak serak.
Dia menoleh cepat, lalu tersenyum lembut saat melihatku sudah terjaga. "Aku tidak bisa tidur nyenyak. Tidak setelah semalam. Aku hanya ingin memastikan kau aman di dekatku."
Aku menggeser tubuh sedikit, memberi ruang di sebelahku. "Sini... duduk di sini. Jangan terlalu jauh."
Dia tertawa pelan, lalu duduk di sisiku. Tangannya merapikan rambutku yang berantakan dengan lembut, jemarinya menyentuh kulitku dengan kehati-hatian yang selalu membuat hatiku berdebar.
"Kau tahu, kan? Aku tidak mudah terluka," kataku sambil memegang tangannya dan menempelkannya di pipiku. "Dan selama kau ada di sini, aku merasa paling aman di dunia ini."
Dia mencium keningku lama sekali, lalu berbisik pelan di dekat telingaku, suaranya dalam dan hangat. "Itu yang membuatku takut, Aruna. Kau terlalu percaya padaku. Padahal aku bukan siapa-siapa. Hanya bayangan yang beruntung karena kau menyapanya."
"Jangan bicara begitu. Kau lebih dari itu bagiku," jawabku sambil menatap matanya dalam-dalam. "Kau rumahku, Orion. Titik."
Dia tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih tulus, meski ada bayangan cemas yang belum sepenuhnya hilang di matanya.
Kami turun ke dapur setelah itu. Udara pagi terasa segar, tapi hatiku tetap terasa berat. Setiap kali teringat senyum Valdris semalam, perutku terasa mual. Ada sesuatu yang besar sedang bersembunyi di balik semua ini, dan aku merasa semakin dekat untuk mengetahuinya.
Bel pintu berbunyi, dan aku langsung tahu siapa yang datang.
"Aruna!" seru Dinda begitu pintu terbuka. Dia masuk dengan napas terengah, tas selempangnya tergantung miring di bahu. "Aku mencoba meneleponmu sejak tadi. Aku cemas sekali setelah apa yang terjadi kemarin. Semua orang di sekitar sini berbisik-bisik—ada suara aneh, cahaya aneh... seolah ada sesuatu yang meledak di dekat sini semalam."
Aku mengangguk, lalu menunjuk kursi di meja makan. "Duduk dulu, Din. Tarik napas pelan-pelan. Semua baik-baik saja."
Dinda duduk, baru menyadari keberadaan Orion yang berdiri di dekat jendela, menatap kami tenang. Dia tersenyum canggung ke arah Orion. "Maaf... aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya... khawatir untuk kalian berdua."
"Aku mengerti, Dinda. Terima kasih sudah peduli," jawab Orion lembut.
"Itu yang sahabat lakukan, kan?" Dinda tersenyum, lalu menatapku lebih serius. "Jadi... ada yang baru? Kalian berdua terlihat seperti orang yang baru saja tidak tidur semalaman."
Aku menghela napas panjang, lalu menceritakan semuanya—tentang Valdris, tentang foto kakekku, dan tulisan di belakangnya. Semakin aku bercerita, semakin lebar mata Dinda.
"Valdris itu kakak kandungmu?" tanya Dinda ke arah Orion, suaranya berbisik seolah takut ada yang mendengar dari luar.
Orion mengangguk, wajahnya terlihat sedih. "Kami lahir dari ayah yang sama. Tapi dia selalu merasa dunia tidak adil padanya. Semua yang dia lakukan... murni karena kebencian yang dia pelihara selama ribuan tahun. Dan sekarang dia menemukan celah—lewat keluargamu, Aruna."
"Tapi kenapa kakekku?" gumamku pelan. "Dia hanya manusia biasa. Dia tidak pernah bercerita tentang hal-hal seperti ini padaku."
"Mungkin karena dia melindungimu," kata Dinda pelan. "Pikirkan, Aruna. Kakekmu itu sering menghilang berhari-hari tanpa memberi tahu ke mana. Buku-bukumu penuh catatan aneh yang tidak dimengerti siapa pun. Dan dia selalu berpesan agar kau jangan pernah masuk ke gudang belakang rumah sendirian. Bukankah itu aneh?"
Hatiku berdebar kencang. "Gudang itu... masih ada barang-barangnya di sana."
"Tapi Valdris pasti sudah tahu tempat itu," kata Orion cepat, matanya menatapku tajam namun lembut. "Kalau kita pergi ke sana sekarang, bisa saja itu jebakan."
"Lalu apa? Kita diam saja dan menunggu dia datang menyerang kita?" tanyaku, suaraku sedikit meninggi karena cemas.
Orion bangkit berdiri, berjalan mendekat ke arahku, meletakkan kedua tangannya di bahuku. "Aku tidak memintamu menyerah. Aku hanya minta kita lebih bijak. Ada tempat lain yang bisa kita kunjungi dulu. Sebelum kakekmu meninggal, dia sering pergi ke reruntuhan pintu air tua di pinggir sungai. Dia menyebutnya 'Gerbang Penjaga Batas'. Di sana ada jejak yang mungkin bisa kita baca tanpa harus masuk ke jebakan Valdris."
Dinda menatap kami bergantian. "Kalau begitu aku akan ke perpustakaan kota. Aku akan cari semua catatan lama tentang daerah itu, tentang keluargamu, apa pun. Kalian berdua... hati-hati, ya? Jangan berpisah satu sama lain di sana."
"Kita berjanji," kataku sambil tersenyum. "Terima kasih, Din. Kau sahabat terbaik yang pernah kumiliki."
"Sama-sama. Sekarang pergi sebelum hari semakin siang. Semakin cepat kita tahu kebenarannya, semakin cepat kita bisa melawannya."
Setelah Dinda pergi, aku meraih tangan Orion. Dia memelukku dari belakang, meletakkan dagunya di atas kepalaku, dan aku merasa seluruh kecemasan perlahan memudar.
"Kau tidak menyesal, kan? Sudah terlibat dengan seseorang sepertiku?" tanyanya pelan di telingaku.
Aku berbalik di pelukannya, menatap matanya. "Tidak sedetik pun. Dan kalau harus memilih lagi, aku akan tetap memilihmu, Orion. Di dunia mana pun, di kehidupan mana pun."
Dia tersenyum, lalu mencium keningku dengan lembut dan penuh rasa syukur. "Kau membuatku percaya bahwa kebahagiaan itu nyata. Bahkan untuk seseorang yang berasal dari tempat seperti aku."
Saat matahari mulai condong ke barat, kami berangkat. Orion berjalan di sebelahku, tangannya tak pernah lepas dari tanganku. Jalan setapak menuju pintu air tua itu terasa lebih panjang dari biasanya. Pepohonan di kiri dan kanan berdiri rapat, kabut tipis mulai turun meski hari belum terlalu sore.
"Kau merasakannya juga, kan?" bisikku. "Sesuatu yang tidak benar di sini."
"Dari tadi. Tapi jangan takut. Selama aku ada di sini, tidak ada yang boleh menyentuhmu," jawab Orion tegas, tapi ujung jarinya yang menggenggam tanganku sedikit gemetar.
Saat reruntuhan bangunan batu tua itu terlihat di kejauhan, langkahku terhenti. Di sana, berdiri sosok yang kukenal sangat baik. Punggungnya tegap, rambutnya memutih, mengenakan kemeja cokelat yang sering ia pakai saat berkebun.
"Kakek..." bisikku, napasku tercekat.
Orion langsung berdiri di depanku, menahan bahuku agar aku tidak melangkah maju terlalu jauh. "Aruna, jangan mendekat dulu. Dengarkan aku—"
"Tapi itu kakekku, Orion! Dia berdiri di sana!" suaraku pecah, air mata tiba-tiba menggenang.
Sosok itu berbalik perlahan. Wajahnya memang kakekku, tapi senyumnya... senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Dingin, licik, dan matanya—bukan mata kakekku. Matanya gelap pekat, tanpa cahaya sedikit pun.
"Selamat datang, cucuku," suaranya terdengar jelas di telingaku, seolah dia berdiri tepat di hadapanku. "Sudah lama sekali aku menunggu momen ini. Dan kau membawanya... Sang Pangeran yang dikutuk."
Orion merapatkan aku ke pelukannya, tubuhnya menegang penuh kewaspadaan. "Ini bukan kakekmu, Aruna. Ini ilusi yang dibuat Valdris. Dia sedang bermain dengan ingatanmu. Tetaplah di sampingku, jangan menatap matanya terlalu lama."
"Tapi kenapa dia terlihat begitu nyata?" tanyaku bergetar, menenggelamkan wajahku di dada Orion yang terasa hangat dan aman.
"Karena dia tahu betapa rindunya kau pada kakekmu. Itulah kelemahan terbesarmu yang sedang dia gunakan," bisik Orion lembut sambil menahan dirinya sendiri agar tidak ikut terhanyut emosiku. "Pegang tanganku, Aruna. Ingat suaraku. Ingat ke mana kau pulang. Jangan biarkan dia masuk ke pikiranmu."
Sosok yang menyerupai kakekku itu tersenyum lebih lebar, dan di belakangnya, kabut tebal mulai berputar perlahan, menutup jalan pulang yang tadi kami lewati.
"Kalian tidak perlu pulang lagi. Karena kalian sudah masuk ke dalam permainanku."
😊🖤