Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPULANGAN YANG MENGUBAH ARAH ANGIN
Pagi itu, atmosfer universitas swasta ternama di bilangan Jakarta Selatan terlihat seperti biasa bagi sebagian besar mahasiswa, kecuali bagi seorang Ziva Adriana.
Dengan mini skirt bermotif kotak-kotak merah-hitam dan jaket kulit hitam yang membungkus ketat tubuh seksinya, ia melangkah membelah koridor utama Fakultas Hukum dengan aura dominasi yang mustahil untuk diabaikan.
Setiap ketukan tumit boots-nya di atas lantai granit memicu lirikan, bisik-bisik kagum, dan tatapan lapar dari para pria muda yang berkumpul di lorong.
Langkahnya mantap, kepalanya terangkat angkuh, meskipun jauh di dalam benaknya, fokusnya sama sekali tidak berada di gedung perkuliahan ini.
Pikirannya masih tertinggal pada secangkir kopi hitam dan kehangatan samar martabak manis yang ia yakini telah menyentuh bibir kaku Letnan Jenderal Gibran Mahendra semalam.
"Ziva!
Pelan-pelan dong jalan lo!" Keyla berlari kecil mengejarnya dari arah perpustakaan, napasnya tersengal-sengal dengan beberapa buku tebal di pelukannya.
"Lo udah denger rumor belum?
Si Kevin, anak Dekan itu, katanya mau nembak lo lagi siang ini di area selasar!
Dia sampai menyewa band akustik kampus buat bikin pertunjukan."
Ziva menghentikan langkahnya mendadak, berbalik dan menatap sahabatnya dengan raut wajah yang penuh rasa bosan.
Ia membetulkan posisi kacamata hitamnya di atas kepala.
"Kevin lagi?" Ziva menghela napas cemooh.
"Dia nggak bosan apa ya gue tolak mentah-mentah berkali-kali?
Bilangin ke dia, Key... gue nggak butuh cowok yang masih minta uang jajan sama bapaknya buat beli bensin mobil.
Gue butuh pria yang sudah punya bintang tiga di bahunya, bukan bintang emas di buku rapor."
Keyla membelalakkan mata, menggeleng-geleng heran melihat tingkah sahabatnya yang makin hari makin hilang akal.
"Lo beneran udah kecantol setengah mati sama Om Jenderal itu, ya?
Ziv, sadar!
Taruhannya tinggi banget.
Dia itu sahabat karib bokap lo sendiri, jarak umurnya jauh, dan dia itu... manusia paling kaku di angkatannya!
Lagian dia sangat menghormati bokap lo, mana mungkin mau melirik lo!"
"Justru di situ seninya, Key," Ziva menyeringai nakal, merapatkan jaket kulitnya dan mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Meruntuhkan prinsip dan rasa hormat pria kaku itu di hadapan sahabatnya sendiri... bakal terasa seribu kali lebih memuaskan daripada dengerin gombalan manis dari bocil-bocil kampus."
Keyla hanya bisa mengelus dada, tak sanggup membayangkan sejauh apa kegilaan sahabatnya ini akan melaju.
Namun, sebelum Ziva sempat melanjutkan khotbahnya tentang seni menaklukkan pria dewasa, ponsel pintarnya bergetar hebat di dalam tas.
Sebuah notifikasi pesan singkat dari sang mama, Ajeng, terpampang jelas di layar:
'Ziva, tidak ada acara nongkrong setelah kelas selesai. Langsung pulang ke rumah. Papa pulang hari ini, beliau sudah di tol dari bandara Soekarno-Hatta.'
Jantung Ziva yang biasanya berdetak stabil tiba-tiba mencelos.
Rasa percaya diri yang baru saja ia pamerkan mendadak surut, digantikan oleh gelombang kecanggungan yang merayap cepat.
Ayahnya, Bramantyo Adriana, adalah seorang diplomat senior yang telah menghabiskan hampir dua tahun terakhir bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia di London.
Hubungan mereka tidak buruk, namun Bram adalah sosok patriarkis yang sangat konservatif, dingin, dan memegang teguh norma-norma lama kebalikan mutlak dari jiwa bebas, liar, dan bar-bar yang dimiliki Ziva.
Matahari mulai condong ke barat saat sedan sport merah milik Ziva membelah halaman luas kediaman keluarga Adriana.
Di depan pintu utama, selain mobil sedan diplomatik bernomor plat khusus milik ayahnya, terparkir pula sebuah mobil dinas militer bercat hijau zaitun dengan kaca gelap yang sangat ia kenali.
Darah Ziva terasa berdesir hangat.
Perasaan cemasnya mendadak berganti menjadi gelombang adrenalin yang familier.
Ia merapikan rambutnya, mengoleskan tipis lip gloss merah muda di bibirnya melalui cermin tengah mobil, lalu melangkah masuk ke dalam ruang tamu rumahnya yang megah.
Aroma tembakau cerutu mahal bercampur dengan wangi maskulin bernuansa woody dan tobacco langsung menyerbu indra penciumannya.
"Ziva, kemari Sayang," panggil Ajeng yang berdiri anggun di dekat dispenser anggur.
Suaranya terdengar sedikit tegang, meski dilapisi oleh senyuman ibu rumah tangga yang sempurna.
Di sofa kulit berukir kayu jati, duduklah Bramantyo.
Pria paruh baya itu tampak amat gagah dalam balutan setelan jas buatan penjahit kelas atas.
Namun, sosok yang duduk tepat di seberang ayahnya adalah alasan sebenarnya mengapa napas Ziva tertahan di tenggorokan.
Gibran Mahendra.
Sang Letnan Jenderal duduk dengan posisi tubuh yang teratur penuh kedisiplinan.
Ia mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) lengan panjang yang kaku, duduk tegap dengan kedua tangan bertumpu di paha.
Karismanya yang gelap dan kuat mendominasi atmosfer ruangan, sanggup meruntuhkan nyali siapa pun yang berniat mengusiknya.
Gibran tampak sedang tertawa pelan bersama Bramantyo, memperlihatkan betapa dekatnya ikatan persahabatan di antara kedua pria tersebut.
"Papa?" Ziva mendekat.
Dalam hitungan detik, ia mengubah postur tubuhnya yang liar menjadi sosok putri bangsawan yang santun.
Ia membungkuk kecil dan mencium punggung tangan ayahnya dengan patuh.
"Kamu sudah sangat besar, Ziva.
Dan... makin mirip dengan mamamu waktu muda," Bram memeluk bahu putrinya sekilas dengan senyum hangat, lalu menoleh bangga pada sahabat di depannya.
"Gibran, kamu ingat putri tunggal saya ini?
Dulu waktu kamu masih menjabat Kolonel dan kita sering diskusi sampai subuh, dia masih suka merajuk minta dibelikan es krim.
Sekarang sudah jadi mahasiswi hukum."
Gibran mengangguk sangat tipis.
Manik mata hitamnya yang sehitam malam mengunci pandangan Ziva.
Tidak ada getaran emosi di sana, hanya kilat peringatan yang amat dingin, seolah menyampaikan pesan tersirat: 'Jaga kelakuanmu, jangan memalukan ayahmu di depan saya.'
"Saya tentu ingat, Bram," ujar Gibran dengan suara beratnya yang bergema rendah di dalam ruangan.
"Saya bahkan sempat bertemu dengan Ziva beberapa kali belakangan ini.
Dia... tumbuh menjadi gadis yang sangat bersemangat dan penuh inisiatif."
Ziva menahan senyumnya agar tidak meledak.
Bahasa diplomatis sang Jenderal untuk mengemas aksi nekatnya menghadang mobil dinas tadi siang di depan sahabat karibnya sendiri sungguh sangat luar biasa.
Suasana makan malam keluarga itu berlangsung bagaikan sebuah medan pertempuran yang disamarkan oleh denting halus sendok perak dan piring porselen buatan Prancis.
Bramantyo banyak bercerita mengenai tugas diplomasinya di Eropa, sementara Gibran mendengarkan dengan penuh rasa hormat dan perhatian seorang sahabat sejati.
Ziva duduk di sebelah mamanya, tepat berhadapan langsung dengan Gibran.
Dari balik lilin hias yang menyala tipis di tengah meja, matanya tak pernah berhenti menguliti setiap detail pada wajah pria itu garis rahangnya yang tegas, kancing paling atas seragamnya yang tertutup rapi, hingga jemari kekarnya yang memegang pisau daging dengan presisi sempurna.
"Gibran," Bramantyo memotong daging steak-nya, memecah pembicaraan tentang politik luar negeri.
"Sebagai sahabat lama yang tahu persis perjalanan kariermu dari bawah, saya jujur sering prihatin.
Pangkatmu sudah bintang tiga, karier cemerlang, tapi kamu terlalu membatu.
Apa benar-benar tidak ada wanita yang sanggup meruntuhkan tembok disiplin di hatimu itu?"
Ajeng tersenyum canggung sambil mengusap jemarinya di atas serbet, sementara Ziva pura-pura meminum air putihnya untuk menyembunyikan seringai yang hampir pecah.
Gibran meletakkan garpunya tanpa menimbulkan suara sedikit pun, menatap Bramantyo dengan rasa hormat mendalam.
"Fokus utama saya sejak dulu adalah komando dan menjaga amanah negara, Bram.
Bagian dari hidup saya yang itu belum menjadi prioritas."
"Tapi Om..." Ziva akhirnya menyela.
Suaranya yang renyah dan penuh provokasi memotong ketenangan meja makan.
"Tugas negara itu kan sangat berat.
Om Jenderal yang terus-terusan sendiri begini butuh seseorang di rumah untuk melepas penat.
Seseorang yang usianya jauh lebih muda, yang penuh energi... supaya Om nggak cepat kaku hanya karena mikirin perang dan persahabatan tua."
Bramantyo serta-merta mengerutkan keningnya tajam, menatap putrinya heran.
"Ziva!
Bicara apa kamu di depan sahabat Papa?
Tidak sopan."
"Loh, Ziva kan cuma berpendapat sebagai anak muda, Pa," jawab Ziva santai, menopang dagunya dengan kedua tangan dan menatap Gibran dengan binar mata menantang.
"Om Gibran ini terlalu formal kayak patung.
Sebagai sahabat Papa, harusnya Papa dukung dia biar dapat warna baru dalam hidupnya."
Gibran membalas tatapan membara gadis itu tanpa mengedipkan mata.
Untuk pertama kalinya malam itu, sebuah sudut bibirnya terangkat amat tipis sebuah gestur peringatan yang sangat jelas bagi Ziva agar tidak melampaui batas di hadapan ayahnya.
"Warna yang terlalu liar kadang cuma bisa menyilaukan dan merusak pemandangan, Ziva," balas Gibran dingin, suaranya mengandung penekanan yang dalam.
"Dan prajurit seperti saya sangat menghargai batas ketenangan serta norma."
"Norma itu dibuat untuk diuji, Om," sahut Ziva tak mau kalah, matanya makin berkilat.
"Sekali-kali Om harus coba berdiri di tengah badai.
Biar tahu rasanya benar-benar hidup."
Usai makan malam dan pembicaraan formal berakhir, Gibran berpamitan untuk kembali ke kediamannya.
Ziva memanfaatkan celah ketika ayahnya sedang melangkah ke ruang kerja lantai atas untuk mengambil dokumen pertukaran cenderamata.
Dengan gerakan cepat, ia menyelinap keluar menuju teras depan yang temaram.
"Om Jenderal," panggil Ziva setengah berbisik di antara pilar batu alam.
Gibran menghentikan langkahnya tepat di samping pintu mobil dinasnya yang terbuka.
Ia berbalik, menatap Ziva dengan raut wajah tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi.
"Masuk ke dalam, Ziva.
Ayahmu adalah sahabat baik saya dan pria yang sangat terhormat.
Jangan bertindak tidak sopan di rumahmu sendiri," perintah Gibran rendah.
Ziva bukannya mundur, ia justru melangkah mendekat.
Ia memangkas jarak hingga ia bisa mencium dengan jelas aroma tubuh Gibran yang hangat, berdiri begitu dekat hingga ia harus mendongak untuk menatap mata sang Jenderal.
"Om menggunakan status 'sahabat Papa' sebagai perisai, kan?" goda Ziva, jarinya yang bercat merah darah secara nekat terangkat, merapikan sudut kerah seragam Gibran yang sebenarnya sudah terpasang amat simetris.
"Gara-gara takut sama perasaan Om sendiri?"
Seketika itu juga, pergelangan tangan Ziva ditangkap oleh tangan kekar Gibran.
Pegangannya sangat kuat dan mematikan, memancarkan daya kontrol seorang perwira tinggi yang tidak bisa digertak.
"Jangan pernah mencoba bermain-main dengan saya, Ziva," bisik Gibran, menundukkan wajahnya sedikit hingga suaranya hanya terdengar oleh Ziva seorang.
"Bramantyo adalah orang yang sangat saya hormati.
Saya tidak akan membiarkan anak kecil seperti kamu mengacaukan batasan itu."
"Tapi perisai itu bakal pecah, Om," balas Ziva berani, matanya sama sekali tidak menyipit ketakutan meski pergelangan tangannya terkunci erat.
"Karena semakin Om menolak aku demi Papa... semakin besar alasan aku buat bikin Om berlutut di depan aku.
Taruhan?"
Tiba-tiba, suara ketukan sepatu pantofel Bramantyo terdengar bergema dari arah koridor dalam menuju pintu depan.
Dengan refleks terlatih seorang prajurit, Gibran melepaskan cengkeramannya pada tangan Ziva dan kembali ke posisi berdiri tegap sempurna hanya dalam hitungan detik seolah tak terjadi apa-apa.
"Terima kasih atas jamuan makan malamnya, Bram," ujar Gibran dengan nada suara yang kembali formal dan hangat saat ayah Ziva muncul di ambang pintu.
"Saya permisi kembali ke markas."
Mobil dinas berpangkat bintang tiga itu akhirnya membelah kegelapan malam, menyisakan lampu belakang merah yang perlahan menjauh.
Ziva berdiri di samping ayahnya, menatap kepergian mobil itu dengan napas yang masih tersisa ketegangan.
Ia tahu, persahabatan erat antara ayahnya dan Gibran adalah tembok benteng yang amat tebal.
"Ziva," suara berat Bramantyo memecah keheningan teras.
Ziva menoleh pada ayahnya.
"Ya, Pa?"
Bramantyo menatap jalanan sepi tempat mobil Gibran baru saja menghilang, merangkul bahu putrinya dengan rasa sayang.
"Jangan pernah berulah atau bersikap tidak sopan pada Gibran.
Dia itu sudah seperti adik kandung bagi Papa.
Dia pria yang sangat lurus, disiplin, dan menghormati keluarga ini melebihi apa pun."
Ziva tersenyum tipis, matanya menatap kegelapan jalanan dengan tekad "cegil"-nya yang justru semakin membara hingga ke titik didih tertinggi.
Gibran sangat menghormati ayahnya?
Maka meruntuhkan pertahanan sang Letnan Jenderal dan membuatnya melanggar sumpah persahabatan itu akan menjadi kemenangan paling manis dalam hidup Ziva.