Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN SANG TAIPAN TAMBANG

Suasana di dalam ruang makan mansion itu terasa begitu menekan.

Meja makan panjang bertatahkan kayu jati tua terpajang menawan, dihiasi dengan seperangkat alat makan perak dan lilin-lilin aromaterapi yang memancarkan aroma kayu cendana.

Namun, kemewahan yang tersaji di depan mata sama sekali tidak mampu mengikis rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang rusukku.

Aku duduk di salah satu kursi kayu bersandaran tinggi, mengenakan terusan polos warna hitam yang membalut ketat tubuhku yang berlekuk tegas.

Di seberang meja, Ibu sibuk mematut riasan wajahnya melalui cermin kecil, memoles ulang gincu merah menyalanya dengan jemari yang sedikit gemetar karena gugup sekaligus antusias.

"Rissa, tegakkan punggungmu," tegur Ibu dengan bisikan tajam, menatapku sekilas dari balik cermin kecilnya.

"Jangan memamerkan wajah muram seperti itu.

Malam ini kamu harus memberikan kesan pertama yang sempurna di depan suamiku.

Dia bukan pria sembarangan."

Aku tidak membalas.

Mataku menatap lurus ke arah ujung meja makan yang masih kosong tempat di mana sang pemilik mansion seharusnya duduk.

Langkah kaki yang teratur dan tegas tiba-tiba bergema dari arah lorong utama.

Suara ketukan pantofel kulit mahal di atas lantai marmer itu seolah memiliki irama tersendiri yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.

Dua orang pengawal pribadi berseragam serba hitam melangkah masuk terlebih dahulu, membukakan pintu ganda berukir megah dengan penuh khidmat.

Lalu, pria itu muncul.

Langkahku seolah terhenti untuk beberapa detik.

Pria itu pria yang telah menikahi ibuku melangkah masuk ke dalam ruangan dengan ketenangan yang mengintimidasi.

Namanya Raymond Perkasa.

Berusia tepat 35 tahun, pria itu memiliki garis wajah yang sangat tegas dengan rahang kokoh yang terukir sempurna.

Kulitnya yang sedikit cokelat eksotis berpadu kontras dengan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit Italia yang melekat pas di tubuhnya.

Tubuhnya tinggi semampai, proporsional bagai seorang model papan atas, dengan postur tegap yang secara samar memperlihatkan bentukan otot dada dan perut eight-pack di balik kemeja putihnya yang terancing rapi.

Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperjelas tatapan matanya yang tajam bagai elang tatapan berair hazel yang sangat dingin, menusuk, dan seolah sanggup membaca pikiran setiap orang hanya dalam sekali lirikan.

"Raymond... kamu sudah selesai rapatnya, Sayang?" sapa Ibu seketika, suaranya mendadak berubah menjadi manis dan sangat manja.

Ibu langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri Raymond, mencoba melingkarkan tangannya di lengan pria itu.

Raymond tidak menolak, tetapi juga tidak membalas pelukan itu dengan kehangatan.

Ekspresinya tetap datar tanpa cela.

Pria itu irit bicara, hanya mengangguk pelan sebagai respons atas kehebohan ibuku.

"Ya.

Rapat dengan investor London baru saja selesai," jawab Raymond singkat.

Suaranya terdengar sangat dalam, berat, dan bergema halus jenis suara bass yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri seketika.

Mata hazel milik Raymond kemudian bergulir secara perlahan, lepas dari wajah ibuku, lalu tertuju lurus padaku.

Detik itu juga, pandangan kami bertemu di udara.

Tatapannya begitu menelisik, dingin, dan tanpa ampun.

Ia memperhatikanku yang duduk membisu di sudut meja memperhatikan gaun hitamku yang melekat pas di tubuh, leher jenjangku, hingga paras cantikku yang tertutup aura duka yang pekat.

Ada jeda beberapa detik di mana pria dingin itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sosokku.

"Ini... anak perempuanku, Clarissa," Ujar Ibu cepat, sedikit menyenggol lengan Raymond untuk menarik kembali perhatiannya.

"Rissa, ayo berdiri dan sapa ayah tirimu."

Aku berdiri perlahan.

Tinggi tubuhku yang mencapai 170 sentimeter berpadu sempurna dengan lekuk tubuh bagai gitar Spanyol yang memikat, membuatku berdiri cukup jangkung di hadapan mereka berdua.

Aku tidak menundukkan kepala.

Aku menantang tatapan mata Raymond yang dingin itu secara langsung.

"Clarissa," ucapku singkat, menyuarakan namaku dengan nada serendah dan sedingin mungkin.

Raymond menatapku beberapa saat lebih lama dari yang seharusnya.

Sudut bibirnya yang tipis terangkat samar sangat tipis hingga hampir tidak terlihat sebelum ia akhirnya menarik kursi utama di ujung meja dan duduk dengan gestur yang sangat berkuasa.

"Raymond," ujarnya mengenalkan diri kembali dengan suara beratnya yang khas, tanpa embel-embel 'ayah' atau kata kekeluargaan lainnya.

"Duduklah."

*GUNUNG ES BERNAMA RAYMOND*

Makan malam berlangsung dalam keheningan yang mencekam.

Ibu terus-menerus mencoba membuka percakapan, menceritakan hal-hal sepele dengan gaya yang dipaksakan anggun demi mencuri perhatian suami mudanya.

Namun, Raymond hanya merespons dengan gumaman pendek, anggukan kepala, atau kata-kata satu-dua suku kata.

Pria itu betul-betul sesosok gunung es tampan, kaya raya melebihi bayangan siapa pun, namun sangat sukar disentuh dan irit bicara.

Namun, di sela-sela pemotongan daging steak di piringnya, aku bisa merasakan sepasang mata hazel itu beberapa kali bergulir ke arahku secara tersirat.

Raymond mengamatiku dalam diam, dan aku membiarkan diriku membalas tatapan itu tanpa rasa gentar sedikit pun.

'Pria ini yang membuat Ibu rela melupakan Ayah,' bisikku di dalam hati, menggenggam erat pisau makan di tanganku hingga buku-buku jariku memutih.

'Pria dingin yang menguasai tambang emas dunia ini... adalah kunci dari pembalasan dendamku.'

Usai makan malam yang kaku itu, aku memutuskan untuk menenangkan diri di balkon kamar baruku di lantai dua.

Angin malam Jakarta yang dingin berembus menampar wajahku, menerbangkan rambut hitam panjangku yang bergelombang.

Dari balkon ini, aku bisa melihat pemandangan kolam renang infinity di bawah sana.

Tiba-tiba, pintu kamar di belakangku diketuk pelan, diikuti oleh kemunculan wajah Karin melalui video panggilan di layar ponselku yang terpajang di meja.

Aku segera mengambil ponsel itu dan menghubungkannya dengan earphone.

"Clarissa!

Gila lu ya, hilang tanpa kabar dari sore!" sembur Karin langsung begitu sambungan terhubung secara visual.

"Lu sekarang ada di mana?

Ibu lu beneran boyong lu pindah?"

Aku menghela napas panjang, lalu berjalan kembali ke arah balkon sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah luar, memperlihatkan kemewahan area mansion yang membentang luas.

"Anjrit!

Ini rumah apa istana kerajaan?!" jerit Karin histeris dari seberang telepon, matanya membelalak lebar melihat pemandangan di layarku.

"Ris, lu nggak bercanda kan?!

Ibu lu dapet pesugihan dari mana?!"

"Ibu menikah lagi, Rin," jawabku datar, menyandarkan siku di pagar pembatas balkon.

"Dengan pria yang usianya 35 tahun.

Pemilik perusahaan tambang emas."

Suasana di seberang telepon mendadak hening seketika.

Wajah Karin yang tadi heboh mendadak berubah menjadi sangat serius dan kaget.

"Tunggu... 35 tahun?

Beda 13 tahun lebih muda dari ibu lu?!"

Karin menelan ludah kasar.

"Dan dia kaya raya?

Terus... bagaimana dengan almarhum ayah lu, Ris?

Jangan bilang..."

"Ya," potongku dingin, mataku menatap kosong ke arah air kolam renang yang berkilau di bawah sana.

"Ibu berselingkuh saat Ayah masih hidup dan bertaruh nyawa di jalanan.

Semua kemewahan yang dipegang Ibu sekarang adalah hasil dari pengkhianatannya pada Ayah."

Karin terdiam lama, memproses informasi yang sangat mengerikan itu.

Iba dan kemarahan tampak jelas di raut wajah sahabatku itu.

"Ris... lu gak apa-apa?

Hati lu pasti rasanya kayak dihantam badai..."

"Hati aku sudah mati sejak hari Ayah meninggal, Rin," bisikku pelan, namun beracun.

"Aku tidak akan biarkan Ibu tertawa bahagia di atas penderitaan Ayah.

Aku mau merebut segalanya dari Ibu."

Di layar ponsel, Karin menatapku dengan pandangan campur aduk.

Kemudian, sebuah gagasan gila tersirat di matanya.

Karin mendatangkan senyum tipis yang liar karakter khasnya yang selalu nekat.

"Kalau lu mau bikin ibu lu merasain neraka dunia yang sesungguhnya..." bisik Karin dengan nada provokatif dari seberang telepon.

"...hancurkan dia dari pusat gravitasinya, Ris.

Rebut pria itu.

Pria 35 tahun yang sempurna itu...

goda dia sampai dia berlutut di kaki lu dan mendepak ibu lu keluar dari mansion itu tanpa membawa sepeser pun!"

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!