Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8.Beban tanpa henti

Malam di kediaman Danuartha terasa bergulir jauh lebih lambat dari biasanya. Aira duduk di tepi ranjang kamar Elano yang bercorak antariksa, memegangi buku cerita bergambar dengan jemari yang masih dingin dan sedikit gemetar.

Di sampingnya, Elano sudah berbaring miring sambil memeluk boneka dinosaurus kesayangannya, matanya yang bulat mulai terkulat-kulat menahan kantuk.

"Terus... naga gigihnya berhasil nemuin mahkota yang hilang nggak, Mama Aira?" bisik Elano dengan suara serak khas anak yang hampir tertidur.

Aira memaksakan sebuah senyuman hangat, mengusap lembut poni rambut bocah itu. "Berhasil, Mas Elano. Naganya menemukan mahkotanya di puncak gunung paling tinggi, lalu dia simpan baik-baik supaya tidak diambil oleh orang-orang jahat."

"Seperti Mama Aira yang jagain Elano ya..." gumam bocah itu lirih sebelum akhirnya helaan napasnya teratur dan matanya terpejam sepenuhnya.

Aira terpaku. Kata-kata sederhana dari Elano seketika menghujam dadanya, menghadirkan rasa sesak yang luar biasa. Ia merapikan selimut hingga menutup dada Elano, lalu mendaratkan kecupan lembut di dahi anak itu.

Di tengah kepungan teror Lina dan Hendra, Elano adalah satu-satunya alasan Aira masih bisa merasa berguna dan memiliki tempat untuk bersandar di rumah yang asing ini.

Perlahan, Aira berdiri dan melangkah keluar dari kamar Elano menuju kamarnya sendiri melalui pintu penghubung.

Begitu pintu tertutup rapat, pertahanan diri yang sejak sore ia bangun runtuh seketika. Aira terduduk di tepi ranjang besarnya, menutupi wajah dengan kedua telapak tangan saat isak tangis yang ditahannya pecah tanpa suara.

Uang tiga ratus juta rupiah. Dari mana seorang gadis sembilan belas tahun yang baru lulus SMA dan tidak memiliki harta sepeser pun bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam kurun waktu kurang dari seminggu?

Ancaman Lina berputar-putar di kepalanya seperti mimpi buruk yang tiada akhir. 'Gampang sekali buat orang luar masuk ke ruang VIP dan mencabut satu atau dua selang pas suster lagi lengah...'

Aira meremas kain sprei di bawahnya hingga kusut. Ia membayangkan ibunya yang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit, tanpa bisa berteriak atau membela diri jika wanita iblis itu benar-benar menjalankan niat kejamnya. Ketakutan itu begitu nyata, mencekik lehernya hingga Aira merasa sulit untuk bernapas.

Ia sempat berpikir untuk bekerja paruh waktu, tapi gaji pekerjaan serabutan tidak akan pernah mencapai tiga ratus juta dalam hitungan hari. Menjual barang berharga? Ia tidak membawa apa pun dari rumah lama selain pakaian kusam.

Cincin pernikahan di jari manisnya adalah milik Arka, bagian dari perjanjian hukum dan simbol dari dua miliar rupiah yang sudah dibayarkan untuk ibunya. Jika ia menjual cincin itu, ia sama saja dengan menghancurkan kesepakatan dan mengkhianati Arka.

"Aku nggak boleh lapor ke Mas Arka..." bisik Aira pada keheningan kamar.

"Mas Arka sudah mengeluarkan uang dua miliar. Dia bukan tempat sampah untuk masalah keluargaku. Kalau dia tahu keluargaku terus-terusan memeras, dia pasti bakal membatalkan perjanjian ini dan mengusirku..."

Rasa takut dianggap sebagai wanita serakah yang memanfaatkan kekayaan suami kontraknya membuat Aira memilih mengunci mulutnya rapat-rapat.

Ia mengambil buku tabungan lama dan beberapa dokumen pribadi dari dalam tasnya, mencoba mencari tahu apakah ada aset kecil milik almarhum kakeknya yang bisa dicairkan. Kepalanya berdenyut hebat, keletihan fisik dan mental yang bertumpuk membuat wajah Aira kian pucat bagai kertas.

Sementara itu, ratusan kilometer dari ibu kota, di sebuah hotel berbintang di pusat kota Surabaya, Arka Danuartha baru saja menyelesaikan jamuan makan malam bisnis dengan para investor.

Pria berusia tiga puluh sembilan tahun itu berdiri di dekat jendela kaca yang menjulang tinggi di kamar suite-nya, melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tangan seraya menatap kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana.

Ponsel di atas meja marmer bergetar pelan. Arka meraihnya dan melihat nama Raymond tertera di layar. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai mahal itu di telinganya.

"Ada laporan baru, Raymond?" tanya Arka datar, suaranya yang berat memecah keheningan kamar hotel.

"Selamat malam, Pak Arka," sapa Raymond dari seberang telepon dengan nada profesionalnya.

"Saya hanya ingin melaporkan bahwa agenda peninjauan proyek berjalan sesuai jadwal. Namun, ada satu hal terkait kepulangan Nyonya Aira dari rumah sakit sore tadi yang menurut saya perlu Anda ketahui."

Alis tebal Arka terangkat sedikit. "Kenapa dengannya? Apakah kondisi ibunya memburuk?"

"Kondisi Ny. Wahyuni sangat stabil, Pak. Namun, saat menjemput Nyonya Aira di lorong rumah sakit, saya mendapati beliau tampak sangat terpukul dan sempat menangis. Nyonya Aira berdalih matanya kelilipan debu, tetapi raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa."

Arka diam sejenak, iris mata hitamnya menajam. "Kamu tidak memeriksa CCTV rumah sakit?"

"Saya sudah meminta rekaman keamanan dari pihak rumah sakit lima belas menit yang lalu, Pak," jawab Raymond cepat, seolah sudah paham cara kerja pikirannya sang atasan.

"Di koridor menuju parkiran VIP, Nyonya Aira sempat dihentikan oleh Tuan Hendra dan Nyonya Lina. Mereka terlihat melakukan konfrontasi yang cukup tegang selama hampir sepuluh menit sebelum akhirnya pasangan itu pergi."

Suasana di kamar hotel Arka seketika berubah mencekam. Aura dingin yang membekukan terpancar dari sosok pria itu meskipun ia hanya berdiri sendirian. Jemari Arka yang memegang ponsel terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Hendra dan Lina?" ulang Arka dengan nada suara yang turun beberapa okta, terdengar sangat berbahaya.

"Bukankah saya sudah menginstruksikanmu untuk memberi mereka 'uang pisah' dan memperingatkan agar tidak mendekati Aira lagi?"

"Benar, Pak. Saya sudah menyerahkan uang kompensasi sebesar lima puluh juta sesuai instruksi Anda, beserta surat pernyataan hukum bahwa mereka tidak boleh mengganggu Nyonya Aira atau Ny. Wahyuni. Namun, tampaknya mereka memanfaatkan momen saat saya tidak mengawal Nyonya Aira secara langsung di dalam lorong."

"Apa yang mereka katakan padanya?" tanya Arka dingin.

"CCTV rumah sakit tidak merekam audio, Pak. Tapi melihat gestur tubuh Nyonya Lina yang mengancam dan reaksi Nyonya Aira yang ketakutan hingga menangis, kemungkinan besar mereka kembali memeras atau mengancam Nyonya Aira."

Arka memejamkan matanya rapat-rapat, mengembuskan napas panjang yang sarat akan amarah yang tertahan.

Bayangan Aira pagi tadi—gadis muda dengan mata jernih yang berusaha tetap tegar dan menerima segala batasan dalam pernikahan ini—kembali melintas di benaknya.

Aira tidak mengadu padanya. Gadis itu tidak meneleponnya untuk minta tolong atau mengeluh, melainkan memilih menyimpan penderitaan dan ketakutannya sendirian.

Ada rasa jengkel yang asing menyelusup di benak Arka.

Jengkel pada keserakahan Hendra dan Lina yang tidak tahu diri, tapi juga jengkel pada Aira yang terlalu keras kepala untuk mengandalkannya sebagai seorang suami—meski hanya di atas kertas.

"Pak Arka? Apakah Anda ingin saya mengambil tindakan hukum malam ini juga terhadap Tuan Hendra?" suara Raymond memecah keheningan.

"Tidak usah dulu," putus Arka tegas, matanya kembali terbuka memancarkan kilat intimidasi yang pekat.

"Jangan sentuh mereka sampai saya kembali. Saya tidak mau mereka membuat keributan di rumah sakit yang bisa memperburuk kondisi ibu Aira."

"Baik, Pak."

"Perketat penjagaan di ruang VIP Ny. Wahyuni. Tempatkan dua pengawal pribadi dari Danuartha Security di depan pintunya selama dua puluh empat jam. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin tertulis dariku atau Aira. Paham?"

"Siap, Pak. Akan saya laksanakan detik ini juga."

"Dan satu lagi," tambah Arka sebelum mematikan telepon. "Majukan penerbanganku kembali ke Jakarta besok pagi. Batalkan semua jamuan makan siang dengan klien."

"Baik, Pak Arka. Saya urus tiket kepulangan besok pagi pukul tujuh."

Arka mematikan sambungan telepon dan meletakkan ponselnya kembali ke meja. Pria berusia tiga puluh sembilan tahun itu menyugar rambut cokelat gelapnya ke belakang dengan agak kasar. Keheningan kamar hotel terasa makin mengutak-atik pikirannya.

Mengapa ia merasa sangat terganggu hanya karena gadis sembilan belas tahun itu memilih untuk tidak mengadu padanya? Apakah karena harga dirinya sebagai pria merasa diabaikan, ataukah karena ada secercah rasa iba yang perlahan-lahan mulai mengikis tembok es di hatinya?

Arka melangkah menuju balkon kamar hotelnya, menatap langit malam Surabaya yang pekat. Di jarinya, cincin pernikahan platinum yang senada dengan milik Aira berkilau redup.

"Gadis bodoh..." gumam Arka pelan pada angin malam, suaranya datar namun menyimpan kedalaman makna.

"Kamu pikir kamu bisa menanggung semuanya sendirian di rumahku?"

Keesokan harinya, matahari baru saja muncul di balik awan ketika Aira selesai memandikan dan memakaikan baju untuk Elano. Hari ini adalah hari Sabtu, dan Elano sangat bersemangat karena Aira berjanji akan mengajarinya menggambar menggunakan cat air di taman belakang rumah.

"Mama Aira! Lihat, Elano bikin gambar rumput warna biru!" seru bocah itu riang dari atas tikar piknik yang digelar di atas rumput hijau taman belakang.

Tangannya penuh dengan noda cat berwarna-warni.

Aira yang duduk bersimpuh di sampingnya terkekeh pelan, mengusap hidung Elano dengan jarinya yang bersih.

"Rumput kan warnanya hijau, Mas Elano. Kenapa warnanya biru?"

"Soalnya rumputnya ketumpahan langit, Mama!" jawab Elano asal dengan kepolosan yang membuahkan tawa renyah dari bibir Aira.

Untuk sejenak, tawa dan keceriaan Elano sanggup mengalihkan pikiran kelam Aira dari ancaman tiga ratus juta rupiah yang terus membayanginya.

Namun, setiap kali hening menyapa, rasa cemas itu kembali menghujam dadanya dengan sangat telak.

Aira sudah mencoba memeriksa beberapa perhiasan imitasi milik ibunya yang sempat ia selamatkan, tapi nilainya bahkan tidak sampai satu juta rupiah. Hari Minggu—batas waktu yang ditentukan Lina—tinggal menghitung jam.

"Nyonya Aira?" Bi Inah berjalan mendekati area taman belakang dengan wajah sedikit panik.

Aira mendongak, merapikan duduknya. "Iya, Bi Inah? Ada apa?"

"Den Arka... Den Arka sudah pulang, Nyonya!" bisik Bi Inah cepat.

"Beliau baru saja sampai dan langsung masuk ke ruang kerja di lantai bawah."

Jantung Aira mendadak berdegup kencang. Pulang? Bukankah Mas Arka bilang rapatnya sampai lusa? batin Aira cemas. Apakah ada masalah bisnis yang mendesak hingga pria itu harus memajukan jadwal kepulangannya?

Aira segera berdiri, mengusap tangannya pada kain celemek kecil. "Mas Elano main sama Bi Inah sebentar ya? Mama mau menyapa Papa dulu."

"Asyik, Papa pulang! Bawa oleh-oleh mainan nggak ya?" seru Elano tanpa beban.

Aira melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang campur aduk. Langkah kakinya terasa berat saat mendekati pintu kayu jati tebal yang menjadi pembatas ruang kerja pribadi Arka di lantai satu. Aira berdeham pelan untuk menetralkan rasa gugupnya, lalu menggetok pintu tersebut tiga kali.

Tok. Tok. Tok.

"Masuk," suara berat dari dalam terdengar singkat dan tegas.

Aira memutar gagang pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan berpenerangan hangat yang didominasi rak-rak buku besar dan meja kayu mahoni. Di balik meja besar itu, Arka duduk tegap. Jas formalnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Pria itu tampak sedikit lelah dengan bayangan halus di bawah matanya, namun aura tegas dan tampannya sama sekali tidak pudar.

"Selamat pagi, Mas Arka," sapa Aira pelan, berdiri kaku dekat pintu.

"Saya... saya kaget Mas Arka sudah pulang pagi ini. Katanya lusa?"

Arka meletakkan pulpennya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit. Matanya yang hitam dan tajam menatap lurus pada Aira, memperhatikan raut wajah gadis itu yang tampak lebih pucat dan kurus dibanding kemarin. Ada lingkaran hitam tipis di bawah mata Aira, menandakan gadis itu tidak tidur nyenyak semalaman.

"Pekerjaanku selesai lebih cepat," jawab Arka datar, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Aira.

"Bagaimana keadaan rumah selama saya tidak ada?"

Aira menunduk sedikit, meremas jemarinya di balik punggung.

"Rumah aman, Mas. Elano juga sangat nurut dan pintar. Makanan dan semuanya berjalan lancar."

Arka memperhatikan gerakan tangan Aira yang meremas satu sama lain—sebuah gestur tubuh yang Arka tahu betul menandakan bahwa gadis di hadapannya sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu yang besar.

Keheningan melingkupi ruang kerja itu selama beberapa detik yang menyiksa. Suasana terasa makin dingin dan menghimpit, membuat Aira makin salah tingkah di tempatnya berdiri.

"Aira," panggil Arka dengan nada suara yang sangat rendah, pelan namun penuh dengan tekanan yang sanggup meruntuhkan keberanian siapa saja.

Aira mendongak perlahan, berusaha memberanikan diri menatap mata pria di hadapannya. "Iya, Mas?"

Arka menegakkan posisi duduknya, menopang kedua tangannya di atas meja, lalu menatap Aira dengan pandangan yang seolah mampu membaca seluruh isi pikirannya.

"Apakah ada hal lain yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Arka dingin.

"Sesuatu... yang terjadi kemarin saat kamu pergi ke rumah sakit?"

Deg.

Darah Aira terasa berhenti mengalir seketika. Wajahnya yang sudah pucat bertambah pasi. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Arka bisa mendengar suaranya dari seberang meja. Apakah Mas Arka tahu? Apakah Raymond melapor? pikiran itu berkecamuk hebat di kepala Aira, membuat tenggorokannya mendadak terasa sangat kering.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!