Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI BUNUH DIRI DI TANAH KONFLIK
Kabar itu datang bagai hantaman petir di tengah terik siang bolong bagi seorang Ziva Adriana.
Di tengah susunan rencana dan strategi barunya pasca-insiden nekat "Suster Gadungan" di markas, sebuah siaran berita darurat di televisi yang dipantau oleh Keyla meremukkan seluruh fokusnya.
Letnan Jenderal Gibran Mahendra resmi ditunjuk langsung oleh Panglima TNI untuk memimpin Komando Satuan Tugas Gabungan dalam operasi pengamanan dan misi kemanusiaan di wilayah perbatasan utara sebuah daerah rawan yang tengah bergejolak parah akibat bentrokan bersenjata dengan kelompok pemberontak separatis.
"Dia pergi, Key.
Pria itu pergi ke tempat di mana peluru nyasar bahkan nggak bakalan nanya siapa nama korbannya..." suara Ziva bergetar hebat saat mereka duduk di basecamp rahasia mereka apartemen milik Keyla.
"Ziv, tolong dengarin gue kali ini.
Ini serius!" Keyla memperingatkan dengan nada suara yang sangat dalam, raut wajahnya tegang tak main-main.
"Ini bukan markas besar di Jakarta yang bisa lo masukin gampang pakai seragam perawat sewaan.
Ini zona merah, Ziv!
Gibran ke sana bertaruh nyawa buat tugas negara, bukan buat main kucing-kucingan atau ladenin obsesi gila lo!"
Ziva bergemuruh pelan.
Ia berdiri dari sofa, matanya yang biasanya dihiasi binar nakal dan godaan manja kini berubah menjadi amat tajam, gelap, dan penuh keputusasaan yang nekat.
"Gue nggak bisa biarin dia pergi sendirian dengan beban masa lalu dan kaku kayak gitu, Key.
Kalau... kalau sampai terjadi apa-apa sama dia di sana sebelum dia tahu betapa besarnya rasa sayang gue, gue nggak akan pernah bisa maafin diri gue sendiri seumur hidup."
"Terus lo mau apa? Mau nyusul ke zona konflik?!
Lo beneran udah gila, Ziva!"
"Gue emang udah gila, Key! Lo baru tahu?" Ziva menyeringai tipis, meski setetes air mata menetes membasahi pipinya.
"Cari tahu sekarang juga jadwal keberangkatan tim relawan sipil atau logistik medis yang dikirim ke perbatasan.
Gue punya sertifikat dasar pertolongan pertama dari klub pecinta alam kampus.
Gue bakal tembus masuk lewat jalur itu."
Rintangan pertama yang harus dilalui Ziva tentu saja adalah ayahnya sendiri.
Bramantyo tampak teramat sibuk dan tegang sejak berita penugasan Gibran mencuat.
Sang diplomat senior kerap pulang larut malam dengan raut wajah serba salah dan penuh beban pikiran.
"Ziva, Papa harus terbang ke Singapura selama seminggu untuk menghadiri konferensi diplomatik mendesak," ujar Bramantyo saat mereka sarapan pagi di ruang makan.
"Kamu di rumah saja, fokus pada kuliahmu dan jangan membuat masalah.
Mamamu akan memantau kegiatanmu."
Ziva hanya mengangguk patuh dengan wajah lugu.
Aktingnya sebagai putri penurut sangat sempurna pagi itu.
Namun, begitu mobil diplomatik ayahnya bergerak melaju menuju bandara Soekarno-Hatta, Ziva langsung beraksi cepat melangkah ke kamarnya.
Ia membuang semua mini skirt, crop top, dan dress seksinya.
Tas gunung berkapasitas besar diisinya dengan celana kargo tebal, kaos polos, jaket angin, serta sepatu boots lapangannya.
"Ma, Ziva ada kegiatan bakti sosial dan tugas kuliah lapangan dari dosen Hukum Internasional di luar kota selama beberapa hari.
Sudah dapat izin resmi," bohong Ziva pada Ajeng.
Ajeng, yang belakangan melihat putrinya tampak "tekun" dan tak curiga sama sekali, hanya memberikan restu dan uang saku tambahan.
Sang mama tidak pernah membayangkan bahwa kebohongan kecil putrinya hari itu adalah tiket menuju neraka pertempuran yang hampir merenggut nyawanya.
Wilayah perbatasan itu gersang, berdebu, panas membakar, dan diliputi atmosfer mencekam yang membuat bulu kuduk berdiri.
Berkat kenekatan dan sertifikat kebencanaan kampus yang dikemas rapi oleh jaringan Keyla, Ziva berhasil menyusup sebagai salah satu relawan sipil pembagi logistik makanan di kamp pengungsian utama.
Wajah cantiknya kini tertutup lapisan debu tanah merah, dan kulit mulusnya mulai terbakar menyengatnya matahari perbatasan.
Namun, Ziva tidak mengeluh sedikit pun.
Rasa lelah di tubuhnya terhapus oleh satu tujuan utama: melihat Gibran Mahendra tetap bernapas.
Pada hari ketiga bertugas di kamp yang dijaga ketat oleh prajurit bersenjata lengkap, momen yang ditunggunya akhirnya tiba.
Rombongan Komando Satgas pimpinan Gibran datang melintas untuk memeriksa sistem pengamanan dan distribusi logistik bagi warga lokal.
Gibran turun dari atas Panser Anoa dengan gerakan cekatan dan penuh wibawa.
Pria itu tampil menakutkan sekaligus memesona dalam balutan seragam loreng tempur lengkap helm taktis, rompi antipeluru tebal, dan senjata serbu laras panjang yang tersampir mantap di dadanya.
Karisma militernya meluap seratus kali lipat, membuat sosoknya tampak makin tak tergapai oleh orang biasa.
Ziva yang sedang menggenggam beberapa bungkus nasi untuk anak-anak pengungsi mendadak mematung.
Matanya beradu pandang secara presisi dengan mata elang Gibran dari jarak dua puluh meter.
Gibran membeku di tempatnya.
Langkah kakinya yang tegap terhenti mendadak.
Untuk beberapa detik, Letnan Jenderal itu mengira dirinya sedang mengalami halusinasi parah akibat kelelahan dan sengatan panas ekstrem.
Namun, sosok gadis berwajah coreng-moreng debu dengan rambut yang diikat asal-asalan itu... sama sekali tidak salah.
"Ziva...?" gumam Gibran lirih, suaranya tenggelam oleh deru keras mesin panser.
Sensasi panas amarah mendadak membakar dada sang Jenderal.
Tanpa memedulikan protokol pengawalan atau panggilan ajudannya, Gibran melangkah lebar dan cepat menghampiri Ziva.
Ia langsung mencengkeram lengan gadis itu dan menyeretnya kasar ke balik tenda medis yang tertutup.
"KAU!
APA YANG KAU LAKUKAN DI TEMPAT INI?!" bentak Gibran.
Kali ini suaranya bukan lagi dingin kaku, melainkan amarah murni seorang komandan perang yang meledak hebat.
"APA KAU SUDAH BENAR-BENAR KEHILANGAN AKAL SEHATMU, ZIVA?!"
Ziva menatap pria di hadapannya dengan dada naik-turun.
"Aku cuma mau memastikan Om pulang dengan selamat!
Aku nggak peduli Om mau marah, mau hukum aku, atau mau benci aku... yang penting aku ada di sini!"
"INI BUKAN JAKARTA!
INI BUKAN KAMPUS HUKUM TEMPAT KANAK-KANAKMU BISA BERMAIN!" Gibran mengguncang kedua bahu Ziva dengan cengkeraman keras, matanya merah dipenuhi campur aduk emosi.
"Ini tempat di mana nyawa manusia melayang setiap jamnya!
Ayahmu akan membunuhku jika dia tahu kamu ada di zona pertempuran ini!
Sore ini juga, kamu saya kirim pulang pakai helikopter pasokan!"
"Nggak mau!
Aku terdaftar resmi sebagai relawan sipil negara!" Ziva balas berteriak, air matanya akhirnya lolos menyapu debu di pipinya.
"Om nggak punya hak buat mengusir relawan selama aku nggak melanggar aturan!"
BOOOMM!
Ledakan dahsyat mendadak menggetarkan permukaan tanah di sisi utara kamp.
Gelombang kejutnya menghempaskan debu dan merobek terpal tenda.
Disusul oleh rentetan tembakan senjata otomatis yang memecah keheningan siang.
RATAT!
RATATATAT!
"TIARAP!"
Gibran bereaksi dengan refleks tempur kelas wahid.
Tanpa ragu seribu detik pun, bukannya mendorong Ziva melainkan ia menarik tubuh gadis itu erat ke dalam dekapan dadanya, lalu menjatuhkan badan mereka bersamaan ke atas tanah.
Gibran menungkupi seluruh tubuh Ziva dengan badan besarnya dan rompi antipeluru tebalnya, menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai hidup.
Ziva terengah-engah di bawah tindihan tubuh Gibran.
Ia bisa merasakan detak jantung sang Jenderal berdegup kencang memukul dadanya.
Suasana di luar tenda seketika kacau balau jeritan histeris pengungsi, raungan sirine, dan teriakan instruksi prajurit bersahutan dengan dentuman peluru.
"Tetap menunduk!
Jangan pernah gerakkan kepalamu!" perintah Gibran, suaranya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat dingin, tegas, dan mematikan.
Ia menggeser tubuhnya sedikit untuk mengokang senjata laras panjangnya dengan bunyi klik yang tajam.
Ziva menatap wajah Gibran dari jarak beberapa sentimeter.
Di sinilah ia melihat sisi asli Gibran Mahendra yang sebenarnya sang pemangsa di medan perang.
Tidak ada sedikit pun ketakutan di mata pria itu, hanya fokus pembunuh yang teramat tajam.
"Sersan!
Amankan perimeter timur!
Bawa seluruh warga sipil dan relawan masuk ke dalam bunker bawah tanah!" Gibran berteriak memberi komando lewat radio komunikasi di bahunya.
Pria itu kemudian kembali menoleh pada Ziva yang tubuhnya kini menggigil ketakutan akibat dentuman tembakan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gibran tangkupkan kedua tangannya yang kasar dan penuh kapalan di pipi Ziva, menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu dengan tatapan yang sangat melindungi.
"Ziva, dengarkan saya baik-baik," bisik Gibran, suaranya menembus keriuhan suara tembakan.
"Masuk ke dalam bunker di sebelah kananmu sekarang juga.
Ikuti barisan prajurit saya.
Apapun yang terjadi di luar... jangan pernah berani menampakkan kepalamu keluar sampai saya sendiri yang datang menjemputmu.
Mengerti?"
Ziva hanya sanggup mengangguk lemah dengan mata berkaca-kaca.
"Om... tolong jangan kenapa-kenapa..."
Gibran tidak membalas dengan kata-kata.
Pria itu hanya menatap Ziva selama satu detik penuh sebuah tatapan dalam yang menyimpan ribuan emosi tak terucapkan sebelum ia berbalik bangkit dan berlari menerjang hujan debu menuju garis terdepan pertempuran.
Ziva merangkak penuh perjuangan bersama relawan lain menuju bunker perlindungan, matanya tak lepas menatap punggung tegap Gibran yang perlahan menghilang di balik asap ledakan.
Di dalam bunker yang gelap, pengap, dan bergetar akibat dentuman konflik, Ziva terduduk meringkuk dengan kedua tangan mengepal di dada.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sebuah kenyataan yang menggetarkan hatinya: perasaannya pada Letnan Jenderal Gibran Mahendra bukan lagi sekadar obsesi "cegil" atau pencarian sensasi menaklukkan pria kaku.
Ini adalah cinta yang sesungguhnya cinta yang membuatnya rela mempertaruhkan nyawa di ujung dunia, hanya agar pria itu tetap hidup dan melihat matahari esok hari.