Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30.Dion?
Hari Senin yang dinantikan akhirnya tiba. Suasana di kawasan pusat bisnis Sudirman tampak begitu sibuk sejak pagi hari. Di lantai atas gedung pencakar langit Wijaya Corporation, Kevin Wijaya berdiri di depan jendela kaca besar dengan senyum kemenangan yang terkembang lebar.
Di tangannya, seberkas dokumen proposal proyek integrated smart city bernilai puluhan triliun rupiah sudah siap dikirimkan ke kementerian.
Dania duduk di sofa ruang kerja Kevin, menyeruput kopi premium dengan gaya angkuh. Matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa.
"Tim hukum dan perencana bisnisku sudah memeriksa berkas di flashdisk itu, Dania," ujar Kevin seraya membalikkan badan, menatap Dania penuh kagum.
"Semuanya sangat rinci. Arka benar-benar jenius dalam merancang efisiensi anggaran proyek ini. Tapi sayangnya, kejeniusannya sekarang jadi milik Wijaya Corporation."
Dania menyunggingkan senyum beracun.
"Sudah kubilang, Arka itu terlalu percaya diri. Dia pikir setelah menyingkirkan aku dan membatasi akses Nyonya Rosalia, dia sudah menang total. Dia tidak sadar brankas rahasia ibunya masih bisa kutembus."
"Hari ini, saat berkas ini resmi terdaftar di kementerian atas nama Wijaya Corporation, nama Danuartha Group akan tercoret dari proyek terbesar tahun ini," kekeh Kevin puas.
"Arka akan mengalami kerugian nama baik yang sangat besar di hadapan para investor asing."
"Dan saat Arka hancur, gadis kampung itu tidak akan punya apa-apa lagi untuk dibanggakan," tambah Dania dengan nada penuh kedengkian.
"Aku mau melihat seberapa tahannya Aira mendampingi Arka saat pria itu jatuh miskin."
Tanpa mereka sadari, tepat pada pukul 10.00 WIB, utusan Wijaya Corporation secara resmi menyerahkan berkas penawaran tersebut ke kementerian.
Kevin dan Dania merayakannya dengan dentingan gelas sampanye, merasa di atas angin dan yakin bahwa Arka Danuartha telah berhasil dilumpuhkan.
Sementara itu, di kantor pusat Danuartha Group, suasana di ruang rapat utama terasa sangat tenang—bahkan terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya menegangkan.
Arka duduk di kursi utamanya di ujung meja oval bernuansa kayu mahoni. Pria 39 tahun itu mengenakan setelan jas hitam tailor-made yang mempertegas aura dominan dan dinginnya.
Di sampingnya, Raymond berdiri sigap menyerahkan sebuah iPad yang menampilkan pemantauan lalu lintas berkas di kementerian secara real-time.
"Pak Arka, pihak Wijaya Corporation baru saja mengunggah dan mendaftarkan dokumen penawaran tersebut sepuluh menit yang lalu," lapork Raymond dengan intonasi suara yang mantap.
Arka menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menjalin jemari tangannya di atas meja. Bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman miring yang terkesan sangat berbahaya.
"Mereka benar-benar memakan umpan itu bulat-bulat," desis Arka dingin.
"Betul, Pak. Berkas yang diambil Dania dari brankas Nyonya Rosalia memang berkas draf lama yang sudah Anda ubah variabel analisis risiko dan formula alokasi anggarannya bulan lalu," jelas Raymond.
"Begitu tim verifikasi kementerian melakukan audit teknis sore ini, mereka akan menemukan celah kerugian fatal pada struktur pendanaan yang diajukan Wijaya Corporation. Secara otomatis, Wijaya Corporation akan kena blacklist atas tuduhan penyajian data palsu dan kelalaian finansial."
Arka mengangguk pelan. Tidak ada raut panik sedikit pun di wajah tegasnya. Pria itu sudah memperhitungkan setiap langkah catur ini jauh-jauh hari. Dania dan Kevin pikir mereka sedang menjebak Arka, padahal mereka sendiri yang sedang berjalan masuk ke dalam lubang eksekusi yang telah disiapkan.
"Hubungi tim hukum kita," perintah Arka dengan nada suara serak dan tegas.
"Begitu kementerian menolak berkas Wijaya Corporation sore nanti, langsung layangkan gugatan pencurian rahasia dagang dan kejahatan korporasi terhadap Kevin Wijaya dan Dania. Jangan beri mereka ruang untuk mediasi."
"Siap, Pak Arka. Semua bukti rekaman CCTV hotel, transaksi internal, serta jejak digital penyerahan flashdisk sudah terkumpul rapi di tangan tim pengacara," jawab Raymond mantap.
Arka melirik jam tangan mewahnya. Waktu menunjukkan pukul 11.30 siang. Pria itu bangkit berdiri dari kursinya, merapikan jas hitamnya.
"Saya mau pulang ke penthouse," ujar Arka singkat, meredam aura tegang di ruang rapat menjadi kelembutan yang mendadak saat mengingat istrinya.
"Aira dan Elano sedang menunggu untuk makan siang bersama."
Di penthouse, suasana begitu hangat dan penuh warna. Aira baru saja selesai membantu Bi Inah menyiapkan makan siang di meja makan.
Hari ini Aira memasak beberapa menu kesukaan Arka dan Elano, mulai dari sup iga sapi bening hingga ayam goreng mentega.
Elano yang sudah berganti baju santai tampak sibuk mondar-mandir di sekitar meja makan sambil membawa buku gambarnya.
"Mama Aira! Lihat gambar Elano!" seru Elano seraya menyodorkan lembaran kertas gambar yang penuh dengan coretan krayon warna-warni.
Aira berlutut di samping kursi Elano, menyambut kertas gambar itu dengan senyuman manis.
"Wah... ini gambar apa, Elano? Kok orangnya ada tiga?"
Elano menunjuk coretan gambar tersebut satu per satu dengan jarinya yang mungil.
"Ini Papa Arka yang tinggi kayak jerapah, ini Elano yang ganteng... terus ini Mama Aira yang paling cantik pake gaun warna pink!"
Aira tertawa renyah, mengusap lembut kepala Elano. "Bagus banget sayang! Tapi kok Papa dibilang kayak jerapah?"
"Soalnya Papa tinggi banget! Kalau Elano mau minta gendong, Elano harus mendongak tinggi-tinggi sampai leher Elano pegal!" celoteh Elano polos tanpa beban.
Bocah lima tahun itu sama sekali tidak mau kalah kalau sudah bercerita.
"Siapa yang dibilang kayak jerapah?"
Suara berat dan hangat Arka terdengar dari arah pintu masuk. Pria itu baru saja melangkah masuk, menyerahkan jas dan tas kerjanya pada Bi Inah yang menyambutnya di lorong.
Elano seketika membelalakkan mata, memeluk kertas gambarnya erat-erat di balik dada seraya menatap ayahnya curiga. "Nggak ada! Elano nggak bilang apa-apa!"
Arka terkekeh gemas, melangkah mendekati Aira yang masih berlutut. Pria dewasa itu membungkuk sedikit, mendaratkan kecupan hangat di dahi Aira dan membelai lembut pipi istrinya di depan Elano.
"Mas sudah pulang... Kok cepat banget?" tanya Aira dengan mata berbinar senang, mendongak menatap suaminya.
"Pekerjaan kantor sudah diurus Raymond. Mas lebih memilih makan siang di rumah bersama kamu dan Elano," jawab Arka serak, menatap Aira dengan pendar kasih sayang yang teramat pekat.
Elano yang merasa diabaikan seketika menyusupkan tubuhnya di antara Arka dan Aira, mendorong pelan kaki Papanya. "Papa jangan peluk-peluk Mama Aira terus! Elano lapar mau makan ayam!"
Arka menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah cemburu putranya. Ia mengangkat tubuh Elano dengan satu tangan dan mendudukkannya di kursi makan. "Iya, iya... Ayo makan. Kamu ini makin hari makin seperti pengawal pribadinya Mama Aira."
"Biarin! Elano kan pengawal Mama Aira!" sahut Elano sambil menjulurkan lidahnya, membuat Aira dan Arka tertawa bersamaan.
Saat mereka bertiga menikmati makan siang yang penuh kehangatan keluarga, ponsel Aira yang tergeletak di samping piringnya tiba-tiba bergetar pelan. Ada notifikasi pesan masuk dari nomor baru yang tidak dikenal.
Aira meraih ponselnya dengan dahi berkerut bingung. Ia membuka pesan teks tersebut:
> 'Hai Aira... Ini Dion, teman SMA kamu dulu. Aku dengar kamu sudah di Jakarta sekarang dan... katanya kamu sudah menikah? Aku kaget banget pas dengar kabarnya dari anak-anak alumni. Kalau kamu ada waktu, bisa kita ketemu sebentar? Ada hal penting tentang masa sekolah kita yang mau aku tanyakan.'
Aira menatap layar ponselnya beberapa detik dengan raut wajah penuh tanya. Nama Dion memicu kenangan masa-masa sekolah menengah atas di kampung halamannya dulu—sosok Dion adalah mantan ketua OSIS yang dulu cukup dekat dengannya sebelum hidup Aira berubah drastis karena cobaan ekonomi keluarga dan sakitnya Ibu Wahyuni.
Arka yang menyadari perubahan ekspresi di wajah istrinya seketika menghentikan gerakan sendoknya. Mata hitamnya yang tajam menatap Aira penuh perhatian.
"Ada apa, Sayang? Pesan dari siapa?" tanya Arka lembut namun ada nada protektif yang tersirat di dalamnya.
Aira mendongak, menatap Arka dengan kejujuran tanpa ada yang disembunyikan. Ia menyerahkan ponselnya pada Arka.
"Ini Mas... ada pesan masuk dari nomor baru. Katanya ini Dion, teman masa SMA Aira dulu."
Arka meraih ponsel Aira, membaca pesan singkat itu dengan mata yang perlahan menyipit pekat. Aura dominan seorang pria dewasa berumur 39 tahun yang posesif seketika terpancar tipis dari gestur tubuh Arka, walau ia berusaha tetap tenang di depan Aira dan Elano.
"Dion?" ulang Arka dengan suara serak yang tenang namun berbobot.
"Seberapa dekat kamu sama dia waktu SMA dulu, Hm?"
_Bersambung