Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Mafia di Biara

Sang Mafia di Biara

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:3
Nilai: 5
Nama Author: Gizelly Ladislau

Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.

Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.

Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.

Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.

Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

POV Suster Mary Mendez

Di Antara Surga dan Dosa

Aku sedang berada dalam dosa.

Kalimat itu bergaung di dalam benakku sejak bibir Dante Herrera menyentuh bibirku.

Seharusnya aku menyesal.

Seharusnya aku menangis di hadapan altar, memohon ampun karena telah membiarkan hatiku menyimpang.

Tapi tidak.

Dan itu membuatku lebih ketakutan daripada hal apa pun.

Karena untuk pertama kalinya dalam seluruh hidupku...

Aku tidak menyesal.

Lorong mansion sunyi ketika tatapan kami kembali bertemu.

Semua orang tengah asyik di ruang bioskop dadakan yang dibuat Nyonya Consuelo.

Gelak tawa.

Percakapan.

Suara film yang samar dari kejauhan.

Tapi aku hanya sanggup melihat Dante.

Mata gelapnya terpaku pada mataku.

Menghunjam.

Penuh tekad.

Seolah ia telah mengambil sebuah keputusan.

Jantungku berdegup kencang.

Lalu ia melangkah mendekatiku.

Tanpa menarik perhatian.

Tanpa menimbulkan kecurigaan.

Ia hanya mendekat dan berkata dengan suara pelan.

"Aku perlu bicara denganmu."

Sekujur tubuhku menegang.

Meski begitu, aku mengikutinya.

Kami menaiki tangga dalam diam.

Setiap anak tangga seakan menjauhkanku sedikit demi sedikit dari sosok yang selama ini kuyakini sebagai diriku.

Ketika aku sadar, kami sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

Dante masuk lebih dulu.

Aku ragu.

Tapi kemudian aku ikut masuk.

Begitu pintu tertutup, keheningan menguasai ruangan.

Jantungku berdetak begitu kencang sampai aku yakin ia bisa mendengarnya.

"Mary..."

Cara ia menyebut namaku membuat lututku lemas.

Kuangkat pandangan.

Dan mataku bertemu dengan matanya.

Sarat perasaan yang tak lagi ia sembunyikan.

"Kau harus berhenti menatapku dengan cara seperti itu."

Suaraku keluar lebih lemah dari yang kuinginkan.

Ia melangkah maju.

"Lalu bagaimana seharusnya aku menatap perempuan yang kucintai?"

Jantungku begitu saja berhenti.

Cinta.

Ia berkata cinta.

Bukan hasrat.

Bukan ketertarikan.

Bukan gairah.

Cinta.

Kurasakan mataku dipenuhi air mata.

"Dante..."

"Jangan. Dengarkan aku."

Ia menggenggam kedua tanganku dengan hati-hati.

Seolah aku sesuatu yang berharga.

"Aku sudah berusaha melawan perasaan ini."

"Aku juga."

"Aku sudah berusaha melupakanmu."

"Aku juga."

Senyum getir muncul di bibirnya.

Lalu ia mendekat lebih rapat.

"Tapi aku tak bisa."

Dadaku terasa nyeri.

Karena aku pun tak bisa.

Tak bisa melupakan matanya.

Suaranya.

Senyumnya.

Cara ia melindungiku.

Cara ia memandangku.

Sebagai seorang perempuan.

Bukan sekadar seorang biarawati.

"Aku mencintaimu, Mary."

Air mataku mengalir.

"Dan itu membuatku takut."

"Aku juga takut."

Ia mengangkat tangannya ke wajahku.

Menyeka air mataku.

"Tapi aku tak akan berbohong padamu."

Raut wajahnya berubah serius.

"Hidupku tidak normal."

Aku tahu persis apa yang ia bicarakan.

Tentang Mafia.

Tentang imperium Herrera.

Tentang dunia berbahaya tempat ia berada.

"Di duniaku tidak ada yang namanya pacaran."

Kalimat itu mengejutkanku.

"Apa?"

"Ketika seorang lelaki Herrera memilih seorang perempuan..."

Ia menarik napas dalam-dalam.

"Ia memilihnya untuk seumur hidup."

Jantungku berdegup kencang.

"Kalau suatu hari kau memutuskan untuk melepas jubah biaramu..."

Ia menggenggam tanganku lebih erat.

"Aku akan menikahimu."

Dunia seakan berhenti.

Aku hanya menatapnya.

Tanpa sanggup menjawab.

Tanpa sanggup bernapas.

Pernikahan.

Keluarga.

Sebuah hidup di sisinya.

Semua itu terasa mustahil.

Tapi, untuk pertama kalinya...

Semua itu juga terasa mengundang kerinduan.

Dante mendekatkan dahinya ke dahiku.

"Aku tidak meminta jawaban sekarang."

Suaranya lembut.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Kupejamkan mata.

Merasakan ketulusan dalam setiap katanya.

Lalu bibirnya kembali menyentuh bibirku.

Sebuah ciuman yang manis.

Tenang.

Penuh kasih.

Tanpa terburu-buru.

Tanpa tuntutan.

Bagai sebuah janji yang membisu.

Ketika kami menjauh, aku sudah benar-benar tersesat.

Tersesat di antara panggilan Tuhan.

Dan lelaki yang telah menaklukkan hatiku.

Tak lama kemudian aku meninggalkan kamar itu.

Aku perlu berpikir.

Aku perlu berdoa.

Aku perlu memahami apa yang sedang terjadi padaku.

Ketika aku masuk ke kamarku, aku berlutut di hadapan salib kecil.

Kugenggam rosarioku.

Kupejamkan mata.

Dan kucoba berdoa.

Tapi setiap kali aku memulai sebuah doa...

Wajah Dante muncul.

Senyumnya.

Suaranya.

Janjinya.

"Aku akan menikahimu."

Air mataku kembali mengalir.

Tapi kali ini bukan air mata kesedihan.

Melainkan air mata ketakutan.

Harapan.

Dan cinta.

Malam yang sama itu, hati-hati lain di dalam rumah itu pun mulai berubah.

Di taman, Pietro dan Natália kembali berdebat untuk kesepuluh kalinya hari itu.

Tapi tak ada lagi yang percaya bahwa itu sekadar cekcok belaka.

Terutama ketika Pietro melepas jaketnya sendiri untuk melindungi Natália dari dingin.

Dan Natália menerimanya tanpa mengeluh.

Untuk pertama kalinya.

Di perpustakaan mansion, Giovanni mengamati Bárbara.

Bárbara berpura-pura membaca.

Giovanni berpura-pura mencari buku.

Tak satu pun dari keduanya berhasil menipu siapa-siapa.

"Kau mau terus mengabaikanku?"

"Kau mau terus mengejarku?"

"Ya."

"Sungguh lelaki yang menyebalkan."

"Terima kasih."

Bárbara memutar bola mata.

Tapi menyembunyikan senyum.

Dan Giovanni menyadarinya.

Cukup untuk membuatnya tersenyum sepanjang sisa malam itu.

Kevin dan Graziela duduk di beranda.

Berbincang tentang mimpi.

Tentang ketakutan.

Tentang masa depan.

Tanpa saling menggoda.

Tanpa rayuan berlebihan.

Hanya dua jiwa yang sedang belajar saling mengenal.

Dan mungkin...

Mulai menyukai kebersamaan satu sama lain lebih dari yang seharusnya.

Sementara itu, Nyonya Consuelo mengamati semuanya dari balik jendela.

Senyum puas terkembang di bibirnya.

Misi rahasianya berjalan jauh lebih baik dari yang ia bayangkan.

Karena di dalam mansion itu...

Bukan hanya cinta Dante dan Mary yang sedang bersemi.

Melainkan cinta mereka semua.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak sekian lama...

Takdir sedang menuliskan sebuah kisah yang sama sekali berbeda dari kisah yang telah mereka rencanakan untuk diri mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!