Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Suara sirene polisi meraung di kejauhan, memecah kesunyian malam yang mulai merayap di kawasan kos-kosan murah itu.

Reyhan masih duduk kaku di lantai kamarnya, menatap layar televisi yang terus mengulang berita kematian Hendra Setiawan.

Pikirannya berkecamuk hebat, berusaha memproses apa yang baru saja terjadi.

"Ini gila. Ini pasti cuma kebetulan," gumamnya, suaranya bergetar.

"Aku tidak mungkin membunuh orang hanya dengan berakting."

Ia melirik ke arah pintu, jantungnya berdegup kencang seiring dengan suara sirene yang semakin mendekat.

Firasat buruk menyelimutinya.

Brak!

Pintu kamarnya didobrak dari luar, mengejutkan Reyhan hingga ia melompat mundur.

Beberapa petugas polisi bersenjata lengkap masuk ke dalam ruangan, senjata mereka terarah tepat ke arahnya.

"Reyhan Mahardika! Angkat tanganmu perlahan dan letakkan di belakang kepala!" teriak salah seorang polisi dengan suara lantang.

Reyhan terbata-bata, tubuhnya gemetar hebat. "A-apa-apaan ini? Saya tidak melakukan apa-apa!"

Di belakang para petugas bersenjata itu, seorang wanita melangkah maju.

Dia mengenakan jaket kulit hitam, rambut sebahunya diikat rapi, dan matanya menatap Reyhan dengan tajam.

Detektif Alena Prameswari memandangnya dengan ekspresi dingin, seolah sedang menatap seorang predator yang tertangkap basah.

"Reyhan Mahardika, Anda ditahan atas dugaan pembunuhan berencana terhadap Saudara Hendra Setiawan," ucap Alena dengan nada datar namun penuh tekanan.

"Pembunuhan? Saya tidak membunuh siapa pun!" Reyhan berteriak, matanya terbelalak tak percaya.

"Saya cuma berakting! Tanya saja Gilang, asisten sutradara film indie itu!"

Alena tersenyum tipis, senyuman yang lebih terlihat seperti seringai sinis.

"Kami akan memeriksa semua alibi Anda. Tapi untuk saat ini, bukti yang kami miliki sudah cukup kuat."

Ia memberi isyarat kepada bawahannya. "Borgol dia."

Dua petugas polisi maju dan dengan cepat memborgol tangan Reyhan di belakang punggungnya.

Reyhan meronta-ronta, tapi tenaganya tidak sebanding.

"Ini salah paham! Kalian salah orang!" teriak Reyhan putus asa.

"Bawa dia," perintah Alena tegas.

Saat Reyhan digiring keluar dari kamarnya, tatapan para tetangga kos yang terbangun karena keributan itu menusuknya.

Bisik-bisik bernada curiga terdengar jelas.

"Astaga, dia membunuh orang?"

"Padahal kelihatannya pendiam."

"Pantas saja jarang keluar kamar, ternyata pembunuh."

Setiap kata terasa seperti sayatan pisau di hati Reyhan. Reputasi yang susah payah ia bangun hancur dalam sekejap.

Di dalam mobil polisi yang membawanya, Reyhan duduk diam, mencoba menenangkan diri.

[Ding!]

Suara sistem kembali terdengar, kali ini terdengar lebih mendesak.

[Misi Darurat Terpicu!]

[Misi: Hadapi Interogasi dengan Sempurna.]

[Deskripsi: Buktikan bahwa Anda bukanlah pembunuh Hendra Setiawan tanpa membongkar keberadaan Sistem.]

[Hadiah: Peningkatan Karisma (Tingkat Dasar), Petunjuk pertama mengenai pembunuh asli.]

[Kegagalan: Anda akan dipenjara seumur hidup.]

Reyhan menelan ludah. Hukuman seumur hidup? Ini bukan lagi sekadar soal karir, ini soal hidup dan matinya.

Ia harus tenang. Ia harus meyakinkan detektif wanita yang dingin itu bahwa ia tidak bersalah.

Tiga puluh menit kemudian, Reyhan duduk di ruang interogasi yang sempit dan berbau apak. Lampu neon yang berkedip-kedip menambah kesan suram di ruangan itu.

Alena masuk ke dalam ruangan, membawa sebuah map tebal. Ia meletakkan map itu di atas meja besi dengan bunyi berdebam.

"Baiklah, Saudara Reyhan," Alena memulai, suaranya tenang namun tajam. "Mari kita bicara tentang video ini."

Ia memutar laptopnya, memperlihatkan video rekaman syuting Reyhan yang tersebar di internet.

Wajah Reyhan memucat melihat adegan yang ia mainkan dengan begitu meyakinkan.

"Itu... itu cuma syuting film indie!" bantah Reyhan, suaranya sedikit bergetar. "Saya cuma menjalankan peran saya!"

"Peran yang sangat kebetulan mirip dengan adegan pembunuhan nyata yang terjadi beberapa jam setelah video ini diunggah?" Alena mengangkat sebelah alisnya.

"Tolong jangan anggap saya bodoh, Saudara Reyhan."

"Saya berani bersumpah! Tanya saja sutradara Bima atau Gilang! Mereka ada di sana!" Reyhan berusaha meyakinkan Alena, matanya memancarkan keputusasaan.

Alena membuka map di depannya dan mengeluarkan beberapa lembar foto. Ia menyebarkannya di atas meja.

"Ini foto-foto dari lokasi kejadian pembunuhan Hendra Setiawan," ucap Alena, menunjuk foto-foto yang memperlihatkan mayat Hendra yang terikat di kursi dengan luka sayatan di leher.

"Perhatikan polanya," lanjut Alena, telunjuknya mengetuk sebuah foto.

"Posisi kursi, cara mengikat, bahkan luka sayatan... Semuanya identik dengan adegan di video Anda."

Reyhan menatap foto-foto itu dengan ngeri. Ia merasa mual. Memang sangat mirip. Terlalu mirip.

"Dan ini," Alena mengeluarkan sebuah benda dari dalam map. Sebuah topeng hitam kecil yang dibungkus plastik bening.

"Kami menemukan ini di lokasi kejadian. Apa Anda mengenalnya?"

Reyhan menggeleng keras. "Tidak! Saya tidak pernah melihatnya!"

"Bohong!" suara Alena meninggi, memukul meja.

"Bripka Anton menemukan topeng yang identik dengan ini di laci meja Anda saat penggeledahan tadi!"

Reyhan membeku. Topeng di lacinya? Tidak mungkin! Ia tidak pernah memiliki benda seperti itu.

Seseorang pasti telah menjebaknya. Seseorang telah menanam bukti di kamarnya.

"Siapa yang menjebak saya?" Reyhan bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.

"Tidak ada yang menjebak Anda, Saudara Reyhan," ucap Alena, nadanya mulai melunak namun tetap tegas.

"Semua bukti mengarah kepada Anda. Motif, kesempatan, dan jejak."

Reyhan mengepalkan tangannya. Ia harus berpikir jernih. Ia tidak boleh terpancing emosi.

"Detektif Prameswari," Reyhan memulai, suaranya kini lebih tenang dan terkontrol.

Efek dari kemampuan Akting Psikopat yang ia dapatkan dari sistem mulai bekerja, memberinya ketenangan yang tidak biasa dalam situasi tertekan.

"Saya mengerti kenapa Anda mencurigai saya. Bukti-buktinya memang memberatkan."

Ia menatap mata Alena secara langsung.

"Tapi pikirkan secara logis. Jika saya memang pembunuhnya, kenapa saya merekam adegan itu dan mengunggahnya ke internet? Kenapa saya meninggalkan bukti yang begitu jelas mengarah pada saya?"

Alena terdiam sejenak, matanya menyipit. Argumen Reyhan ada benarnya. Pembunuh berencana biasanya tidak sebodoh itu.

"Mungkin Anda arogan. Atau mungkin Anda ingin mencari perhatian," jawab Alena, meski nadanya tidak seyakin sebelumnya.

"Atau mungkin, seseorang sedang menjadikan saya kambing hitam," timpal Reyhan cepat.

"Seseorang yang tahu tentang peran saya, atau mungkin seseorang yang berada di lokasi syuting."

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Saya mohon, Detektif. Periksa alibi saya. Hubungi Gilang dan Bima. Periksa rekaman asli dari kamera syuting. Anda akan menemukan bahwa video yang tersebar itu sudah diedit."

Alena menatap Reyhan lama, mencoba mencari kebohongan di matanya. Namun, ia hanya menemukan ketenangan dan keyakinan yang aneh.

"Baik," ucap Alena akhirnya, menutup map di depannya. "Saya akan memeriksa alibi Anda. Tapi jangan berpikir Anda sudah bebas."

Ia berdiri dari kursinya. "Sampai saya yakin Anda tidak bersalah, Anda tetap tersangka utama kami."

Alena keluar dari ruangan, meninggalkan Reyhan sendirian dengan detak jantungnya yang bergemuruh.

[Ding!]

[Misi Darurat Selesai!]

[Evaluasi: Cukup Memuaskan.]

[Hadiah: Peningkatan Karisma (Tingkat Dasar) telah diterapkan. Petunjuk pertama: 'Perhatikan orang yang tidak seharusnya ada di sana'.]

Reyhan mengernyit. "Orang yang tidak seharusnya ada di sana?"

Pikirannya melayang kembali ke lokasi syuting. Sutradara Bima, Gilang, para kru kamera, aktor yang menjadi lawan mainnya... Siapa yang tidak seharusnya ada di sana?

Tiba-tiba, ia mengingat sesuatu. Seorang kru pencahayaan yang memakai topi hitam, wajahnya selalu tertutup bayangan. Ia tidak banyak bicara, hanya sibuk mengatur lampu.

Apakah dia orangnya?

Sementara itu, di ruangan lain, Alena sedang berbicara dengan Bripka Anton.

"Bagaimana hasilnya, Anton?" tanya Alena.

"Sesuai perintah, saya sudah menghubungi pihak produksi film indie itu, Bu," jawab Anton, membaca catatannya.

"Mereka membenarkan bahwa Reyhan Mahardika memang melakukan syuting adegan tersebut malam ini."

Alena mengangguk pelan. "Dan rekaman aslinya?"

"Kami sedang mengambilnya dari lokasi. Tapi, ada satu hal yang aneh, Bu."

"Apa itu?"

"Gilang, asisten sutradara, mengatakan bahwa Reyhan dihubungi secara mendadak karena aktor aslinya kecelakaan," jelas Anton.

 "Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa jam sebelum syuting dimulai."

Alena terdiam. Sebuah kecelakaan mendadak yang membuat Reyhan harus mengambil peran itu.

Apakah ini hanya kebetulan? Ataukah bagian dari rencana yang lebih besar?

"Dan soal topeng yang ditemukan di kamar tersangka?" tanya Alena lagi.

"Sidik jari di topeng itu sudah dihapus bersih," jawab Anton. "Tidak ada jejak sama sekali. Sangat profesional."

Alena menatap jendela yang menghadap ke jalanan kota yang gelap. Pikirannya dipenuhi tanda tanya.

Kasus ini semakin rumit. Dan entah kenapa, ia merasa Reyhan Mahardika menyimpan sebuah rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar pembunuhan ini.

Permainan baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!