Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Undangan dari Sang Matriark

BAB 10: Undangan dari Sang Matriark

Minggu pagi di kompleks Batalyon terasa sejuk dan menenangkan.

Setelah kehebohan di acara syukuran semalam di mana Mayang secara terang-terangan mendeklarasikan dirinya sebagai "Calon Ibu Ketua Persit" di hadapan Komandan Korem suasana markas dan lingkungan perumahan dinas mendadak riuh oleh desas-desus manis.

Di teras rumah bernuansa krem, Mayang sedang duduk santai sambil memperhatikan bros perak ukiran pita pemberian Mayor Aris.

Senyum di bibirnya tak henti-hentinya mengembang, sesekali dipeluknya bros itu di dada.

"Masih saja disenyumi terus brosnya dari tadi malam," tegur Mbak Rina sambil menyiram tanaman bunga di sudut halaman.

"Mbak kira kamu bakal pingsan waktu ditarik Pak Mayor di depan Komandan Korem semalam."

Mayang menempelkan bros perak itu di pipinya dengan raut wajah berbinar-binar.

"Mbak Rina tidak mengerti perasaan orang yang sedang kasmaran! Mas Mayor Aris itu walau mukanya kaku seperti es batu di freezer, tapi tindakannya manis banget! Bayangkan, beliau ingat kalau aku tidak suka bunga plastik!"

Mbak Rina menggeleng-gelengkan kepala.

"Iya, iya. Tapi ingat, nanti kalau bertemu Pak Mayor lagi, rem sedikit kelakuan ajaibmu itu. Kasihan beliau sampai merah padam begitu telinganya semalam."

"Itu namanya tanda-tanda cinta, Mbak! Pria dingin itu kalau sudah salah tingkah, lucunya naik seratus kali lipat!" kekeh Mayang riang.

Namun, baru saja gelak tawa Mayang mereda, suara derap langkah kaki yang sangat teratur dan tegap kembali bertumpuk di atas jalanan aspal kompleks.

Suara yang sangat dihafal oleh Mayang.

Tuk. Tuk. Tuk.

Mayang dan Mbak Rina kompak menoleh ke arah pagar depan.

Mayor Aris berjalan tegap mendatangi rumah mereka.

Pagi ini, sang Komandan tidak mengenakan seragam dinasnya, melainkan kaus kerah berwarna abu-abu gelap yang membungkus ketat dadanya yang bidang dan lengan matangnya, dipadukan dengan celana panjang kasual.

Rambut cepaknya rapi dan basah seusai olahraga pagi. Ketampanannya yang alami di bawah sinar matahari pagi sukses membuat napas Mayang tertahan sejenak.

"Selamat pagi, Mbak Rina, Mayang," sapa Aris dengan suara bass-nya yang dalam dan menenangkan.

"Selamat pagi, Pak Mayor. Silakan masuk," jawab Mbak Rina ramah seraya mematikan keran air.

Mayang langsung melompat dari kursi rotan, merapikan letak kacamata tebalnya, lalu berdiri persis di balik pagar besi rendah.

"Selamat pagi, Mas Mayor Gantengku! Ada apa nih pagi-pagi melangkah ke sini? Mau ngajak jalan-jalan atau mau langsung bawa penghulu ke rumah?"

Mayor Aris menghentikan langkahnya tepat di depan Mayang.

Beliau berdeham pelan, merapikan posisi berdirinya yang terasa canggung.

Ujung telinganya seperti biasa menunjukkan rona merah tipis yang menggemaskan.

"Mayang, tolong serius sebentar," tegur Aris halus namun tegas. Beliau merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna krem elegan dengan pita kain berwarna emas.

"Ibu saya... menelepon tadi pagi," ujar Aris pelan. Tatapan matanya yang tajam sempat beralih ke arah tanaman bunga Mbak Rina, menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang.

"Ibu menerima laporan lengkap tentang acara syukuran semalam dari Ibu Komandan Korem."

Mata Mayang melotot lebar di balik lensa kaca tebalnya.

"Wah! Beritanya cepat banget menyebar sampai ke telinga Ibu Mas Mayor?!"

"Ibu Komandan Korem adalah teman dekat Ibu saya," terang Aris menahan napas.

"Beliau menceritakan kejadian semalam... termasuk aksimu yang jatuh ke pelukan saya dan deklarasi 'Calon Ibu Ketua Persit' itu."

Kapten Yoga yang kebetulan melintas di jalan depan rumah sambil membawa anjing pelacak Batalyon langsung tertawa kecil dari kejauhan melihat Aris yang sedang terpojok, sebelum akhirnya Aris memberi tatapan tajam yang membuat Yoga bergegas melangkah pergi.

Mayang menepuk jidatnya pelan, tapi bukannya malu, ia malah menyunggingkan cengiran makin lebar.

"Terus, terus? Ibu Mas Mayor marah tidak?"

"Beliau tidak marah," jawab Aris kaku. Beliau menyodorkan amplop berpita emas itu melewati pagar.

"Tapi Ibu meminta lebih tepatnya memerintahkan saya untuk membawa kamu menghadiri makan malam keluarga di rumah utama keluarga besar kami esok malam."

Deg!

Mayang terperangah. Mbak Rina yang sedang memegang kain lap di dekat pintu bahkan sampai melepaskan kainnya ke tanah.

Makan malam resmi di rumah utama keluarga besar seorang Mayor TNI?!

Tempat di mana para purnawirawan dan keluarga perwira berkumpul?!

"M-makan malam keluarga, Mas?" tanya Mayang memastikan, suaranya yang biasa nyaring dan tanpa rem mendadak agak menciut.

"Sama calon Ibu Mertua?!"

"Ya," jawab Aris singkat.

Beliau menatap mata Mayang dalam-dalam, raut wajahnya yang keras perlahan-lahan melunak dengan kehangatan yang tak bisa disembunyikan.

"Ibu penasaran ingin melihat secara langsung gadis berkacamata tebal yang katanya berani menembak Komandan Batalyon di depan pejabat Korem."

Mayang menerima amplop berpita emas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Rasa gugup yang langka mendadak menyusup ke dalam dadanya.

Selama ini Mayang selalu tampil percaya diri dan tanpa beban di depan Mayor Aris, namun berhadapan dengan keluarga besar berlatar belakang militer yang kaku adalah hal yang sama sekali berbeda.

Melihat perubahan raut wajah Mayang yang mendadak hening dan tegang, Mayor Aris melangkah satu tapak lebih dekat ke pagar.

Beliau mengulurkan tangan kekarnya, lalu secara mengejutkan... membelai lembut ujung rambut Mayang yang terurai.

Sentuhan hangat dan mendadak itu membuat Mayang membeku seketika.

"Tidak perlu takut," bisik Aris dengan suara bass yang sangat lembut di dekat telinga Mayang.

"Saya yang mengundangmu, dan saya yang akan berdirikan diriku di sampingmu selama acara berlangsung."

Mayang mendongak, menatap mata hitam pekat Aris yang memancarkan rasa perlindungan yang begitu kuat.

"Jadilah dirimu sendiri, Mayang," lanjut Aris dengan senyuman tipis yang amat sangat tampan terukir di bibirnya.

"Jangan berpura-pura jadi orang lain. Karena... gadis ajaib yang seperti inilah yang membuat suasana Batalyon saya tidak lagi sepi."

Wajah Mayang seketika memerah padam sampai ke leher!

Gantian Mayang yang dibuat salah tingkah setengah mati oleh perlakuan manis sang Komandan Galak!

"M-Mas Mayor..." gumam Mayang gagap, memegangi pipinya yang terasa panas membara.

"Jangan tersenyum begitu dong mas! Nanti Mayang pingsan beneran di sini!"

Mayor Aris terkekeh pelan sebuah suara tawa renyah yang sangat jarang terdengar dari mulut sang Mayor.

Beliau menarik tangannya kembali, membetulkan posisi berdirinya.

"Besok jam tujuh malam, saya jemput pakai mobil dinas," kata Aris mantap. Beliau memberikan anggukan sopan kepada Mbak Rina yang masih melongo di teras.

"Saya permisi dulu, Mbak Rina, Mayang."

"I-iya, Pak Mayor... Hati-hati!" sahut Mbak Rina penuh ketidakpercayaan.

Mayor Aris berbalik badan dan melangkah tegap kembali menuju markas Batalyon.

Mayang berdiri terpaku di depan pagar, menggenggam erat amplop krem berpita emas di dadanya, sementara matanya tak lepas memandangi punggung tegap sang Mayor yang makin menjauh.

"Mbak Rina..." panggil Mayang dengan suara lemas namun matanya berbinar-binar gembira.

"Apa, Mayang?"

"Besok malam... tolong bantu Mayang pilih baju paling cantik!

Mayang mau menaklukkan hati calon Ibu Mertua!" seru Mayang gembira sambil melompat-lompat kecil di halaman.

Babak baru dalam perjuangan cinta Mayang dan Mayor Aris resmi dimulai.

Ujian sesungguhnya bukan lagi di markas Batalyon, melainkan di balik meja makan keluarga besar sang Komandan!

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!