"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Masa Lalu
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Ruangan sempit itu bernapas dalam temara,. dibungkus pendar samar yang nyaris tiada. Dibalik keheningan yang menyesakkan, puluhan kenangan yang ditangkap oleh Kamera bertumpuk layaknya puing-puing bencana.
Wajah-wajah di dalamnya tak lagi utuh. Ada goresan tinta merah mendalam yang membelah senyumannya—kasar, terburu-buru, penuh keputusasaan. Sobekan-sobekan kertas foto bertebaran di lantai, seperti bangkai masa lalu yang diamputasi secara paksa dari ingatan pemiliknya.
Di tengah ruangan, sebuah kursi berdiri kokoh. Seorang wanita duduk, menyilangkan kakinya dengan angkuh. Mulutnya sibuk menghembuskan asap rokok dengan mata yang menatap tajam foto-foto di depannya.
“Asyara putri…” Senyum miring merekah di bibir Sena.
Sena—gadis itu berdiri. Membuang rokok di tangannya dan menginjaknya hingga mati. Mengambil satu lembar foto Asyara yang sudah dicoret dengan tinta merah, menandakan seberapa besarnya dendam yang disimpannya.
“Bertahun-tahun gue biarin lo bahagia, selama itu juga gue selalu memantau semua kegiatan lo. Dan sekarang, waktunya lo hancur!” Sena menusuk foto Asyara dengan pisau yang ia bawa, membelah foto tepat di bagian wajah gadis itu.
Ekspresi marah Sena berubah dalam sekejap, bergantikan dengan ekspresi polos khas seorang gadis lemah yang butuh pertolongan. Sena mengambil tasnya dan menyampirkannya di bahu. Begitu pintu terbuka, senyum lembutnya terpatri.
“Kak Raka.”
Raka turun, memutari kap mobil dan membukakan pintu untuk Sena. Dengan senang hati Sena menerimanya dan masuk ke dalam mobil pria itu. Setelahnya Raka kembali masuk ke kursi kemudi. Mobil mereka mulai bergerak menjauhi area rumah Sena.
“Eemh, untuk yang kemarin, aku minta maaf.”
“Nggak papa. Aku juga salah, aku cuma lagi emosi karena Asya yang mutusin aku tiba-tiba,” balas Raka tanpa menoleh dan tetap fokus menyetir.
Sena melirik, tangannya beralih ke paha Raka. Merabanya dengan gerakan sensual. “Kakak masih marah ya?” tanya Sena lembut, mendayu-dayu, “Aku—”
“Berhenti Sena,” tegas Raka. Mobil mereka terhenti di pinggir jalan. Raka menoleh menatap Sena. Nafasnya memburu, tatapannya ke Sena berubah menjadi tatapan lapar.
Sena tersenyum lembut. “gue tau lo nggak akan bisa nolak sama sentuhan gue, Raka. Semua laki-laki juga akan begitu.”
Pagi itu di dalam mobil, Raka yang tidak bisa lagi menahan nafsunya memindahkan Sena ke pangkuannya. Tangannya meraih tengkuk gadis itu. Mendekatkan wajahnya kepada Sena.
Sementara Sena, ia tersenyum lembut, kedua tangannya mulai meraba dada Raka. Jari lentiknya membuka kancing kemeja Raka satu persatu.
Raka pun melakukan hal yang sama. Tangannya tak tinggal diam. Ia mulai melepaskan blouse yang dipakai Sena. Meraba lekuk tubuh gadis itu. “Aku mau kamu Sen,” bisiknya.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Pagi itu Sena kepercayaan diri Sena kembali muncul. Rasa curiganya pada Raka mengenai apakah pria itu masih mencintai Asyara menguap begitu saja, bergantikan rasa senang karena Raka tak lagi menyembunyikan hubungan mereka.
Sena tersenyum miring. “Gue menang Asyara, gue berhasil rebut milik lo!”
Sesampainya di depan kelasnya, Sena melempar senyum pada Raka. Ia mengambil kecupan di pipi pria itu dan menunduk malu-malu. “Aku… masuk ya kak.”
“Iya, aku juga langsung ke kelas.”
Sena mengangguk. Ia menatap punggung Raka puas. Senyum miring kembali terbit di wajahnya. “Apapun yang jadi milik Asyara, juga bakal jadi milik gue. Dan sekarang, sepenuhnya, Raka udah jadi punya gue. Raka Denandra, putra tunggal keluarga kaya raya. Dia nggak boleh lepas dari gue. Dan Asyara, ini baru permulaan.”
Tatapan sinis dan gunjingan yang jelas mengarah padanya sama sekali tak dihiraukan oleh Sena. Ia dengan santai melangkah menuju kursinya dan duduk dengan angkuh.
Di sebelahnya, seorang perempuan langsung mendekat. Melanie Gunawan—teman baik Sena. Gadis itu menatap Sena tak percaya. “Jadi itu bener? Lo selingkuhan kak Raka? Mereka putus karena lo?”
Sena tertawa kecil. Ia menoleh, menatap Melanie. “Memangnya kenapa? Gue sama kak Raka itu saling cinta! Lagian Asyara itu nggak ada apa-apanya dibandingkan sama gue Mel.”
“Tapi Sen–”
“Udahlah. Lo ngapain bahas dia sih? Dia itu cuma sok suci! Sok baik! Sok cantik! dan dia…” Sena mengepalkan tangannya kencang. “Dia itu perebut! Dia ngerebut kebahagiaan gue! Dan gue nggak bakal biarin itu!”
Melanie mengerutkan keningnya. “Apa yang dia rebut? Kan lo yang ngerebut cowonya. Aneh deh lo, nggak ngerti gue!”
Sena melirik Melani sekilas. “Lo nggak akan ngerti Mel. Selama bertahun-tahun gue menderita. Gue hidup dalam kesengsaraan! Sementara dia? Dia hidup bahagia setelah semua dosa yang dia lakuin! Gue bakal rebut apa yang seharusnya menjadi milik gue!”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Di kantin, Sena yang baru saja sampai bersama Melanie dibuat berhenti. Raut bahagianya berganti menjadi kemarahan. Botol minuman di tangannya sudah hampir rembuk akibat remasan Sena sendiri.
Sena menatap tajam pemandangan yang berada tak jauh di hadapannya. Di salah satu meja, Asyara tertawa bersama Celine dan Rayna. Ada rasa tidak terima ketika melihatnya. “Kita nggak jadi makan.”
Melanie mengerutkan keningnya. “Lho? Kenapa? Gue laper Sen, Kok nggak jadi?”
“Gue nggak mood.” Sena langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Melanie sendirian.
Melanie mendengus. “Selalu aja gitu! Seenaknya banget!” Ia mengikuti langkah Sena. Namun langkah Melanie terhenti saat Sena justru memasuki gudang. Perlahan-lahan Melanie melangkah, mengintip dari sela jendela. Matanya membelalak melihat apa yang dilakukan Sena. Terlebih dengan siapa Sena melakukannya. Ia mengernyit jijik. “Nyesel gue ngikutinnya. Ternyata dia mau begituan!”
Tapi sedetik kemudian, senyum miring terbit di wajah Melanie. Ia mengeluarkan ponselnya dan saku jeansnya. Kemudian mengarahkan kamera ke dalam gudang dimana Sena melakukan itu. “Suatu saat ini bakal berguna buat gue.”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
“Gimana? Gue lebih baik daripada dia kan?”
Raka tersenyum miring sambil membenarkan kemeja dan celananya. Ia melemparkan segepok uang pada seorang cewek yang masih duduk di sofa itu. “Ambil. Besok temuin gue di club.”
“Lo brengsek Raka.”
Raka meraih pinggang cewek itu, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. “Apa bedanya gue sama lo, Melanie?” bisik Raka.
Kekehan kecil keluar dari bibir Melanie. Ia mengalungkan tangannya ke leher Raka. Menatap Raka dengan tatapan menggoda. “Bedanya… gue nggak deketin lo setelah lo putus sama kak Asya. Dan karena gue muak sama Sena!” Melanie senyum, singkat. Ucapan terakhir tentu ia ucapkan dalam hati. Kemudian mengecup pipi Raka, “See you next time, jerk.”
Raka menatap punggung Melanie. Kemudian menghela nafas. Ia mengeluarkan satu batang rokok dari sakunya. Lalu menghisapnya. “Sekarang tinggal gimana gue dapetin maafnya Asya. Gue nggak akan lepasin dia gitu aja.”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...