"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan dan Dendam
Lampu gantung kristal di Ruang Rapat Eksekutif Sektor Zero memancarkan pendar redup. Suasana di ruangan bersuhu dingin itu dipenuhi oleh aroma tembakau tebal, kopi pahit, dan ketegangan politik yang membakar.
Joe berdiri di depan layar proyeksi holografik tiga dimensi. Papan ketiknya terus mengeluarkan bunyi ketukan halus seraya memetakan pergerakan pasukan dan titik-titik merah di sekitar perbatasan Kota Atlas. Di sekeliling meja granit hitam, Argus duduk mengapit cerutunya, didampingi oleh Mike, Lukas, dan Demian.
"Tuan Argus..." Joe memecah kesunyian, suaranya dipenuhi nada analisis yang sangat serius. "Ancaman dari Viper Syndicate—kelompok rival utama kita yang sempat terlibat bentrokan berdarah di perkebunan enam tahun lalu pada malam Daren ditemukan—kini mulai menunjukkan batang hidungnya kembali."
Argus tidak menyepelekan laporan tersebut. Pria penguasa bawah tanah yang telah melewati ratusan pertempuran itu tahu betul bahwa musuh lamanya tidak pernah benar-benar menyerah.
"Lanjutkan, Joe," perintah Argus datar seraya menghembuskan asap cerutunya.
"Mereka mulai menyusupkan pasukan bayangan ke Sektor Barat dan Selatan," lanjut Joe seraya menggeser grafik data di udara. "Tujuan mereka bukan sekadar merebut wilayah, melainkan mencoba memotong jalur distribusi logistik kita dan mendukung penyebaran narkotika sintetis baru di Kota Atlas untuk merusak stabilitas kekuasaan kita dari dalam."
Di sudut ruangan, Lukas yang biasanya bersikap tengil kini menyandarkan badannya dengan wajah kaku. "Jadi kecoa-kecoa lama itu kembali merangkak keluar dari sarangnya?"
"Benar," jawab Joe. "Tuan Argus sengaja memanggil kalian bertiga—Mike, Lukas, dan Demian—untuk mengatur pemblokiran perimeter luar. Dan khusus untuk Daren... Tuan Argus memutuskan untuk tidak mengabarkannya agar Daren tetap fokus pada misi penyamarannya membongkar jaringan narkotika di SMA Bintang."
Namun, rapat rahasia itu tidak berjalan mulus seperti yang direncanakan.
Di luar ruangan, Daren baru saja kembali ke Sektor Zero menunggangi motor sport kustomnya untuk melaporkan beberapa temuan baru dari sekolah. Saat melintasi lorong eksekutif, indera pendengarannya yang sangat tajam menangkap bisik-bisik dari beberapa perwira pengawal mengenai pergerakan Viper Syndicate dan rapat darurat para Eksekutif Utama.
Mendengar dirinya sengaja disembunyikan dari ancaman besar organisasi... darah Daren seketika membakar dadanya.
BRAAAAKKKKKKK!
Pintu baja tebal Ruang Rapat Eksekutif mendadak dihantam oleh satu tendangan brutal hingga engsel bajanya berderet nyaring.
Daren melangkah masuk ke dalam ruangan dengan napas memburu. Kemeja taktis hitam yang membalut tubuh tegapnya tampak sedikit berdebu, dan tato kanji vertikal Akuma no Urami di leher bagian kanannya memancarkan pendar merah yang sangat pekat di bawah lampu ruangan.
"Apa-apaan ini, Tuan Argus?!" bentak Daren dengan suara tebal dan marah, matanya yang kelabu membeku menatap sang Pemimpin Tertinggi. "Rival lama kita bergerak lagi di luar, dan Anda sengaja menyembunyikannya dariku?! Apakah Anda menganggapku masih menjadi anak kecil yang rapuh?!"
Suasana ruangan seketika hening. Mike dan Demian refleks merapatkan posisi mereka, sementara Lukas hanya menaikkan alisnya melihat keberanian Daren yang merobohkan pintu rapat.
Argus tidak marah atas tindakan nekat murid kesayangannya itu. Pria penguasa bawah tanah itu hanya menghembuskan asap cerutunya secara perlahan, menyunggingkan senyuman tipis penuh pemahaman.
"Tenangkan dirimu, Daren," ucap Argus dengan suara rendah yang menenangkan namun tetap sarat akan otoritas mutlak. "Aku tidak pernah menganggapmu lemah. Justru sebaliknya... aku memintamu tidak dilibatkan dalam operasi perimeter luar ini untuk menghemat energimu."
Argus berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Daren dan menepuk bahu tegap pemuda itu.
"Tugas memblokir perimeter luar adalah bagian para prajurit biasa dan perwira senior," tegas Argus. "Sedangkan kau... aku menyiapkanmu untuk misi khusus tingkat tinggi. Misi yang akan memeras seluruh tenaga, pikiran, dan naluri membunuhmu untuk mengeksekusi langsung pimpinan utama Viper Syndicate saat saatnya tiba nanti. Kau adalah senjataku yang paling mematikan, Daren. Jangan buang tajammu untuk pertarungan kroco di jalanan."
Mendengar penjelasan yang begitu masuk akal dan sarat akan kepercayaan tinggi dari sang Pemimpin, amarah di dalam dada Daren seketika mencair. Daren menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa tindakannya menendang pintu adalah bentuk kepanikan yang emosional.
Daren menundukkan kepalanya tipis di hadapan Argus. "Maafkan tindakan tidak sopanku, Tuan Argus. Saya mengerti."
Argus tersenyum puas, menepuk bahu Daren sekali lagi. "Kembalilah beristirahat dan selesaikan tugasmu di sekolah."
Setelah keluar dari Markas Utama Sektor Zero, Daren menunggangi motor sport kustomnya membelah jalanan Kota Atlas. Dia mengendarai kendaraan besinya secara santai, biarkan angin sore yang sejuk menerpa wajahnya dan mendinginkan pikirannya yang tegang.
Daren menghentikan motornya di tepi jalan dekat Taman Kota—sebuah taman luas berhiaskan pepohonan rindang dan danau buatan yang tenang di pusat kota.
Daren melangkah menuju salah satu sudut taman yang sepi dari jangkauan pengunjung. Dia duduk di atas sebuah bangku kayu panjang di bawah naungan pohon maple tua yang rindang.
Suasana sepi taman kota membawa kedamaian yang asing bagi jiwanya. Daren merogoh saku dalam jaket kulit hitamnya, menarik keluar sebuah lembaran foto tua yang sudut-sudutnya sudah agak kusam.
Foto itu menampilkan sosok Daren kecil berusia empat tahun yang sedang tertawa riang di antara kedua orang tua kandungnya. Wajah ayahnya yang tegap dan ibunya yang bersenyum hangat memancarkan kebahagiaan yang sangat tulus.
Daren memandangi foto tua itu dengan mata kelabunya yang tenang. Kenangan manis masa kecilnya sebelum tragedi kecelakaan maut melintas perlahan di dalam kepalanya, beradu dengan ingatan sepuluh tahun siksaan di rumah Deni dan enam tahun tempaan berdarah di Red Crows.
Daren menengadah, menatap daun-daun maple yang berguguran diterpa angin. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah pertanyaan sunyi berbisik: Apakah jalan kegelapan yang kutempuh sebagai sang Gagak Merah ini adalah keputusan yang baik... ataukah keputusan buruk yang telah mengubah diriku menjadi iblis?
"Daren...?"
Sebuah suara lembut yang sangat dihafalkannya mendadak memecahkan lamunan Daren.
Daren dengan cepat menyembunyikan foto tuanya kembali ke dalam saku jaket, lalu menengadah.
Di depannya, berdiri Clara. Siswi cantik itu mengenakan pakaian kasual yang sederhana—kaus polos dan celana jins—dengan tas selempang kecil di bahunya.
Daren tidak menjawab panggilannya. Dia hanya membisu, memalingkan pandangannya kembali menatap danau buatan.
Clara melangkah mendekat, lalu duduk perlahan di atas bangku kayu di samping Daren. Untuk beberapa saat, tidak ada kata yang terucap di antara mereka. Keheningan yang menenangkan menyelimuti kedua muda-mudi tersebut.
Daren memalingkan wajahnya tipis ke arah Clara. Namun, saat mata kelabunya menangkap detail wajah cantik siswi di sebelahnya, langkah napas Daren mendadak terhenti sejenak.
Di sudut bibir kiri Clara yang merah muda, terdapat memar kebiruan yang cukup ketara, dipadukan dengan goresan lebam tipis di dekat pipinya.
Naluri perlindungan di dalam jiwa Daren seketika terbakar kencang. Wajah Daren yang semula datar berubah menjadi sangat dingin. Tanpa ragu, tangan kanan Daren yang sekeras baja meluncur, mencengkeram lembut pergelangan tangan Clara.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Daren, suaranya rendah, tebal, dan mengandung ancaman kematian murni yang membekukan udara di taman itu.
Clara tersentak tipis merasakan dinginnya cengkeraman tangan Daren, namun dia tidak menarik tangannya. Mata cokelat hazelnya menatap Daren dengan binar kepedihan yang perlahan mengalir menjadi air mata.
Clara menundukkan kepalanya, menceritakan kejadian buruk yang dialaminya beberapa jam lalu secara perlahan.
"Tadi siang... setelah pulang sekolah, aku mengunjungi sebuah kelab malam di Sektor Timur untuk mencari sepupuku..." jawab Clara dengan suara bergetar pelan. "Tapi di dalam kelab itu... ada segerombolan pria pemabuk yang mencoba mengangguku... Mereka memaksaku minum, dan saat aku menolak, pria di barisan depan memukul bibirku dan mencoba... merudapaksa aku di lorong belakang."
Clara mengusap air matanya yang menetes. "Aku... aku berhasil menggigit tangan pria itu dan berlari kabur menembus pintu darurat... Tapi aku sangat takut, Daren..."
DEG!
Setiap kata dari mulut Clara merobek kesabaran Daren hingga tak tersisa. Mengingat pesan ayahnya bahwa dia harus menjadi perisai bagi orang yang dijaganya, dan melihat lebam di sudut bibir Clara yang lembut... bara amarah paling pekat meledak sepenuhnya di dalam dada Daren.
Daren berdiri dari bangku kayu, menarik tangan Clara dengan cengkeraman yang kokoh namun lembut.
"Tunjukkan padaku di mana kelab itu," tegas Daren tanpa batas kompromi.
Kelab Malam "Avernus" – Sektor Timur
Dua puluh menit kemudian, motor sport kustom Daren berhenti di depan gerbang utama Kelab Malam Avernus. Daren turun dari kendaraan besinya, melangkah masuk ke dalam area kelab dengan Clara membuntutinya di belakang dalam rasa cemas.
Suasana di dalam kelab malam yang remang itu semula tampak damai dan bising oleh deru musik EDM. Ratusan pengunjung sedang asik menenggak minuman keras di baris-baris meja.
Daren berdiri di tengah ruangan. Matanya yang tajam memindai seluruh isi kelab. "Yang mana orangnya?"
Clara merapatkan tubuhnya di belakang bahu tegap Daren, menunjuk ke arah meja sofa melingkar di sudut VIP. "Pria bertato di leher yang sedang memegang botol whisky itu... dan empat temannya..."
Daren tidak mengucapkan sepatah kata pun.
SSET!
Tanpa memberi peringatan satu detik pun, Daren meluncur deras bagaikan badai pembantai menembus kerumunan lantai dansa.
BAM! CRACK!
Pria bertato yang memukul Clara bahkan tidak sempat menyadari kedatangan musuhnya. Pukulan lurus bertenaga ledak tinggi dari Daren menghantam telak di tengah hidung pria itu, mematahkan tulang wajahnya hingga semburan darah kental memercik ke udara. Pria itu terlempar menembus meja kaca hingga hancur berantakan!
"APA-APAAN INI?! SERANG DIA!" jerit empat kawan pria tersebut seraya menyambar botol-botol kaca mahal dan pisau lipat.
Namun, pertarungan itu sama sekali tidak seimbang. Daren bergerak bagaikan iblis yang mengamuk. Dalam kurun waktu kurang dari dua menit, Daren mematahkan lengan, menghancurkan ulu hati, dan membanting keempat pria itu ke atas lantai hingga tersungkur pingsan tak sadarkan diri dalam genangan darah mereka sendiri!
Keriuhan di dalam kelab seketika berubah menjadi histeria ketakutan. Beberapa meja dan kursi kayu beterbangan hancur dihantam Daren. Kelab malam yang semula damai kini berubah menjadi tempat pembantaian yang tak berbentuk.
BRAAAAK!
Pintu ruang kantor utama di lantai dua mendadak terbuka kencang. Sesosok pria paruh baya mengenakan jas mahal—pemilik kelab malam tersebut—melangkah keluar bersama belasan pengawal bersenjata dengan wajah memerah murka.
"SIAPA BAJINGAN YANG BERANI MERUSAK KELABKU?!" teriak sang pemilik kelab dari atas tangga.
Daren berdiri tegap di tengah reruntuhan meja. Dia mengusap noda darah musuhnya di punggung tangannya, lalu secara perlahan mengulurkan tangan kanannya ke kerah kemejanya. Daren membuka kancing atas kemejanya, memperlihatkan secara utuh tato kanji vertikal berwarna merah pekat—Akuma no Urami—di leher bagian kanannya.
Begitu mata sang pemilik kelab menangkap tato kanji merah tersebut, wajah murkanya seketika berubah dari memerah menjadi pucat pasi bagaikan mayat dalam seperseribu detik!
Pria pemilik kelab itu adalah seorang intelijen khusus yang ditugaskan oleh Red Crows untuk mengelola jaringan hiburan di Sektor Timur. Dia sudah mendengar kabar burung mengenai munculnya sang Eksekutif Utama baru yang bertato kanji di leher—murid kesayangan Argus!
BRUK!
Tanpa membuang waktu satu detik pun, sang pemilik kelab jatuh berlutut di atas tangga, menundukkan kepalanya serendah-rendahnya ke tanah. Belasan pengawalnya yang bingung ikut serta merta menjatuhkan diri berlutut ketakutan.
"Tua... Tuan Daren!" jerit sang pemilik kelab dengan suara gemetar hebat. "Maafkan ketidaktahuan saya! Saya tidak tahu bahwa Anda yang datang! Mohon ampuni kami!"
Daren tidak membalas penghormatan itu. Dia membalikkan badannya, menggandeng tangan Clara yang masih membeku terkejut, lalu melangkah keluar dari kelab malam yang hancur tersebut.
Sementara itu, di Markas Utama Sektor Zero...
Rapat strategi baru saja selesai. Argus sedang berjalan menyusuri koridor bersama Mike ketika gawai terenkripsi milik Joe bergetar kencang.
Joe melangkah mendekati Argus dengan raut wajah sangat kaku bercampur pasrah.
"Ada apa, Joe?" tanya Argus datar.
"Tuan Argus..." sahut Joe seraya memijat keningnya, "...baru saja ada laporan masuk dari Sektor Timur. Daren baru saja mengamuk dan hampir meratakan Kelab Malam Avernus sampai ke tanah."
Mike menaikkan sebelah alisnya. "Kelab Avernus? Bukankah itu aset hiburan milik jaringan internal kita sendiri?"
"Ya," jawab Joe. "Daren menghancurkan seluruh area VIP dan memukuli segerombolan pengunjung yang mengganggu teman wanitanya. Pemilik kelab kita di sana sampai berlutut memohon ampun."
Mendengar laporan bahwa murid kesayangannya baru saja hampir menghancurkan salah satu aset bisnisnya sendiri, Argus tidak marah sedikit pun. Pria penguasa bawah tanah itu justru menghembuskan asap cerutunya ke udara, lalu terkekeh rendah seraya menggelengkan kepalanya pasrah.
"Biarkan saja," kata Argus santai. "Selama Daren tidak membunuh intelijen kita sendiri, ganti rugi kerusakan kelab itu bisa dipotong dari dana operasional Sektor Timur. Biarkan dia melampiaskan energinya."
Pukul sebelas malam.
Di dalam kamar mewahnya di Sektor Zero, Argus telah mengganti pakaian Kebesarannya dengan pakaian santai. Pria besar itu merebahkan tubuh tegapnya di atas kasur berseprai sutra mahal.
Suasana kamar yang hening perlahan membawa pikiran Argus melayang menembus kenangan masa lalunya yang paling kelam.
Di balik wajah kejam, dominan, dan tak tergoyahkan sebagai Pemimpin Tertinggi Red Crows, Argus menyimpan luka batin yang tak pernah sepenuhnya sembuh. Dua belas tahun lalu, dalam bentrokan besar pertama melawan Viper Syndicate, istri tercintanya dan anak laki-laki tunggal mereka menjadi korban pembantaian yang sangat tragis oleh kelompok rival tersebut.
Kematian anak dan istrinya adalah alasan utama mengapa Argus menempa dirinya menjadi sosok monster yang tak terkalahkan, serta alasan mengapa dia begitu menjaga dan menyayangi Daren—karena di dalam diri Daren, Argus melihat bayangan semangat pantang menyerah yang sama.
Argus menghembuskan napas panjang, memejamkan mata hitamnya yang lelah, lalu perlahan-lahan terlelap dalam tidurnya di bawah perlindungan malam Kota Atlas.
Sementara itu, di kediaman mewah Daren di Perumahan Grand Pavilion...
Lampu utama ruang tamu tampak menyala redup.
Lingga yang merasa sangat bosan dan jenuh di rumah mewahnya sendiri, memutuskan untuk mendatangi rumah Daren menjelang tengah malam menggunakan mobil sport-nya. Namun begitu dia melangkah masuk menggunakan kunci cadangan yang diberikan Daren, dia melihat bahwa kamar utama Daren di lantai dua sudah gelap—Daren telah tertidur lelap akibat kelelahan pasca-insiden di kelab.
Lingga menyeringai lebar, menyisir rambutnya yang acak-acakan.
"Yaaah, si Bos udah tidur duluan," gumam Lingga santai seraya meregangkan otot-otot tubuhnya.
Tanpa merasa canggung atau sungkan sedikit pun, Lingga berjalan menuju sofa kulit empuk di ruang tamu utama Daren. Pria tengil itu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, menarik selimut tipis yang tergeletak di sana, lalu memejamkan matanya.
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, suara dengkur halus Lingga sudah terdengar berirama di atas sofa rumah sahabatnya, tertidur lelap menanti petualangan baru di esok hari.