⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gu Tianming [FRAGMEN KEEMPAT: GU TIANMING]
Akademi Qingxu berdiri di atas bukit yang selalu diselimuti kabut tipis, bukan karena cuaca, tapi karena ribuan tahun asap dari tungku alkimia telah meresap ke dalam tanahnya sendiri. Orang-orang menyebutnya "Bukit Napas Panjang," karena konon siapa pun yang menghirup udaranya cukup lama akan hidup sedikit lebih lama daripada seharusnya.
Gu Tianming tidak pernah memercayai legenda itu sepenuhnya. Tapi ia juga tidak pernah membantahnya di depan murid-muridnya, karena beberapa kepercayaan, menurutnya, lebih berguna dibiarkan hidup daripada dibongkar.
Pagi itu, seperti biasa, ia berjalan menyusuri lorong klinik akademi dengan kotak obat di punggungnya, memeriksa satu per satu pasien yang menunggu di kamar-kamar sederhana—murid yang keracunan ramuan uji coba, tetua yang tulangnya mulai rapuh dimakan usia, seorang anak dari desa bawah bukit yang demam karena gigitan serangga langka.
Semua bisa ia tangani sebelum matahari mencapai puncak.
Yang tidak bisa ia tangani berada di kamar paling ujung.
Su Wan sudah tidak makan selama sebelas hari.
Ia bukan murid akademi. Ia seorang ibu dari desa bawah bukit, dibawa ke klinik oleh putrinya sendiri, gadis kecil berusia tujuh tahun bernama A-Rou, setelah tetangga-tetangga melaporkan bahwa Su Wan tidak lagi keluar rumah, tidak lagi menyalakan tungku, tidak lagi menjawab ketukan pintu.
Gu Tianming sudah memeriksanya tiga kali dalam seminggu terakhir. Tubuhnya melemah, tapi tidak ada penyakit yang bisa ia temukan—bukan racun, bukan infeksi, bukan kutukan. Tubuh Su Wan berfungsi. Ia hanya memilih untuk tidak menggunakannya.
"Bagaimana keadaannya hari ini, Guru?" A-Rou berdiri di ambang pintu, memegang boneka kain yang sudah lusuh di kedua tangannya, matanya penuh harap yang mulai lelah karena terlalu sering dikecewakan.
"Aku akan memeriksanya," Gu Tianming berkata, berlutut agar sejajar dengan tinggi anak itu. "Kau sudah makan pagi ini?"
A-Rou mengangguk.
"Hm.. Hm.."
Gu Tianming tersenyum tipis, mengusap kepalanya, dan masuk ke kamar.
Su Wan berbaring menghadap dinding, tidak bergerak saat Gu Tianming masuk. Ia sudah cukup kurus hingga tulang pipinya menonjol jelas di bawah kulit yang pucat.
"Aku membawakan bubur akar jinshen," Gu Tianming berkata, duduk di kursi kecil di samping ranjang, meletakkan mangkuk di meja. "Rasanya lebih hambar daripada biasanya. Aku sengaja mengurangi bumbu, saat perut sudah lama kosong, rasa yang terlalu kuat justru terasa seperti hukuman."
Su Wan tidak menjawab.
"Suamimu meninggal delapan bulan lalu," Gu Tianming melanjutkan, suaranya tenang, tidak memaksa. "Kata A-Ruo itu karena wabah demam merah, kau selamat. Dan suamimu tidak."
Masih tidak ada jawaban. Tapi bahu Su Wan sedikit menegang, tanda bahwa ia mendengar, hanya memilih diam.
"Aku sudah membuat lebih dari dua ribu jenis pil dalam hidupku," Gu Tianming berkata pelan. "Aku bisa menyembuhkan racun mematikan yang bisa membunuh dalam tiga tarikan napas. Aku bisa menumbuhkan kembali tulang yang sudah hancur. Aku bahkan pernah membuat seseorang yang jantungnya berhenti berdetak selama satu jam kembali bernapas." Ia diam sejenak. "Tapi aku belum pernah menemukan pil yang bisa memberi seseorang alasan untuk tetap bertahan, kalau mereka sendiri sudah memutuskan tidak ada alasan untuk itu."
Su Wan akhirnya berbalik sedikit, matanya basah, menatapnya untuk pertama kalinya sejak ia dibawa ke klinik.
"Lalu," suaranya serak, hampir tak terdengar, "kenapa kau masih repot untuk datang?"
Gu Tianming tidak langsung menjawab. Ia mengambil sendok, mengaduk buburnya perlahan, membiarkan uapnya naik antara mereka berdua sebelum akhirnya berkata:
"Karena aku bukan datang untuk memaksamu makan."
Su Wan mengerjap.
"Prinsipku sederhana," Gu Tianming melanjutkan. "Obat menyelamatkan kehidupan, tapi obat tidak bisa menyelamatkan orang yang tidak ingin hidup—memaksa tubuh untuk terus bernapas bukan hal yang sama dengan menyelamatkan seseorang. Kadang itu hanya memperpanjang siksaan, dengan wajah yang terlihat seperti pertolongan."
Ia meletakkan sendoknya.
"Jadi aku tidak akan memaksamu makan hari ini. Tapi aku ingin bertanya satu hal, dan aku ingin kau menjawabnya dengan sejujur mungkin—bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri."
Su Wan menunggu.
"Kalau kau benar-benar berhenti besok, kalau tubuhmu benar-benar menyerah," Gu Tianming berkata, "siapa yang akan membesarkan A-Rou?"
Untuk pertama kalinya dalam sebelas hari, sesuatu retak di wajah Su Wan—bukan kelegaan, bukan kemarahan, sesuatu yang lebih rumit dari keduanya.
"Kau memanfaatkannya untuk membuatku merasa bersalah, Tabib Gu." suaranya gemetar.
"Ya," Gu Tianming mengakui, tanpa rasa bersalah, tanpa pembelaan. "Aku memang melakukannya. Karena aku percaya kau layak diberi alasan untuk memilih hidup, bukan dipaksa hidup tanpa alasan. Ada perbedaan penting di antara keduanya, meski aku tahu perbedaan itu sulit terasa saat kau ada di posisimu sekarang."
Ia mendorong mangkuk sedikit lebih dekat.
"Aku tidak akan berpura-pura tahu seberapa berat rasa kehilanganmu. Aku belum mengalaminya." Ia berhenti sejenak, memilih kata-katanya. "Tapi aku tahu bahwa A-Rou sudah kehilangan satu orang tuanya. Aku tidak berhak memutuskan apakah rasa sakitmu cukup berat untuk membenarkan ia kehilangan orang tuanya lagi. Itu bukan hakku. Itu hakmu."
"Lalu kenapa kau terus datang?" Su Wan berbisik, air mata akhirnya jatuh.
"Karena aku ingin kau membuat pilihan itu dengan sadar," Gu Tianming berkata, "bukan karena tubuhmu terlalu lemah untuk memilih apa pun lagi. Setidaknya beri alasan untuk dirimu, untuk memutuskan sambil masih punya kekuatan agar bisa berubah pikiran."
Su Wan tidak menjawab hari itu. Tapi ketika Gu Tianming berdiri untuk pergi, ia mendengar suara sendok menyentuh mangkuk di belakangnya—pelan, ragu, tapi nyata.
Ia tidak menoleh. Ia hanya berhenti sejenak di ambang pintu, membiarkan Su Wan makan tanpa merasa diawasi, lalu keluar dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia masuk.
Di lorong, A-Rou menunggu, memandangnya dengan mata penuh tanya yang tidak berani ia ucapkan.
"Ibumu sedang makan, A-Ruo." Gu Tianming berkata sederhana.
A-Rou tidak berkata apa-apa. Ia hanya berlari ke arah kamar, lalu berhenti di depan pintu, mengintip perlahan, seolah takut jika ia terlalu bersuara, keajaiban kecil itu akan hilang.
Gu Tianming berdiri di lorong sebentar, menyaksikan itu, dan untuk sesaat merasakan sesuatu yang jarang ia izinkan dirinya sendiri rasakan sepenuhnya: kepuasan yang tenang, tanpa kebanggaan berlebih, karena ia tahu ini baru langkah pertama dari perjalanan yang masih sangat panjang.
Malam itu, di ruang kerjanya yang penuh rak berisi ribuan resep yang sudah ia kumpulkan sepanjang hidupnya, Gu Tianming duduk sendirian, menulis catatan tentang kasus Su Wan untuk arsip klinik—bukan untuk dirinya sendiri, ia sudah hafal setiap detailnya, tapi untuk murid-muridnya kelak, jika mereka menghadapi situasi serupa.
Ia menuliskan satu baris terakhir sebelum menutup buku catatannya:
Tidak semua penyembuhan dimulai dari pil. Kadang dimulai dari memberi seseorang alasan untuk ingin sembuh terlebih dahulu.
Ia menatap kalimat itu lama, lalu menambahkan satu baris lagi, lebih kecil, lebih ragu:
Tapi bagaimana jika suatu hari nanti aku bertemu seseorang yang, setelah diberi semua alasan di dunia, tetap memilih berhenti? Apakah menyelamatkan kehidupan selalu benar—atau adakah titik di mana memaksa seseorang tetap hidup menjadi bentuk kekejaman tersendiri?
Ia tidak punya jawaban untuk pertanyaannya sendiri. Ia menutup buku itu, meletakkannya di rak bersama ratusan buku catatan lain yang juga penuh pertanyaan tanpa jawaban, dan mematikan lampu minyaknya.
Dalam gelap, sebelum tidur benar-benar datang, Gu Tianming merasakan sesuatu yang aneh—bukan mimpi, ia belum tidur, tapi sesuatu yang menyerupai kesan seseorang tersenyum jauh di suatu tempat, puas, hangat, seperti orang tua yang baru saja menyaksikan anaknya berhasil melangkah sendiri untuk pertama kalinya.
Tidak ada kata-kata kali ini. Hanya perasaan itu—singkat, lembut, lalu menghilang secepat ia datang.
Gu Tianming membuka mata sebentar, menatap langit-langit kamarnya yang gelap.
"Aneh," gumamnya pelan, kepada kegelapan yang tidak menjawab. "Rasanya seperti ada seseorang yang berterima kasih padaku. Untuk sesuatu yang bahkan aku sendiri tak sepenuhnya paham."
Ia memejamkan mata, membiarkan pertanyaan itu—seperti begitu banyak pertanyaan lain dalam buku-buku catatannya—tetap terbuka, menunggu jawaban yang mungkin baru akan datang bertahun-tahun kemudian, dari arah yang sama sekali tidak ia duga.