Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Di Rumah Keluarga Wirajaya
Kereta tiba di Surabaya Gubeng menjelang sore, setelah hampir seharian membawa kami semakin jauh dari Bandung.
Ayah duduk di sampingku sepanjang perjalanan. Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap kali aku pergi ke toilet atau membeli minum, pandangannya mengikuti sampai aku kembali. Ibu sempat mengeluh kami terlalu tegang untuk kunjungan bahagia.
Tak seorang pun menjawab.
Damar menunggu di peron bersama seorang pria berjas abu-abu. Di belakang mereka ada dua staf yang langsung mengambil koper dan kotak seserahan.
"Selamat datang," kata Damar kepada orang tuaku.
Tatapannya berhenti padaku satu detik lebih lama.
Ayah maju sedikit, menempatkan tubuh di antara kami.
Pria berjas memperkenalkan diri sebagai Wibisana Wirajaya. Aku memanggilnya Pak Wibi. Ia lebih tua dari Damar, ramah dengan cara yang terukur, dan mewakili keluarga menerima kedatangan kami karena tetua lain berhalangan.
"Perjalanan panjang, ya? Mobil sudah siap," katanya.
Tiga kendaraan membawa rombongan ke rumah keluarga Wirajaya. Aku duduk bersama Ayah dan Budhe Sari. Damar berada di mobil depan dengan Mbak Laras dan Ibu. Sepanjang jalan, Rangga mengirim dua pesan untuk memastikan lokasiku. Aku membalas dengan foto jalan, bukan wajah siapa pun.
Rumah Wirajaya berdiri di balik gerbang hitam yang terbuka otomatis. Halamannya cukup luas untuk menampung beberapa rumah di perumahan kami. Pohon palem berjajar menuju bangunan utama, sementara di sisi lain air kolam renang memantulkan langit jingga.
Seorang pria bernama Vincent menyambut di tangga. Para staf memanggilnya Pak Vincent. Di belakangnya, Mbok Nah tersenyum hangat dan mempersilakan kami masuk.
Lantai marmer terasa dingin di bawah sepatu. Udara di dalam beraroma bunga putih, tidak menyengat, tetapi sangat kukenal.
Aku berhenti.
Wangi itu sama dengan diffuser murah yang kupakai saat kuliah, aroma yang pernah kusebut sekali dalam unggahan lama.
"Ada yang salah?" tanya Ayah.
"Nggak."
Damar menoleh dari ujung aula. Mata kami bertemu. Ia tidak bertanya kenapa aku berhenti.
Vincent membagikan kamar. Mbak Laras ditempatkan di sayap timur dekat kamar Ibu. Kamarku berada di lantai dua, berseberangan dengan ruang baca. Ayah langsung bertanya apakah ada kamar kosong di dekatku.
"Pak Darsono bisa menempati kamar sebelah," jawab Vincent tanpa keberatan.
Ibu tampak hendak protes karena kamar pasangan mereka terpisah, tetapi Ayah sudah menyerahkan tasnya kepada staf.
"Cuma dua malam," katanya.
Di kamar, aku menemukan sabun tanpa parfum, dua botol air suhu ruang, dan bantal tipis. Semuanya persis seperti yang biasa kupilih. Di atas meja ada satu buku tentang manajemen proyek yang pernah kusebut kepada Rangga, edisi terbaru yang belum mampu kubeli.
Aku tidak menyentuh apa pun.
"Mbak suka kamarnya?" tanya Mbok Nah dari pintu.
"Siapa yang menyiapkan ini?"
"Pak Damar memberi daftar, Mbak. Katanya tamu dari Bandung harus nyaman."
"Semua kamar dapat daftar?"
Perempuan tua itu ragu. "Saya kurang tahu."
Ayah muncul dari kamar sebelah. Ia melihat buku, bantal, lalu wajahku. "Kita turun bersama."
Makan malam disajikan di meja panjang menghadap taman. Mbak Laras duduk di sisi Damar. Ibu mengenakan kalung emasnya. Wibi memimpin percakapan tentang jadwal lamaran, tamu keluarga, dan rencana akad yang masih jauh.
Aku memilih kursi dekat Ayah.
Mbok Nah menaruh satu mangkuk kecil sambal di depanku, lalu menyajikan ikan bakar tanpa saus manis.
"Ini pesanan khusus," katanya. "Pak Damar bilang Mbak Sekar lebih suka pedas dan tidak terlalu manis."
Sendok Ibu berhenti. Mbak Laras ikut menoleh.
Damar meminum air. "Sekar pernah bilang."
"Kapan?" tanyaku.
"Mungkin saya mendengar dari Laras."
"Aku nggak pernah cerita soal ikan," kata Mbak Laras, masih tersenyum tetapi nada suaranya berubah tipis.
Wibi tertawa ringan untuk menutup ketegangan. "Damar memang mengingat detail. Waktu kecil, dia bisa hafal kesukaan semua orang di rumah."
Aku tidak bertanya apakah ia juga mengisi kamar semua orang dengan aroma pribadi, buku yang diinginkan, dan bantal pilihan mereka.
Ibu justru tampak bangga. "Mas Damar perhatian sekali sama keluarga Laras. Sekar harus belajar berterima kasih."
"Terima kasih," kataku.
Damar mengangguk. Tak ada seorang pun yang mendengar ancaman di dalam kesopanan kami, kecuali mungkin Ayah. Tangannya menutup di atas sendok.
Percakapan berpindah kepada anggota keluarga yang tak hadir. Wibi menyebut Bimo, adik kecil yang sedang bersama pengasuh di rumah kerabat dan baru akan kembali beberapa hari lagi. Namanya lewat sebentar, belum memiliki wajah bagiku.
Seusai makan, Ibu dan Budhe Sari diajak Mbok Nah melihat ruang tempat seserahan akan ditata. Pak Wibi membawa Ayah membahas kendaraan untuk kegiatan esok hari. Mbak Laras menerima panggilan kantor.
Aku keluar ke taman untuk mengirim kabar kepada Rangga.
Rumahnya besar. Terlalu besar. Aku bisa melihat orang-orang di balik jendela, tetapi suara mereka tak sampai ke tempatku berdiri dekat kolam. Lampu taman menyala satu per satu.
Pesanku belum terkirim ketika Damar muncul di jalur batu.
Aku langsung mundur. "Ayah mencari aku."
"Pak Darsono sedang bersama Wibi."
"Aku akan menyusul."
Damar berhenti, tidak menghalangi jalan sepenuhnya. "Kamarmu sesuai?"
"Terlalu sesuai."
"Itu keluhan yang aneh."
"Mas menyiapkan semuanya berdasarkan apa yang kusuka. Kenapa?"
"Karena kamu tamu."
"Mbak Laras juga tamu. Di kamarnya ada apa yang dia suka?"
"Tanyakan kepadanya."
"Aku bertanya kepada Mas."
Angin menggerakkan permukaan kolam. Damar menatap pantulan cahaya, lalu kembali kepadaku.
"Kamu selalu ingin pergi dari rumahmu," katanya. "Di sini, tidak ada yang akan menempatkanmu di kamar gudang."
Aku merasa seperti baru saja ditelanjangi di tengah taman, bukan tubuhku, melainkan semua rasa malu yang kusimpan dari keluarga sendiri.
"Aku juga nggak mau tinggal di sini."
"Belum."
"Nggak akan. Ini rumah yang Mas siapkan untuk Mbak Laras."
Damar mendekat satu langkah. Aku mundur sampai betis menyentuh bangku batu.
"Rumah ini sudah lama berdiri sebelum Laras datang," katanya. "Penghuninya bisa berubah."
"Maksud Mas apa?"
"Seorang nyonya rumah yang berbeda belum tentu buruk."
Darah surut dari wajahku.
Dari kejauhan, Ayah memanggil namaku. Aku bergerak melewati Damar, hampir berlari menuju suara itu. Ia tidak mengejar.
Namun sebelum aku mencapai pintu, suaranya menyentuh punggungku.
"Buku di kamarmu edisi cetak terbatas. Jangan ditinggalkan."
Aku menoleh.
Damar berdiri sendiri di taman, dikelilingi rumah yang telah diam-diam diatur mengikuti kebiasaanku.
Di tengah segala kemewahan itu, akhirnya aku memahami apa yang paling menakutkan.
Ia tidak sedang membuatku merasa diterima.
Sementara Mbak Laras, calon nyonya rumah yang sesungguhnya, bahkan tidak tahu apa yang sedang digeser dari tempatnya.
Ia sedang menunjukkan betapa mudahnya mengganti nyonya rumah.