Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:75.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali untuk bangkit

Rahang Fajar mengetat. Hati dan fikirannya sulit sekali untuk berkompromi sekarang.

"Baiklah."

Azarin mendongak cepat, menatap nanar wajah suami yang tidak menunjukkan keraguan sama sekali.

"Kita bercerai."

Lalu pergi dari sana tanpa melihat tatapan Azarin yang begitu terguncang.

Tubuh Azarin luruh bersamaan dengan langkah Fajar yang menjauh. Ia tutup mulutnya untuk tidak bersuara. Menangis sejadi-jadinya.

"Bahkan disaat seperti ini pun kau tidak melihat diriku, mas."

Azarin semakin tidak punya keinginan untuk kembali dengan Fajar.

Suaminya terlalu acuh, untuk dirinya yang juga butuh dimengerti.

Azarin bangkit dari terpuruknya, melangkah oyong pergi dari sana.

Baru saja ia menaiki teras pengadilan agama. Hatinya kembali di hantam dengan pemandangan yang begitu menyiksa.

Azarin.

Melihat mantan suaminya, Fajar.

Memeluk pinggang wanita yang dapat Azarin pastikan siapa pemiliknya.

Bahkan belum ada sehari perceraian mereka, Fajar dengan tega menunjukkan kemesraan mereka.

Hatinya semakin tersayat melihat Fajar, tersenyum ke arah wanita itu, menyeka rambutnya, memandangnya penuh cinta.

Azarin dulu mengharapkannya seperti orang bodoh, namun wanita lain justru mendapatkannya dengan suka rela.

Azarin merunduk menatap lantai kosong, berkas miliknya kusut saking kuatnya ia menggenggam.

"Berharap apa kamu, Azarin."

Wanita itu langkahkan kakinya pergi dari sana, melewati mereka agak jauh.

Fajar tatap langkah lemah Azarin yang pergi tanpa melihat ke arahnya.

Rahangnya mengetat.

"Kau bahkan tidak menegurku." ia berdecih sinis, "Ternyata cintamu cuma omong kosong."

"Sayang, kenapa?" Fania menoleh ke arah belakang, dimana Azarin terus berjalan melewati mereka tanpa menoleh.

Sudut bibirnya terangkat sinis. Memeluk Fajar erat.

"Sayang akhirnya aku bisa memilikimu!"

Dapat Azarin dengar seruan penuh kesengajaan itu.

Tangannya mengepal erat, "Berhentilah perduli, Azarin. Dan cepat pergi."

Ia langsung menambah kecepatan langkah kaki. Membuat Fajar mendelik, rahangnya mengetat, tangannya mengepal di samping tubuh.

"Kau akan menyesal, Azarin."

***

Azarin langkahkan kakinya masuk ke kontrakan baru dirinya dan sang putri.

Wajahnya tampak pucat, nafasnya tersengal, tatapannya memburam.

Di ruang tamu, Naya berdiri cemas, dengan Mia di gendongannya.

Sahabatnya itu raih tangan Azarin yang tampak gemetar.

"Azarin, bagaimana dengan—"

Belum sempat ucapannya selesai. Azarin tiba-tiba ambruk di depannya.

"AZARIN!"

Naya segera meletakkan Mia di sofa. Lalu berlari ke arah Azarin untuk membantunya ke kamar.

"Azarin, kamu—!" Naya papah Azarin menuju kamar, membaringkannya pelan.

Naya tak mampu menahan tangisnya. Ia tau betul betapa besar perasaan Azarin pada Fajar. Bahkan cintanya pada Fajar lebih besar daripada cintanya pada diri sendiri.

"Fajar bajingan itu!"

Tangan Naya mengepal erat di atas pangkuan. Menatap Azarin yang terbaring lemah di atas ranjang, dengan dahi yang sudah ia beri kompres dingin.

Satu minggu full Azarin demam, ia bahkan tak bisa melakukan apapun, dan hanya bisa tergeletak tak berdaya di atas ranjang.

Sementara Fajar? Bahkan Naya sudah mendengar Fajar menyebar undangan untuk menikah lagi.

Naya menggeram kesal. Ia tatap pias wajah pucat Azarin yang terkulai lemah di ranjang.

"Azarin seperti ini, dan dia sudah merayakan cinta barunya?!"

Naya benar-benar tak terima.

Hatinya bergejolak. Ia ingin sekali menampar wajah Fajar yang tidak tahu diri itu.

"Dasar bajingan tengik! Menjijikan!"

Genap dua minggu sudah, baru Azarin mulai merasa lebih enakan.

Ia sudah bisa berjalan di dalam rumah tanpa bantuan Naya. Bahkan menggendong Mia yang dua minggu ini menangis gara-dia tak menemaninya.

Azarin raih tubuh Mia di dalam box bayi itu lemah, menggendongnya lembut.

Air mata kembali jatuh di pipi. Dengan Mia di pelukannya.

Melihat wajah Mia begitu mirip mantan suami, hati Azarin kembali terguncang.

Sesak.

Sangat sesak.

Cinta yang selama ini ia jaga, justru menghancurkannya tak bersisa. Lalu seperti apa lagi pria yang bisa ia percaya.

Azarin sudah mendengarnya.

Bahwa Fajar, sudah menikah lagi.

Entah mengapa hatinya sedikit lebih lega. Meski masih sesak jika diingat. Karena cintanya selama ini tidak main-main.

Ia tatap Mia lembut, paksakan bibirnya tersenyum.

"Mama sudah benar kan, Mia? Mama lebih baik mempertahankan mu daripada membiarkan kamu jauh dari mama."

Benar.

Ia tidak salah.

Keputusannya sudah tepat.

"Mama akan berusaha lebih keras lagi untuk membesarkanmu, sayang."

Ia peluk Mia erat. Bayi kecil itu terus merancau di pelukannya, menghadirkan senyuman getir di bibir Azarin.

Naya tatap haru Azarin dibalik pintu.

Tanpa sadar air matanya luruh. Namun ia segera menghapusnya, memaksakan senyumnya seraya mendekat ke arah mereka.

"Hallo...ponakan Tante!" seru Naya tersenyum ceria, mengangkat dua kantong plastik ke atas riang, "Lihat apa yang tante bawa!"

Azarin sekat air matanya cepat, tersenyum ke arah Naya.

"Bayi mana bisa makan buah-buahan, Naya."

"Lho." Naya melongo, ia letakkan kresek berisi buah-buahan itu ke atas meja, "Kan kamu yang makan. Biar asi kamu deras, kan nanti jadi buat Mia."

Azarin terkekeh kecil, mendorong lengan Naya gemas, "Bisa aja."

Naya tertawa riang, "Nah gitu dong, tersenyum."

Ia raih bahu Azarin lembut, "Yok, aku antar kamu ke luar. Kita jalan-jalan sekarang!"

"Lupain si bajingan itu. Dunia ini luas, Azarin. Banyak pria yang lebih tampan, sukses daripada si bajingan tengik itu, santai aja."

Dapat Azarin lihat gurat emosi tertahan dibalik wajah lawak Naya.

Namun ia bersyukur, setidaknya di kondisinya yang seperti ini, Naya, sahabatnya. Selalu ada di sisinya.

"Kita mau ngapain?" tanya Azarin polos.

Naya menganga, "Ngapain?! Tentu shoping, Azarin! Beli baju bagus! Ke salon, spa, pedicure, menicure. Apalagi?"

"Ahhh...." Azarin memanyun kecil, "Itu pemborosan, Naya. Aku bahkan belum mendapatkan pekerjaan."

Naya tatap malas Azarin.

Ini nih.

Ini yang dia tidak suka dari Azarin.

Temannya itu terlalu hemat.

Ia sampai tak melihat kondisinya sekarang seperti apa.

"Hey....justru dengan shoping kita bisa sejenak melupakan kesedihan tau." Naya raih bahu Azarin, merangkulnya erat.

"Tapi—"

"Suttt!" Naya tempelkan jari telunjuk di bibir Azarin, "Jangan banyak alesan. Gas siap-siap sekarang."

Naya raih Mia di gendongan Azarin. Keluar dengan cepat dari kamar.

Azarin mau menghentikannya pun telat. Alhasil ia hanya bisa pasrah dan menurut saja.

Tersenyum ke arah punggung yang semakin menjauh.

"Makasih, Naya."

Sementara kondisi rumah tangga baru fajar tidak berjalan seperti yang ia harapkan.

Fania ternyata gadis penuntut.

Belum juga seminggu mereka menikah, wanita itu menuntut semua gaji ia yang pegang.

"Sabar, sayang. Mas akan carikan lagi."

Fania tatap tajam Fajar, bangkit dari duduk.

"Kamu ga percaya sama aku, Mas?!"

Fajar memejam kuat. ini sudah ke-5 kalinya Fania menuntut Fajar untuk memberikan semua ATM dan aset rumah untuk Fania pegang.

"Mas bukan ga percaya, tapi ATM mas sudah diambil sama Azarin."

Mendelik langsung bola mata Fania. Wanita itu segera bangkit.

"Dan mas biarin aja?!" seru Fania, "Kenapa ngga di ambil mas?!"

Fajar tatap Fania intens, "Itu sudah jatahnya."

Pada akhirnya, Fajar tak jadi memblokir kartu ATM Azarin. Semata-mata sebagai nafkah terkahir untuknya.

Fajar raih jas kerja miliknya cepat. Hendak pergi ke klinik.

"Berhenti merengek, Fania. Kamu sudah ada jatahnya sendiri."

Fania mendelik tajam, kembali menjatuhkan pantatnya pada ranjang. Memalingkan wajah acuh.

"Cih!"

1
Ds Phone
jadi ketawa meraka berdua
Ds Phone
kenapa nak rasa ber salah pulak
Ds Phone
tak mahu terluka lagi
Ds Phone
lagi buat orang panas
Ds Phone
ada aja pakat dengan anak nya
Ds Phone
suka buat lawak bodoh
Ds Phone
buat macam tak kenal aja
Ds Phone
itu kawan yang bagus nasihat yang bagus aja
Ds Phone
susah juga macam ni di telan mati di luah mati anak
Ds Phone
ada kenangan lama antara meraka
Ds Phone
habis dia keluar kan semua yang di simpan dalam hati
Ds Phone
ya lah bapak dia
Ds Phone
merajuk lah tu
Ds Phone
dulu kau buang puteri mu kenapa sekarang nak balik
Ds Phone
anak nya pandai ambik orang tua
Ds Phone
apa kah dia di terima
Ds Phone
kawan nya sama lulus bendul
Ds Phone
bukan cemburu tapi sakit hati
Ds Phone
apa den tak sedar pasangan kena buli
Ds Phone
bodoh kau maseh nak pada nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!