Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nada yang Tertinggal

Aku menatap Adrian sembari membiarkan nada gitarnya mengalun hingga usai. Pria itu masih memejamkan matanya, meresapi tiap detik getaran melodi yang memenuhi udara.

Kesadaran kami baru kembali saat seisi kafe mendadak dipenuhi riuh tepuk tangan pengunjung, jauh lebih meriah dan gemuruh ketimbang saat kami pertama kali naik ke panggung.

Adrian menoleh dan tersenyum hangat ke arahku, menyiratkan rasa bangga atas penampilan kami. Aku sendiri masih tak percaya bisa tampil selepas dan senatural ini tanpa persiapan apa pun, apalagi gladi resik.

Adrian mengulurkan tangan meminta gitarnya, lalu kuarahkan alat musik itu padanya. Kami berdua berdiri bersisian dan membungkuk dalam-dalam sebagai bentuk terima kasih atas apresiasi dari para pengunjung. Dari kejauhan, kulihat teman-temanku juga berdiri sambil bertepuk tangan heboh. Setelahnya, Adrian menggenggam pelan jemariku, menuntunku turun dari panggung.

"Luar biasa! Penonton semua kayak kesirep sama penampilan kalian!" puji Bram begitu kami tiba di balik panggung.

"Siapin voucher dinner gratis gue sama Sera, jangan lupa. Gue tunggu!" balas Adrian terkekeh sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

"Yuk, Ser," ajak Adrian padaku.

"Thanks ya, Sera!" seru Bram antusias.

Aku hanya tersenyum ramah lalu melangkah pergi mengikuti Adrian.

Adrian membawaku kembali ke halaman belakang yang tenang. Kami duduk bersisian di kursi kayu di bawah naungan pohon rindang. Adrian mengembuskan napas panjang, menikmati kesunyian yang kembali menyapa.

"Capek, Mas?" tanyaku.

"Enggak kok. Sera mau minum? Mas ambilin dulu ya?" tawar Adrian perhatian.

"Boleh, Mas," jawabku.

Adrian beranjak dari kursinya dan melangkah menuju area dalam kafe. Aku menatap punggungnya dari belakang sampai sosok tingginya menghilang di balik pintu kaca.

Jujur saja, aku belum pernah merasakan getaran hangat seperti ini sebelumnya. Bahkan dulu saat aku pertama kali jatuh cinta pada Ray, cinta pertamaku. Pikiranku mendadak terlempar jauh ke masa lalu, mengenang kembali saat-saat awal aku bertemu dengan Ray di kelas sembilan dulu. Momen itu terjadi di perpustakaan sekolah.

Waktu itu, aku sedang berjinjit berusaha meraih sebuah buku paket di rak paling atas. Karena tubuhku yang kurang tinggi, tentu saja aku kewalahan. Tiba-tiba dari arah belakang, seorang laki-laki bertubuh tinggi mengulurkan tangannya dan mengambilkan buku itu dengan mudah. Aromanya tubuhnya wangi dan segar. Bahkan sebelum melihat wajahnya pun, aku sudah tahu dia pasti berparas tampan.

"Nih... Makanya olahraga, biar tingginya nambah dikit," kelakarnya sembari menyerahkan buku paket itu padaku.

Benar saja. Sosok di hadapanku berdiri tinggi dengan kulit putih bersih, rambutnya sedikit berantakan namun tertata pas membingkai struktur wajahnya. Matanya berbinar tajam, hidungnya mancung, dan ada rona kemerahan alami di pipinya, seperti seseorang yang baru selesai beraktivitas di bawah terik matahari. Aku langsung tahu siapa dia. Ray. Seluruh siswa di sekolah pasti mengenalnya. Dia atlet basket kebanggaan sekolah sekaligus ketua OSIS yang jadi idola banyak siswi.

"Makasih," jawabku canggung saat itu.

"Temannya Naura, kan?" tanyanya.

"Iya..." jawabku pelan.

Setelah itu, Ray berlalu begitu saja meninggalkanku sendirian di lorong perpustakaan. Dia dan Naura memang berada di ekstrakurikuler yang sama; Naura juga anggota tim basket dan menjabat sebagai sekretaris OSIS di bawah kepemimpinan Ray.

Dulu, Naura sempat mengajakku ikut bergabung di OSIS, tapi aku menolaknya halus. Aku tidak terlalu suka dengan kegiatan organisasi yang menyita banyak waktu. Aku lebih menikmati peran sebagai siswi biasa, datang ke sekolah, belajar di kelas, lalu pulang ke rumah untuk beristirahat. Aku sama sekali tidak berminat jika harus pulang terlambat hanya demi mengurus acara sekolah yang menguras tenaga. Intinya, aku tidak mau hidupku terlalu rumit.

"Sera? Kok melamun?"

Suara Adrian mengejutkanku. Ia kembali membawa dua botol minuman dingin di tangannya.

"Tadi Mas sekalian pesan snack platter sama chocolate milkshake buat kamu," tambahnya sembari meletakkan minuman itu di atas meja kayu.

"Mas pesan apa?" tanyaku.

"Americano," jawabnya tersenyum tipis lalu kembali duduk di hadapanku. "Oia, tadi Mas sempat ngobrol sebentar sama Bram. Dia ngajak kita perform lagi Sabtu depan."

"Terus?"

"Mas tolak, dong," jawab Adrian santai seraya membuka tutup botol minumannya. "Kecuali kalau kamu memang mau."

"Hmm... Kayaknya enggak deh, Mas. Aku enggak berani kalau harus dikenal banyak orang," sahutku jujur.

"Mas juga. Agak aneh enggak sih rasanya?" kelakarnya,

"Iya, banget..." balasku tertawa pelan.

Adrian meneguk minumannya sebentar, lalu memandangku lekat. "Oia, cowok yang tadi itu siapa?"

"Bastian? Atau Ray?" tanyaku memastikan.

"Ray! Kalau Bastian mah Mas udah kenal dari dia masih bocah," potong Adrian.

"Oh ya? Mas udah lama berteman sama Bang Bram?"

"Lama, dari Mas SMP kayaknya. Kok malah balik tanya?" godanya dengan alis terangkat.

"Dia temen SMP Sera dulu, Mas," jawabku seraya mengutak-atik tutup botol minumanku.

"Kayaknya lebih dari sekadar temen deh," tebak Adrian tepat sasaran.

Aku menghela napas pasrah. "Ya udah, iya... Dia mantan aku, Mas."

"Nah, kan... Kenapa harus malu, sih? Lumayanlah tampangnya. Kenapa putus?" tanyanya terkesan santai, seolah cuma menanyakan topik biasa.

"Salah paham aja. Lagian dia juga udah punya pacar baru kok sekarang," sahutku.

"Ohhh..." gumam Adrian mengangguk-angguk.

"Mas sendiri udah punya pacar?" tanyaku refleks.

Aduh! Mampus gue, kenapa bisa kelepasan nanya gini sih! Bego banget! gumamku panik dalam hati, merutuki mulutku yang tak bisa dikontrol.

Adrian menatapku tenang, lalu menjawab datar, "Mas enggak punya pacar, Sera."

"Bohong! Kata Kania pacar Mas Adrian banyak," cecarku membalas.

"Fitnah lagi itu," sahutnya santai.

"Gak mungkin cowok kayak Mas Adrian gak punya pacar," ledekku mencoba menutupi rasa canggung.

Adrian mengikis jarak sedikit, menatap lurus ke mataku dengan nada suara yang amat tenang. "Kalau Mas punya pacar, enggak mungkin malam Minggu gini Mas ada di sini, berduaan sama kamu."

Desir hangat mendadak menyengat dadaku. Bener juga ya...

Hari makin larut. Lampu-lampu hias kecil yang membentang di sepanjang halaman belakang kafe mulai menyala terang, menciptakan suasana yang kian hangat dan romantis. Tak lama, pelayan datang membawakan pesanan kami.

Di tengah obrolan, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Naura:

"Lo masih mau di sini? Gue pulang duluan sama Bastian ya."

Aku menyapu layar dan membalas singkat:

"Hati-hati, Nau."

Setelah memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, Adrian melirikku. "Siapa, Ser?"

"Naura, Mas. Dia izin pulang duluan, mau jalan sama Bastian kayaknya," jawabku. Aku lalu memberanikan diri menatapnya. "Mas, Sera boleh tanya sesuatu enggak?"

"Tanya aja."

"Mas kok bisa dapat nomor Sera? Dari Kania, ya?" tanyaku penasaran.

Adrian tertawa terkekeh mengingat momen itu. "Waktu itu Mas mau anterin charger ponsel Kania ke kamarnya. Dia lagi enggak ada, mungkin masih mandi. Mas taruh charger-nya di meja, terus lihat ponselnya tergeletak dengan banyak notifikasi masuk. Mas iseng buka, isinya chat dari grup kerja kelompok kalian."

Ia melanjutkan ceritanya dengan jenaka. "Mas penasaran sama kamu, jadi Mas cari-cari nomor kamu. Karena Mas belum tahu nama kamu, Mas nebak dari foto profil. Tapi dari lima temen Kania di grup itu, enggak ada yang pasang foto wajah yang Mas cari. Mas lihat ada satu nomor dengan foto profil Synyster Gates dan namanya Seraphina Luna. Mas tebak ini pasti nomor kamu. Mas salin deh ke ponsel Mas, dan ternyata beneran."

Aku mengernyit heran sekaligus takjub. "Emang ada perlu apa Mas nyari nomor Sera?"

"Mas juga enggak tahu kenapa Mas ngelakuin itu. Mas cuma ngikutin kata otak, haha," jawabnya tertawa lepas.

"Kirain ngikutin kata hati," celetukku pelan.

"Laki-laki itu kan dominan pakai logika, Sera. Kalau perempuan baru pakai perasaan," jawabnya diplomatis. "Tapi Mas minta tolong, jangan cerita apa-apa dulu ke Kania ya. Dia ribet orangnya," pinta Adrian.

"Aman, Mas."

Kami menghabiskan waktu dengan mengobrol santai di halaman belakang yang sejuk itu. Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Mas, Sera pulang ya," pamitku beranjak.

"Mas anter ya?" tawarnya.

"Enggak usah, Mas, aku bawa motor sendiri kok."

"Mas ikutin dari belakang. Mas anterin sampai rumah ya?" mohonnya dengan tatapan lembut yang sulit ditolak.

Aku menghela napas pasrah namun merasa hangat di dalam dada. "Ya udah, ayo..."

Kami berjalan menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran. Saat Adrian membuka dompetnya, mataku tak sengaja kembali menangkap selipan foto seorang wanita di dalam sana. Rasa penasaran itu sempat berdesir kembali, namun aku buru-buru mengalihkan fokus.

"Oia Mas, kan Sera udah janji mau traktir kemarin," ucapku menyodorkan uang.

"Enggak usah, ini pakai honor dari manggung kita tadi kok," jawab Adrian menahan tanganku.

"Tapi kok Mas yang bayar?" tanyaku heran.

"Nanti Mas minta reimburs* ke Bram," kelakarnya.

"Tau gitu tadi aku pesan menu yang mahal-mahal ya, Mas!" sahutku terkekeh.

Kami melangkah keluar menuju area parkiran.

"Mana kuncinya? Mas keluarin motor kamu," minta Adrian.

Aku merogoh tas dan menyerahkan kunci motor padanya. Adrian mengambil helmku yang tergantung di spion lalu menyerahkannya padaku. Dengan cekatan, ia menuntun dan memutar posisi motorku hingga menghadap ke arah jalan keluar.

"Makasih ya, Mamang Parkir ganteng," godaku melepas canggung.

"Parkirnya seratus ribu," balasnya menaikkan alis.

"Mahal banget!" seruku tertawa. "Mas, kita belum pamit sama Bang Bram."

"Enggak apa-apa, nanti Mas chat dia. Sana kamu jalan duluan," perintahnya lembut.

Aku menyalakan mesin motor dan melaju perlahan keluar dari area kafe. Di sepanjang jalan menuju rumah, dari kaca spion aku dapat melihat sosok Adrian yang setia mengawalku dari belakang dengan motor besarnya.

Malam itu, di bawah pendar lampu jalanan kota, aku benar-benar merasa aman dan dilindungi oleh hadirnya.

1
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!