Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 PENANTIAN PANJANG

Maya mengembuskan napas dan menjatuhkan diri ke kursi plastik dekat jendela. Matahari tengah hari menerobos masuk berlimpah, memanggang serambi kecil itu seperti tungku. Tak ada pendingin udara. Bau rokok dan kopi gosong menggantung di udara.

Mereka menunggu. Satu jam. Enam puluh menit. Tiga ribu enam ratus detik ketaknyamanan yang paripurna, dengan pandangan yang saling bertaut lalu berpaling, hening yang canggung, dan napas yang ditahan.

Ketika petugas itu akhirnya kembali, dengan remah roti di dasinya dan senyum puas yang buruk disembunyikan, Maya merasa hendak meledak. Ia menandatangani berkas-berkas itu dengan amarah yang tertahan, melemparnya ke atas meja, lalu keluar dari gedung tanpa menoleh lagi.

Bara mengikutinya dengan ketenangan yang nyaris menghina.

"Kebiasaan buruk," ujarnya, sembari menyulut rokok sambil bersandar di pintu Maserati. "Menandatangani sambil marah. Nanti berkasnya tak berlaku."

"Jangan bicara pada saya," sahut Maya, dengan gigi terkatup.

"Anda istri saya. Saya berhak bicara pada Anda."

"Jangan konyol!"

"Yang konyol itu menikahi orang asing demi menyelamatkan ayah. Dan itu sudah kita lakukan. Sisanya cuma urusan administrasi."

Maya ingin membentaknya. Ingin mengatainya tak berperasaan, tak tahu diri, monster dingin penuh perhitungan yang tak paham apa-apa. Tapi ia tak mengatakan apa pun. Sebab Bara benar. Semua itu memang cuma urusan administrasi. Sebuah transaksi. Tidak lebih.

Bramantyo keluar dari gedung dengan wajah memerah karena kesal. Ia memandang Bara, memandang Maya, memandang langit seolah memohon kesabaran dari Tuhan.

"Selesaikan saja ini," geramnya. "Makin cepat kita sampai di mansion, makin cepat aku bisa berbaring dan pura-pura semua ini cuma mimpi buruk."

* * *

Perjalanan ke mansion terasa menegangkan.

Maya duduk di kursi depan, di samping Bara, dengan pandangan terpaku ke jalan. Bramantyo menempati kursi belakang, lengan menyilang dan rahang mengeras. Tak ada yang bicara. Satu-satunya suara hanyalah mesin Maserati, dengung berat yang tak putus, yang seakan menandai irama degup jantung Maya.

Gerbang besi tempa terbuka menyambut mereka. Deretan pohon cemara tua berjajar di sepanjang jalan berbatu bagai pengawal yang membisu. Mansion itu muncul di ujung, kelabu dan angkuh, dengan jendela-jendela raksasa dan menara bundarnya yang menjulang membelah langit sore.

"Ini... besar sekali," ujar Bramantyo, dan tak jelas apakah itu pujian atau keluhan.

"Ini rumah saya," jawab Bara, ketus.

Mereka memarkir mobil di depan pintu utama. Sang sopir, pria pendiam bernama Bagas, membukakan pintu-pintu mobil. Maya turun dengan kaki gemetar. Ia menatap mansion itu dan merasa ia tak termasuk di sana. Bahwa ia takkan pernah termasuk di sana.

"Aku tak suka," gerutunya, pelan, nyaris untuk dirinya sendiri.

Bara mendengarnya. Keningnya berkerut.

"Apa?"

"Aku tak suka," ulang Maya, mengangkat dagu. "Dingin. Kosong. Seperti museum, bukan rumah. Aku tak mengerti bagaimana orang bisa tinggal di tempat seperti ini."

Bara tak menjawab. Ia hanya mengerutkan kening sedikit lebih dalam, gerak kecil yang mengeraskan garis wajahnya dan mengubahnya menjadi topeng batu. Ia berbalik dan melangkah menuju pintu masuk tanpa menunggunya.

"Bu Marta akan mengantar kalian ke kamar masing-masing," ucapnya dari balik bahu. "Makan malam kapan saja kalian mau. Besok kita bicarakan langkah selanjutnya."

Pintu utama menutup di belakangnya dengan gema yang tumpul.

Maya tertinggal di ambang pintu, dengan matahari sore menghangati punggungnya, merasa lebih tersesat dari sebelumnya.

Bramantyo menghampirinya. Ia meletakkan sebelah tangan di bahu Maya.

"Kamu tidak apa-apa, Nak?"

Maya menggeleng.

"Tidak, Papa. Aku tidak baik-baik saja. Aku baru saja menikahi pria yang tidak kucintai, dalam upacara yang menyedihkan, setelah menunggu satu jam demi petugas yang sedang makan siang. Gaun pengantinku ya ini." Ia menunjuk pakaiannya, celana panjang hitam dan blus putih yang kusut. "Tak ada bunga. Tak ada musik. Tak ada keluarga. Cuma penghulu yang bosan dan dua saksi yang seperti keluar dari film gangster. Aku sudah kalah, Papa. Aku sudah kehilangan sisa terakhir yang masih kupunya."

Bramantyo memeluknya erat.

"Kamu tidak kalah, Nak. Kamu selamat. Itu bukan kalah. Itu menang, meski tak tampak begitu."

Maya menyandarkan kepala di bahu ayahnya dan memejamkan mata.

* * *

Di dalam mansion, di perpustakaan yang dindingnya berlapis kulit, Bara Prakoso berdiri menghadap jendela, segelas wiski di tangan dan tatapan yang hilang di kejauhan.

Ia telah menang.

Ia telah mendapat apa yang diinginkannya: seorang istri berdarah biru, sebuah nama keluarga tanpa cela, pintu-pintu kalangan atas yang terbuka lebar.

Tapi ada sesuatu yang mengusiknya. Ada sesuatu yang tak pas.

Ciuman itu.

Ciuman sedetik terkutuk itu, dingin dan protokoler, telah melakukan sesuatu padanya. Membuatnya merasakan sesuatu. Geli di bibir, getar di tangan, denyut tak beraturan di dada yang tak pernah ia ingat pernah ia rasakan.

Bara Prakoso pernah membunuh orang. Pernah membakar gudang. Pernah menatap maut dari dekat lebih sering dari yang bisa ia hitung. Tapi tak pernah, tak pernah, sebuah ciuman sederhana membuatnya begitu kehilangan pijakan.

Ia meneguk wiski panjang-panjang. Alkohol itu membakar tenggorokannya dan menenangkan perutnya.

"Ini cuma sebuah kontrak," katanya keras-keras, untuk meyakinkan diri sendiri. "Tidak lebih."

Namun saat ia menaiki tangga menuju kamarnya, ia melewati pintu kamar Maya. Ia mendengar Maya menangis. Tangis yang tertahan, tanpa suara, tangis seseorang yang tak ingin didengar.

Dan Bara Prakoso, sang mafioso tak berhati, berhenti sejenak. Ia menyandarkan dahi ke kayu pintu yang dingin.

Aku telah menang,* pikirnya. Tapi aku tak tahu apa. Dan justru itulah yang membuatku takut.*

* * *

Bu Marta, sang kepala rumah tangga, muncul di lorong dengan seikat handuk bersih di tangan. Ia melihat Bara berdiri menempelkan dahi ke pintu kamar Maya, lalu mengangkat sebelah alis.

"Tuan Prakoso?"

Bara langsung menegakkan diri. Wajahnya kembali menjadi topeng tak tertembus seperti biasa.

"Tidak apa-apa, Bu Marta. Pastikan Nyonya mendapat semua yang ia perlukan."

"Baik, Tuan."

Bara berlalu menyusuri lorong tanpa menoleh. Namun sebelum lenyap di tikungan, ia menghentikan langkah sesaat.

"Bu Marta."

"Ya, Tuan?"

"Bunga. Taruh bunga di kamarnya. Bunga apa saja. Asal yang bagus."

Bu Marta tersenyum. Senyum kecil, nyaris tak kentara, tapi tulus.

"Baik, Tuan Prakoso."

Bara lenyap dalam keremangan lorong, meninggalkan gema langkahnya dan keyakinan bahwa pernikahan demi kepentingan ini takkan sesederhana yang telah ia rencanakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!