Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019 - Malam Pertama, Janji Pertama

Kalimat Arkana membuatku kehilangan keberanian untuk mundur.

Hujan turun lagi di luar, pelan pada awalnya, lalu rapat mengetuk kaca. Dahinya masih menempel pada dahiku. Napas kami bercampur dalam jarak yang tidak menyisakan tempat bagi kebohongan, meski aku membawa satu kebohongan terbesar hanya beberapa langkah dari sana.

Ponselku bergetar.

Nama Mbak Tania muncul di layar. Arkana melepaskan wajahku, tetapi tangannya tetap di pinggangku. Aku menjawab dengan suara yang kuharap terdengar biasa.

"Sudah sampai, Mbak."

"Akhirnya. Kak Gilang tadi menelepon Club hanya untuk memastikan kau benar-benar pulang. Kau baik-baik saja?"

Aku memandang Arkana. Dia bisa mendengar setiap kata.

"Aku bersama Arkana."

Tania diam sesaat. "Kalau begitu aku tidak akan bertanya lebih jauh. Tapi kalau kau membutuhkan aku, telepon kapan pun. Jangan membuat keputusan besar saat sedang sedih."

Terlambat, pikirku.

"Selamat malam, Mbak."

Setelah sambungan terputus, Arkana mengangkat alis. "Keputusan besar?"

"Mungkin aku ingin mengecat rambut."

"Kau berbohong dengan buruk."

"Katamu kau akan memercayaiku."

"Memercayai bukan berarti menjadi bodoh."

Aku menurunkan ponsel. "Kalau kau ingin aku pergi, katakan sekarang."

Dia menatapku lama, seakan mencari pintu rahasia di wajahku. Lalu ia mengangkat tanganku dan mencium buku-buku jariku satu per satu.

"Bukan aku yang perlu menjawab," katanya. "Kau yakin menginginkan malam ini?"

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti milik lelaki yang biasa merebut perusahaan, wilayah, dan kesetiaan orang lain. Tidak ada perintah di dalamnya. Hanya sebuah jalan keluar yang sengaja ia buka untukku.

Aku bisa mengambilnya.

Aku tidak melakukannya.

"Aku yakin."

Arkana tetap tidak bergerak. "Bukan karena Gilang?"

"Bukan."

"Bukan karena kau merasa berutang kepadaku?"

"Bukan."

"Jika kau berubah pikiran?"

"Aku akan mengatakan berhenti."

"Dan aku akan berhenti."

Baru setelah itu dia menciumku.

Ciuman pertamanya adalah pertanyaan. Ciuman berikutnya menjadi jawaban yang selama ini kami tahan di antara pertengkaran, larangan, dan pintu-pintu yang dibanting. Aku memeluk lehernya. Jemarinya menyusuri punggungku perlahan, selalu memberi waktu bagiku untuk menjauh.

Aku justru merapat.

"Mandikan aku," bisikku ketika bibir kami berpisah.

Tatapannya berubah gelap. "Larasati."

"Aku ingin semua hari buruk itu hilang malam ini. Walau hanya untuk beberapa jam."

Ia tidak bertanya hari buruk yang mana. Mungkin dia tahu jumlahnya terlalu banyak.

Arkana mengambil tasku dari dekat tangga. Tubuhku menegang begitu gagang tas berpindah ke tangannya.

"Berat," katanya.

"Buku."

Kebohongan kedua.

Dia membawanya ke kamar dan meletakkannya di kursi tanpa membuka ritsleting. Pisau di dalamnya tetap diam, sementara pemilik rumah berjalan ke kamar mandi dan menyalakan air hangat untukku.

Uap perlahan memenuhi ruangan. Arkana berdiri di belakangku, menunggu di depan cermin yang mulai berkabut.

"Masih yakin?"

Aku mengangguk, lalu menyadari dia membutuhkan kata-kata. "Ya."

Dia membuka pengait gaunku dengan tangan yang sanggup menghancurkan musuh tetapi malam itu bergerak seolah kainku terbuat dari sayap kupu-kupu. Setiap kali sentuhannya menemukan kulit, dia berhenti sepersekian detik. Setiap kali aku tidak mundur, napasnya menjadi lebih berat.

Tidak ada rasa tergesa. Tidak ada kemenangan di wajahnya. Ia membantuku masuk ke air hangat, menyibakkan rambut dari bahuku, lalu menuangkan air perlahan di atasnya.

Aku pernah melihat tangan itu berlumur darah orang lain.

Malam ini tangan yang sama membasuh sisa hujan dari rambutku.

Kontras itu seharusnya membuatku takut. Sebaliknya, kelopak mataku menutup saat jemarinya memijat kepalaku dengan lembut. Aroma sabun bercampur dengan aroma kayu dari tubuhnya. Di luar, petir bergulung jauh, tetapi kamar mandi itu terasa terpisah dari seluruh kota.

"Kenapa kau begitu baik malam ini?" tanyaku.

"Karena besok kau mungkin akan membenciku lagi."

Aku membuka mata. "Kalau aku benar-benar membencimu, apa kau akan melepaskanku?"

"Tidak."

Jawabannya begitu cepat hingga aku tertawa kecil. "Setidaknya kau jujur."

"Aku bisa memberimu jarak. Uang. Rumah lain. Seluruh dunia jika kau memintanya." Ibu jarinya menyentuh pipiku. "Tapi jangan minta aku berhenti mencintaimu. Aku tidak punya kemampuan itu."

Air hangat tidak mampu mencegah tubuhku gemetar.

Aku meraih tangannya dan menempelkan telapak itu ke wajahku. "Kalau begitu jangan berhenti malam ini."

Ia mengeringkan rambutku, membungkus tubuhku dengan jubah mandi, lalu membawaku kembali ke kamar. Lampu di sisi ranjang menyala redup. Tas hitam itu masih berada di kursi, mulutnya tertutup, menjaga rahasia seperti binatang yang menunggu dipanggil.

Aku tidak memanggilnya.

Arkana menyentuh ikat jubahku, tetapi tidak membukanya.

"Katakan sekali lagi."

"Aku menginginkanmu."

Matanya terpejam sebentar, seolah kalimat itu melukainya sekaligus menyembuhkannya.

Ketika dia menciumku lagi, aku tidak lagi menghitung dosa atau utang. Aku hanya merasakan hangat kulitnya, berat aman lengannya, dan detak jantung yang selama bertahun-tahun kukira tidak dimiliki serigala. Ia memperlakukanku bukan sebagai barang yang pernah dibeli, bukan sebagai anak yang harus dilindungi, melainkan sebagai perempuan dewasa yang boleh memilih.

Dan malam itu, aku memilihnya.

Ketika lampu dipadamkan, hujan menjadi tirai bagi segala hal yang tidak membutuhkan saksi. Namaku berulang dalam bisikannya. Setiap kali aku ragu, dia berhenti. Setiap kali aku menariknya kembali, ia memastikan jawabanku sebelum melanjutkan.

Tidak ada paksaan. Tidak ada rasa takut.

Hanya dua orang yang terlalu lama saling melukai, akhirnya mengakui bahasa tubuh yang tidak sanggup mereka ucapkan.

Beberapa waktu kemudian, hujan mereda menjadi tetes-tetes jarang. Aku berbaring di dadanya, mendengar jantungnya kembali tenang. Selimut menutupi kami. Jari Arkana menggambar lingkaran kecil di bahuku.

"Menyesal?" tanyanya.

"Tidak."

"Kau menjawab terlalu cepat."

"Karena untuk pertama kalinya aku tidak perlu berbohong."

Dia menatap langit-langit. "Ada sesuatu yang ingin kaukatakan?"

Tas di kursi berada tepat di belakang bahunya. Aku dapat bangun, membuka ritsleting, dan menyelesaikan alasan aku datang. Dia tidak bersenjata. Tidak berjaga. Dia telah menyerahkan tidur dan punggungnya kepadaku.

Inilah kesempatan yang kurencanakan.

Tanganku bergerak dari dadanya.

Arkana tidak membuka mata ketika aku duduk. "Air ada di meja."

Aku turun dari ranjang. Lantai dingin menyentuh telapak kakiku. Tiga langkah memisahkanku dari tas.

Satu.

Wajah ayah kandungku muncul dalam ingatan.

Dua.

Suara ibuku memanggil namaku dari rumah yang dipenuhi asap.

Tanganku menyentuh ritsleting.

Aku melihat Arkana di pantulan jendela. Dia berbaring tanpa pertahanan, lelaki yang telah kupersiapkan untuk kubenci seumur hidup. Namun ingatanku berkhianat. Yang kulihat bukan monster di antara api, melainkan pria yang menunggu aku pulang, membalut kakiku yang terluka, membiarkan aku menang dalam setiap pertengkaran kecil, dan berhenti menyentuhku setiap kali aku belum yakin.

Aku membuka tas.

Jemari menyentuh bungkusan pisau.

Lalu seluruh tubuhku kehilangan tenaga.

Aku berlutut di depan kursi dan menutup mulut agar tangisku tidak terdengar. Aku tidak sanggup. Bahkan dengan semua kematian yang menuntut balasan, aku tidak mampu menjadikan tubuh yang baru saja memelukku sebagai makam berikutnya.

"Larasati?"

Aku buru-buru menutup tas. "Aku menjatuhkan sesuatu."

Arkana sudah bangun. Dia mengenakan celana panjang, lalu berjongkok di hadapanku. Wajahku basah, dan kebohongan ketiga jelas lebih buruk daripada dua sebelumnya.

Dia tidak memeriksa tas. Hanya menghapus air mataku.

"Katakan apa yang menyakitimu."

"Aku mencintaimu," kataku.

Pengakuan itu keluar seperti luka yang akhirnya dibuka.

Arkana membeku.

"Katakan lagi."

"Aku mencintaimu. Aku benci bahwa aku mencintaimu. Aku benci karena saat bersamamu, aku ingin melupakan semua hal yang seharusnya tidak boleh kulupakan."

Dia menarikku ke pelukannya. Aku menangis di dadanya, dan untuk sekali ini dia tidak meminta penjelasan atas bagian kalimat yang tidak kupahami sendiri.

"Aku juga mencintaimu," katanya di rambutku. "Lebih dari apa pun yang pernah kumiliki."

"Itu terdengar seperti ancaman."

"Bagiku, memang begitu."

Tawa kecil pecah di antara tangisku.

Arkana berdiri dan mengambil sebuah kotak beludru dari laci meja samping ranjang. Saat kembali berlutut, ia tidak tampak seperti raja dunia gelap. Ia tampak seperti lelaki yang sama takutnya dengan diriku.

Kotak itu terbuka.

Di dalamnya ada cincin berbentuk bunga lili laba-laba. Kelopaknya dibentuk dari logam putih tipis, mengelilingi berlian merah yang warnanya menyerupai setetes senja.

"Aku membelinya bertahun-tahun lalu," katanya. "Lalu kusimpan karena kau belum bebas memilih."

Aku mengenali bunga itu dari taman belakang vila, bunga yang hanya mekar sebentar lalu meninggalkan warna merah dalam ingatan. Arkana pernah mengatakan bahwa sesuatu yang singkat tidak selalu berarti sia-sia. Baru malam itu aku mengerti ia sedang berbicara tentang kami.

Ia mengambil cincin itu, tetapi belum memasangkannya.

"Menikahlah denganku. Bukan malam ini, bukan karena apa yang baru terjadi. Pilih harinya sendiri. Setelah itu kita pergi ke tempat yang tidak mengenal nama Arkana, tidak mengenal musuhku, dan tidak mengenal masa lalu kita."

"Tempat seperti itu tidak ada."

"Kalau begitu akan kubangun."

Aku seharusnya mengatakan bahwa masa lalu tidak dapat ditinggalkan seperti vila kosong. Aku seharusnya memberitahunya tentang pisau yang hanya berjarak beberapa langkah.

Sebaliknya, aku mengulurkan tangan.

"Ya."

Arkana memasangkan cincin itu ke jariku, lalu mencium batu merahnya dengan mata terpejam.

Malam semakin larut. Setelah ia tertidur, aku kembali ke kursi, mengeluarkan bungkusan pisau, lalu menyelipkannya ke dasar laci pakaianku. Tidak kubuang. Aku belum cukup berani untuk mengkhianati kematian keluargaku sepenuhnya.

Namun aku juga tidak lagi mampu menggunakannya.

Aku kembali ke ranjang dan membiarkan Arkana merangkulku dalam tidur. Cincin bunga merah berkilau redup di antara kami.

Dalam hati, aku membuat janji pertama sebagai perempuan yang telah memilih cintanya sendiri.

Biarlah cinta yang salah ini menemukan akhirnya, tetapi bukan oleh tanganku malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!