Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03. Malam Pertama & Terakhir

Malam itu, Raina menatap gelas kristal itu untuk terakhir kalinya. Cairan berwarna amber di dalamnya tampak sama sekali tidak berbeda dari biasanya. Tidak ada warna asing, tidak ada aroma aneh. Hanya beberapa tetes obat yang sudah ia campurkan dengan tangan gemetar sebelum menyerahkannya kepada pelayan.

“Selesai! Kini tinggal menunggu pelayan mengantarkan minuman ini ke ruang kerja Sion,” katanya pelan sembari Raina segera berbalik sebelum wajahnya mengkhianatinya.

Malam ini adalah kesempatan terakhirnya. Surat perceraian yang telah ia tanda tangani sudah berada di tangan Sion. Begitu fajar menyingsing, ia harus meninggalkan kediaman Maximillian dengan tangan kosong… tanpa gelar, tanpa perlindungan, dan tanpa kesempatan untuk kembali.

Ia tidak ingin pergi sebagai perempuan yang kalah. Kalau Sion begitu dingin hingga tidak pernah memberinya kesempatan untuk mendekat dengan cara biasa, maka Raina akan menciptakan kesempatan itu sendiri untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya.

Tak lama kemudian, pelayan yang ditugaskan mengantar minuman kembali dan langsung membawa minuman itu menuju ke ruang kerja Sion. Raina masih mengawasi dari pelayan itu masuk, hingga tak lama kembali keluar.

Beberapa waktu kemudian, lorong menuju ruang kerja Sion sudah sunyi. Raina memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya sebelum membuka pintu. Tanpa mengetuk, Raina langsung masuk begitu saja, hingga Sion mengangkat kepalanya dari balik tumpukan dokumen.

Tatapannya langsung berubah dingin. “Siapa yang mengizinkanmu masuk?”

Raina menutup pintu di belakangnya. “Tidak ada.”

Alis Sion berkerut. “Kau semakin berani.”

Raina tidak menjawab. Jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut Sion dapat mendengarnya. Lalu ia melihat gelas di atas meja. Tinggal setengah yang menandakan bahwa rencana itu berhasil. Setidaknya, seharusnya begitu.

Sion hendak mengatakan sesuatu ketika tangannya tiba-tiba berhenti di atas dokumen. Napasnya berubah. Ia mengernyit, seolah tubuhnya baru saja memberikan peringatan yang tidak dapat ia pahami. Matanya perlahan berpindah ke gelas, kemudian beralih kepada Raina hingga tatapan mereka bertemu. Dalam satu detik, Sion segera memahami semuanya.

“Raina.” Suaranya rendah menjelaskan bahwa ia sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.

Raina menelan ludah. “Aku—”

“Kau memasukkan sesuatu ke dalam minumanku?”

Pertanyaan itu membuat keberanian Raina runtuh seketika. Sion berdiri, tetapi gerakannya tidak lagi setegas biasanya. Ia mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangan.

“Apa kau gila?”

“Mungkin?”

“Raina!?” Sion menatapnya dengan kemarahan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya.

Raina mengepalkan kedua tangannya. “Besok aku pergi.”

“Lalu?”

“Dan kau bahkan tidak pernah mencoba menghentikanku.”

“Kau serius ingin aku menghentikanmu?” Bukannya menanggapi, Sion malah melempar pertanyaan itu kembali.

“Bukannya begitu… Aku sudah menandatangani surat itu,” lanjut Raina, suaranya bergetar. “Aku hanya ingin satu malam di mana aku tidak merasa seperti orang asing di rumah ini.”

“Lalu apa maumu?” geram Sion sembari menahan reaksi obat yang semakin kuat.

Raina menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar malu sekaligus puas melihat ketidakberdayaan Sion. Diam-diam Raina tersenyum… senyuman yang tersirat seribu arti di dalamnya.

Sion menarik napas panjang, kemudian menunjuk ke pintu. “Keluar.”

Akan tetapi, Raina tidak bergerak. Ia masih menunduk ditempat sampai Sion kembali berteriak, “Raina, keluar sekarang.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau keluar?” Jawaban itu seketika membuat Sion terdiam.

“Aku akan keluar dari rumah ini besok… tanpa membawa apapun,” bisik Raina, “… dan aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk mengatakan apa yang sebenarnya kurasakan.”

Kemarahannya tidak langsung menghilang dari wajah Sion. Namun sesuatu di matanya berubah. “Kalau begitu,” katanya perlahan, “katakan sekarang.”

Raina mengangkat wajah. “Sekarang?”

“Sekarang.”

Raina semakin berjalan mendekati Sion yang masih duduk di kursi kerja yang menjadi singgasananya selama ini. Lalu Raina langsung mendudukkan dirinya di atas pangkuan Sion, melingkarkan tangannya ke leher pria itu hingga membuat Sion mengerang menahan hasratnya yang semakin memuncak.

“Raina!” Sion kembali menggeram saat tangan Raina semakin berani menyentuh dadanya.

“Kenapa?” tanya Raina dengan nada menggoda, “Kita bicarakan lain kali saja. Bukankah yang terpenting saat ini adalah membantumu menenangkan adik kecilmu itu?”

“Raina, jika kau berani bertindak lebih jauh lag—”

Cup….

Ucapan Sion seketika terhenti saat Raina langsung mencium bibirnya. Sion berniat melepaskan diri, tetapi Raina semakin memperat pelukannya. Ditambah reaksi obat itu dan sentuhan serta ciuman Raina semakin membuatnya hilang kendali.

Awalnya Sion tidak membalas ciuman itu, tetapi Raina terus mendominasi dan memaksanya untuk membalas. Sampai akhirnya keduanya larut dalam ciuman itu dan berhenti ketika sama-sama sudah hampir kehabisan napas.

“Kau ingin tahu apa yang ingin aku katakan, bukan?” ujar Raina dengan napas yang masih tersengal, “Jika aku tidak bisa mendapatkan apapun dari pernikahan kita selama tiga tahun ini. Setidaknya malam ini… malam sebelum aku pergi. Aku bisa mendapatkan tubuhmu yang menggiurkan ini.”

“Jika kau tidak berhenti sekarang…” Sion menggantung ucapannya beberapa saat, “Kau akan menyesalinya nanti.”

“Benarkah?” tantang Raina tak kenal takut sedikitpun, “Kalau begitu aku malah semakin ingin mencobanya.”

Raina kembali mencium bibir Sion yang sudah diambang batas kewarasannya karena efek obat yang ia minum. Dan kali ini Sion tidak menolak ataupun diam saja, ia membalas dan membiarkan gairahnya tersalurkan malam itu.

“Arghh… pelan!” Raina merintih ditengah penyatuan mereka, karena Sion yang cukup kasar saat melakukannya.

“Sudah aku katakan, bukan?” bisik Sion sejak menghentikan kegiatannya, “Kau akan menyesal. Namun, sudah terlambat untuk kau mundur sekarang. Jadi, terima saja dengan baik bukankah ini yang kau inginkan?” sambungnya.

Untuk pertama kalinya seorang Sion bicara cukup panjang. Dan siapa sangka hal langka itu terjadi ditengah kegiatan panas mereka. Seperti yang Sion katakan, menyesal sekarang rupanya sia-sia. Raina hanya bisa pasrah tubuhnya diambil alih oleh Sion hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Ia pun tidak tahu berapa kali mereka melakukannya malam itu.

Dan sebelum kehilangan kesadarannya, Raina berkata, “Ini adalah malam pertama sekaligus malam terakhir kita. Inilah satu-satunya kenangan yang kita miliki selama pernikahan tiga tahun ini.”

...****************...

Langit masih gelap ketika Raina mulai terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang masih kosong. Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja digunakan untuk berlari jauh tanpa henti. Setiap kali ia mencoba bergerak, otot-ototnya mengirimkan rasa pegal yang membuatnya mengernyit.

“Argh… Kenapa tubuhku pada sakit begini ‘sih?” gerutu Raina disela ringisan kesakitannya.

Raina menarik napas panjang. Kemudian, ketika ia hendak mengubah posisi, pandangannya jatuh pada sosok di sampingnya. Sion… Pria itu masih terlelap dengan wajah yang tampak begitu tenang. Napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan. Rambutnya sedikit berantakan, sementara selimut hanya menutupi sebagian tubuhnya.

“Astaga!?” Raina hampir saja berteriak, jika ia tidak langsung menutup mulutnya sendiri. “Apa yang terjadi?”

Bersambung….

1
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!