Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PERMAINAN DI BALIK MEJA MAKAN

Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan porselen mengisi ruang makan yang terang. Ibu sibuk menyendokkan lauk ke piring Ayah Danu, sementara obrolan hangat tentang pekerjaan dinas luar kota mengalir tanpa henti. Di permukaan, ini adalah gambaran sempurna dari sebuah keluarga baru yang harmonis dan bahagia.

Namun di bawah meja makan, sebuah ketegangan yang sama sekali berbeda sedang berlangsung.

Aluna duduk di samping Devan, berusaha mengunyah nasi di mulutnya yang terasa hambar. Setiap kali Ayah Danu atau Ibunya mengarahkan pandangan ke arah mereka, Aluna memaksa bibirnya tersenyum sopan. Ia memegang erat sendoknya, mencoba mengontrol napasnya yang tidak teratur.

Tiba-tiba, Aluna merasakan sentuhan lembut di punggung kakinya.

Ia tersentak pelan, tetapi beruntung tidak sampai menjatuhkan alat makannya. Di balik taplak meja tebal yang menjuntai menutupi sebagian besar paha mereka, ujung kaki Devan bergerak perlahan, mengusap betis Aluna dengan gerakan naik-turun yang sangat halus namun menuntut.

Aluna menoleh patah-patah ke arah Devan. Pria itu sedang mendengarkan Ayah Danu berbicara tentang rencana renovasi taman belakang. Wajah Devan terlihat sangat tenang, bahkan sesekali mengangguk sopan menyetujui ucapan ayahnya. Tidak ada sedikit pun raut bersalah atau indikasi bahwa ia sedang melakukan hal berbahaya di bawah meja.

Kak Devan gila, jerit Aluna dalam hati.

Aluna mencoba menggeser kakinya menjauh, tetapi Devan dengan cepat menyusul. Ujung kakinya kini menyusup lebih tinggi, mengusap lutut Aluna dan memberikan tekanan lembut di sana. Desiran hangat seketika menjalar cepat ke seluruh tubuh Aluna, membuat tenggorokannya mendadak terasa amat kering.

"Aluna? Kamu kok melamun, Nak?" suara Ibu memutus konsentrasi Aluna secara mengejutkan.

Aluna hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Ia buru-buru menengadah, mendapati Ibu dan Ayah Danu sedang menatapnya penuh perhatian.

"E-eh... enggak kok, Bu," jawab Aluna dengan suara yang sedikit meninggi karena panik. Ia buru-buru meminum air putih di samping piringnya demi menutupi rona merah yang mulai menjalar ke pipi dan telinganya. "Aluna cuma... agak ngantuk aja, tadi malam kurang tidur."

Devan terkekeh pelan—sebuah kekehan halus yang terdengar begitu wajar di telinga orang tua mereka.

"Aluna semalam memang belajar sampai larut, Bu," Devan memotong santai, menatap Ibunya dengan raut anak berbakti. "Soal Ekonomi kelas sebelas makin susah. Tadi malam Devan sempat bantu dia sebentar sebelum tidur."

"Wah, bagus dong kalau Devan bantu," Ayah Danu tersenyum bangga, menepuk-nepuk bahu tegap Devan. "Ayah senang kalian berdua cepat akrab dan saling menjaga. Kamu harus contoh ketelitian Kakakmu ya, Aluna."

"I-iya, Yah..." bisik Aluna menunduk.

Di bawah meja, Devan akhirnya menarik kakinya kembali. Namun sebagai gantinya, tangan kiri Devan yang bebas di bawah meja bergerak masuk ke atas paha Aluna. Jemarinya yang panjang meremas pelan lutut Aluna di balik rok seragamnya, memberikan usapan protektif yang tegas sebelum akhirnya melepaskannya sepenuhnya.

Sentuhan singkat itu terasa seperti stempel kepemilikan mutlak.

Aluna menggigit bibir bawahnya erat-erat. Ia tahu, mulai detik ini, hidup di bawah satu atap bersama Devan tidak akan pernah sama lagi. Di depan kedua orang tua mereka, Devan adalah sosok kakak teladan yang sempurna; namun ketika bayangan dan kesempatan tercipta, pria itu tidak akan ragu untuk menunjukkan siapa pemilik hati dan tubuh Aluna sebenarnya.

"Devan, nanti habis sarapan antar Aluna sekalian, ya. Mobil Ayah mau dibawa ke bengkel dulu," ujar Ayah Danu seraya menyapu mulutnya dengan serbet.

Devan melirik Aluna dari sudut matanya, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman misterius yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

"Siap, Yah. Devan bakal jaga Aluna baik-baik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!