Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 32
Pria berjanggut tebal itu terdiam sejenak. Tatapan matanya yang redup kini memancarkan kepedihan mendalam dan dendam yang telah terkubur belasan tahun. Dengan sisa tenaganya, ia memiringkan tubuhnya agar cahaya lilin yang temaram menyinari separuh wajahnya lebih jelas.
"Mati?" bisik pria tua itu serak. "Jika kamu mati sekarang, maka iblis itu menang... sama seperti saat dia merebut segalanya dariku lima belas tahun yang lalu."
Clarissa mengerutkan keningnya, mengamati garis wajah pria itu dengan teliti. Meski tubuhnya amat kurus, tulang pipi, bentuk rahang, dan sorot matanya yang tegas terasa begitu familiar.
"Maksud Bapak apa? Siapa sebenarnya Bapak ini?" tanya Clarissa ragu, dadanya berdebar kencang.
Pria tua itu menghela napas berat, diiringi suara gemerincing rantai besi yang mengikat kakinya. "Nama asliku adalah Alexander... Alexander Abraham. Ayah kandung Keanu."
Mata Clarissa membelalak sempurna. Ia menggeleng cepat, menolak percaya. "Tidak mungkin! Tuan Alexander ada di atas! Dia yang memerintahkan orang-orangnya untuk mengurungku di sini! Jangan berbohong!"
"Pria di atas sana... pria yang kau anggap iblis itu... adalah Alexandro," potong sang pria tua dengan penekanan dingin. "Dia adik kembar identikku. Orang yang telah mencuri identitasku, hartaku, kekuasaanku, dan mengurungku di neraka bawah tanah ini selama lebih dari lima belas tahun."
Napas Clarissa tertahan. Kenyataan itu menghantamnya begitu keras hingga kepalanya terasa pusing. "A...apa? Adik kembar...?"
"Alexandro selalu iri pada segalanya yang kumiliki," lanjut Tuan Alexander asli, matanya menerawang menembus kegelapan masa lalu. "Lima belas tahun lalu, dia menjebakku, memalsukan idntitasku, dan mengurungku di sini. Dia mengambil alih seluruh kedudukanku di Cleopatra Holding, menjalankan ritual sesat, membantai orang-orang tak berdosa, bahkan membuat kedua putraku, Keanu dan Azka tak mengenali si iblis itu bukanlah Papahnya, bahwa yang berdiri di hadapan mereka adalah seorang penipu."
Airmata Tuan Alexander menetes, mengalir di antara jenggot tebalnya yang tak terawat. Rasa bersalah yang teramat sangat menyeruak saat mengingat anak dan menantunya.
"Keanu, Azka... Bunga..." bisik Alexander lirih. "Anakku dan menantuku bertumbuh di bawah bayang-bayang iblis yang berpura-pura menjadi ayah mereka. Dan aku di sini... lumpuh tak berdaya."
Clarissa tertunduk lelah, seluruh tubuhnya berguncang. Penyesalan mendalam membakar jiwanya. Ayahnya telah mengabdi mati-matian, dan dirinya sendiri telah bertindak jahat demi melayani sosok pria yang ternyata adalah seorang penipu kejam.
"Ternyata... selama ini kami semua ditipu..." rintih Clarissa, tangisnya pecah tanpa suara. "Bahkan Keanu dan Bunga... mereka saat ini sedang berada di atas, berpura-pura tidak tahu kebusukannya demi menjebaknya di acara jamuan pesta lusa..."
Tuan Alexander mendongak cepat, matanya membelalak penuh kejutan. "Apa katamu?! Keanu dan Bunga tahu tentang kebusukan pria itu?!"
"Ya..." angguk Clarissa dengan bibir bergetar. "Mereka mengira Alexandro adalah Anda. Mereka bermaksud membongkar semua kejahatan itu di depan para petinggi Cleopatra Holding lusa malam..."
"Bahaya..." gumam Alexander dengan raut wajah panik. Ia memegang pundak Clarissa dengan jemarinya yang gemetar. "Clarissa, listening to me! Alexandro jauh lebih licik dan kejam daripada yang mereka bayangkan! Pesta lusa bukan sekadar jamuan biasa... itu adalah ritual persembahan puncak! Jika Keanu dan Bunga datang tanpa tahu siapa Alexandro sebenarnya, mereka hanya sedang berjalan menuju pembantaian!"
Clarissa menatap Alexander dengan cemas. "Lalu... lalu apa yang harus kita lakukan, Pak Tua? Kita terkurung di sini!"
Tuan Alexander menatap rantai tebal di kakinya, lalu beralih menatap Clarissa dengan binar keberanian yang sudah lama padam.
"Kita harus keluar dari sini," tegas Alexander, suaranya kini terdengar begitu berwibawa meski dalam kondisi lemah. "Bantu aku meloloskan diri, Clarissa. Kita harus menghentikan Alexandro sebelum dia menghancurkan hidup anak dan menantuku sepenuhnya!"
Clarissa menyapu air matanya, mengangguk mantap. Untuk pertama kalinya, rasa takut di matanya berganti menjadi tekad bulat untuk membalas dendam dan menyelamatkan Keanu serta Bunga dari perangkap iblis yang sebenarnya.
Clarissa menghela napas panjang, mencoba meredakan kebas di pergelangan tangannya sembari memiringkan posisi duduk agar mendekat ke arah Alexander.
"Sebenarnya..." bisik Clarissa dengan suara parau, "aku tahu rencana Keanu karena selama ini aku tidak pernah benar-benar melepas pandanganku darinya. Aku menyuruh orang-orang kepercayaanku untuk terus membuntutinya secara diam-diam."
Tuan Alexander mengerutkan dahi, mendengarkan dengan seksama.
"Awalnya, aku melakukan itu hanya karena rasa cemburu dan obsesi," lanjut Clarissa, tatapannya menerawang menatap nyala lilin yang redup. "Aku ingin tahu apa yang dilakukan Keanu bersama Bunga. Tapi... anak buahku justru menemukan hal lain yang jauh lebih mengerikan."
Clarissa menatap wajah Alexander yang dipenuhi luka dan ketegangan.
"Anak buahku berhasil menyadap percakapan Keanu dengan Jordan dan Adrian. Dari sanalah aku tahu kalau Keanu sedang mengumpulkan bukti untuk menjatuhkan Tuan Alexander atau yang sekarang kuketahui sebagai Alexandro," Clarissa mengusap air matanya yang tersisa. "Bukan cuma itu... anak buahku juga memergoki aktivitas rahasia Alexandro. Pria iblis itu... dia diam-diam telah mengorbankan begitu banyak nyawa untuk memuja Dewa Dedun!"
Tuan Alexander memejamkan matanya erat-erat, mengepalkan tangannya hingga gemetar. "Dewa Dedun... sekte kelam yang dulu pernah berusaha kububarkan..."
"Ya," sahut Clarissa dengan suara bergetar ketakutan. "Alexandro rela mengorbankan siapa saja demi kekayaan dan kekuasaan abadi. Nyawa orang tua Bunga, Azka, Riki Sanjaya... bahkan Papahku yang selama ini mengabdi padanya, sama sekali tidak ada artinya bagi pria itu! Hingga akhirnya... giliran diriku yang diseret ke sini untuk dijadikan tumbal berikutnya."
Clarissa menunduk dalam, bahunya terguncang meratapi kebodohannya selama ini.
"Aku sungguh buta, Pak Tua... Aku mengira dengan menuruti semua kemauan keluarga Alexander, aku bisa mendapatkan Keanu. Tapi aku malah menyerahkan diriku sendiri ke sarang serigala."
Tuan Alexander menepuk pelan bahu Clarissa dengan jemarinya yang kurus kering, mencoba memberikan sedikit kekuatan.
"Sudah, Clarissa. Penyesalanmu tidak akan mengubah masa lalu, tapi bisa menyelamatkan masa depan," ujar Alexander mantap, matanya memancarkan ketegasan seorang pemimpin yang telah kembali. "Sekarang kita tahu Alexandro memanfaatkan ritual Dewa Dedun untuk menghabisi semua musuhnya sekaligus di pesta lusa. Keanu dan Bunga mengira mereka sedang menjebak seorang penjahat biasa, padahal mereka sedang masuk ke dalam arena pembantaian sekte iblis."
Alexander memajukan tubuhnya, menatap Clarissa tajam. "Anak buah yang kau suruh mengintai Keanu... apakah mereka masih setia padamu? Bisakah kita menggunakan mereka untuk meloloskan kita dari neraka ini?"
Clarissa mendongak, menyapu air matanya lalu mengangguk pelan. "Ada satu orang yang paling setia padaku. Jika dia tidak mendapat kabar dariku malam ini, dia pasti akan mencari keberadaanku..."
"Bagus," pangkas Alexander, senyum tipis yang sarat tekad terukir di balik jenggot tebalnya. "Malam ini juga, kita harus keluar dari sini. Kita punya waktu kurang dari 48 jam sebelum Alexandro menumpahkan darah anak dan menantuku!"
Bersambung...
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander