Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggoda
Setelah mendengar penjelasan dari para pelayan dan bodyguard, Leon segera menyusul Elena ke kamar.
Langkahnya lebar dan cepat. Tatapannya tajam, sementara rahangnya mengeras menahan amarah yang sejak tadi semakin memenuhi dadanya.
Awalnya, ia benar-benar khawatir.
Selama empat jam, Elena berada di luar rumah tanpa sepengetahuannya. Ia bahkan sempat membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin menimpa wanita itu.
Tapi, sekarang rasa khawatir tersebut sudah berubah menjadi kemarahan.
Leon merasa dipermainkan.
Bukan hanya kali ini. Tapi, berkali-kali Elena berhasil membuatnya kehilangan kendali atas keadaan. Wanita itu selalu memiliki cara untuk menyembunyikan sesuatu darinya, kemudian muncul dengan wajah tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Dan, Leon membenci perasaan tidak berdaya itu.
Ia berhenti di depan kamar Elena. Tanpa mengetuk, tangannya langsung meraih gagang pintu dan membukanya dengan keras.
Brakh!
Elena yang sedang bersiap setelah mandi langsung tersentak. Ia buru-buru meraih handuk dan menutupi tubuhnya.
Sementara itu, Leon justru membeku di ambang pintu dengan kedua mata membulat.
Ia sama sekali tidak menyangka akan melihat Elena dalam keadaan seperti itu. Lalu, ia buru-buru membalikkan tubuhnya.
"Ma-maaf. Aku tidak sengaja," ucapnya terbata.
Elena mendengus kasar dari belakangnya. "Tutup pintunya!"
"A-apa?"
"Tutup pintunya!" ulang Elena dengan nada lebih tegas. "Kamu tidak ingin orang lain melihat tubuh istrimu, kan?"
Leon menelan ludah dengan susah payah. Ia segera meraih pintu dan menutupnya rapat-rapat. Namun, ia tetap berdiri membelakangi Elena. Bahkan, untuk sekadar menoleh pun ia tidak berani.
"Cepat pakai bajumu. Setelah itu, kita bicara."
Elena justru terdengar santai. "Kalau mau bicara, ya bicara saja. Kenapa harus nanti?"
Leon menghembuskan napas panjang. "Kamu..." Ia berhenti sejenak, berusaha mengendalikan emosinya.
"Kamu selain menyebalkan, juga tidak tahu malu."
Elena yang sedang memakai bajunya justru menaikkan sudut bibir.
"Kamu lucu sekali. Menuduhku tidak tahu malu hanya karena aku telanjang di depan suamiku sendiri?"
Leon mengepalkan tangan. Wajahnya terasa panas, tetapi ia tidak mau Elena mengetahui bahwa perkataannya berhasil membuatnya salah tingkah.
Ia menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata sejenak.
"Jangan memancingku, Elena."
"Kenapa?" Suara Elena terdengar semakin dekat.
Leon membuka matanya, tetapi tetap tidak berbalik.
"Kamu takut?"
Pertanyaan itu membuat suasana kamar seketika berubah.
Leon terdiam. Ia tahu, Elena sengaja memancingnya. Dan kali ini, ia tidak berniat mundur.
Perlahan, Leon menoleh.
Elena sudah memakai bajunya dan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Rambutnya masih sedikit basah, tetapi ekspresinya tetap tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa ia merasa terintimidasi oleh kemarahannya.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik tanpa suara.
Leon kemudian melangkah mendekat. "Aku tidak takut padamu."
Elena tersenyum tipis. "Benarkah?"
"Yang aku takutkan adalah kamu kembali melakukan sesuatu di belakangku," lanjut Leon dengan suara rendah.
Senyum Elena perlahan menghilang.
Leon menatapnya lekat-lekat. "Jadi, sekarang jawab aku. Ke mana kamu pergi selama empat jam tadi?"
Elena tidak langsung menjawab. Dan, hal itu membuat Leon semakin yakin jika ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan.
"Apa kamu menemui anggota mu, hm?" tanya Leon.
Tatapan Elena berubah sesaat.
Hanya sepersekian detik, tetapi cukup bagi Leon untuk menangkap perubahan itu.
"Apa maksudmu?"
Leon menaikkan sudut bibirnya. Bukan senyum ramah, melainkan senyum tipis seseorang yang merasa baru saja menemukan potongan terakhir dari sebuah teka-teki.
"Kamu membuat pingsan semua orang yang ikut denganmu. Kemudian, kamu meminta orang lain berbelanja agar tidak menimbulkan kecurigaan nantinya."
Leon melangkah mendekat. "Sementara itu, kamu pergi menemui anggota mu."
Elena masih tidak memberikan jawaban.
Namun, diamnya justru membuat dugaan Leon semakin kuat.
Ia sudah menduga ada sesuatu yang terjadi selama empat jam Elena berada di luar. Sekarang, semua mulai tersusun dengan sendirinya di dalam kepalanya.
"Anggotamu membuat semua anggota The Raven pingsan," lanjut Leon. "Dan, dia mencuri data yang disimpan di brankas milik Daddy."
"Sean tidak melihat orangmu mengambil sesuatu selain memegang ponsel."
Ia berhenti tepat di hadapan Elena.
"Itu artinya, kamu memintanya memotret beberapa dokumen saja agar tidak menimbulkan kecurigaan bahwa ada yang mencoba mencuri dokumen tersebut."
Leon menyipitkan mata. "Dan, kamu memanfaatkan kesempatan hari ini untuk menemui anggotamu dan membahas salinan dokumen yang kalian ambil."
Hening.
Elena masih terdiam. Ia tidak menyangkal ataupun membenarkan. Tapi, ekspresi wajahnya perlahan berubah. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.
Leon tahu senyum itu.
Senyum yang selalu muncul setiap kali Elena merasa seseorang berhasil mengimbanginya.
"Sekarang, kamu semakin pintar, ya."
Leon mendengus kasar. "Aku tidak sedang bercanda."
"Aku juga tidak."
"Apa dokumen itu berisi orang-orang yang menghancurkan keluarga mu? Apa kalian mencoba menghabisi mereka?" tanya Leon dengan suara berubah serius.
Ia tahu, Elena memiliki alasan sendiri. Namun, jika wanita itu benar-benar berniat menyerang pihak-pihak yang terlibat dalam kehancuran Black Rose, situasinya bisa menjadi jauh lebih berbahaya.
"Kamu ini... " Elena mendekat lalu, melingkarkan kedua tangannya di leher Leon. "Apa kamu mengkhawatirkan ku?" bisiknya.
Leon terdiam.
Untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata karena, tatapan Elena membuatnya semakin sulit menyembunyikan kegelisahan yang sejak tadi ia rasakan.
Elena tersenyum tipis. "Tenang saja. Aku tidak akan bertindak gegabah."
Ia mendekatkan wajahnya. "Justru, kamu harus mengkhawatirkan dirimu sendiri."
Leon mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Elena menatap mata Leon cukup lama. "Sudah berapa lama kita menikah? Tapi, kamu masih bersikap dingin padaku."
Nada suara Elena terdengar ringan, tetapi ada sesuatu yang sengaja ia selipkan di balik kalimat itu.
Wanita itu kemudian berjinjit dan mendekatkan bibirnya ke telinga Leon.
"Jangan sampai aku mencari pria lain."
Jari-jari Leon langsung mengepal. Entah mengapa, kalimat sederhana itu berhasil menyentuh bagian dirinya yang paling tidak ingin ia akui.
"Kamu... " Ia mendorong bahu Elena hingga pelukan wanita itu terlepas. Tangannya kemudian mencengkeram bahu Elena dengan kuat.
"Jangan main-main, Elena," geramnya.
Elena menatap tangan Leon yang mencengkeram bahunya, lalu perlahan mengangkat wajah. Ia lalu kembali tersenyum tipis.
"Kamu cemburu?"
Leon seolah tersadar. Ia segera melepaskan cengkeramannya. Tatapannya berpaling ke arah lain.
"Mana mungkin," jawabnya cepat.
Elena mengangguk santai. "Baguslah kalau begitu."
Leon kembali menatapnya. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya.
"Jangan macam-macam."
Elena mengedipkan mata. "Tidak akan."
Leon menghela napas lega. Tapi, belum sempat ia berkata apa-apa, Elena sudah tersenyum lebar.
"Hanya semacam saja."
Leon mengernyit. "Semacam apa?"
Elena tidak menjawab. Ia hanya melewatinya dengan santai, meninggalkan Leon yang berdiri mematung.
"Apa lagi yang kamu rencanakan, Elena?"
apa dia orgtua leo?
disinilah jackson dibunuh