Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 HARGA SEBUAH KEBEBASAN
Gedung pengadilan berbau disinfektan dan kertas-kertas usang, berbau urusan berkas yang tak berkesudahan dan penantian.
Maya pernah berada di tempat semacam ini, tapi selalu di sisi yang lain, selalu menemani ayahnya dalam kunjungan resmi atau pertemuan dengan para pengacara yang digelar di kantor-kantor pribadi, tak pernah di lorong-lorong penuh orang tak dikenal dengan tatapan lelah dan berkas terjepit di ketiak.
Bara berjalan di sisinya dengan keyakinan yang nyaris menjurus arogan. Ia tak menatap siapa pun, namun semua orang menatapnya. Para pegawai menurunkan suara ketika ia lewat.
Para polisi menegakkan badan, seolah berada di hadapan seorang atasan. Bahkan sang hakim, ketika menerima mereka di ruangannya, menyiratkan sedikit rasa tak nyaman di matanya, seakan ia lebih memilih berada di mana saja ketimbang berhadapan dengan Bara Prakoso.
"Berkasnya sudah beres," ujar sang hakim, laki-laki botak berusia lima puluhan, berkacamata setengah bulan dan mengenakan toga yang tampak kebesaran. "Uang jaminan sudah dibayar penuh. Pak Adiwangsa akan memperoleh pembebasan bersyarat sampai persidangan digelar."
Maya merasa tanah bergeser di bawah kakinya. Sudah lima hari berlalu. Lima hari sejak Minggu ketika dunianya runtuh. Lima hari penuh kepedihan, kelaparan, penghinaan. Dan kini, akhirnya, ayahnya akan keluar.
"Boleh saya menemuinya?" tanyanya, dan suaranya terdengar seperti suara seorang anak kecil.
Sang hakim mengangguk.
"Beberapa menit lagi ia akan dibawa keluar. Anda masih harus menandatangani beberapa dokumen, tapi prosesnya nyaris selesai."
Bara meletakkan satu tangan di bahu Maya. Sebuah gerakan yang ganjil, nyaris kebapakan, sama sekali tak pada tempatnya bagi laki-laki seperti dirinya.
"Tunggu saya di luar," katanya. "Saya perlu bicara berdua dengan Pak Hakim."
Maya ingin membantah, tapi tatapan Bara adalah perintah tanpa kata, jenis yang tak menerima sanggahan. Ia keluar dari ruangan dan berdiri di lorong, bersandar pada dinding berubin krem, telapak tangannya berkeringat dan jantungnya berdegup sampai ke tenggorokan.
Ia menunggu.
Sepuluh menit. Dua puluh. Setengah jam.
Pintu akhirnya terbuka, dan Bara keluar dengan raut wajah yang tak tertembus. Ia tak berkata apa-apa. Ia hanya memegang lengan Maya dan menuntunnya ke ruangan lain, yang lebih kecil, dengan sebuah meja panjang dan kursi-kursi plastik.
"Duduk," katanya.
Maya menurut.
Dan saat itulah, pintu di ujung ruangan terbuka.
* * *
Bramantyo Adiwangsa melangkah masuk dengan wibawa seorang raja yang tergulingkan.
Ia mengenakan pakaian yang sama seperti saat ditangkap: celana bahan kelabu, kemeja putih yang kusut, sepatu tanpa kilap. Janggutnya sudah tumbuh lima hari, lingkaran hitam di bawah matanya begitu dalam, rambutnya lebih kelabu daripada yang Maya ingat.
Namun matanya masih tetap sama. Bening, tajam, mata seorang laki-laki yang telah membangun sebuah imperium dan kehilangan segalanya karena sebuah pengkhianatan.
"Papa," bisik Maya, dan air mata yang telah ia tahan selama lima hari akhirnya tumpah.
Bramantyo memeluknya dengan kekuatan yang mengejutkannya. Kedua lengannya, yang Maya ingat sebagai lengan laki-laki yang kokoh, kini terasa bagai kawat, tegang dan rapuh. Ia berbau ruang pengap, keringat, ketakutan. Tapi ia berbau ayahnya, dan hanya itu yang penting.
"Anakku," gumam Bramantyo di sela rambut Maya. "Anakku, maafkan Papa. Papa benar-benar menyesal."
"Papa tak punya apa-apa untuk disesali," jawab Maya di sela isaknya. "Ini bukan salah Papa."
Mereka melepaskan pelukan perlahan. Bramantyo memandanginya, menelitinya dari atas ke bawah, dan sesuatu dalam raut wajahnya berubah. Ia melihat pakaian Maya yang usang, lingkaran hitam di matanya, kukunya yang catnya terkelupas.
Ia melihat wajah putrinya yang menirus, kulitnya yang pucat. Dan ia tahu. Tanpa ada yang perlu memberitahunya, ia tahu putrinya telah melalui sesuatu yang mengerikan demi mengeluarkannya dari sana.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanyanya, suaranya mulai mengeras. "Dari mana kau dapat uang itu, Maya?"
Maya menelan ludah. Ia menoleh ke belakang, ke arah pintu, tempat Bara Prakoso bersandar di kusen, kedua lengan bersedekap di dada dan raut wajah yang sama sekali tak membocorkan apa pun.
Bramantyo mengikuti arah pandangnya.
Dan saat itulah ia melihat pria itu.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
"Tidak," ucapnya, nyaris berbisik. "Tidak, Maya. Ini tak mungkin."
"Papa..."
"Jangan katakan kau melakukannya. Jangan katakan kau menjual dirimu pada... pada penjahat itu."
Kata "penjahat" bergaung di dalam ruangan bagai cambukan. Bara tak bergeming. Raut wajahnya tak berubah. Tak satu ototnya pun bergerak. Ia hanya terus memandang, seolah ini tontonan yang sudah pernah ia saksikan sebelumnya.
"Papa, dengarkan aku," kata Maya sambil menggenggam kedua tangan ayahnya dalam tangannya. "Tak ada pilihan lain. Aku menelepon semua orang. Semuanya, Pa. Vania, Marsha, Karina... Tak seorang pun mau menolong kita. Tak seorang pun. Bank membekukan semua rekening. Rumah disita. Mama... Mama dalam keadaan sangat buruk. Tak mau makan, tak bisa bicara, nyaris tak bernapas. Kata dokter itu gangguan stres pascatrauma. Dan Papa cuma punya empat puluh delapan jam. Papa mengerti? Empat puluh delapan jam sebelum Papa dibawa ke tahanan pra-persidangan berbulan-bulan lamanya. Apa yang Papa harapkan kulakukan? Membiarkan Papa membusuk di sana?"
Suara Maya pecah di ujung kalimat, tapi ia tak meminta maaf. Ia tak menyesal. Ia tak boleh membiarkan dirinya menyesal.
Bramantyo memejamkan mata. Ketika membukanya kembali, ada air mata di sana. Air mata amarah, ketidakberdayaan, dan rasa malu yang menggerogotinya dari dalam.
"Dan apa yang ia minta sebagai imbalan?" tanyanya, sambil menunjuk Bara dengan gerakan dagu. "Jiwamu? Harga dirimu? Hidupmu?"
"Tanganku," jawab Maya, dengan ketenangan yang mengejutkan dirinya sendiri. "Ia memintaku menikah dengannya."
Hening menyergap total.