Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sasa menjatuhkan papannya ke lantai dan menutup wajahnya dengan kedua tangan berpura-pura hancur karena kalah.
"Akting bos gue ini beneran pantes dapet piala citra tahun depan," puji Raka dalam hati menahan tawa yang nyaris meledak.
Juru lelang mengetuk palunya dengan semangat yang sangat menggebu-gebu.
"Tiga puluh lima miliar sekali!"
"Tiga puluh lima miliar dua kali!"
Tok!
"Tiga puluh lima miliar tiga kali! Terjual pada Tuan Kevin dari Grup Naga Mas!"
Tepuk tangan meriah langsung bergemuruh memenuhi seluruh ruangan aula tersebut.
Kevin berbalik menghadap ke arah Raka dan Sasa lalu membungkukkan badannya dengan gaya mengejek yang sangat teatrikal.
"Maaf ya asisten Raka, sepertinya bos cantikmu ini gagal mengamankan pasokan herbal utamanya malam ini," sindir Kevin dari kejauhan.
Sasa menurunkan kedua tangannya dari wajahnya lalu menatap Kevin dengan tatapan datar yang sangat dingin.
Wanita itu perlahan tersenyum miring membuat raut wajah Kevin sedikit berubah karena kebingungan.
"Tidak usah panik dulu Kevin, kau bisa menyelesaikan urusan pembayaranmu ke ruang panitia di belakang panggung sekarang," ucap Sasa santai.
Acara pelelangan selesai dan para tamu mulai berdiri untuk saling menyapa dan menikmati hidangan penutup.
Kevin berjalan membusungkan dada menuju ruang administrasi di belakang panggung diikuti oleh dua pengawal setianya.
Raka dan Sasa berjalan santai mengikuti dari belakang masuk ke dalam ruangan VIP tersebut.
Di dalam ruangan itu, seorang notaris dari pihak penyelenggara lelang sudah menyiapkan dokumen serah terima barang dan rincian transfer.
Kevin menandatangani dokumen itu dengan cepat dan langsung menyuruh asistennya mentransfer uang tiga puluh lima miliar secara tunai.
Ting!
Mesin komputer notaris berbunyi menandakan dana besar itu sudah masuk ke rekening penampungan pihak penyelenggara.
"Transaksi selesai Tuan Kevin, ginseng pusaka ini resmi menjadi milik Anda seratus persen," ucap notaris itu menyerahkan kotak kaca tersebut.
Kevin memeluk kotak kaca itu dengan wajah yang sangat kegirangan seperti anak kecil mendapat mainan baru.
"Terima kasih, akhirnya pasokan utama Grup Farmasi Bintang jatuh ke tanganku," gumam Kevin penuh kemenangan.
Ia berbalik berniat untuk memamerkan barang itu lagi pada Sasa dan Raka yang baru saja masuk ke dalam ruangan administrasi tersebut.
"Lihat ini Clarissa, aku sudah memegang jantung bisnismu di tanganku sekarang," ejek Kevin mengangkat kotak kacanya.
Namun bukannya terlihat marah atau sedih, Sasa malah tertawa pelan dan melipat kedua tangannya di dada.
Raka melangkah maju melewati Sasa lalu menepuk pundak Kevin dengan sangat bersahabat.
"Terima kasih banyak Tuan Kevin yang baik hati, sumbangan uang jajan Anda benar-benar sangat berarti bagi kami berdua," ucap Raka tersenyum ramah.
Kevin mengerutkan dahinya dengan bingung lalu menepis tangan Raka dari pundaknya.
"Sumbangan apa maksudmu gembel? Aku baru saja menghancurkan masa depan bisnis kalian!" bentak Kevin kesal.
Raka mengedipkan sebelah matanya pada notaris penyelenggara lelang yang berdiri di belakang Kevin.
"Permisi Pak Notaris, tolong jelaskan pada Tuan Muda yang bodoh ini ke rekening siapa uang tiga puluh lima miliarnya akan diteruskan nanti."
Notaris itu mendeham canggung lalu merapikan kacamatanya karena tidak berani ikut campur perselisihan mereka.
"Sesuai dengan perjanjian titip lelang, sembilan puluh persen dari uang hasil lelang malam ini akan ditransfer langsung ke rekening Nona Clarissa."
Jeder!
Jawaban polos dari notaris itu bagaikan petir yang menyambar tepat di atas ubun-ubun Kevin.
Senyum kemenangan di bibir pemuda berjas putih itu luntur seketika digantikan oleh wajah pucat pasi yang menahan mual.
"K-kau bilang apa barusan? Ditransfer ke rekening Clarissa?" gagap Kevin mundur selangkah hingga menabrak meja.
Sasa melangkah maju dan menatap Kevin dengan tatapan penuh kepuasan yang luar biasa.
"Kau pikir dari mana panitia lelang ini mendapatkan ginseng berusia seribu tahun itu Kevin?"
Sasa tertawa meremehkan melihat Kevin yang mulai gemetar menyadari kebodohan fatalnya.
"Aku sengaja mendaftarkan satu batang ginseng milik Raka ke acara lelang ini malam ini."
"Tujuannya jelas, untuk melihat anjing bodoh mana yang mau membelinya dengan harga tiga puluh kali lipat lebih mahal dari harga aslinya."
Wajah Kevin kini berubah merah padam bercampur ungu menahan amarah yang sudah meledak di kepalanya.
Ia baru saja menghabiskan uang tunai tiga puluh lima miliar rupiah dari kas utama perusahaannya.
Dan uang sialan itu bukannya masuk ke pihak netral, melainkan masuk lurus ke kantong Sasa dan Raka yang merupakan musuh utamanya.
"Kalian menjebakku? Kalian berdua sengaja menaikkan harganya agar aku membayarnya mahal!" teriak Kevin kehilangan akal sehatnya.
Kevin mengangkat kotak kaca berisi ginseng itu ke udara bersiap untuk membantingnya ke lantai karena saking marahnya.
Tapi suara berat Raka langsung menghentikan gerakan tangan Kevin seketika.
"Banting saja barang itu Kevin, hancurkan sekalian sampai jadi serpihan debu."
Raka menyeringai iblis lalu membisikkan kenyataan paling menyakitkan tepat di depan wajah Kevin.
"Lagipula aku masih punya sembilan puluh sembilan batang ginseng dengan kualitas yang sama persis di gudang rumahku."
Mata Kevin membelalak maksimal nyaris melompat keluar dari kelopaknya mendengar ucapan Raka.
Sembilan puluh sembilan batang?
"Mustahil! Barang pusaka seperti ini tidak mungkin ada sebanyak itu di dunia!" bantah Kevin berteriak histeris.
"Kau bisa percaya atau tidak, tapi uang tiga puluh lima miliarmu sudah sah menjadi milik kami malam ini Kevin," potong Sasa dengan suara dingin menohok.
Tubuh Kevin merosot lemas ke lantai sambil memeluk kotak kaca berisi ginseng itu erat-erat.
Ia merasa ditipu habis-habisan oleh seorang pemuda mantan gembel jalanan dan seorang wanita yang selalu ia remehkan.
Kas Grup Naga Mas pasti akan guncang besok pagi jika dewan direksi tahu ia membuang puluhan miliar hanya untuk membeli barang jebakan dari musuh mereka.
"Ayo pulang Raka, udara di ruangan ini mendadak bau kekalahan yang sangat menyengat," ajak Sasa merangkul lengan Raka.
Raka tertawa lepas lalu berjalan mendampingi Sasa keluar dari ruang panitia meninggalkan Kevin yang masih duduk mematung di lantai.
Dua bodyguard Kevin hanya bisa diam tidak berani melakukan apa-apa karena insiden ini murni kesalahan tuannya sendiri dalam tawar menawar resmi.
Saat mereka berjalan di lorong menuju pintu keluar hotel, Sasa tidak bisa lagi menahan tawanya.
Hahaha!
Tawa lepas wanita elegan itu menggema di lorong sepi tersebut membuat Raka ikut tersenyum puas.
"Wajah bodohnya tadi benar-benar sangat epik Raka! Aku belum pernah merasa sepuas ini seumur hidupku berbisnis!" seru Sasa mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa.
"Sudah kubilang kan bos, adu banyak uang itu jauh lebih menyakitkan daripada adu tembak peluru nyasar."
Raka memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan menatap Sasa dengan pandangan berbinar.
"Jadi kapan uang tiga puluh lima miliar itu akan dibagi dua ke rekeningku Nona Sasa?" tagih Raka tanpa basa basi.
Sasa langsung menghentikan tawanya dan mendelik tajam ke arah pemuda mata duitan di sebelahnya ini.
"Dasar rakus! Setelah dipotong biaya komisi panitia lelang, aku akan mengirimkan bagianmu besok pagi tepat jam sembilan," gerutu Sasa menyentil lengan jas Raka.
"Terima kasih banyak partner, kerja sama kita malam ini sangat luar biasa gila."
Mereka berdua berjalan menuju lift VIP dengan suasana hati yang sangat ringan dan penuh kemenangan telak.
Raka diam-diam memanggil sistem layar birunya di sudut mata untuk mengecek keadaan di dunia kuno yang ia tinggalkan sejak siang.
[Pemberitahuan Sistem: Proses pengecoran dinding pertahanan di Wilayah Dunia Kuno tahap pertama selesai seratus persen.]
[Status Benteng Desa: Sangat Kuat. Anti senjata tajam primitif.]
Dua kabar baik datang bersamaan di malam yang sama membuat malam ini terasa sangat sempurna bagi Raka.
Benteng beton di desa Karta sudah berdiri kokoh melingkari pemukiman, dan uang belasan miliar akan masuk ke rekeningnya besok pagi.
"Tinggal mikirin cara beli senjata laras panjang rakitan buat modal di dunia kuno, siapa tahu ada musuh yang lebih gila dari bandit biasa di sana."
Raka menekan tombol lift untuk turun ke tempat parkir bawah tanah bersiap untuk pulang dan tidur nyenyak.
Namun peperangan dengan Kevin tentu saja belum berakhir sampai di sini.
Pemuda arogan dari Grup Naga Mas itu pasti akan merencanakan balas dendam yang jauh lebih kotor dan mematikan setelah dipermalukan secara mental malam ini.