Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Gagal Total

"Pasti dia datang untuk menagih sisa utang tanah dan mengancam akan membawa buldozer untuk mengusir kami sekarang juga. Bagaimana ini? Aku tidak boleh membiarkan Ibu Iris menemuinya sendirian. Penyakit asma kronis Ibu bisa kambuh seketika jika dia ditekan dan diintimidasi lagi oleh pria itu."

Elisa mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Saat matanya terpaku pada pintu mobil mewah yang perlahan terbuka di bawah sana, sebuah sensasi aneh menjalar di dalam dadanya.

Rasa haus yang asing dan liar mendadak bangkit—itu bukan haus akan air minum, melainkan sebuah dorongan primitif yang pekat untuk merampas, menghancurkan, dan mencuri sesuatu dari siapapun yang berani mengusik ketenangan dunianya.

Elisa bergerak secepat kilat. Ia berlari keluar kamar, melintasi lorong, dan langsung mencekal pergelangan tangan Ibu Iris tepat satu detik sebelum wanita tua itu menyentuh gagang pintu depan.

"Ibu, tetap di sini. Biar aku saja yang menghadapi bajingan itu," bisik Elisa dengan tatapan mata yang mendadak menggelap, memancarkan kilatan protektif yang begitu dominan. "Aku akan memastikan pria tua bangka tak tahu diri itu melupakan niat busuknya untuk mengusir kita. Lagi... dan selamanya."

Ibu Iris menghela napas panjang dan berat, bahunya yang ringkih merosot lesu. Wanita itu tahu rahasia kecil Elisa—sebuah kemampuan ganjil menyerupai "hipnotis" tingkat tinggi yang muncul entah dari mana semenjak Elisa masih kanak-kanak.

Namun, baik Iris maupun Elisa sendiri belum menyadari satu hal; bahwa kekuatan yang bersemayam di dalam jiwa Elisa jauh lebih purba, kelam, dan berbahaya dari sekadar saran medis atau trik psikologi biasa. Itu adalah serpihan esensi Mnemosyne yang tertidur.

"Hati-hati, El. Jangan memaksakan dirimu. Nanti kepalamu sakit lagi seperti kemarin," pesan Iris dengan raut wajah dipenuhi kecemasan yang tulus.

Dua hari yang lalu, Louis sebenarnya sudah datang untuk menagih. Namun, berkat kuncian tatapan mata cokelat pekat Elisa yang magis, pria lintah darat itu pulang dengan wajah linglung dan melupakan total perihal utang panti asuhan. Elisa telah melakukan trik manipulasi pikiran ini selama setengah tahun terakhir demi melindungi rumah mereka.

Tetapi, sihir hitam itu tidak gratis. Elisa mulai membayar harganya dengan mahal. Migrain hebat yang rasanya seperti menghantam tengkoraknya kini semakin sering datang merongrong, bahkan beberapa bagian ingatan masa lalunya sendiri mulai bolong dan menguap entah ke mana.

Elisa melangkah keluar ke halaman panti. Ia menutup pintu kayu yang reyot itu perlahan, lalu menghampiri Louis dengan ekspresi wajah yang mendadak sedingin es.

Louis tersenyum sinis, menyandarkan tubuh tambunnya pada pintu mobil sedan mewah hitam yang mengkilap di bawah terik matahari.

"Kebetulan sekali kau yang keluar, Gadis Panti," ejeknya dengan nada meremehkan. "Aku datang untuk memberitahu bahwa tanah panti ini sudah laku. Aku sudah menjualnya pada seorang kolektor kaya di pusat kota."

Dunia seolah runtuh seketika di bawah kaki Elisa. Jantungnya mencelos.

"Berikan kami waktu sedikit lagi, Tuan Louis. Kami benar-benar belum memiliki tempat tujuan untuk memindahkan belasan anak di dalam," Elisa mencoba bernegosiasi, menekan egonya dalam-dalam.

"Tidak ada waktu lagi! Segera angkat kaki dari tanahku!" bentak Louis kasar. "Bawa wanita tua ringkih dan anak-anak penyakitan itu pergi dari sini sekarang juga. Aku beri waktu tiga jam! Jika dalam tiga jam tempat ini belum kosong, anak buahku yang akan datang membawa buldozer dan menyeret kalian semua keluar!"

Louis menghentakkan tongkat berkepala peraknya ke atas tanah dengan angkuh, memberi kode pada sopir pribadinya untuk bersiap pergi.

"Tunggu, Tuan! Uang Anda jatuh di dekat ban!" teriak Elisa bohong, mencoba memutar otak di detik-detik terakhir.

Si kikir Louis yang gila harta langsung terpancing. Ia menurunkan kaca jendela mobilnya dengan tergesa.

"Mana? Di sebelah mana?!"

Elisa bergerak maju dengan cepat. Ia menyodorkan telapak tangannya yang kosong tepat di depan wajah Louis, mengunci fokus manik mata pria tua itu. Elisa menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh sisa energi dan fokusnya ke ujung jarinya demi memanipulasi memori Louis tentang penggusuran hari ini.

Namun, tepat di saat ujung jarinya nyaris menyentuh kening Louis—

VROOOOMMM!

Sebuah motor sport hitam legam membelah jalanan sepi di depan panti dengan kecepatan gila yang memekakkan telinga.

BYURRR!

Ban motor besar itu menghantam genangan air hujan di lubang aspal. Air kubangan cokelat yang kotor menciprat tinggi ke udara, menghantam bodi mobil Louis dan membasahi seluruh tubuh Elisa hingga kuyup dari kepala hingga ujung kaki.

Konsentrasi sihir Elisa pecah berkeping-keping dalam sekejap.

"Sialan!" maki Elisa spontan.

Jantungnya berpacu liar karena terkejut, dan sedetik kemudian, kepalanya mendadak berdenyut nyeri luar biasa akibat efek sihir yang terputus paksa.

Louis yang panik karena cipratan air kotor hampir mengenai jas mahalnya segera berteriak pada sopirnya sembari menaikkan kaca jendela.

"Jalan, Kevin! Cepat jalan! Cepat pergi dari tempat sialan ini!"

Elisa mencoba menggedor kaca mobil yang tertutup rapat itu dengan sisa tenaganya, namun mobil mewah tersebut terlanjur melesat pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kepulan asap knalpot hitam dan sisa-sisa harapan Elisa yang kini pupus total.

Elisa berdiri terpaku di pinggir jalan yang berdebu. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin dari baju yang basah kuyup, melainkan karena amarah yang membakar dadanya. Ia menatap tajam ke arah motor sport hitam yang kini menjauh di ujung jalan.

Pengendara misterius berhelm hitam itu sempat melambatkan laju motornya sejenak, melirik Elisa melalui kaca spion selama beberapa detik sebelum akhirnya menghilang di tikungan tajam.

Di tengah amarahnya yang meledak-ledak,

Elisa tiba-tiba tersentak. Sesuatu yang aneh tertinggal di udara. Aroma laut yang asin dan murni bercampur dengan bau besi tajam yang maskulin menyengat indra penciumannya—aroma yang terasa sangat asing di distrik kumuh ini, namun entah kenapa membuat rasa "haus" liar di tenggorokan Elisa semakin membara dan menuntut untuk dipuaskan.

"Hari ini benar-benar hari sial sedunia," gumam Elisa frustrasi.

Napasnya memburu, sementara sepasang netra cokelat gelapnya masih menatap kosong pada jalanan aspal yang kini sepi.

"Bagaimana ini? Si tua bangka itu pasti akan kembali membawa buldozer sebentar lagi. Aku harus mulai mencari solusi dari mana? Dan bagaimana cara mengatakannya pada Ibu Iris?" Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga memucat, menyalurkan rasa takut yang mulai merayap.

Matanya beralih menatap genangan air berlumpur di depannya, lalu turun memperhatikan pakaiannya sendiri yang kini basah kuyup dan kotor—lebih mirip kain lap usang daripada selembar baju layak pakai.

"Ini semua gara-gara pengendara motor brengsek tadi! Semuanya jadi kacau balau!" geram Elisa, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih.

"Awas saja kalau aku sampai menemukanmu di kota nanti, akan kuhancurkan dan kuhisap ingatanmu sampai kau lupa pada namamu sendiri!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!