Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Wusss.
Seluruh dunia kehilangan warna dalam sekejap dan tinju membara si botak membeku tepat dua sentimeter di depan hidung Bayu.
[Jeda Waktu diaktifkan.]
[Sisa Energi: 0/25]
[Energi Waktu Habis. Sistem memasuki mode pendinginan selama tiga puluh menit.]
Durasi satu detik yang sangat berharga itu langsung dimanfaatkan oleh Bayu sepenuhnya.
Bayu menggeser kepalanya sedikit ke kanan dan melangkah masuk ke dalam area jarak dekat si botak.
Ia mengarahkan dua jarinya merobek mata kiri pengawal itu lalu menyikut tenggorokannya sekuat tenaga.
Wusss.
Waktu kembali berjalan normal dalam detik berikutnya.
"Arghhh!" jerit si botak kesakitan sambil memegangi matanya yang mendadak buta.
Bugh.
Sikutan keras Bayu mendarat telak di tenggorokan si botak membuat napas pria besar itu terhenti seketika.
Tubuh raksasa pengawal botak itu ambruk menghantam lantai marmer dengan suara gedebuk yang sangat keras.
Dua pengawal sisanya membeku di tempat melihat dua rekan terkuat mereka tumbang dalam waktu kurang dari satu menit.
"Apa yang baru saja terjadi? Kenapa gerakan si botak mendadak meleset jauh?" tanya pengawal ketiga dengan suara bergetar ketakutan.
"Monster... bocah ini benar benar monster pemburu waktu," bisik pengawal keempat mundur beberapa langkah.
Bayu berdiri tegak sambil menyapu keringat bercampur darah tipis di pelipis matanya.
"Siapa lagi yang mau maju berikutnya?" tantang Bayu dengan sorot mata dingin yang sangat menakutkan.
Kedua pengawal itu saling pandang sebelum akhirnya melemparkan senjata mereka ke lantai dan berlari kabur menuju pintu darurat.
Hendra yang menyaksikan kejadian itu langsung berdiri dari kursi kebanggaannya dengan wajah pucat pasi.
Cerutu mahal di tangannya terlepas jatuh membakar karpet merah di bawah kakinya.
"Kamu... bagaimana bisa kamu mengalahkan mereka semua tanpa senjata?" gagap Hendra membelalakkan matanya tidak percaya.
Bayu berjalan perlahan mendekati meja kerja kayu jati tempat sang bos besar berdiri gemetar.
Setiap langkah kaki Bayu terdengar seperti suara lonceng kematian bagi pria tua korup tersebut.
Tap.
Bayu mencengkeram kerah jas mahal milik Hendra dan mengangkat tubuh pria tua itu hingga kakinya berjinjit.
"Sekarang ceritakan padaku tentang Sang Penghapus Jejak dan di mana dia berada," ancam Bayu dengan suara berat yang menekan.
Hendra gemetar hebat namun tiba tiba bibirnya yang keriput mengukir sebuah seringai masam yang sangat licik.
"Kamu terlambat bocah udik... dia sudah tidak ada di gedung ini lagi sejak sepuluh menit yang lalu," bisik Hendra tertawa pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Bayu mengerutkan keningnya curiga.
Nguuuung.
Suara gemuruh baling baling helikopter tiba tiba terdengar sangat keras dari luar jendela kaca ruangan.
Sebuah helikopter tempur berwarna hitam pekat melayang di udara tepat di depan dinding kaca lantai empat puluh lima.
Dari dalam helikopter itu terlihat sosok pria bertopeng besi hitam yang menatap langsung ke arah Bayu.
"Sang Penghapus Jejak..." batin Bayu mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
Krasak.
"Bayu! Helikopter itu membawa dokumen penting dari brankas rahasia Kobra Tower!" teriak Anya panik melalui saluran earpiece.
"Mereka menjadikan gedung ini sebagai umpan untuk menjebakmu sementara Sang Penghapus Jejak melarikan diri membawa aset utama!" tambah Clara menjelaskan situasi sebenarnya.
Pria bertopeng besi di dalam helikopter mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan sebuah peluncur roket bahu ke arah ruangan kantor Hendra.
"Pria tua itu sudah tidak berguna lagi bagi organisasi," ucap suara dari pengeras suara helikopter yang dingin.
Mata Hendra membelalak lebar menyadari dirinya baru saja dikhianati oleh sekutunya sendiri.
"Tidak! Tunggu! Jangan tembak!" jerit Hendra histeris.
"Awas Bayu! Tiarap!" teriak Anya dan Clara bersamaan di dalam telinga Bayu.
Duar.
Roket itu meluncur cepat menghancurkan dinding kaca tebal dan meledakkan seluruh isi ruangan lantai empat puluh lima.