Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Kabut tipis masih membungkus kawasan perbukitan Bogor ketika tiga unit mobil minibus bergerak menyusuri jalanan berkelok. Meskipun Devan telah melarang Alina untuk turun langsung ke lapangan, sebuah kejadian mendesak di Panti Asuhan Kasih Mandiri, salah satu panti asuhan binaan utama Divisi CSR—membuat Alina harus mengambil keputusan cepat. Kebakaran kecil di gudang logistik panti dua hari lalu menghancurkan seluruh pasokan bahan pangan dan perlengkapan medis anak-anak di sana.
Sebagai Kepala Divisi CSR, nurani Alina tidak sanggup hanya duduk diam di balik meja kerjanya yang nyaman di lantai 18. Ia memutuskan untuk memimpin rombongan bantuan darurat secara langsung, dengan syarat memperketat pengawalan sesuai janji yang pernah ia ucapkan kepada Devan.
Di dalam minibus hitam berpelat kedinasan perusahaan, Alina duduk di kursi tengah. Kandungannya yang kini memasuki minggu kesepuluh membuat tubuhnya lebih cepat merasa lelah, namun binar matanya memancarkan keteguhan.
Di sampingnya, Siska sibuk memeriksa ulang manifes bantuan logistik di tablet pintarnya.
Di barisan depan, Pak Bagas duduk di samping pengemudi. Matanya yang tajam tidak pernah berhenti mengamati kaca spion samping, memantau dua mobil pengawal tegap yang mengapit rombongan mereka dari depan dan belakang.
"Ibu Alina, apakah kondisi Ibu baik-baik saja?" tanya Pak Bagas sopan, memalingkan wajahnya sedikit ke belakang. "Jika Ibu merasa mual atau pusing karena jalanan berkelok ini, kita bisa berhenti sejenak di pos rest area depan."
Alina mengulas senyum tipis, menggeleng lembut. "Saya baik-baik saja, Pak Bagas. Terima kasih. Kita harus sampai sebelum makan siang agar anak-anak panti bisa segera mendapatkan pasokan makanan segar."
"Baik, Bu. Namun sesuai instruksi Tuan Devan, setelah menyerahkan bantuan secara simbolis, kita akan langsung kembali ke Jakarta. Saya sudah menyiagakan jalur evakuasi utama jika terjadi kemacetan di rute jalur selatan ini."
Alina mengangguk paham. Ia sangat menghargai proteksi ekstra yang disiapkan suaminya. Devan bahkan sempat meneleponnya tiga kali sejak subuh tadi, memastikan setiap detail perjalanan istrinya aman tanpa celah.
Sementara itu, dua kilometer di depan rute rombongan Alina, sebuah truk pengangkut kayu berukuran besar terparkir melintang di tepi jalanan sempit yang diapit oleh tebing batu dan jurang dangkal. Di balik semak-semak perbukitan yang rimbun, empat orang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam sedang mengamati jalanan menggunakan teropong jarak jauh.
Di dalam sebuah mobil sedan tua yang tersembunyi di balik pohon bambu, Maya Sastro duduk dengan menggenggam ponsel di telinganya.
"Apakah target sudah memasuki jalur perbukitan?" tanya Maya dengan nada suara dingin dan tidak sabar.
"Sudah, Bu Maya," jawab pemimpin kelompok bayaran di seberang telepon. "Tiga mobil rombongan CSR Dirgantara Group baru saja melewati persimpangan Ciawi. Mereka mengarah tepat ke lokasi pemblokiran."
"Bagus," kekeh Maya, sebuah tawa licik yang memancarkan rasa dendam mendalam. "Ingat instruksiku. Jangan sentuh wanita itu sampai aku tiba di lokasi. Lumpuhkan saja para pengawalnya. Aku ingin Devan Dirgantara mendengar langsung suara jeritan istrinya saat aku menuntut ganti rugi atas semua penderitaanku selama lima tahun ini!"
"Dimengerti. Eksekusi dimulai dalam tiga menit."
Maya mematikan sambungan teleponnya. Tangannya mencengkeram erat kemudi mobilnya, matanya membara oleh kebencian yang telah membusuk. Bagi Maya, menghancurkan masa depan Devan melalui keselamatan anak dan istrinya adalah pembalasan dendam yang paling sempurna.
Rombongan mobil Alina bergerak perlahan memasuki kawasan sempit berdinding tebing. Hujan gerimis mulai turun membasahi kaca depan, membuat jarak pandang sedikit berkurang.
Tiba-tiba, mobil pengawal terdepan mengeram rem secara mendadak. Suara decitan ban memecah keheningan jalanan perbukitan.
Sreeek!
Minibus yang ditumpangi Alina ikut berhenti secara spontan. Pak Bagas dengan sigap mencengkeram pegangan pintu, matanya membelalak menatap ke depan. Sebuah truk kayu besar melintang sepenuhnya, menutup seluruh badan jalan.
"Ada apa, Pak Bagas?" tanya Alina panik, refleks memegang perutnya yang terlindung sabuk pengaman.
"Jangan turun dari mobil!" tegas Pak Bagas. Ia meraih radio panggil (handie-talkie) di dasbor. "Unit Satu, periksa rintangan di depan! Kenapa truk itu menghalangi jalan?"
Belum sempat radio tersebut membalas, suara hantaman keras terdengar dari arah belakang. Sebuah mobil pikap tua sengaja menabrakkan diri ke bagian belakang mobil pengawal ketiga, menutup penuh akses jalan untuk mundur.
Rombongan mereka terkepung di tengah jalanan sempit.
"Kita dijebak!" seru Pak Bagas. Dengan cepat ia menarik pistol dari balik jasnya dan mengunci seluruh sistem pintu digital minibus. "Siska, tiup peluit darurat dan tekan tombol SOS di GPS! Ibu Alina, merunduk di bawah kursi sekarang!"
Siska menjerit ketakutan namun tetap menuruti perintah, menarik Alina untuk bersembunyi di celah sempit di bawah perlindungan kursi tengah. Alina mencengkeram erat tangan Siska, jantungnya berdegup kencang bagaikan drum yang ditabuh brutal. Dalam kegelapan bawah kursi, Alina terus memegangi perutnya, berdoa khusyuk memohon perlindungan untuk bayi di dalam rahimnya dan untuk keselamatan suaminya.
Dari balik semak-semak, delapan pria bertopeng melompat turun membawa pentungan besi dan senjata tajam. Mereka langsung menyerang dua mobil pengawal. Suara benturan besi, kaca pecah, dan teriakan perkelahian meletus sengit di luar minibus.
Para pengawal pribadi yang terlatih berusaha keras menahan gempuran para penyerang, namun jumlah lawan yang melimpah dan serangan kejutan membuat para pengawal mulai terdesak.
Pak Bagas keluar dari minibus untuk memberikan bantuan, mengunci pintu dari luar agar Alina tetap aman. Tembakan peringatan terdengar membahana di udara, membuat beberapa penyerang mundur sejenak, namun pemimpin kelompok penyerang memanfaatkan celah tersebut untuk mendekati minibus dari sisi samping.
Dengan menggunakan batang besi tebal, pria bertopeng itu memukul kaca samping minibus tempat Alina bersembunyi hingga retak seribu.
PRANG!
Kaca mobil hancur berkeping-keping. Siska berteriak histeris. Pria bertopeng itu memasukkan tangannya, membuka kunci manual dari dalam, dan menarik pintu sliding minibus hingga terbuka lebar.
"Keluar kalian!" bentak pria itu dengan suara parau yang mengerikan.
Alina mendongak, matanya menatap lurus ke arah penyerang tersebut dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. "Siapa yang menyuruh kalian?! Kami hanya rombongan kemanusiaan!"
Pria itu terkekeh dingin. "Tanyakan saja pada suamimu yang sok berkuasa itu!" Ia meraih lengan Alina secara kasar, berusaha menariknya keluar dari mobil.
"Lepaskan dia!" teriak Pak Bagas yang sedang bergulat dengan dua penyerang lain di belakang. Namun jarak yang terhalang membuat Pak Bagas tidak bisa menjangkau posisi Alina tepat waktu.
Di saat yang paling kritis, ketika jemari kasar penyerang itu hampir mencengkeram bahu Alina, suara deru mesin berkecepatan tinggi meraung dahsyat dari arah tikungan atas tebing.
Sebuah SUV hitam besar melompat melewati rintangan tanah dan langsung menabrak mobil pikap penyerang hingga terdorong beberapa meter!
BUMM!
Asap hitam membumbung tinggi. Pintu SUV hitam itu terbuka (dengan keras). Sosok pria berbadan tinggi tegap melangkah keluar dengan raut wajah yang penuh amarah membara, sebuah aura kegelapan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
Devan Dirgantara.
Pria itu tidak menunggu dikawal. Sejak sistem sinyal SOS di mobil Alina terputus lima menit lalu, Devan langsung mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan gila-gilaan membelah rute selatan.
Melihat Devan datang sendirian, pemimpin penyerang melepas cengkeramannya pada Alina dan berbalik mengacungkan batang besi ke arah Devan. "Hahaha! CEO kaya ini datang menyerahkan diri!"
Devan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya merah oleh amarah yang meluap. Ketika penyerang itu mengayunkan besi ke arah kepalanya, Devan bergerak sangat cepat memblokir serangan tersebut dengan lengan kirinya, menarik baju penyerang itu, dan menghantamkan lututnya secara brutal ke perut lawan.
Brak!
Penyerang itu ambruk ke tanah, merintih kesakitan. Tanpa memberi ampun, Devan menendang senjata besi itu hingga terlempar ke dalam jurang.
Di saat yang sama, sirene mobil kepolisian dan tim keamanan khusus Dirgantara Group meraung-raung menyusul dari belakang. Puluhan personel polisi bersenjata lengkap menyebar cepat, mengepung dan melumpuhkan seluruh anggota kelompok penyerang dalam hitungan detik.
Di ujung jalan, sedan tua milik Maya Sastro yang baru saja tiba di lokasi terhalang oleh mobil kepolisian. Maya yang panik berusaha memutar balik mobilnya, namun dua mobil patroli polisi langsung memblokir jalurnya dan meringkus wanita itu sebelum sempat melarikan diri.
Suasana di jalanan perbukitan perlahan mereda. Seluruh penyerang dan Maya Sastro telah diborgol dan diseret masuk ke dalam mobil tahanan.
Devan melangkah cepat mendekati pintu minibus yang terbuka. Amarah yang tadinya membakar matanya seketika runtuh sepenuhnya, berganti menjadi rasa panik dan kerapuhan yang luar biasa saat melihat Alina duduk gemetar di sudut kursi.
"Alina!" panggil Devan dengan suara parau dan bergetar.
Devan melompat masuk ke dalam minibus, langsung berlutut di depan Alina. Tangannya yang gemetar merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat.
Devan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alina, menghirup aroma tubuh istrinya untuk memastikan bahwa wanita yang dicintainya itu masih bernapas dan selamat.
"Maafkan aku ... Maafkan aku lambat datang, Sayang ..." bisik Devan berulang kali, suaranya pecah oleh rasa bersalah yang teramat dalam.
Alina, yang tadinya menahan rasa takut luar biasa, akhirnya tumpah dalam tangisan haru. Ia membalas pelukan Devan dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang naik turun tidak teratur.
"Devan ... Kamu datang... Kamu menyelamatkan kami ..." tangis Alina pecah di dalam dekapan Devan.
Devan melonggarkan pelukannya sedikit, mengusap air mata di pipi Alina dengan jemarinya yang hangat. Matanya lalu menatap ke arah perut Alina dengan cemas. "Bagaimana denganmu? Bayi kita ... apakah ada yang sakit? Apakah perutmu terluka?"
Alina menggeleng pelan sambil tersenyum di tengah tangisnya, meraih tangan Devan dan meletakkannya di atas perutnya. "Anak kita kuat, Devan. Kami baik-baik saja karena tahu kamu pasti akan datang."
Devan memejamkan matanya, menghembuskan napas lega yang begitu panjang. Ia mendaratkan kecupan hangat berulang kali di kening, pipi, dan bibir Alina, seolah ingin menyapu bersih seluruh rasa takut yang sempat menghinggapi istrinya.
Di luar minibus, Pak Bagas dan tim keamanan berdiri berjaga dengan rasa hormat yang mendalam. Mereka menyaksikan bagaimana seorang CEO yang dikenal paling dingin dan tak tersentuh di dunia bisnis, kini sedang memeluk istrinya dengan begitu tulus dan protektif di bawah rintik hujan perbukitan.
Ancaman terakhir dari masa lalu telah dipadamkan sepenuhnya. Di atas jalanan perbukitan yang sunyi itu, Devan dan Alina menyadari bahwa tidak ada benteng yang lebih kokoh, dan tidak ada kekuatan yang lebih besar di dunia ini, selain keberanian dan cinta sejati yang saling melindungi dalam setiap keadaan.