Bryen berusia 25 tahun seorang pria pemilik cafe sederhana, memiliki karyawan untuk membantu melayani seorang pelanggan, saat sibuk melayani pelanggan ia tidak sengaja menumbuhkan Kopi ke pakaian seorang perempuan sombong, angkuh dan dingin, yg lagi asik berbincang sama teman kantor nya, hingga ia kaget langsung beranjak
"HEI KAMU... HATI - HATI DONG! INI BAJU MAHAL, LIHAT.... BAJUKU JADI KOTOR!! PAKAI MATA ENGGAK!! ". Ucapnya sentak marah
" maaf nona, saya tidak sengaja, sini saya bersihin! ". Jawab brayen sambil mengelap gaun yang kena tumpahan kopi
" TIDAK USAH!! BISA SENDIRI, DASAR LAKI-LAKI!! ". Ucapnya dengan tatap kesel melangkah melewati, temannya pun mengikuti dengan ekpresi bingung
Ini pertama kalinya bagi bryen di marahin oleh seorang wanita.
kehidupan bryen sangat suka hidup biasa saja, walaupun sang ayah selalu menjodohkan dirinya dengan seorang wanita kenalan teman ayahnya, sampai kini sang ayah masih membahas perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon as2357zzjdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 PERTEMUAN
Brayen menyajikan makanan di atas meja depan pelanggan, ia senyum Ramah untuk mempersilahkan menikmati makanan, Brayen melangkah jalan kembali ke belakang dapur.
Tidak lama Elina datang bersama temannya, sanfani. seperti biasa mereka suka beristirahat makan siang setelah kerja di kantor, mereka duduk di kursi depan meja berhadapan, tidak lama Brayen datang membawakan sebuah buku menu.
"Silahkan" ucapnya menyodorkan buku menu pada sanfani
sanfani pun mengambil dan mulai ia pilih apa yang ia ingin makan. saat menunggu, Brayen terus memandangi Elina seorang wanita jutek, dan sombong, kini ada di depannya, entah mengapa Brayen cukup tertarik dengan wanita itu.walapun galak.
"Saya mau ini sama ini". Minta Sanfani
" Baik".
"Elin... mau makan apa? ". Tanya Sanfani pada Elina. Elina yang dari tadi hanya main ponselnya
" Sama in saja sama kamu". Jawabnya tidak menoleh
"ok, sama in saja iya". Ucap Sanfani pada Brayen sambil menyodorkan buku menu
" Baik, di tunggu ". jawabnya sambil mengambil buku menu. Brayen melangkah jalan
" Berhenti lah main ponsel". minta Sanfani pada Elina.
Elina pun menurut meletakkan ponselnya di atas meja
"Ada apa denganmu? , dari tadi terlihat cemberut.... sama bete". tanya Sanfani merasa heran
" Hari ini aku tuh... males banget".
"Males kenapa, tidak biasanya".
" Ayahku, menjodohkan seseorang padaku, teman bisnisnya ".
" Hah? sama siapa, terus orangnya seperti apa? ". tanya Sanfani kaget
"aku pun tidak tahu, tidak pernah bertemu. ayahku berniat mempertemukan dan perkenalkan padaku. entah seperti apa dia itu". Jawabnya kesel dengan raut wajah bete
" Huffttt... aku jadi khawatir, jangan-jangan kakek-kakek atau om-om tua... ihhhh. kalau aku sih... ogah.. ya.. "
"Yang bener saja, ayahku tegak sama aku. sebenarnya aku belum siap untuk punya pasangan, atau pun menikah".
" Lagian ayahmu kenapa tiba-tiba banget menjodohkan kamu sama pria itu".
"Katanya bisnis perusahaan akan tetap kokoh dan bertahan".
"hemmm, namanya juga orang kaya, kebanyakan seperti itu aturannya. hanya untuk bisnis".
" Itulah kenapa aku sangat kesel dan tidak aku suka ". jawab Elina.
Tidak lama Brayen datang membawakan makanan yang mereka pesan, meletakkan di atas meja depan mereka.
" Silahkan ". Ucapnya mempersilahkan
Brayen pun melangkah jalan meninggalkan mereka. Elina dan Sanfani pun mengambil makanan di atas piring.
*****
*****
*****
Di perjalanan menuju pulang ke rumah di malam hari, kini Brayen bersama joni di dalam mobil.
"Males banget aku harus ke acara itu". Ucap Brayen mengeluh.
" Ya sudah kali... nurut aja.. siapa tahu.. ayah mu tidak akan banyak ngatur ". Jawab joni sambil pegang setir mobil.
" Masalahnya kenapa harus lewat perjodohan yang bikin aku tidak suka".
"Memangnya ada yang kamu suka? ".
" ada".
"heh.. siapa? aku tidak pernah tahu". Tanya joni terkejut
" Perempuan jutek yang sering ke cafeku. tadi aku bertemu dengannya". Jawabnya senyum
"Hadeuh... ko jadi tertarik sama perempuan jutek bukannya perempuan baik hati. emang aneh".
" Bukan aneh tapi menantang ".
" Huffttt... terserah lah... Untuk sekarang harus mengikuti keinginan ayahmu lebih dulu. ok".
Mobil yang mereka tumbangi pun melintas dengan cepat di tengah jalan.
Bersamaan itu terlihat Elina sudah memakai pakaian gaun dress sangat elegant dan cantik melihat di cermin kaca dirinya sendiri. Rambut terurai panjang ujung rambut terikal, terlihat telinga kirinya sudah pakai anting berkelip-kelip cantik. Sangat sempurna seperti seorang artis terkenal. sepertinya sudah selesai dan terlihat sudah siap, Elina pun melangkah menghampiri meja kecil samping kasur mengambil tas kecil untuk ia bawa. Kemudian melangkah keluar kamar sambil menutup pintu kamar. Tidak lama ayah Elina datang.
"Sudah siap? ". Tanya Williams
" Iya.. ayah". Jawabnya
"Ok, ayo". Ajak Williams
Kini mereka pun melangkah bersama keluar rumah. Di luar rumah mereka melangkah menghampiri mobil yang sudah siap untuk berangkat terlihat seorang sopir menunggu berdiri samping mobil menyabut mereka yang akan berangkat.
" Ayo". Minta Williams pada sopirnya
"Baik". Jawabnya bergegas membukakan pintu untuk mereka. Elina lebih dulu memasuki mobil di ikuti ayahnya dari belakang. Sudah mereka masuk pak sopir pun tutup pintu mobil berbalik memasuki pintu depan untuk menyetir. Tidak lama mobil yang mereka tumbangi berjalan pergi meninggalkan rumah.
Kemudian Brayen sekarang sudah berada di dalam rumah berjalan di lorong sendirian. Rumah yang dimiliki ayahnya cukup besar dan luas terlihat mewah. Arga Setiawangsa cukup terbesar di negaranya dan banyak kalangan bisnis yang ia percaya. Kehidupan Keluarga Arga Setiawangsa sangat lah hangat dan harmonis. Namun sayangnya Brayen di jalur yang berbeda dengan keluarga nya sendiri. Dia ingin kehidupan normal ingin hidup biasa-biasa saja, tidak ingin mengikuti jejak ayahnya tersendiri apa lagi menduduki kursi seorang CEO yang tidak pernah ia inginkan. Hingga hubungan ayah dan anak tidak lah baik-baik saja semenjak Brayen memutuskan pergi ingin kehidupan di luar sana.
Saat Brayen melangkah jalan di lorong ia melihat ayahnya berjalan menghampiri di depan sana
"Brayen. Ayah harap. jangan ada masalah. bersiap sebentar lagi mereka akan datang pastikan kamu memakai yang rapih dan bersih". Minta Arga dengan tatapan tegas, Lanjut jalan melewati Brayen.
Brayen hanya berdiri terdiam memandang ayahnya pergi.
Di kamar terlihat Brayen sangat tidak menyukai pakaian jas yang ia kenakan,. Ia hanya berdiri terdiam di kaca cermin sambil melamun.
Tok
Tok
Tok
Seketika Brayen tersadar saat dirinya melamun, menoleh ke arah pintu saat seseorang mengetok
"Siapa? ". Tanya Brayen
" Ini saya, tuan muda. Tuan Arga meminta tuan muda secepatnya untuk ke ruangan tamu menyabut kedatangan mereka ". Ujarnya
" Iya, 5 menit lagi saya aku kesana".
"Baik".
Saat seseorang yang mengetok pintu pergi Brayen keluar dari dalam kamar sambil tutup pintu, ia tidak akan pergi ke ruangan tamu melainkan ke arah lain. Brayen memutuskan untuk pergi saja melangkah jalan di lorong.
Bersamaan itu terlihat mobil yang di tumpangi Elina dan ayahnya datang memarkir kan mobil depan rumah. Tidak lama mereka keluar dari dalam mobil, di sambut oleh para pelayanan rumah, seorang pelayanan mengarahkan jalan untuk pergi ke ruangan. Sampai di Ruangan tamu terlihat Arga sudah menunggu berdiri terdiam menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Williams".
" Arga".
Mereka berdua pun saling berpelukan dan berjabat tangan dengan hangat.
"Kenalin ini anak saya Elina". Williams pun memperkenalkan putrinya
" Namaku Elina om". Ucap Elina menyodorkan telapak tangan
"Hey, ". Jawabnya berjabat tangan untuk saling mengenal
" Hemmm! maaf Om, boleh saya ke kamar mandi ". Izin Elina
" Boleh. Bi... tolong tujukan kamar mandi padanya ". Minta Arga pada seorang pelayanan
" Baik, silahkan non... ". Mintanya pada Elina
Elina pun mengikuti pelayanan perempuan, mereka terus melangkah jalan di lorong tidak lama. dia menuntun Elina menuju sebuah kamar mandi. Sampai di depan pintu kamar mandi.
" Ini kamar mandinya silahkan ".
" Terimakasih bi".
"iya sama-sama".
Pelayanan perempuan pun pergi meninggalkan Elina. Setelah pelayanan pergi Elina memasuki kamar mandi.