"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Melodi, dengarkan aku dulu, Melodi!" teriak Zidan seraya terus mengejar langkah wanita itu yang semakin menjauh di pekarangan rumah itu.
Namun bukannya berhenti Melodi justru semakin melajukan langkah kakinya.
Hingga akhirnya jemari kokoh Zidan berhasil meraih lengan Melodi dan menariknya paksa hingga tubuh wanita itu berbalik.
Melodi langsung memberontak. "Apa lagi sih, Mas?! Mau jelaskan apa lagi, hah?!" bentaknya dengan suara bergetar dipenuhi emosi. "Udah jelas, Mas! Udah jelas banget! Ternyata selama ini kamu yang enggak mau lepasin Humaira! Kamu itu jahat banget sama aku, Mas. Kamu tahu enggak? Dengan cara kamu seperti ini, kamu itu benar-benar nyakitin aku!"
"Melodi, bukan seperti itu—"
"Tujuh tahun, Mas! Kita sudah bertahan dalam hubungan ini selama tujuh tahun!" potong Melodi berapi-api, menatap Zidan dengan sorot mata terluka. "Aku selalu percaya kalau kamu cuma cinta sama aku. Tapi lihat apa yang kamu lakukan di belakangku! Bukan wanita itu yang menahan pernikahan kalian, tapi kamu!
Kamu yang bersikeras enggak mau ceraikan dia! Aku benci sama kamu, Mas! Aku enggak nyangka kamu setega ini!"
Rasa sakit hati yang meluap membuat Melodi terus memukul dada Zidan, berusaha sekuat tenaga melepas cengkeraman tangan pria itu dari lengannya.
"Melodi, aku minta maaf..." Ucap Zidan berusaha menenangkannya.
Namun, bukannya tenang wanita itu semakin memberontak.
Zidan langsung menarik tubuh wanita itu secara paksa ke dalam pelukannya. Ia merengkuh erat Melodi, menahan gerakan wanita itu yang terus menolak dan memberontak di dadanya.
Dalam dekapan hangat Zidan, isak tangis Melodi pecah semakin keras, meluapkan kekecewaan mendalam atas kenyataan pahit bahwa pria yang dia cintai justru mulai berpaling.
"Melodi, tenang dulu! Masalah penceraian ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan!" ujar Zidan berusaha menenangkan, mendekap makin erat wanita yang sedang histeris itu.
Melodi menghentikan pukulan tangannya mendadak. Ia mendongak, menatap Zidan dengan mata berair.
"Jangan bilang kalau hatimu itu memang sudah benar-benar terbagi untuk wanita itu! Pokoknya aku enggak mau dengar alasan apa pun lagi! Aku pengin kamu harus tanda tangani surat cerai itu sekarang juga!"
Zidan terpaku bungkam, kehabisan kata-kata atas inginan Melodi.
"Kalau kamu belum bisa menandatangani surat cerai itu, jangan pernah datang untuk menemuiku lagi!" tegas Melodi, mendorong dada Zidan agar menjauh darinya.
Pria itu terhuyung ke belakang tanpa memberikan perlawanan. Tak membuang waktu, Melodi berbalik cepat, melangkah lebar menuju mobilnya, dan memacu kendaraan itu keluar dari pekarangan dengan kecepatan tinggi.
Zidan berdiri sendirian di tepi jalan. Tangannya terangkat memijit pelipisnya frustrasi.
_____
Humaira sudah tiba di rumah sakit. Sesampainya di sana, ia melangkah terburu-buru menyusuri koridor untuk mencari keberadaan adiknya.
Namun, saat sedang berjalan, ia tak sengaja berpapasan dengan Dokter Hamzi.
"Dokter!" panggil Humaira menghentikan langkah sang dokter.
Dokter Hamzi menoleh. "Ya? Ada apa, Humaira?"
"Dokter tahu, dimana keberadaan adik saya yang dibawa semalam?" tanya Humaira cemas.
"Adik kamu? Tentu," jawab Hamzi ramah. "Dokter Zidan memerintahkan tim medis semalam untuk memindahkan adikmu ke ruang VIP di lantai atas."
Humaira kaget. "Apa? Ruang VIP?"
"Iya," Hamzi mengangguk seraya tersenyum tipis. "Sepertinya Dokter Zidan sangat baik padamu sampai memberikan fasilitas terbaik untuk adikmu."
Humaira mengeleng, berusaha menyembunyikan Gejolak didada.
"Dokter tidak tahu apa-apa. Saya pergi dulu, ya."
"Baiklah," sahut Hamzi sedikit heran dengan respon wanita itu.
Humaira bergegas melangkah menuju lift dan naik ke lantai area ruang perawatan VIP. Tak butuh waktu lama untuk menemukan kamar yang dituju.
Ia memutar gagang pintu dan menerobos masuk ke dalam.
"Ibu!" panggil Humaira.
Wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa kamar VIP itu menoleh. Senyum hangat terukir di wajahnya yang tampak lelah. "Humaira... kamu sudah datang, Nak?"
Belum sempat Humaira menjawab, tiba-tiba ruangan kembali dibuka. Dan menampilkan sosok seseorang yang membuat Humaira beserta ibunya, juga adiknya yang sudah sadar diatas ranjang rumah sakit, kaget setengah mati.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂