Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
DING.
Suara mekanis lonceng yang sangat ia kenal mendadak berdentang sangat keras di dalam kepalanya.
[Host berhasil mendapatkan basis operasi permanen tingkat dasar.]
[Misi Utama Tahap Satu Terbuka: Grand Opening Kedai.]
Galang menelan ludah membaca layar biru transparan yang muncul melayang tanpa diundang di depan wajahnya.
[Tugas: Jual 500 porsi campuran Nasi Goreng dan Sup Ayam dalam waktu dua hari saat pembukaan.]
[Batas Waktu: Grand Opening harus dilaksanakan maksimal tiga hari dari sekarang.]
[Hadiah: Peningkatan Level Sistem, Fitur Dapur Otomatis, dan Satu Resep Rahasia Bintang Tiga.]
[Hukuman jika gagal: Kedai akan terbakar hangus tanpa sisa dan Host akan kembali menjadi pedagang gerobak keliling selamanya.]
Galang mengusap wajahnya yang langsung dipenuhi oleh butiran keringat dingin.
"Sistem sungguh tidak punya hati, tiga hari lagi harus buka dan langsung ditarget jual lima ratus porsi?" rutuk Galang kesal pada udara kosong.
"Membersihkan rumah raksasa yang kotor ini saja butuh waktu dua hari penuh kalau dikerjakan sendirian!"
Belum lagi ia harus menata meja, mencari kursi murah, mengecat ulang dinding, dan menyiapkan bahan masakan dalam jumlah yang sangat masif.
Galang mengambil sapu lidi berdebu yang tertinggal di sudut ruangan dan mencoba menyapu lantai keramik yang kusam.
Baru lima menit bergerak, debu tebal yang beterbangan sudah membuatnya terbatuk-batuk hebat hingga matanya berair.
"Tidak bisa begini, aku bisa mati kelelahan sebelum kedai ini resmi buka," gumam Galang membuang sapu lidi itu ke lantai.
"Aku butuh karyawan untuk membantuku bersih-bersih rumah ini dan menjadi pelayan saat pelanggan datang nanti."
Dengan modal tersisa lima belas juta rupiah lebih, ia masih punya cukup uang untuk menggaji satu atau dua orang asisten.
Galang segera mengunci pintu bangunan tua itu dan kembali menaiki motor gerobaknya yang terparkir di halaman.
Ia memacu motornya menuju ke area kampus Universitas Nusantara lagi yang jaraknya hanya sepuluh menit dari sana.
Tujuannya adalah mencari mahasiswa yang sedang butuh uang jajan tambahan untuk dijadikan pekerja paruh waktu atau part-time.
Suasana kampus siang itu sedang sangat ramai oleh mahasiswa yang baru selesai mengikuti kelas siang.
Galang memarkirkan motornya di dekat minimarket depan gerbang utama kampus dan mulai melihat-lihat sekeliling.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang mahasiswa yang sedang duduk murung sendirian di halte kampus yang teduh.
Itu adalah Bima, mahasiswa berambut agak gondrong yang kemarin menangis memakan sup ayam buatannya.
Galang berjalan menghampiri pemuda berbaju flanel lusuh itu dan menepuk pundaknya pelan.
"Mas Bima ya? Sedang apa melamun siang-siang bolong begini di halte?" sapa Galang dengan suara ramah.
Bima mendongak kaget dan wajahnya langsung sumringah mengenali sosok Galang.
"Eh Bang Galang, kok gerobaknya tidak kelihatan, jualan lagi hari ini Bang?" tanya Bima langsung berdiri menyalami Galang.
"Kebetulan hari ini libur Mas, saya lagi ada urusan mencari barang," jawab Galang santai.
"Mas Bima sendiri kelihatannya sedang ada masalah besar, mukanya kusut begitu kenapa?"
Bima menghela napas panjang dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Ini Bang, saya lagi pusing keliling cari kerja part-time buat tambahan bayar uang semesteran besok lusa," curhat Bima dengan nada melas.
"Uang saku dari orang tua di kampung telat cair, mana kemarin uang terakhir saya habis bayar sup ayam abang pakai lembaran biru."
Galang sedikit tertawa canggung mendengar keluhan jujur dari pelanggannya yang polos itu.
"Oh jadi kemarin itu uang terakhirnya Mas Bima? Kenapa tidak bilang jujur dari awal," kekeh Galang merasa sedikit bersalah.
"Tapi kebetulan sekali kita ketemu di sini Mas, pucuk dicinta ulam pun tiba namanya."
Bima mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan pepatah kuno yang diucapkan penjual nasi goreng tersebut.
"Maksudnya gimana Bang? Abang mau traktir saya makan siang gratis sebagai ganti rugi?" tanya Bima dengan mata yang langsung berbinar harap.
"Bukan traktir makan siang Mas, tapi saya mau nawarin pekerjaan tetap buat Mas Bima," jelas Galang meluruskan.
"Saya baru saja menyewa bangunan tua peninggalan Belanda di dekat kampus ini untuk buka kedai makan permanen."
"Saya butuh satu orang karyawan yang bisa bantu bersih-bersih mulai hari ini dan jadi pelayan saat kedai resmi buka lusa."
Mata Bima seketika membulat lebar seolah tidak percaya dengan ucapan yang baru saja didengarnya.
"Serius Bang? Abang mau rekrut mahasiswa kere seperti saya jadi karyawan kedai abang?" teriak Bima kegirangan tanpa peduli orang sekitar.
"Iya serius, gajinya seratus ribu per hari bersih ditambah jatah makan gratis dua kali sehari dari dapur saya," tawar Galang memberikan nominal yang sangat lumayan untuk ukuran mahasiswa.
"Bagaimana? Mas Bima sanggup tidak kerja kasar sedikit sebelum kedainya siap buka?"
Tanpa berpikir panjang Bima langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat semangat hingga rambutnya bergoyang.
"Sanggup Bang! Jangankan cuma bersih-bersih debu rumah, disuruh ngepel jalan raya depan kampus juga saya mau kalau digaji segitu!" seru Bima sangat antusias.
Bima kemudian menyipitkan matanya mengingat jadwal kuliahnya yang cukup padat minggu ini.
"Tapi kerjanya dari jam berapa sampai jam berapa Bang?" tanya Bima memastikan jadwalnya.
"Untuk tiga hari ke depan kerjanya full dari pagi sampai sore untuk persiapan pembukaan," jelas Galang memberikan arahan.
"Nanti kalau kedainya sudah jalan normal, jam shift kerjanya bisa kita sesuaikan dengan jadwal kuliah Mas Bima agar tidak bentrok."
"Wah fleksibel banget aturan mainnya Bang, saya setuju seratus persen dan siap kerja hari ini juga!" jawab Bima menepuk dadanya bangga.
"Lagipula saya sudah buktikan sendiri makanan abang itu rasanya sangat magis, pasti kedai abang bakal ramai diserbu anak kampus nanti."
Galang tersenyum puas melihat dedikasi dan semangat dari karyawan pertamanya ini yang masih berapi-api.
"Bagus, kalau begitu ayo ikut saya ke lokasi sekarang juga, kita langsung mulai babat habis rumput liar di markas baru kita," ajak Galang.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju motor gerobak Galang dengan langkah yang sama-sama terasa ringan dan penuh harapan.
Galang sama sekali tidak menyangka bahwa masalah sumber daya manusianya bisa terselesaikan secepat dan semudah ini.
Kini fokus utamanya tinggal merenovasi bangunan tua itu menjadi layak pandang dan menghadapi tantangan gila lima ratus porsi dari sistem.
Perang kuliner yang sesungguhnya melawan dominasi kapitalis Restoran Bintang Samudera akan segera dimulai dari kedai kecil pinggiran ini.