Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

Tit... Tit... Tit...

"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.

Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.

Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasar

"Mbak Salma mau pergi kemana sama Nasya?" tanya Ibu Fia, tetangga mereka yang kebetulan melihat keduanya pergi. Apalagi Ibu Salma membawa keranjang belanjaan.

"Ke pasar, Bu." ucap Ibu Salma menjawabnya dengan ramah.

"Udah siang ini, Bu. Kok baru..."

"Iya, baru sempat." sela Ibu Rahma yang kemudian segera membawa Nasya pergi.

Ibu Salma buru-buru pergi ke pasar daripada nanti malah diajak ghibah oleh tetangganya itu. Ibu Salma juga yakin kalau Ibu Fia pasti akan menanyakan tentang Kafka dan Aruna. Dia tak mau permasalahan rumah tangga anaknya dijadikan bahan pembicaraan. Nasya begitu bahagia karena bisa jalan-jalan ke pasar bersama Ibu Salma. Walupun mereka harus jalan pelan-pelan karena kaki Ibu Salma masih sakit.

"Ambil perlengkapan sekolah yang kamu butuhkan, Nasya. Buku, tas, pensil, dan apapun itu." suruh Ibu Salma kepada cucunya itu setelah sampai di sebuah toko area pasar.

"Kan tadi Nasya cuma minta tas saja, Nek. Kok sekarang disuruh beli buku dan pensil juga," ucap Nasya yang tak mau membuat uang Neneknya habis.

"Ini buat jaga-jaga di rumah biar nggak bolak-balik ke pasar. Capek lho jalan kaki dari rumah ke pasar," Ibu Salma terkekeh geli melihat Nasya yang protes terhadapnya.

"Nanti uang Nenek habis, Nasya diomelin sama Ibu. Terus kita nggak bisa makan lagi dan rumah gelap," omel Nasya membuat Ibu Salma menghentikan kekehannya.

"Itu sudah menjadi urusan Ibumu dan Nenek. Jangan pikirkan lagi,"

Ibu Salma berusaha menahan rasa sesak dalam dadanya. Rasa bersalah sebagai seorang Ibu yang tidak bisa mendidik anaknya untuk bertanggungjawab pada keluarga kecilnya. Padahal Ayah dari Kafka dulu selalu mengajarkan anaknya untuk bertanggungjawab pada keluarga. Entah apa yang meracuni pikiran dan hati Kafka sehingga malah berselingkuh sampai tidak menafkahi anak istrinya. Setiap kali melihat nasib Aruna dan Nasya, dirinya selalu merasa bersalah.

"Beneran? Ini nggak papa kalau Nasya ambil buku dan pensil, Nek?" tanya Nasya lagi.

"Ya, ambil semuanya yang banyak. Jangan pikirkan bagaimana bayarnya, itu urusan Nenek." ucap Ibu Salma sambil menepuk kepala Nasya dengan pelan.

Asyikkk...

"Ini ada pewarna crayon bagus dan lengkap. Ambil aja,"

Ibu Salma membantu Nasya memilih pensil warna, buku, dan tas yang bagus. Walaupun beli di pasar, tersedia juga dari berbagai merk terkenal. Nasya sangat bahagia karena mempunyai peralatan sekolah baru. Dia tidak akan minder lagi kalau bersekolah. Setelah dirasa cukup, keduanya segera menuju kasir. Ibu Salma membayar semuanya dengan uang cash yang dimilikinya tanpa mengambil jatah pemberian Aruna.

"Mbak Salma..." seru seseorang mengenal Ibu Salma saat wanita paruh baya itu hendak keluar dari toko.

"Lho... Mbak Lala kan?" seru Ibu Salma dengan raut wajah antusiasnya.

"Iya, Mbak. Ya ampun, udah lama kita nggak ketemu." Ibu Lala pun memeluk teman lamanya yang sudah tak pernah bertemu setelah lulus SMP.

"Bagaimana kabarnya, Mbak?" tanya Ibu Salma setelah melepaskan pelukannya.

"Baik. Ayo kita singgah ke warung sana dulu. Cerita-cerita dulu kita," ajak Ibu Lala yang ingin bercerita panjang lebar dengan temannya.

Ayo...

Nenek... Nasya kok dilupain sih?

Eh...

Ibu Salma tertawa mendengar teriakan Nasya. Tadi dia sangat antusias setelah pertemuannya dengan Ibu Lala, sehingga lupa kalau pergi bersama Nasya. Alhasil dia menurut saja saat dirangkul oleh Ibu Lala dan dibawa pergi. Ibu Salma pun segera mendekati cucunya yang cemberut dan menggandengnya. Ibu Salma terkekeh pelan melihat cucunya yang kesal karena ditinggal begitu saja. Nasya pun segera berkenalan dengan Ibu Lala yang sangat ramah.

"Sama siapa, Bu?" tanya seorang laki-laki pada Ibu Lala yang baru saja masuk rumah makan di pasar.

"Kenalkan ini Ibu Salma, dia teman Ibu di sekolah dulu. Ini cucunya," ucap Ibu Lala mengenalkan Ibu Salma dan Nasya kepada anaknya, Gavin Sanjaya. Sedangkan Ibu Lala sendiri aslinya bernama Karmila Retno.

"Salim dulu sama Omnya, Nak." Ibu Salma meminta Nasya berjabat tangan dan mencium tangan Gavin.

"Kamu belanja ke pasar, Mbak?" tanya Ibu Salma yang kemudian duduk di salah satu kursi setelah berkenalan dengan Gavin.

"Iya, lebih irit. Kita juga baru pindah ke sini lagi. Udah banyak berubah ternyata kampung ini sampai aku lupa rumahmu di sebelah mana," ucap Ibu Lala sambil terkekeh pelan.

"Cari saja rumah yang paling jelek. Itu rumahku, pasti ketemu." ucap Ibu Salma merendahkan dirinya. Ibu Lala hanya menepuk bahu temannya itu karena tak percaya dengan ucapannya.

"Gavin ini masih jomblo lho, Mbak. Pusing aku tuh mau bujuk atau jodohin dia sama siapa lagi," ucap Ibu Lala tiba-tiba karena merasa pusing dengan anaknya. Padahal Gavin terlihat acuh dengan obrolan Ibunya itu.

"Gimana kalau Gavin dijodohkan saja sama menantuku?" ceplos Ibu Salma membuat Gavin dan Ibunya memelototkan matanya.

Ha?

***

Sedangkan di perusahaan, Aruna sedang makan siang bersama Luna. Setelah membuat Silvy dan Kafka ketar-ketir di perusahaan saat hari pertama dia bekerja, rupanya mood Aruna lumayan membaik. Apalagi saat melihat Kafka tak berkutik setelah dirinya memegang jabatan sebagai asisten CEO. Aruna akan pastikan Kafka sadar diri bahwa tak bisa berdiri sendiri tanpa dirinya. Luna melihat Aruna yang senyum-senyum sendiri di depannya.

"Ibu asisten CEO lagi senang sekali kayanya? Sampai dari tadi senyum-senyum terus," sindir Luna membuat Aruna tertawa.

"Seharusnya tadi kamu lihat wajah pucatnya Mas Kafka saat aku masuk ruang rapat. Bahagia sekali rasanya kalau aku bisa berdiri sendiri tanpa dia. Aku bisa sukses dan punya uang tanpa mengemis padanya," ucap Aruna sambil terkekeh miris. Pasalnya dia merasa sangat bodoh sekali bertahan dengan Kafka tiga tahun terakhir ini.

"Rekam dong. Aku ingin lihat bagaimana wajah sombongnya itu," ucap Luna yang sangat penasaran.

"Tapi aku lebih penasaran sama muka pucatnya Silvy sih. Dia udah kebanting banget pokoknya jika dibandingkan dengan kamu. Kafka itu matanya perlu diperiksa ke Dokter kok. Apa coba bagusnya Silvy itu? Otak aja kosong," lanjutnya.

Masuknya Silvy ke perusahaan itu karena ada saudara sudah bukan menjadi rahasia lagi. Bahkan setiap kali tidak ada CEO atau Direktur, Silvy sering bersikap seenaknya kepada karyawan lain. Sekarang ada Aruna yang mungkin akan bertindak tegas kepada orang-orang seperti Silvy. Luna sampai tak habis pikir dengan Kafka yang bisa termakan bujuk rayu dari Silvy. Dia tidak pintar atau cantik, semuanya biasa saja. Sedangkan yang diselingkuhi, punya karir cemerlang dan otak pintar.

"Yang penting bisa membuat nyaman," ceplos Aruna menanggapinya dengan santai.

"Dih... Nyaman tapi membu..."

Permisi... Ijin kami duduk di sini ya,

Eh...

1
E F
lanjuttt thor💪🙏😍
sunaryati jarum
Lha Cerai saja baru proses kok sudah mau dijodohkan
Penulis Eli: Hanya bercanda itu, kak 🙈
total 1 replies
E F
lanjutt thor💪😍
aku
bu salma dan bu lala ini kyk e mudanya bar2 sekali ya 🤣🤣 ceplas ceplos jg 🤣🤣
sunaryati jarum: Kalau sudah ketemu teman sekolah,lupa umur.Termasuk emak dan teman - sekolah .
total 1 replies
aku
dua duanya aja. gongin sama anak. 😁
Suwastika
wah...bener² ad udang d balik bakwan BS pas bgt🥰🥰
Muft Smoker
waaaah duo bestie pda garcep niih ,, tp yg pling garcep yx bu Salma 🤭🤭🤣🤣
aku
mamer dorong mantunya kenceng bgt yakk 🤣🤣 keburu amat 🤣🤣 ketok palu ja blm itu mantu 🤣🤣
E F
lanjutt thor💪😄😍
Muft Smoker
bu Salma semangat banget mau jodohin menantu ny ,,
😁😁😁😁
sunaryati jarum
Nah gitu tegas, segera visum untuk bukti.Dsn bukti perselingkuhannya sekalian
sunaryati jarum
Langsung lapor yang berwenang itu sudah penganiayaan berat mengarah pembunuhan
Puspa Sella
benci cara pikiran Aruna ini
Muft Smoker
penjara kan saja si Kafka. bu ,,
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
uphet
aduuuhhh Bu Salma d sangka mabok abis makan kecubung🤣🤣🤣
E F
tq thor🙏😍
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
aku
kayak mana gk mlongo wong kalimatnya gitu 🤣🤣🤣 aduh nenek ini 🤣🤣
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
makin seruu cerita ny
E F
😄😄
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
E F
lanjuttt thor💪😍
smangattt hempasssss cpttttt😄💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!