Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pesta Gala Pengusaha

Grand Ballroom Hotel Mulia malam itu bertransformasi menjadi lautan kemewahan yang menyilaukan mata. Lampu-lampu kristal raksasa menggantung anggun di langit-langit yang tinggi, memantulkan pendar cahaya keemasan ke atas lantai marmer yang mengilap sempurna. Ratusan pengusaha papan atas, pejabat tinggi, dan tokoh elit kota berkumpul dalam balutan busana termahal mereka, saling melempar senyum formal sembari menyesap champagne dari gelas-gelas kristal.

Di antara kerumunan tamu elit tersebut, keluarga Ibu Rosma melangkah masuk dengan perasaan yang campur aduk.

Meskipun status kepemilikan aset mereka telah beralih ke tangan Pradipta Group, kucuran dana segar seratus miliar rupiah berhasil menyelamatkan mereka dari jurang kebangkrutan seketika. Hendra kembali mengenakan setelan jas terbarunya, mencoba membusungkan dada untuk menutupi harga dirinya yang telah tergilas. Dion melangkah di samping ibunya, matanya liar memandang sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang kaya kelas atas.

"Ingat, Hendra, Dion!" bisik Ibu Rosma setengah bertekad, merapikan selendang sutranya dengan jemari yang masih sedikit gemetar. "Malam ini adalah kesempatan emas kita! Inisial R.P. di dokumen kemarin pasti hadir di pesta gala ini! Kita harus menemukan Presdir Pradipta Group itu dan memohon agar aset kita dikembalikan!"

"Benar, Bu," sahut Hendra seraya memperbaiki posisi dasinya. "Kalau kita bisa mengambil hati beliau malam ini, bukan tidak mungkin Pradipta Group akan menjadikan kita mitra abadi."

Namun, perhatian sebagian besar tamu pria di area pintu masuk mendadak teralih bukan karena kedatangan keluarga Rosma, melainkan karena sosok wanita yang berjalan di belakang mereka.

Clarissa melangkah pelan dengan kepala sedikit menunduk. Malam ini, atas paksaan ibunya agar tampil memikat di hadapan para investor, Clarissa mengenakan gaun malam backless berwarna merah menyala. Bahan sutra premium gaun tersebut membungkus erat siluet tubuhnya yang ramping, memamerkan punggung mulusnya yang putih bersih terbuka penuh hingga ke batas pinggang. Rambut hitam panjangnya disanggul anggun ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang halus tanpa perhiasan berlebihan.

Tampilan Clarissa malam itu begitu memesona namun menyiratkan duka yang mendalam. Wajah cantiknya dipoles riasan tipis yang elegan, namun matanya yang bening memancarkan kehampaan hati seorang wanita yang merindukan belahan jiwanya.

Di area mezzanine lantai dua yang bernuansa remang, Rendy Pradipta berdiri menjulang di balik pagar kaca tembus pandang.

Ia mengenakan setelan tuxedo hitam buatan penjahit terbaik Italia, dipadukan dengan kemeja putih bersahaja dan dasi kupu-kupu yang terpasang presisi. Wajah tegapnya yang tampan tampak amat berwibawa, memancarkan aura dominasi dingin yang membuat siapapun tidak berani mendekat tanpa izin. Di sampingnya, Siska berdiri anggun memegang komputer tablet, sementara Asisten Bagas berada satu langkah di belakang sang Presdir.

Dari ketinggian itu, mata hitam Rendy yang tajam mengunci satu objek yang baru saja melangkah masuk ke ballroom: Clarissa.

Pandangan Rendy merayap turun secara perlahan, seolah menguliti tubuh mantan istrinya dari kejauhan. Lirikan matanya yang intens menyusuri leher mulus Clarissa, turun menelusuri garisan lengkung bahunya yang indah, hingga mengusap punggung terbuka wanita itu yang terpapar nyata di bawah pendar lampu kristal.

Desiran hangat yang amat dikenal Rendy kembali terpercik di dalam dadanya. Gesekan lembut kulit mulus itu, kehangatan punggung Clarissa saat merapat di dadanya di malam-malam hujan, serta desahan napas pasrah wanita itu di bawah kungkungannya—seluruh kenangan sensual masa lalu seakan bangkit kembali, memanas di dalam alur darah Rendy.

Namun, raut wajah Rendy tetap tak tergerak. Bibirnya terkatup rapat dalam garis lurus yang membeku. Keindahan fisik Clarissa yang memikat tidak lagi sanggup menggoyahkan benteng keputusan yang telah diikrarkannya.

"Tuan Presdir," bisik Siska halus seraya mendekatkan diri, aroma parfum mewahnya mengusap leher Rendy. "Keluarga Ibu Rosma telah berada di area tengah ballroom. Apakah Anda ingin tim keamanan menggiring mereka keluar?"

"Tidak perlu," sahut Rendy dengan suara rendah dan berat. "Biarkan mereka menikmati malam puncaknya sebelum kenyataan menghantam mereka tepat di muka."

Sementara itu, di lantai utama ballroom, Clarissa merasa riuk-pikuk pesta ini justru kian menyiksa batinnya. Gesekan halus kain sutra gaun backless di punggungnya yang terbuka mendadak membangkitkan bayangan sentuhan jemari tegap Rendy. Dulu, setiap kali Clarissa mengenakan pakaian yang sedikit terbuka, Rendy akan memeluknya dari belakang, mengelus punggungnya dengan kehangatan penuh perlindungan seraya berbisik manja di telinganya.

Mas Rendy... kenapa di tempat semewah ini, aku justru makin merindukanmu...? bisik batin Clarissa seraya meremas tas genggam mewahnya. Air mata hampir menetes membasahi pipinya, namun ia sekuat tenaga menahannya di depan kerumunan orang.

Tiba-tiba, tata cahaya di dalam Grand Ballroom perlahan meredup. Cahaya lampu sorot (spotlight) putih yang amat terang terpusat lurus ke arah panggung utama.

Suara musik instrumental yang megah menggelegar dari sistem tata suara premium, seketika membungkus keriuhan seluruh tamu undangan. Seorang pembawa acara kawakan berpakaian resmi melangkah ke tengah panggung dengan mikrofon berlapis emas di tangannya.

"Selamat malam, para tamu undangan yang terhormat!" suara pembawa acara mengudara nyaring dan bergema di seluruh penjuru ruangan. "Malam ini adalah malam yang amat bersejarah bagi ekosistem bisnis negeri ini. Kita berkumpul untuk menyambut penguasa baru yang telah mengambil alih seluruh kendali investasi utama di kota kita!"

Ibu Rosma seketika menarik lengan Hendra dan Dion dengan napas memburu panik. "Hendra! Dion! Dengarkan itu! Pimpinan Pradipta Group akan keluar!"

"Ayo kita maju ke depan panggung, Bu!" bisik Dion penuh ambisi, menyikut kerumunan tamu untuk memberi jalan bagi ibunya. Clarissa hanya tertekan mengekor dari belakang, dadanya berdegup kencang oleh gelombang firasat asing yang kian membesar.

Di atas panggung, pembawa acara tersenyum lebar seraya merentangkan tangannya ke arah tangga samping panggung eksekutif.

"Tanpa memperpanjang waktu lagi," teriak pembawa acara penuh nada dramatis, "mari kita sambut dengan tepuk tangan paling meriah... Pemilik Kuasa Tertinggi dan Presiden Direktur Utama Pradipta Group... Bapak Rendy Pradipta!"

Sambungan Bab 19

Gema tepuk tangan meriah dan dentuman musik simfoni membumbung tinggi menembus langit-langit Grand Ballroom. Cahaya lampu sorot putih yang sangat terang meluncur dari atas, mengunci sosok tegap yang perlahan melangkah keluar dari kegelapan tangga VIP menuju tengah panggung.

Setelan tuxedo hitam yang melekat sempurna di tubuh atletisnya memancarkan keagungan yang mutlak. Dengan langkah tegap, santai, namun sarat akan wibawa seorang penguasa tertinggi, Rendy Pradipta berdiri tepat di bawah pijaran lampu utama.

Waktu seolah terhenti bagi keluarga Rosma.

Ibu Rosma yang semula bersiap memasang senyum memelas di depan panggung seketika membeku. Matanya terbelalak lebar, mulutnya ternganga tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara dadanya naik turun dihantam rasa syok yang teramat dahsyat.

Dion di sampingnya mematung bagai patung es. Ponsel yang dipegangnya terlepas begitu saja dari jemarinya, menghantam lantai marmer dengan bunyi clack yang tak terhiraukan. Wajahnya yang semula angkuh berubah pucat pasi bak mayat, lututnya gemetaran hebat menyaksikan pria yang selama tiga tahun ini ia panggil kuli dan penjahat... kini berdiri di panggung tertinggi sebagai pemilik triliunan harta.

Hendra menyapu keringat dingin yang mengucur deras di dahinya, menyadari bahwa takhta yang selama ini ia banggakan tak lebih dari sebutir debu di bawah kaki mantan adik iparnya.

Di belakang mereka, Clarissa menggigit bibirnya kuat-kuat. Gaun backless merah yang membalut tubuhnya terasa amat dingin. Matanya yang sembap menatap lurus ke arah Rendy di atas panggung—pria yang pernah memeluknya di atas kasur busa kusam, pria yang bibirnya baru saja menyesap bibirnya di parkiran, dan pria yang kini secara resmi telah berdiri jauh di luar jangkauannya.

Rendy memegang mikrofon emas di hadapannya. Manik matanya yang tajam dan dingin menyapu seluruh ruangan, sebelum akhirnya berhenti rapat dan mengunci wajah-wajah pucat keluarga mantan istrinya di garis depan panggung.

"Selamat malam," suara Rendy mengudara—berat, tenang, dan menggelegar menghantam ulu hati mereka yang pernah menindasnya. "Permainan baru saja dimulai."

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!