Indonesia
NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28 ancaman skorsing

“Hak saya sebagai Procurement Manager untuk menentukan apakah Anda layak atau tidak. Dan bagi saya, Anda sama sekali tidak layak!” cetus Alya angkuh, menyilangkan tangan di dada.

“Alasannya apa?” tanya Amira tenang.

“Oh, itu urusan internal perusahaan kami. Anda tidak perlu tahu!”

“Setidaknya Anda memberikan alasan yang jelas dan masuk akal secara profesional,” balas Amira tajam.

Alya menyeringai tipis. “Alasannya sederhana... karena saya tidak suka. Cukup, kan?”

Adam yang duduk di samping Alya langsung mengernyitkan dahi. Ia sangat tidak menyukai sikap Alya yang terkesan murahan dan sama sekali tidak profesional. Selama beberapa hari terakhir, Adam sudah mendampingi Alya bertemu dengan beberapa calon vendor, namun baru kali ini ia melihat sikap Alya yang begitu emosional dan tanpa dasar.

Rika yang geram hendak menyembur, namun Amira dengan cepat mengangkat tangan, memberi isyarat agar temannya itu tetap tenang.

“Baiklah kalau Anda memang menolaknya, tidak masalah,” Amira menarik napas panjang. “Perusahaan ini adalah tujuan pertama kami. Jika Anda menolak, kami tinggal melangkah ke perusahaan lain. Hanya saja... sangat disayangkan perusahaan raksasa seperti ini memiliki standar Procurement yang tidak profesional. Setidaknya jika menolak, berikan transparansi yang jelas.”

“Sudahlah! Kalau perusahaan besar seperti kami saja menolakmu, jangan harap perusahaan lain mau menerima!” Alya tertawa sinis. “Tapi... kalau kamu mau berlutut meminta maaf dan memohon padaku, mungkin akan kutimbangkan lagi.”

Amira menaikkan sebelah alisnya, menatap Alya dengan pandangan prihatin. “Apakah Anda sedang berusaha menyalahgunakan jabatan demi kepuasan pribadi? Bukankah ini sudah sangat melanggar etika bisnis?”

“Omong kosong!” potong Alya galak. “Tahu apa kamu tentang etika bisnis?!”

“Oh, begitu? Selain menyalahgunakan wewenang jabatan, ternyata Anda juga hobi merendahkan calon mitra?” sindir Amira penuh wibawa.

“Cukup!” Alya berdiri seraya menunjuk pintu. “Pergi kalian dari sini!”

Amira dan Rika hendak membereskan berkas mereka untuk beranjak pergi. Namun tiba-tiba, pintu ruang rapat terdorong keras. Seorang pria tampan bersetelan kemeja rapi melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Tanpa menyapa siapa pun, pria itu langsung mendekati meja rapat dan membungkuk, menghirup aroma dari kotak-kotak sampel makanan yang dibawa Amira.

Alya terperanjat setengah mati. “T—Tuan Yamada?! Kenapa Anda ke sini?”

Ibu Santi, sekretaris pribadi Yamada yang mengekor di belakang, segera mengangkat tangan ke arah Alya—sebuah isyarat tegas agar Alya mengunci mulutnya.

Sementara itu, Yamada memejamkan mata, meresapi aroma rempah yang membumbung hangat dari kotak makanan tersebut.

“Siapa... siapa yang membuat makanan ini?” tanya Yamada dengan mata berbinar.

Alya mendahului hendak menjawab, tetapi Amira lebih cepat bersuara, “Kami, Pak.”

Yamada menoleh dan menatap wajah Amira dengan seksama. Ada rasa hangat dan perasaan yang sangat familier berdesir di dadanya, walau ia tidak tahu pasti dari mana asal perasaan itu.

“Oh, kamu...” gumam Yamada. “Lalu, apa tujuan kalian berada di ruangan ini?”

“Tuan Yamada, mereka ini mengajukan diri untuk menjadi mitra catering perusahaan kita,” potong Alya buru-buru, mencoba menyusun alasan logis. “Makanan mereka mungkin enak, Tuan. Tapi mereka ini hanyalah perusahaan kecil yang kurang modal. Saya khawatir jika diterima, mereka tidak sanggup menjaga konsistensi kerja sama. Perusahaan kita butuh stabilitas, Tuan.”

“Oh, kalian ingin menjadi mitra kami?” ucap Yamada. Matanya sama sekali tidak berpaling dari kotak-kotak sampel makanan di atas meja.

Amira tersenyum sopan. “Tuan, sebaiknya Anda mencicipi makanan kami terlebih dahulu sebelum menilai.”

Yamada menoleh ke kiri dan ke kanan, tampak agak ragu karena etika formal kantor.

“Kami datang ke sini khusus untuk menjadi vendor Anda,” tambah Amira dengan nada menyakinkan. “Sangat wajar jika Anda mencicipinya terlebih dahulu sebagai bagian dari evaluasi produk. Jadi, mencicipinya di sini bukanlah hal yang tidak sopan.”

“Ah! Kamu benar sekali!” sahut Yamada gembira. “Aku sedang menjadi tester kalian, kan?”

Tanpa rasa canggung apalagi gengsi, sang CEO raksasa Jepang itu langsung mengambil sendok dan menyantap sampel masakan Amira. Yamada menikmati setiap kunyahannya, memejamkan mata menghayati perpaduan rasa yang begitu sempurna meresap di lidahnya. Ibu Santi dengan sigap menyodorkan segelas air minum.

Setelah makanan di kotak itu ludes tanpa sisa, mata Yamada semakin berbinar cerah.

“Apakah kamu pemilik kedai ramen yang tadi pagi?” tanya Yamada mantap.

“Benar sekali, Tuan.”

“Ah, tapi harus kuakui, perusahaan kalian saat ini memang masih skala kecil,” ujar Yamada jujur.

Alya yang mendengar itu langsung memasang wajah puas. “Tuan, seperti yang saya katakan tadi, mereka memang tidak layak bekerja sama dengan kita!”

Ibu Santi menghela napas panjang dalam hati. Ia tahu betul tabiat Tuan Yamada—sang CEO paling benci jika pembicaraannya disela, apalagi oleh bawahan yang gemar mengambil kesimpulan dangkal tanpa analisis data. Ibu Santi hendak menegur Alya, tetapi Yamada sudah lebih dulu mengangkat tangannya.

Yamada menunjuk kotak makanan Amira. “Catatan dariku, kotak makanan ini jangan menggunakan kemasan plastik seperti ini lagi. Walau ini food grade, harganya mahal dan perusahaan kita sedang menggalakkan pengurangan sampah plastik. Harusnya kalian menggunakan bahan yang ramah lingkungan, misalnya daun pisang. Walau sedikit rumit, penggunaan daun pisang justru bisa memberdayakan petani lokal di sekitar dan menyerap banyak tenaga kerja.”

Amira sempat terpana. Ia bingung apakah Yamada ini sedang menolaknya atau malah memberikan bimbingan bisnis.

Alya yang tidak mau kalah kembali menyambar, “Tuan, seperti yang saya katakan, mereka ini UMKM kecil. Mana mungkin sanggup mengikuti standar ketat kita? Apalagi sistem pembayaran di perusahaan kita menggunakan sistem tempo!”

Seketika atmosfer di ruang rapat membeku. Yamada memutar tubuhnya, menatap Alya lurus-lurus. Tatapannya mendadak menjadi sangat tajam, kedua alisnya bertaut berat.

“Apakah kamu sudah membuat estimasi perbandingan dengan standar harga kita, masuk atau tidak?” cecar Yamada dingin. “Apakah kamu sudah melakukan survey langsung ke lokasi dapur mereka untuk memastikan kebersihannya? Apakah kamu sendiri sudah mencicipi makanan ini? Dan... apakah kamu sudah memberikan mereka masa percobaan untuk dirasakan oleh 5 persen karyawan kita secara acak sesuai SOP? Jawab!”

Alya mendadak mematung. Lidahnya kelu. Ia sama sekali tidak melakukan satu pun dari prosedur resmi itu karena kebutaan rasa dendamnya pada Amira.

Yamada mengalihkan pandangannya kembali pada Amira. “Kapan Anda bisa mengajak saya berkunjung dan melihat langsung dapur pembuatan makanan Anda?”

Sontak seluruh orang di ruangan itu terperanjat kaget, termasuk Rika dan Adam. Seorang CEO dari holding perusahaan multinasional ingin turun tangan langsung meninjau dapur vendor UMKM? Ini adalah tugas lapangan sangat sepele yang tidak seharusnya menyita waktu seorang pimpinan tertinggi!

“Kapan pun Anda ada waktu, Tuan. Kami menyesuaikan dengan agenda Anda,” jawab Amira tenang dan profesional.

Yamada menoleh pada sekretarisnya. “Santi, periksa jadwal harian saya! Kapan ada waktu luang?”

Ibu Santi dengan cepat memeriksa tablet di tangannya. “Lusa Anda memiliki waktu luang dua jam, Tuan. Tepat sebelum jadwal penerbangan Anda ke Tokyo.”

“Ah, aku harus terbang ke Tokyo lagi, ya?” desah Yamada agak jengkel. “Ya sudah, jadwalkan dua jam luang itu untuk berkunjung ke dapur milik Bu Amira.”

“Baik, Tuan. Sudah saya catat,” jawab Ibu Santi sigap.

Alya yang merasa posisinya terancam makin tidak terima. “Tapi Tuan! Mereka benar-benar perusahaan kurang modal! Mereka tidak layak—”

“Kenapa dari tadi kamu gigih sekali ingin menolak mereka?!” potong Yamada dengan nada menekan. “Kamu tahu dari mana mereka mampu atau tidak?!”

“S—saya kenal dia, Pak! Mereka memang hanya dari UMKM biasa!” jawab Alya terbata-bata.

“Oh, UMKM lokal?” Yamada justru mengangguk-angguk. “Kalau begitu, terapkan kebijakan khusus UMKM! Berikan mereka DP sebesar 50 persen di muka, dan sisanya dilunasi seminggu setelah tagihan resmi diajukan!”

“Tuan?!” Alya membelalak tak percaya.

Ibu Santi melangkah maju dan menatap Alya dengan dingin. “Alya, perusahaan kita memang memiliki regulasi khusus untuk mendukung pemberdayaan UMKM lokal. Kamu seharusnya paham aturan itu.”

Sebelum Alya sempat membela diri lagi, Yamada berpaling ke sekretarisnya. “Santi, beritahu Direktur SDM untuk mengevaluasi total kinerja dan kelayakan posisi Procurement Manager ini hari ini juga!”

DEG!

Alya dan Adam seketika membeku bagaikan disambar petir. Keringat dingin meluncur deras membasahi punggung Adam, membuat kemejanya basah kuyup meski pendingin ruangan disetel pada suhu 17 derajat Celsius. Posisi jabatan yang baru saja ia banggakan kini berada di ujung tanduk pembatalan!

“Baik, Tuan. Segera saya proses ke bagian HRD,” sahut Ibu Santi tegas.

Yamada kembali menatap Amira dengan raut bersahabat. “Baiklah, lusa siapkan semuanya di dapur Anda. Jika proses dan kebersihannya memuaskan, kita akan langsung menandatangani kontrak kerja sama.”

“Terima kasih banyak, Tuan Yamada,” Amira berdiri anggun, lalu membungkukkan badan memberikan penghormatan khas ala Jepang yang sangat sempurna.

Yamada tersenyum puas. Ia masih berdiri di tempatnya, menatap kotak bekas makanan Amira dengan tatapan penuh kenangan.

“Tuan, para direksi sudah menunggu Anda di ruang rapat utama sejak 15 menit yang lalu,” bisik Ibu Santi mengingatkan.

“Ah, benar! Hampir saja aku lupa!” seru Yamada terkekeh pelan. Ia merapikan jasnya, mengangguk ramah pada Amira dan Rika, lalu melangkah keluar ruangan diikuti Ibu Santi.

Rika menarik napas lega seraya berbisik heboh di telinga Amira, “Duh, ganteng banget Tuan Yamada itu, Mir!”

Amira hanya tersenyum tipis, namun matanya menatap pintu yang baru saja tertutup dengan kening berkerut. Kenapa... ketegasan dan tatapan mata Tuan Yamada terasa tidak asing sama sekali ya?

Di sisi lain ruangan, Alya mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih. Napasnya memburu menahan malu dan amarah yang meluap. Sementara Adam di sampingnya tertunduk lesu, tubuhnya gemetar ketakutan dibayang-bayangi kehancuran karir dan pemecatan yang sudah di depan mata.

1
sunaryati jarum
Semoga keluarga Amira
sunaryati jarum
Mulai jadi pemuas sang penguasa,Sonia
sunaryati jarum
O mau jadi wanita simpanan ,Sonia.Tapi Yamamoto tak akan pernah menyentuh Amira
@Mita🥰
wiiiih mungkin kakak nya Amira
@Mita🥰
pasti anak buah kakek Amira yang bikin unggah an Amira hilang
YuWie
anak siapakah kamu amir
sunaryati jarum
Mungkin kau putri pebisnis besar yang diculik dan ditinggalkan di panti asuhan
YuWie
rung sadar kan..malah tambah dodro..alias tambah kebangetan niat jahatnya
YuWie
benar kata pak polisi..bertele tele
Suanti
sonia tak pernah kapok klu kejadian lgi sm amira jgn mau pki jln damai jeblos kan aja ke penjara biar kapok 🤭
sunaryati jarum
Keluarga pak Diki tidak waras semua kecuali Pak Diki
@Mita🥰
ealah ..alah bukan nya sadar malah makin menjadi
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 nah sekarang tahu kan
Suanti
sdh lah amira jeblos kan aja sonia ke penjara byk btl cerita keluarga mantan mu yg toxin 🤣🤣
Suanti
beri hukuman setimpal amira jangan mau jln damai biar kan aja di penjara biar tau rasa mantan keluarga toxin 🤭🤣
YuWie
Luar biasa
santi damayanti: terimakasih kaka
total 1 replies
YuWie
bacottt..ciatt..tendang aja al
YuWie
ngerti anak yatim piatu malah diperas.. situ waras
Suanti
jgn2 pria tua itu bpk nya amira atau kakek nya, amira 🤣🤣
Suanti
dasar keluarga toxin selalu salah kan amira 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!