Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Akal akalan mertua
---
Sore hari, aku pulang dengan membawa kabar baik. Begitu sampai di rumah, kulihat Mas Viyan sedang menyiram tanaman.
"Mas."
"Kok enga bilang kalau mau pulang?"
"Maaf mas, kalau aku bisa pulang sendiri ya engga papa kok. Oh ya mas, Aku tadi dipanggil atasan."
"Dipanggil kenapa? Ada masalah?"
"Bukan mas..emm mungkin aku akan dipromosikan."
Wajah Mas Viyan langsung berbinar. "Serius?"
Aku mengangguk penuh semangat. "Iya. Kalau semua prosesnya lancar."
Mas Viyan spontan memelukku. "Selamat, Sayang. Aku bangga sama kamu."
Belum sempat aku membalas pelukannya, terdengar suara Bu Mirna dari balik pintu.
"Bangga?" Ucap mertuaku.
Kami langsung menoleh. Bu Mirna berdiri sambil melipat kedua tangan di dada.
"Bangga karena istrimu nanti lebih sibuk?"
Mas Viyan menghela napas.
"Ma... Kenapa mama begitu? Kalau jadi naik jabatan...gajinya pasti naik."
"Lalu?"
"Itu kan bagus."
Bu Mirna tertawa kecil. "Bagus buat siapa?"
"Buat keluarga Ma."
"Ah. Perempuan kalau kebanyakan uang...nanti lupa sama dapur."
Aku menggigit bibir bawah. Kalimat itu terasa menusuk.
Namun yang lebih mengejutkanku adalah ucapan berikutnya.
"Pak." Panggil Bu Mirna kepada suaminya.
"Coba Bapak nasihati. Kalau perlu...suruh saja Fitri berhenti kerja."
Pak Haris memandangku beberapa detik. Kemudian berkata dengan nada tenang.
"Fitri. Bapak tidak melarang kamu bekerja. Tapi...jangan sampai karier membuatmu lupa kodrat sebagai istri."
Aku mengangguk sopan. "Saya akan ingat itu, Yah. Tapi saya juga tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang sudah diberikan kantor."
Pak Haris tidak menjawab. Beliau hanya menghela napas.
---
Malam itu, saat semua orang sudah tidur, Bu Mirna kembali menghubungi seseorang melalui telepon.
"Bu Lilis."
"Iya."
"Besok kalau Fitri datang ke kantor...tolong telepon dia berkali-kali. Bilang saja ada pekerjaan mendadak di rumah. Kalau perlu..buat atasannya melihat kalau dia sering meninggalkan pekerjaan. Kalau kariernya hancur...dia pasti berhenti sendiri." Ucap Bu mirna.
Bu Mirna tersenyum puas. Beliau tidak sadar... Di balik pintu dapur, ada sepasang mata yang baru saja menyaksikan semuanya. Bukan Fitri. Bukan pula Mas Viyan. Melainkan seseorang yang sama sekali tidak disangka-sangka. Seseorang yang mulai mempertanyakan...Apakah selama ini istrinya telah bertindak terlalu jauh.
Suara langkah kaki terdengar pelan dari arah dapur. Bu Mirna yang baru saja menutup panggilan teleponnya tidak menyadarinya. Beliau masih tersenyum puas sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Kalau pekerjaannya berantakan..biar tahu rasanya jadi perempuan."
Namun, saat hendak kembali ke kamar, beliau mendadak berhenti.
"Pak?" Pak Haris berdiri beberapa meter di belakangnya.
Wajahnya datar. Tatapannya sulit ditebak.
"Belum tidur?" tanya Bu Mirna sedikit gugup.
"Tadi mau minum."
"Oh..."
Bu Mirna berusaha tersenyum seperti biasa. "Ayo tidur."
Namun Pak Haris tidak langsung bergerak. "Bapak dengar sedikit."
Jantung Bu Mirna berdegup lebih cepat. "Dengar apa?"
"Tentang telepon tadi."
Bu Mirna tertawa kecil. "Ah, itu cuma bercanda sama Bu Lilis."
"Bercanda?"
"Iya."
"Mana mungkin Mama benar-benar mau mengganggu pekerjaan Fitri."
Pak Haris memperhatikan wajah istrinya cukup lama. "Jangan sampai."
Hanya dua kata itu yang keluar dari bibirnya. Setelah itu beliau berjalan menuju kamar.
Sementara Bu Mirna mengembuskan napas lega. "Hampir saja..." gumamnya lirih.
---
Keesokan paginya. Aku bersiap berangkat ke kantor seperti biasa. Saat sedang mengenakan sepatu, Pak Haris memanggilku.
"Fitri."
"Iya, Yah?"
"Kamu hari ini ada rapat lagi?"
"Iya, Yah."
"Semoga lancar."
Aku sedikit terkejut. Biasanya beliau hanya mengangguk tanpa banyak bicara.
"Terima kasih, Yah."
Dari sudut mataku, kulihat Bu Mirna melirik suaminya dengan heran. Namun beliau tidak berkata apa-apa.
---
Di kantor. Hari itu benar-benar sibuk. Sejak pagi aku berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.
Menyiapkan dokumen, Mengecek laporan, Membantu tim administrasi. Sekitar pukul sepuluh, ponselku berdering.
Bu Lilis.
Aku mengernyit. Aku memang mengenal Bu Lilis. Beliau tetangga sekompleks namun agak jauh dari rumah. Aku mengangkat telepon itu.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam."
"Fitri, kamu di mana?"
"Di kantor, Bu."
"Oh... Ibu cuma mau bilang, Mama mertuamu tadi katanya pusing."
Aku langsung berdiri.
"Pusing, Bu?"
"Iya."
"Tapi enggak tahu juga sekarang."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Telepon ditutup. Aku segera menghubungi Bu Mirna.
Tidak diangkat. Aku mencoba lagi.
Tetap tidak diangkat. Aku mulai cemas.
Akhirnya aku menghubungi Mas Viyan.
"Mas."
"Iya, Sayang?"
"Mama sakit?"
"Hah? Enggak loh. Barusan Mas video call sama Mama. Mama ke minimarket liatin belanjaan nya"
Aku terdiam.
"Loh...Tadi Bu Lilis bilang Mama pusing."
"Pusing? Enggak kok. Mas baru lima menit lalu ngobrol sama Mama. Kenapa bu Lilis ngomong gitu ke kamu ya?" Ucap suamiku heran.
"Enggak tau mas.. Aku juga belum pernah ketemu mas."
"Ya udah, kalau dia telpon lagi, kamu bilang aja. Mama baik-baik saja begitu ya. Kamu jangan khawatir ya sayang"
"Iya mas.. ya sudah aku mau lanjut kerja lagi mas."
Dadaku mendadak tidak enak. Kenapa ceritanya berbeda?
---
Siang hari. Aku pulang tepat waktu. Begitu sampai di rumah, kulihat Bu Mirna sedang menyiram bunga sambil bersenandung pelan. Wajahnya segar.
Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit.
"Sudah pulang?" Ucap nya.
"Iya, Ma."
"Kata Bu Lilis Mama tadi pusing."
"Oh...Sedikit. Sekarang sudah sembuh."
Aku hanya mengangguk. Entah kenapa... Jawaban itu terasa dipaksakan.
-----
Malam semakin larut. Saat semua orang sudah masuk kamar, Dinda menghampiri ibunya.
"Ma."
"Iya?"
"Kenapa sih Mama repot-repot ngurusin kerjaannya Mbak Fitri?"
Bu Mirna tersenyum tipis. "Kamu belum paham."
"Maksudnya?"
"Kalau Fitri punya jabatan. Punya gaji besar. Nanti Viyan semakin nurut sama istrinya."
Dinda mengangguk pelan.
"Oh..."
"Mama enggak boleh sampai kalah."
"Tapi Abang sekarang mulai berubah."
"Itulah yang Mama takutkan."
Bu Mirna mengepalkan tangannya.
"Selama ini...yang paling nurut sama Mama itu Viyan. Kalau sekarang dia lebih mendengarkan istrinya...Mama kehilangan kendali."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Tanpa disadari Bu Mirna... Pintu kamar tamu belum tertutup rapat. Dan sekali lagi... Pak Haris mendengar semuanya.
Kali ini bukan tentang pekerjaan Fitri. Melainkan pengakuan yang jauh lebih mengejutkan.
Bahwa selama ini... Yang diperjuangkan istrinya bukanlah keharmonisan keluarga. Melainkan mempertahankan kendali atas anaknya sendiri.
**
Pagi itu suasana rumah terasa lebih sunyi. Pak Haris duduk sendirian di teras sambil menikmati secangkir kopi. Namun sejak semalam, pikirannya tidak tenang.
Ucapan Bu Mirna terus terngiang di kepalanya.
"Kalau Viyan lebih mendengarkan istrinya... Mama kehilangan kendali."
Kalimat itu terasa asing. Selama puluhan tahun menikah, baru kali ini beliau mendengar istrinya mengucapkan hal seperti itu.
Bersambung...