Olivia Kania Smith mati dengan tragis ditangan adik angkatnya.
Olivia tidak tahu selama ini, kenapa keluarga kandungnya begitu sangat membencinya, dan bahkan juga teman-temannya sangat membencinya.
Mereka lebih percaya, dan perhatian kepada adik angkat Olivia.
Hingga pada detik terakhir Olivia akan mati, barulah ia tahu kenapa semua orang sangat membencinya.
Suara hati adik angkatnya dapat didengar semua orang, kecuali dia!
Siapa sangka, setelah kematian tragisnya, ia dapat mengulang kembali kehidupannya, dan dapat mendengar suara hati adik angkatnya.
Bagaimana sikap Olivia menghadapi keluarga kandungnya, setelah kehidupan ke duanya untuk membalas sakit hatinya pada kehidupan sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12.
"Iya, iya! benar kepala keluarga Sebastian!!" David ikut buka suara membenarkan apa yang dikatakan Ayahnya.
Olivia melemparkan pandangan matanya ke arah David, melihat kakaknya itu begitu bersemangat mengadu kepada Vincent.
"Dia sudah berani memukul kakaknya sendiri, dan bahkan memukul Mamanya!!!"
Wajah Mariana terlihat semakin geram memandang Olivia, begitu David menyebutkan dirinya yang telah dipukul Olivia.
"Jadi, wajar kalau dia harus diberi pelajaran!!!" dengan penuh emosi, David mengatakannya dengan menggebu-gebu menunjuk ke arah Olivia.
Olivia melemparkan semua bunga yang ia raup dari dalam vas ke lantai.
"Kalian ternyata memang benar sudah menyakitinya, kalian sungguh berani sekali, ya??"
Sungguh tidak terduga, Vincent justru dapat melihat kalau keluarga Smith lah yang telah menindas Olivia.
Lydia yang terus memperlihatkan wajah yang tersakiti, tersentak mendengar tanggapan Vincent mendengar semua penjelasan Albert dan David.
Vincent menoleh ke arah Lydia yang berdiri meringkuk seperti gadis yang lemas, dan sangat menyedihkan.
"Kau pasti Lydia, kan??"
Suara dingin dan tatapan dingin Vincent memandang ke arahnya, membuat Lydia semakin erat menggenggam liontinnya.
"Ayo, hajar!!" Olivia mengangkat tangannya memberi kode.
Mendengar dan melihat kode tangan Olivia, Vincent pun mengangkat tangannya memberi kode kepada anak buahnya.
"Ayo, hajar!!" perintahnya.
Salah satu dari bawahan Vincent bergegas menghampiri Olivia, lalu mengulurkan ke dua tangannya untuk menerima vas dari Olivia.
Olivia meletakkan vas yang ia pegang ke atas kedua tangan anak buah Vincent yang terulur.
"Jangan mendekat!!!"
Lydia tiba-tiba berteriak ketakutan mengangkat ke dua tangannya, untuk melindungi wajahnya, begitu melihat anak buah Vincent datang menghampirinya.
"Aaaa.. !!!" teriaknya.
Vas bunga belum mengenai kepalanya ia sudah menjerit kesakitan.
"Heh!!" David sontak mendelik ke arah pengawal Vincent yang akal memukul kepala Lydia.
Mariana juga berusaha melindungi Lydia dari hantaman vas bunga.
"Tahan mereka bertiga!!" perintah Vincent.
Dengan cepat anak buah Vincent mengamankan David.
Mata David membulat, "Tidak!!"
Lengan David dengan cepat di cengkraman anak buah Vincent, lalu memutarnya ke balik punggung David.
Di susul kemudian dengan Mariana dan Albert.
"Olivia! kau sudah gila!!!" mata David melotot memandang Olivia, dengan wajah yang kembali merah padam.
"Lydia itu adik kandungmu! kenapa kau begitu tega padanya!!!" teriak David dengan keadaan tubuh membungkuk, karena cengkraman tangan anak buah Vincent, memutar lengannya ke balik punggungnya.
Olivia mendengus dingin setengah tertawa kecil mendengar teriakan David.
"Dia bukan adik kandung! kalau pun adik kandung, aku Olivia Kania Smith, tidak akan mengakuinya sebagai adik kandung!!"
Lydia yang takut dipukul dengan vas, masih berdiri sembari melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kalian semua menganggap, kalau aku benar yang melempar vas padanya! maka aku akan perlihatkan pada kalian, luka asli dilempar dengan vas itu seperti apa!!!"
Lydia di tempatnya semakin cemas dan panik, sembari terus tangannya melindungi wajahnya.
Pada keningnya hanya terlihat seperti lebam saja, tidak terlihat adanya luka di sana.
"Olivia sudah gila, benar-benar sudah gila! kalau aku memang benar akan dilempar dengan vas, lukanya tidak akan bakalan seperti ini" bisik Lydia bergumam pada dirinya sendiri.
Sudut bibir Olivia menyunggingkan senyuman melihat Lydia yang tampak panik.
Olivia dapat melihat Lydia bergumam sendiri dengan cemas.
Mariana yang berdiri satu langkah dari Lydia, tidak mendengar gumaman pelan Lydia yang terlihat begitu panik.
Lydia! sekarang kau tidak dapat menghindar lagi! bisik hati Olivia memandang Lydia, yang masih saja terus menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
( Mungkin karena melihat Papa Mama begitu sayang samaku, makanya kakak ingin membunuhku! )
Lydia memberi sinyal suara hatinya untuk didengar semua orang, agar Vincent membatalkan perintahnya untuk memukulnya dengan vas bunga.
Bersambung......
..