Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga pucat yang menembus jendela kaca raksasa di lantai lima puluh.

Di dalam ruangan CEO yang didesain serba putih dan modern itu, Kiara Prameswari duduk bersandar di kursi kulit mahalnya.

Tangannya memijat pelan pelipisnya yang berdenyut hebat, mencoba mencerna rentetan kejadian gila yang terjadi hari ini.

Tiga ketukan pelan terdengar dari pintu ruangan, diikuti oleh suara pintu kayu ek solid yang terbuka perlahan.

Genta melangkah masuk dengan sangat santai, masih mengenakan seragam kebersihannya yang kusam, kontras dengan kemewahan ruangan itu.

"Nona Kiara memanggil saya?" tanya Genta berdiri beberapa langkah dari meja kerja istrinya, tangannya santai dimasukkan ke dalam saku celana.

Kiara menatap Genta lekat-lekat, mencoba mencari celah atau kebohongan di balik wajah santai pemuda itu.

"Duduklah," perintah Kiara singkat dengan nada suara yang sedikit lebih lembut dari biasanya, meski tetap dingin.

Genta mengangguk pelan dan menjatuhkan tubuhnya di sofa tamu yang empuk, tidak peduli debu di bajunya mungkin mengotori kain mahal itu.

"Aku sudah memeriksa rekaman CCTV lobi berulang kali," ucap Kiara membuka percakapan, matanya mengunci tatapan Genta.

"Cara kau menekan titik leher Tuan Surya, dan kecepatan refleksmu menjatuhkan dua pengawal elit Adhitama hari ini."

"Semua itu tidak mungkin hanya kebetulan belaka atau hasil belajar asal-asalan dari buku kuno."

Kiara mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagu dengan kedua tangannya yang lentik.

"Siapa kau sebenarnya, Genta? Apa tujuan utamamu datang ke kota ini, dan apa yang guru gunungmu itu rencanakan?" desak Kiara tanpa basa-basi.

Genta bersandar rileks di sofa, membalas tatapan tajam istrinya itu dengan senyum tipis yang penuh rahasia.

"Aku sudah mengatakan yang sejujurnya, Nona Kiara. Aku hanya Genta, murid tunggal dari kakek tua yang tinggal di gubuk reyot."

"Tujuanku hanya satu, mengantarkan wasiat terakhir guruku. Jika kau masih tidak percaya, itu bukan urusanku."

Genta sengaja tidak membeberkan apa pun, dia tahu membiarkan wanita arogan ini menebak-nebak akan jauh lebih menyenangkan.

Kiara mendengus kesal, merasa dipermainkan karena tidak bisa menembus pertahanan mental pria udik di depannya ini.

Tepat saat Kiara hendak mencecar Genta dengan pertanyaan lain, dering telepon darurat khusus di meja kerjanya meledak nyaring.

Wajah Kiara langsung menegang, dia buru-buru mengangkat gagang telepon merah itu dengan tangan sedikit gemetar.

"Ya, ini Kiara... Apa?! Bagaimana mungkin?!"

Suara Kiara mendadak melengking panik, wajahnya yang cantik seketika berubah pucat pasi seperti mayat.

"Tahan kondisinya dengan alat apa pun! Aku akan segera ke sana sekarang juga!"

Kiara membanting gagang telepon itu dengan keras, napasnya memburu dan matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.

"Kakek... detak jantung kakek nyaris berhenti, tim dokter sudah angkat tangan," gumam Kiara dengan suara bergetar, pertahanan esnya hancur total.

Tanpa mempedulikan penampilannya, Kiara langsung menyambar tasnya dan berlari setengah panik menuju pintu keluar.

"Kita ke Rumah Sakit Pusat sekarang, paman-pamanku pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk menyingkirkanku!" teriak Kiara pada Genta yang masih duduk tenang.

Genta hanya mengangkat alisnya pelan, dia berdiri tanpa terburu-buru dan mengikuti langkah panik istrinya masuk ke dalam lift eksekutif.

Di dalam mobil mewah yang melaju membelah kemacetan sore hari, suasana terasa sangat mencekam dan dingin.

Kiara terus menggigit kuku jarinya dengan gelisah, air mata tanpa sadar menetes dari sudut matanya meratapi nasib kakeknya.

Genta yang duduk di sampingnya hanya diam memperhatikan, menilai seberapa dalam rasa sayang wanita es ini pada keluarganya.

Tiga puluh menit kemudian, mobil mereka tiba di pelataran VIP Rumah Sakit Pusat Kota yang dipenuhi oleh belasan mobil mewah lainnya.

Kiara berlari terbirit-birit menyusuri lorong panjang menuju ruang ICU khusus di lantai VVIP, sementara Genta mengikuti di belakangnya dengan santai.

Di depan ruang kaca ICU tersebut, puluhan anggota keluarga Prameswari sudah berkumpul dengan raut wajah yang berbeda-beda.

Ada yang menangis histeris secara berlebihan, ada pula yang berbisik-bisik licik dengan senyum tertahan di sudut bibir.

Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan jas mahal melangkah maju menghalangi jalan Kiara.

Dia adalah Hermawan Prameswari, paman pertama Kiara yang selama ini paling gencar mencoba merebut kursi CEO.

"Kiara, akhirnya kau datang juga," ucap Paman Hermawan dengan nada suara yang dibuat-buat sedih.

"Tim dokter spesialis luar negeri yang kusewa sudah menyerah, Kakekmu hanya punya sisa waktu kurang dari sepuluh menit sebelum mesin dilepas."

"Sebaiknya kau segera menandatangani surat pengalihan saham sementara kepadaku agar perusahaan tidak hancur saat kakek pergi," desak Hermawan tanpa malu-malu menunjukkan niat aslinya.

Kiara menatap pamannya itu dengan pandangan jijik yang luar biasa mendalam.

"Kakek masih bernapas, dan kau sudah berani membicarakan pembagian harta warisan di depan pintu ruangannya?!" bentak Kiara murka.

"Minggir, aku ingin melihat kakekku!"

Paman Hermawan mendengus sinis, dia melirik ke arah Genta yang berdiri diam di belakang Kiara dengan balutan seragam kebersihan lusuhnya.

"Kau membawa gembel gunung ini kemari? Mau mempermalukan keluarga kita di saat-saat terakhir ayahku?" cibir Hermawan keras-keras.

"Kudengar kau malah menikahi parasit ini tadi pagi. Kau benar-benar sudah gila dan tidak pantas memimpin Prameswari Group!"

Seluruh anggota keluarga besar langsung menatap Genta dengan tatapan merendahkan, mencibir dan berbisik kasar menyudutkan Kiara.

Di tengah keributan memuakkan itu, pintu ruang ICU terbuka, dan seorang dokter tua berseragam hijau keluar dengan wajah lelah yang dipenuhi keringat.

Dia adalah Profesor Johan, dokter bedah saraf nomor satu di negara ini yang khusus merawat kakek Kiara.

"Maafkan saya, keluarga Prameswari," ucap Profesor Johan melepas masker medisnya dengan nada pasrah.

"Penyumbatan di jalur saraf otak Tuan Besar sudah menyebar ke organ vital lainnya, tidak ada tindakan medis apa pun yang bisa menyelamatkannya sekarang."

"Kami hanya bisa menunggu alam mengambil jalannya. Silakan masuk bergantian untuk mengucapkan selamat tinggal."

Pernyataan dari dokter nomor satu itu meluncur bagaikan vonis mati yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

Kiara jatuh berlutut di lantai lorong yang dingin, air matanya pecah tumpah tak terbendung lagi, bahunya bergetar hebat meratapi kenyataan pahit ini.

Paman Hermawan dan sekutunya diam-diam tersenyum puas, jalan mereka untuk menguasai harta keluarga telah terbuka lebar tanpa halangan.

Namun di saat semua orang sudah menyerah pada keputusasaan dan kelicikan, sebuah langkah sepatu yang mantap terdengar mendekati pintu ICU.

Genta berjalan melewati tubuh pamannya yang buncit, matanya menatap tajam ke arah Profesor Johan yang kebingungan.

[Mata Surgawi Level 1 diaktifkan.]

[Memindai target: Pasien Koma (Kakek Kiara).]

[Hasil analisis: Sindrom Beku Saraf tahap kritis akibat racun laten masa lalu, bukan penyakit alami.]

[Solusi penyelesaian: Akupuntur Jarum Emas Seribu Jiwa dikombinasikan dengan Pijat Pemecah Meridian.]

Genta membaca informasi sistem itu dengan seringai tipis, dia tahu persis penyakit aneh ini tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh mesin medis modern mana pun.

"Minggir, Dokter Tua, biarkan aku yang mengambil alih sebelum kau benar-benar membunuhnya dengan kelambananmu," ucap Genta dingin, menyingkirkan tubuh Profesor Johan dari pintu.

Seluruh lorong mendadak hening, semua mata terbelalak ngeri melihat kelancangan gila tukang pel rendahan itu.

"Apa yang kau lakukan, gembel gila?!" teriak Paman Hermawan panik, takut rencananya berantakan.

"Penjaga! Seret orang gila ini keluar dan patahkan kedua kakinya sekarang juga!"

Profesor Johan yang merasa terhina profesinya juga ikut berteriak marah menunjuk wajah Genta.

"Kau pikir ruang ICU ini tempat bermain?! Tindakanmu bisa dianggap sebagai pembunuhan berencana jika mesin itu tercabut!"

Genta sama sekali tidak mempedulikan teriakan anjing-anjing penjaga di belakangnya, dia memutar kenop pintu ruang ICU dengan tenang.

Namun sebelum dia melangkah masuk, Kiara bangkit dari lantai dengan susah payah, matanya yang merah basah menatap punggung Genta dengan sisa harapan terakhir.

"Genta..." panggil Kiara dengan suara bergetar pelan, gengsi kebanggaannya sebagai CEO telah hancur sepenuhnya.

"Tolong... tolong selamatkan kakekku. Aku berjanji akan memberikan apa pun yang kau minta jika kau berhasil."

Genta menoleh sedikit ke belakang, menatap wanita arogan yang kini terlihat sangat rapuh dan putus asa itu.

Senyum tipis dan penuh dominasi perlahan terbentuk di bibir Genta, aura yang luar biasa kuat memancar dari tubuhnya, membungkam seluruh lorong seketika.

"Simpan janji kosongmu itu, Nona Kiara. Aku melakukan ini bukan untuk uang recehan keluargamu."

"Aku hanya ingin menunjukkan pada dokter-dokter bodoh ini, bahwa kematian pun harus meminta izin padaku sebelum mengambil nyawa seseorang hari ini."

Tanpa banyak bicara lagi, Genta melangkah masuk dan membanting pintu kaca ICU itu hingga tertutup rapat, mengunci dari dalam agar tidak ada serangga pengganggu yang bisa masuk.

1
yani
💕💞💕
pricilia
🥰🥰
Anton barly
🥰🥰🥳🥳
fitri
/Gift//Gift//Gift//Gift//Gift/
Antoni gergio
💞💞💞💞💞
Angel
🌹🌹🌹🥰🥰🥰
Shinta geol
❤❤❤❤
clara
andai di dunia nyata ada🥹
Jamrud Khatulistiwa
sistem sangat pelit, setiap misi tdk sda hadiah
Jamrud Khatulistiwa
sistim tdk pernah memberi tahu hadiah yg diberikan
Jamrud Khatulistiwa
murid orang sakti mendapat sistem
Gege
katanya diawal sudah belajar banyak di gunung Rinjani.. nyatanya masih bergantung sama sistem...tapi gpp biar lebih op laah MC nyaaaah .pesen 10 hareem yaa Thor...jangan lembek..🤭
Cherlly: iya kaka,judul nya aja sistem kaka,next crita ya kaka saya lagi mikir lgi biar menarik 😊😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!