" aku akan menerima ujian takdirku selagi aku mampu ,namun jika takdir tak menginginkan ku maka aku akan menyerah dan pergii " arabella ayunisa
" lakukanlah apapun yang ingin takdir lakukan,tapi ku mohon tolong jangan hapus arabella dalam garis takdirku " ludwighe staindfol
pernikahan yang diawali dengan perjodohan diantara ludwighe dan arabella membawa perubahan pada garis takdir , kehidupan yang awalnya kacau pada akhirnya menemukan sedikit harapannya ,
namun setiap kehidupan selalu memiliki ujian takdirnya sendiri ,dan itulah yang terjadi pada pernikahan Antara ludwighe dan arabella.
akankah arabella mampu membawa cinta untuk pernikahan nya ataukah pada akhirnya Bella akan menyerah pada cinta itu sendiri.
ayo baca cerita selengkapnya,dan ikuti kisah merubah takdir ludwighe dan bella
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Wangshu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB : 29
Pagi ini cuaca sangat cerah ,sinar matahari yang mengintip malu - malu , kicauan burung dan angin yang berhembus sepoi-sepoi.
Bella memanfaat kan waktu luangnya dengan merawat bunga - bunga yang ada di taman belakang rumahnya.
" mbak Bella " Bella menghentikan pekerjaan nya saat mendengar ada yang memanggil namanya .
" Sintia ,kamu kapan datangnya kok mbak gak tahu" tanya Bella .
" barusan mbak ,soalnya aku bosan di rumah .
makanya aku suruh mas Aldo anterin aku ke sini kebetulan kn mas Aldo sama kak ludwighe ada urusan kantor yang sama" balas Sintia dengan riang ia mendekati Bella yang tengah menanam beberapa bunga.
" wah ,bunganya cantik - cantik ya mbak .
ini mbak yang nanam sendiri" tanya Sintia sembari mengamati satu - persatu bunga yang ada di Sana.
" iya mbak yang tanam semuanya,lagian kan mbak juga gak ada kerjaan kalau di rumah makanya cari kesibukan" timpal Bella ia kembali melanjutkan menanam bunganya di ikuti oleh Sintia.
" aku mau coba juga boleh gak mbak , biar nanti aku tanam di rumah " ucapnya.
" boleh dong sini mbak ajarin " timpal Bella kemudian mereka berdua menghabiskan waktu dengan menanam bunga dan melakukan perawatan lainnya.
Sedangkan di kantor.
" ngapain " tanya ludwighe datar.
" hehehe , main aja emang nya gak boleh main ke kantor kakak sendiri " balas Aldo dengan kekehan tengilnya.
" kantor bukan tempatmu Untuk bermain " timpal ludwighe.
" iya - iya tahu , bosan aja kali kak lagian Sintia juga pengen main sama kakak ipar yaudah jadinya aku main sama kakak ku aj " balas Aldo dengan wajah santainya.
Tok tok tok...
" masuk "
ceklek...
" permisi pak " ucapnya.
" hmm , ada apa?? " tanya ludwighe.
" ini pak saya mau ngantar berkas yang kemarin bapak minta sama pak Bagas " ucap seseorang yang ternyata lani.
" loh ,kok bisa sama kamu" tanya Aldo tiba - tiba.
Ludwighe langsung menatap tajam adiknya itu yang seenaknya ikut campur urusan kantornya.
" hehehhe nanyak doang , ya kali kan berkas nya si Bagas nyasar ke tempat gadis ini " ucapnya dengan alis yang di naik Turunkan .
" hmm , letakkan di atas meja dan panggilkan Bagas ke ruangan saya sekarang " timpal ludwighe.
Lani mengangguk setelah meletakkan berkas di atas meja ia pamit keluar dan berjalan ke ruangan Bagas.
Tok tok tok... Sesampainya di depan ruangan Bagas lani mengetuk pelan pintu nya.
" masuk "
Ceklekk..
" permisi pak Bagas" ucap lani.
" loh kamu ternyata lani ,sini masuk aja " timpal Bagas .
" tumben kamu nyamperin saya , kenapa kangen kamu sama saya" lanjut Bagas dengan wajah tengilnya itu.
Wajah lani memerah, asisten bosnya ini memang sudah tidak waras.
" hmm ,itu pak anda di panggil sama pak bos keruangan nya sekarang" ucap lani.
" karena kamu kasih berkas yang saya suruh itu"tanya Bagas dengan santai ia beranjak dari kursi nya.
" iy- a pak ,gimana kalau pak bos marah " ucap lani ia sangat takut apalagi Bagas itu asisten kepercayaan pak bosnya.
" gak akan ,udah kamu gak usah takut gitu .
saya ke ruangan pak bos dulu " ucap Bagas kemudian ia berjalan ke arah pintu namun sebelum itu Bagas kembali berhenti .
" kenapa lagi pak " tanya lani ia juga melangkah mengikuti Bagas keluar dari ruangan.
" hampir aja lupa ,nanti siang temani saya makan siang !!" timpal Bagas yang langsung berlalu meninggalkan ruangannya.
" aduhh, gimana ni masak harus makan siang bareng lagi sih kan aku malu" gumam lani dengan cemas namun wajahnya merona.
Bukan hal yang mengejutkan lagi bagi sebagian karyawan kantor jika melihat Bagas dan lani bersama.
karna Bagas memang sering mengajak lani pergi makan siang ataupun mengantar lani pulang ,pernah juga mereka datang ke kantor bersama .
sebenarnya lani merasa sangat sungkan tapi Bagas selalu bisa memaksanya untuk ikut.
" yaudah lah toh juga udah biasa makan siang sama pak Bagas " ucap lani pada akhirnya ia menyerah sebab Bagas itu tidak bisa di tolak.
kalaupun di tolak pasti maksa ada aja caranya yang membuat lani pusing tujuh keliling.
Di ruangan ludwighe Bagas tengah duduk di samping Aldo .
" anda memanggil saya pak bos?" tanya Bagas
" hmm, " hanya itulah balasan yang di terima Bagas.
" ada apa ya bos" tanya Bagas lagi.
" berkas itu sudah kau periksa Dengan teliti kan!" tanya ludwighe dengan menatap tajam ke arah Bagas.
" tentu bos berkasnya sudah saya periksa Dengan teliti,hanya saja tidak sengaja tertinggal di rumah lani jadi saya suruh dia mengantarnya langsung ke ruangan anda" balas Bagas .
" wow ada apa ini, kenapa berkasnya bisa tertinggal ya ,ohh aku tahu !
apakah kau terlalu sibuk bersenang senang saat itu ,hahahhahahh" ucap Aldo bahkan ia heboh sendiri dan tertawa kencang sebelum ludwighe dan Bagas menimpuk kepalanya dengan bantal sofa.
Plakkk....
BUGH...
" aduhh sialan" umpatnya.
" otakmu itu isinya cuma bersenang senang Saja" ucap ludwighe yang diangguki oleh Bagas.
" benar tu pak bos , saya gak mau kayak gitu dulu sebelum menikah " timpal Bagas sembari mencomot cemilan yang di pegang Aldo.
" alah sekarang aja itu nanti kalau udah gak tahan juga langsung gas aja , apalagi cewek tadi lumayan cantik ,seksi juga mana bisa tahan kau " ledek Aldo .
Ludwighe menggelengkan kepalanya pusing mendengar perkataan adiknya itu. Sedangkan Bagas menatap jengah pada adik bosnya itu yang masih menampilkan wajah tengilnya itu.
" saya masih menyimpan kontak nyonya Sintia ini loh pak " ucap Bagas dengan tajam ia tatap Aldo yang masih mengejeknya.
" hehehhe ,saya bercanda tadi tu . Kamu ini jangan baperan kayak wanita deh " ucap Aldo sembari mengulas senyumnya yang paling manis .
Bagas mendengus kasar menghadapi tingkah adik bosnya nya yang sangat ajaib itu , padahal tingkah nya sendiri pun kadang sama dengan Aldo.