Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Keesokan harinya. Ruang rapat lantai sepuluh dipenuhi orang-orang berjas, tapi hanya satu wajah yang menatap Alex seolah dia sudah menjadi terdakwa sebelum sidang dimulai.
"Alex," Pak Hadi, atasannya, membuka map di depannya dengan gerakan pelan yang terasa seperti sengaja diperlambat untuk menambah tekanan. "Kami menemukan indikasi penggelapan dana pada laporan kuartal kemarin. Dan namamu tercatat sebagai penanggung jawab data tersebut."
Alex merasakan dadanya berdenyut cepat. "Laporan yang mana, Pak?"
"Laporan penjualan dan proyeksi yang kamu kirimkan ke email pribadi Ferdi minggu lalu."
"Itu permintaan Ferdi sendiri, Pak. Dia bilang butuh untuk bahan meeting internal."
Semua mata di ruangan itu beralih ke Ferdi, yang duduk di ujung meja dengan ekspresi yang begitu tenang, begitu meyakinkan, seolah dia tidak pernah mendengar nama dirinya sendiri.
"Saya tidak pernah meminta data itu," Ferdi berkata, suaranya datar dan percaya diri. "Saya bahkan tidak tahu ada data semacam itu sampai bagian keuangan menemukan kejanggalan."
"Bohong." Alex berdiri, tangannya menggenggam tepi meja. "Kamu yang datang ke mejaku malam itu. Kamu yang memintanya langsung."
"Ada bukti?" Pak Hadi bertanya, nadanya tidak lagi berpura-pura netral. "Email? Rekaman? Saksi lain?"
Alex terdiam.
Tidak ada. Dia mengirim data itu langsung dari komputernya ke email pribadi Ferdi, tanpa menyalin ke siapa pun, tanpa mencatat apa pun. Dia mempercayai rekan kerjanya sendiri seperti dia mempercayai keluarganya sendiri—dan sama seperti keluarganya, kepercayaan itu berbalik menjadi pisau yang menusuknya dari belakang.
"Berdasarkan hasil investigasi tim keamanan data," Pak Hadi melanjutkan, membaca dari kertas di depannya, "kebocoran data perusahaan ke pihak kompetitor terlacak berasal dari akun kerja milik Alex Hartono. Perusahaan memutuskan untuk memberhentikan yang bersangkutan secara langsung, terhitung mulai hari ini."
"Itu tidak adil," Alex berkata, suaranya mulai bergetar bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang ditahan terlalu lama. "Saya bekerja lembur setiap hari untuk perusahaan ini. Saya tidak pernah—"
"Keputusan sudah final, Alex." Pak Hadi menutup mapnya. "Silakan kembalikan kartu akses dan bereskan barang-barangmu."
Tidak ada yang membelanya. Tidak satu pun rekan kerja yang selama ini menerima bantuannya, yang selama ini menumpangkan pekerjaan mereka padanya, berani angkat suara.
Alex berjalan keluar dari ruangan itu dengan kotak kardus berisi barang-barang pribadinya—foto keluarga kecil di meja, secangkir mug bertuliskan namanya, dan sebuah pena yang dulu diberikan almarhum ayahnya.
Di lobi, dia melewati Ferdi yang berdiri sambil berbincang santai dengan salah satu direktur, tertawa seolah tidak terjadi apa-apa.
Alex tidak berhenti. Dia tidak punya kekuatan untuk berhenti.
...------...
Di luar gedung, hujan turun deras, seperti langit ikut merayakan hari terburuk dalam hidupnya. Alex berjalan tanpa payung, tanpa tujuan, membiarkan air hujan membasahi kemeja dan kotak kardus di pelukannya sampai kertas-kertas di dalamnya mulai basah dan lembek.
Dia berjalan melewati gang sempit yang biasa dia lewati untuk jalan pintas, satu-satunya rute yang tidak akan mempertemukannya dengan siapa pun yang mungkin mengenalinya.
Di ujung gang, sesuatu memancarkan cahaya redup kebiruan, mengapung setinggi dada di antara tumpukan sampah dan dinding beku yang lembap.
Alex berhenti.
Benda itu berbentuk seperti lampu ajaib kecil, tapi tidak menyentuh tanah, dan cahayanya berkedip seperti hologram dalam film-film fiksi ilmiah yang dulu sering dia tonton bersama ayahnya.
Dia menatapnya lama, air hujan menetes dari rambutnya ke wajah, ke leher, ke kerah kemejanya yang sudah basah kuyup.
'Ini pasti lelucon,' pikirnya. 'Mungkin proyeksi iklan, atau instalasi seni yang lupa dimatikan.'
Dengan tangan yang masih dingin dan gemetar, Alex mengangkat tangannya, dan mengusap cahaya biru itu seperti mengusap layar sentuh yang salah menyala.