Indonesia
NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:31.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Leya, Warrior Princess

Sebuah motor trail melaju dengan kecepatan tinggi ke arah utara. Leya, sang pengemudi, menghentikan motornya di sebuah dataran tinggi yang penuh dengan pepohonan tinggi dan besar. Setelah turun dari motor, gadis itu mengeluarkan kamera dari tas ranselnya.

Beberapa saat kemudian, gadis itu mulai mengabadikan pemandangan di sekitarnya. Leya bermaksud membuat foto-foto bertemakan alam di malam hari. Karena itu, dia memilih sebuah hutan yang masih terlihat alami.

Suara binatang malam menemani Leya saat melakukan aktivitasnya. Gadis itu juga tahu bahwa dia tidak sendirian di hutan ini.

Sejak kecil, Leya bisa merasakan kehadiran makhluk astral di sekitarnya, meski tidak bisa melihatnya.

Saat sedang asyik memotret, telinganya menangkap suara kendaraan roda empat dari kejauhan. Leya langsung mengarahkan kamera ke jalan kecil yang membelah hutan.

Tampak sebuah sebuah van melintas. Lima menit kemudian, mobil lain menyusul. Namun, mobil tersebut terhenti saat ada orang-orang yang mencegatnya.

Melihat itu, Leya segera memasukkan kamera ke tas ranselnya, lalu berlari menuju motornya. Dia langsung melajukan motor trail tersebut dengan kecepatan tinggi.

Sementara itu, Pradipta dan Gilang masih terpaku di dalam mobil. Keduanya bingung harus melakukan apa. Ketakutan mulai menjalari keduanya. Gilang tidak bisa meminta tolong kepada Jung Kook atau Prisa, karena keduanya sedang mengawal Giana.

“TURUN!” seru salah satu pria yang menghadang. Pria itu adalah Opan, orang yang ditugaskan menjaga wilayah ini.

Melihat Pradipta dan Gilang yang masih berada di dalam mobil, salah satu teman Opan yang membawa tongkat pemukul mendekat dan hendak memukulkan tongkat tersebut ke kaca mobil.

Namun, sebelum itu terjadi, Pradipta membuka pintu mobil. Dia dan Gilang memutuskan untuk keluar. Diam saja di dalam mobil sama berbahayanya jika keluar. Mau tidak mau, mereka harus melawan lima orang tersebut.

“Siapa kalian?” tanya Pradipta.

“Harusnya kami yang bertanya, siapa kalian? Mau apa kalian ke sini?” tanya Opan.

“Kami hanya ingin healing. Kami bermaksud kemping di sini. Apa tidak boleh?” tanya Pradipta. Dia harus memberikan alasan yang masuk akal agar kelima pria di depannya percaya.

“Area kemping ditutup. Lebih baik kalian kembali.”

“Memangnya kalian siapa? Seingatku, hutan ini area yang bebas. Siapa saja boleh keluar masuk dan kemping di sini,” sahut Gilang.

“Iya. Buktinya, mobil di depan kami bisa masuk, kenapa kami nggak boleh?” sambung Pradipta.

“Kalian mau pergi sukarela atau kami paksa!”

Pradipta dan Gilang saling berpandangan. Tentu saja mereka tidak bisa pergi, karena keselamatan Giana yang jadi taruhannya. Namun, mereka juga sadar tidak memiliki kemampuan melawan kelima pria tersebut.

Pradipta mengangguk ke arah Gilang. Sambil berteriak, keduanya menyerang pria-pria yang menghadang mereka.

Pradipta menabrak pria yang membawa tongkat pemukul hingga terjatuh. Secepatnya Pradipta bangkit, lalu mengambil tongkat yang terjatuh. Tanpa berpikir dua kali, dia menghantamkan tongkat tersebut kepada lawannya.

Setelah lawannya tidak berdaya, Pradipta mengarahkan tongkatnya kepada Opan yang sudah berdiri di hadapannya.

Sementara itu, Gilang yang juga sedang menghadapi dua orang, terus berlari dan berkelit dari serangan. Di satu kesempatan, dia berhasil menendang selangkangan lawannya. Pria itu jatuh berlutut sambil memegangi rudalnya yang terasa berdenyut.

Melihat temannya gagal menghajar Gilang, pria lain mendekati Gilang. Beberapa kali Gilang mencoba menghindari pukulan yang mengarah kepadanya.

Namun, karena pria itu memang tidak punya kemampuan bela diri, akhirnya Gilang jatuh tersungkur dihajar pria tersebut.

Pada saat yang bersamaan, Pradipta juga tersungkur setelah dihajar Opan. Pradipta beringsut mundur saat Opan mendekatinya. Begitu juga dengan Gilang yang mencoba menghindari pria yang baru saja menghajarnya.

Pradipta dan Gilang sudah terpojok di dekat mobil. Sementara itu, tiga pria mendekati mereka. Dua pria yang tadi dilumpuhkan sudah kembali bangkit dan bergabung dengan ketiga temannya.

“Lang, kamu nggak bisa panggil Jung Kook atau Prisa gitu?” tanya Pradipta.

“Nggak tahu, Bang. Bentar gue coba.” Gilang menarik napas panjang sebelum berteriak. “PRISA!! JUNG KOOK!!”

Langkah kelima pria yang hendak mendekat terhenti mendengar teriakan Gilang. Mereka langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun, tidak ada siapa pun yang datang.

Ketika perhatian mereka kembali teralih kepada Pradipta dan Gilang, ternyata kedua pria itu sudah berdiri tegak dan bersikap seolah-olah menantang mereka.

Mendengar teriakan Gilang, Prisa dan Jung Kook langsung muncul. Tanpa harus bertanya, keduanya sudah tahu situasi seperti apa yang dihadapi Pradipta dan Gilang. Mereka langsung merasuki kedua pria tersebut.

Kelima pria tersebut langsung menyerang Gilang dan Pradipta. Tidak seperti tadi, sekarang Pradipta dan Gilang berhasil melakukan perlawanan. Bahkan, dua orang pria berhasil dibuat tersungkur.

Gilang berlari sedikit menjauh, kemudian meloncat dan memberikan tendangan berputar kepada lawannya. Namun, pria itu sedikit lengah hingga salah satu lawan berhasil memukul punggungnya. Gilang jatuh berlutut.

Sementara itu, lawannya sudah mendekat dengan sebilah pisau di tangannya. Saat dia hendak menikam Gilang, terdengar suara sepeda motor mendekat.

Tidak berapa lama kemudian, Leya muncul dengan motor trailnya. Dengan posisi masih berada di atas motornya, Leya melayangkan tendangan hingga pria yang hendak menikam Gilang terpental.

Gilang segera bangkit, lalu membantu Pradipta yang sedang menghadapi Opan dan satu pria lagi. Pertarungan seimbang terjadi di antara mereka.

Leya segera menghentikan motornya. Gadis itu bergegas turun tanpa melepaskan helmnya. Dia langsung menghajar pria yang menghadangnya. Gerakan tubuh Leya sangat lincah. Tampak jelas bahwa gadis itu memiliki kemampuan bela diri.

Sebuah tendangan mengenai wajah lawannya. Darah segar keluar dari hidung pria itu. Emosi karena Leya berhasil menghajarnya, pria itu menyerang Leya secara membabi buta. Namun, dengan mudah Leya berhasil menghindari serangannya.

Tubuh pria itu terpental setelah tendangan kuat Leya mengenai perutnya. Punggungnya menabrak pohon di belakangnya. Pria itu jatuh terkulai, lalu kehilangan kesadaran.

Sementara itu, Pradipta yang dirasuki Jung Kook terus melawan Opan. Karena Jung Kook bukanlah jin petarung seperti Ahqam, maka pria itu tidak bisa membuat Pradipta seketika memiliki kemampuan bela diri.

Namun, gerakan Pradipta menjadi cukup lincah dan pukulan yang dilayangkannya juga cukup kuat.

Opan jatuh berlutut setelah tinju Pradipta menghantam wajahnya. Pria itu mengusap darah yang keluar dari lubang hidungnya.

Belum sempat dia berdiri, Leya sudah berada di dekatnya dan melayangkan tendangan ke pria tersebut.

Opan jatuh tersungkur. Lagi-lagi Leya menendangnya dan akhirnya pria itu kehilangan kesadaran.

Pada saat yang bersamaan, Gilang juga berhasil menaklukkan lawannya. Pria itu tersungkur dan tidak bangun lagi setelah terkena hantaman siku Gilang di punggungnya.

Setelah berhasil menaklukkan lawan-lawannya, perhatian Gilang dan Pradipta tertuju kepada gadis yang tiba-tiba datang dan menolong mereka.

Leya membuka helmnya lalu menoleh ke arah Pradipta dan Gilang. Kedua pria itu untuk sejenak hanya terbengong melihat gadis cantik di depan mereka.

“Kamu siapa?” tanya Gilang sambil terus menatap Leya.

“Aku Leya. Kebetulan aku lagi ambil foto di sekitar sini dan lihat mobil kalian dihadang. Mereka siapa?” Leya bertanya balik.

“Mereka itu komplotan penculik perempuan. Kami lagi mencari orang hilang dan penyelidikan kami berakhir di sini,” jawab Gilang. Hanya pria itu yang menjawab, sedangkan Pradipta masih diam. Pria itu seolah-olah sedang mengingat sesuatu.

“Apa kalian dari Prada Trace?” tanya Leya. Begitu mendengar jawaban Gilang, tiba-tiba dia teringat ucapan Giana.

“Kamu tahu dari mana?” tanya Gilang dengan bingung.

“Dari Giana.”

“Kamu temannya Giana?” tanya Gilang lagi.

“Nanti aja ngobrolnya. Kita harus selamatin Giana sekarang,” sela Pradipta.

“Oh iya.” Gilang menepuk keningnya. Dia bergegas menuju mobil Pradipta. Saat Pradipta hendak menjalankan mobil, Leya menahannya.

“Tunggu, Giana ada di mana?”

“Giana sengaja jadi umpan biar dibawa ke tempat para penculik menyembunyikan korbannya,” jawab Pradipta sambil memandangi wajah cantik Leya.

“Aku ikut. Aku nyusul dari belakang pakai motor,” putus Leya. Gadis itu bergegas menuju motornya lagi.

Pradipta segera menyalakan mesin mobilnya. Sekilas, dia melihat rambut Leya yang dikucir kuda bergoyang saat gadis itu berjalan. Pradipta langsung teringat di mana dia pernah bertemu gadis itu.

***

Di mana hayo Dipta pernah ketemu Leya?

1
Kristiana Subekti
waduh,,,,, habis ini giana butuh psikolog ni buat ngilangin trauma 🤦
Sri rahayu
ga di mana" polisi itu seperti ladusing yg datang kalau udah beres atau udah viral
nayla tsaqif
Waduuhhhh ada balada cinta segi tiga kahhhh,, dipta-leya-giana😌
Safitri Agus
syukurlah☺️
Safitri Agus
wah Indihome juga ya🤭
Eka Burjo
leya kereeeen👍
Ayuk Witanto
gimana pasti syok berat
Ayuk Witanto
mampus si ruben
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
iya Leya nyelametin datang tepat waktu ....syukur Alhamdulillah Giana selamat 🙏🏻👍🏻
Umma Ridwan
Alhamdulilla ternyata gadis yang tewas di hutan bukan Anjani, part ini bikin deg degan menguji adrenaalin tau👍💪
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
pasti kamu bakal trauma ya Gi....
mulai sekarang kamu pelatihan ilmu bela diri ya Giana....harus punya bekal...ini jd pengalaman yg berharga....agar kedepannya siap segalanya ✊🏻
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
bughh👊🏻👊🏻👊🏻👊🏻👊🏻👊🏻
terima noo bogem mentah ...
hajar teroozzz si Ruben nya Leya.....jangan kasih kendor...
Ayuk Witanto
semoga Nino dan Asep gercep di lokasi
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
apakah Leya bakal jodohnya Dipta ...
berarti nii pertemuan ke ✌🏻 ya 🤭
Nani Rahayu
waduh....bahaya sekali....
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
wuiwww....Leya kerenn ....
srikandi tanpa tanding ....pantesan berani ngebolang sendirian....dia punya cukup ilmu bela diri rupanya.....kalo gk punya bekal pastinya sangat riskan untuk seorang cewek melanglang buana menjelajah touring sendirian 👏🏻👍🏻
tehNci
Kereeeen si Leya ini. Pantesan berani jadi traveller ke alam liar, malam² lagi..
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Untung ada Leya. Bisalah next Jung Kok belajar beladiri ma Ahqam kali ya🤭
tehNci
Prisa mana niih...biasana dia hobi banget ngerasukin tubuh Gilang, skrg, ayodong masuk ke tubuh Giana biar bisa ngelawan si Ruben
Sri rahayu
sebenarnya hidup itu enak mati muda apa mati tua sih ??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!