Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Garis Batas dan Jejak Masa Lalu
Hujan sore yang turun tanpa henti di balik kaca jendela besar lantai lima seolah menjadi cermin sempurna bagi kekacauan yang berkecamuk di dalam dada Raisha. Di atas meja kerjanya, cangkir kopi yang dipesannya sejak siang tadi sudah mendingin, dibiarkan begitu saja tanpa tersentuh.
Selama berhari-hari, seluruh kapasitas otaknya seakan lumpuh, tersita sepenuhnya oleh analisis tanpa batas mengenai setiap gerak-gerik dan perubahan sikap Aldo Otavian.
Setiap senyuman manis yang diberikan pria itu di sore hari, usapan lembut yang mampir di puncaknya kepala saat dia sedang sakit, hingga tatapan dingin dan berjarak yang seketika menggantikannya di keesokan harinya, semuanya berputar bagaikan kaset rusak yang tak kunjung berhenti di dalam kepalanya.
Setiap kali Raisha berpikir mereka telah melangkah satu tahap lebih dekat, Aldo akan dengan mudah menarik diri dan berpura-pura seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Namun, setebal apa pun rasa suka seseorang, ada satu titik jenuh di mana kapasitas emosional akhirnya menyentuh batas maksimum.
Sore itu, di tengah hembusan angin AC kantor yang menusuk tulang, Raisha merasakan keloyoan yang luar biasa. Rasa lelah itu bukan berasal dari tumpukan berkas rekapitulasi kerja mingguan yang menumpuk di meja, melainkan lelah fisik dan mental karena terus-menerus digantungkan pada ketidakpastian.
Cinta yang baru pertama kali dia izinkan tumbuh dan mekar di dalam hatinya ternyata tidak berbuah manis seperti cerita romansa di buku-buku. Perasaan itu justru bermutasi menjadi racun yang pelan-pelan menggerogoti ketenangan pikiran dan harga dirinya.
"Aku harus berhenti," batin Raisha seraya memejamkan mata rapat-rapat di depan layar monitornya.
Jemarinya meremas tepi meja kayu dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku nggak boleh terus-terusan jadi mainan yang Cuma ditarik pas dia selo atau butuh validasi, terus dibuang gitu aja pas dia udah bosen."
Sebuah keputusan pahit namun krusial akhirnya diambil. Raisha bertekad bulat untuk menarik diri seutuhnya dari permainan berbahaya ini. Dia mulai merakit kembali dinding pertahanan yang dulu sempat dihancurkannya sendiri demi memberi jalan bagi Aldo.
Raisha belajar menekan setiap gejolak hebat di dadanya tiap kali melangkah melewati kubikel kerja pria itu. Ketika Aldo menyapanya di koridor dengan nada suara yang sengaja dibuat manis dan mengayomi, Raisha memaksa bibirnya untuk membalas seadanya, hanya berupa anggukan formal tanpa senyum ekstra atau binar mata yang biasa dipamerkannya.
Ketika Aldo sengaja berdiri berlama-lama di dekat meja kerjanya berpura-pura membaca dokumen, Raisha memilih untuk tetap memfokuskan pandangannya pada layar monitor tanpa membalas tatapan menelisik dari pria itu.
Meskipun secara lahiriah Raisha tampak begitu tenang, acuh, dan terkendali, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa sakit luar biasa yang terus menjerit. Menekan perasaan cinta yang justru sedang berada di puncaknya adalah bentuk siksaan batin tersendiri.
Raisha sadar, tanpa pernah dia rencanakan, rasa sukanya pada Aldo ternyata sudah tumbuh begitu melimpah, dalam dan mengakar kuat. Memangkasnya secara paksa seperti ini menggores luka yang sangat perih.
Namun, perubahan dinamika yang ditunjukkan Raisha tidak lolos dari pengamatan tajam Aldo.
Dari seberang kubikelnya yang hanya berjarak beberapa meter, Aldo memperhatikan perubahan sikap itu dengan dahi yang sedikit berkerut.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, memutar-mutar pena di antara jemarinya seraya menatap punggung Raisha yang tampak kaku dari kejauhan.
Biasanya, setiap kali dia memberikan ‘umpan’ berupa perhatian manis atau perlakuan istimewa, Raisha akan langsung menunjukkan pendar mata yang berbinar dan gestur salah tingkah yang sangat menggemaskan.
Namun kini, wanita itu bersikap sangat tenang, terlalu tenang dan dingin untuk seseorang yang beberapa hari lalu baru saja mengaku menjadikannya cinta pertama.
Di dalam pikiran manis nan licik milik Aldo, timbul sebuah asumsi baru. Aldo menyunggingkan senyum tipisnya yang penuh percaya diri, merasa paling paham tentang psikologi wanita. Pria itu berpikir bahwa Raisha sedang mencoba mengimbangi permainannya.
Aldo menduga Raisha sedang memainkan taktik jual mahal atau strategi push-and-pull yang sama untuk memancing perhatian dan mengejar egonya kembali.
Aldo sama sekali tidak menyadari betapa kelirunya perkiraan itu. Dia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan Raisha bukanlah sebuah taktik, tipu daya, atau bagian dari permainan gengsi.
Penarikan diri Raisha adalah bentuk perlawanan terakhir dari sebuah hati yang terancam hancur melumpuh. Itu adalah benteng darurat yang didirikan Raisha agar dirinya tidak mengalami sakit hati yang berulang-ulang oleh pria manipulator yang sama.
BZZZ... BZZZ...
Getaran panjang dari ponsel di atas meja memecahkan lamunan dan benang kusut di kepala Raisha. Sebuah nama yang sudah sangat lama tidak bertengger di layar pintarnya mendadak muncul di kolom notifikasi aplikasi pesan singkat.
Erick.
Raisha menatap nama itu sejenak dengan dahi berkerut dalam. Erick adalah salah satu mantan kekasihnya dari masa lalu, seorang pengusaha muda yang sangat sukses di bidang properti dan kuliner.
Dulu, mereka sempat menjalin hubungan selama beberapa bulan. Namun, hubungan itu berakhir begitu saja tanpa drama besar atau pertengkaran hebat, tipikal hubungan masa lalu Raisha yang selalu datar, lempeng, dan tanpa keterikatan emosional yang mendalam dari sisinya.
Sebuah pesan masuk dari pria itu terbaca di layar:
‘Hai, Ra. Apa kabar? Lusa sore gue ada jadwal meeting sama klien di daerah gedung kantor lu. Kalau lu lagi gak sibuk atau lebur, mau ketemu sebentar gak pas jam pulang? Sekadar sapa aja, udah lama banget kita gak ngobrol langsung.’
Raisha menatap pesan itu cukup lama. Di tengah perasaannya yang sedang porak-poranda dan kejenuhan luar biasa atas permainan psikologis Aldo yang melelahkan, ajakan dari masa lalu ini terasa seperti sebuah pintu pelarian yang sangat menggiurkan.
Raisha butuh pengalihan suasana. Dia butuh sesuatu untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dunianya tidak boleh dan tidak akan pernah berhenti hanya karena seorang Aldo Otavian.
Dengan helaan napas panjang, jemarinya yang lentik dengan lincah mengetikkan balasan di atas keyboard ponsel:
‘Oke, ketemu. Tapi traktir shopping ya? Lagi kacau banget perasaanku minggu ini.’
Tidak sampai satu menit, balasan dari Erick langsung masuk kembali, lengkap dengan emotikon tertawa lepas:
‘Siap, Mba Raisha. Jangankan shopping ringan, lu mau borong satu toko baju atau tas juga gue jamin aman dompetnya. Lusa sore gue jemput langsung di pelataran parkir kantor lu ya. See you, Ra.’
Raisha menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum tulus yang akhirnya kembali menghiasi wajah ayunya setelah beberapa hari berturut-turut dipenuhi awan mendung dan tekanan batin. Dia mematikan layar ponselnya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menghela napas llega Ada sedikit perasaan ringan yang menyusup ke dadanya saat memikirkan rencana jalan-jalan itu.
Tanpa Raisha sadari sama sekali, di arah sudut ruangan yang tak jauh dari tempatnya duduk, Aldo sedang berdiri memegang cangkir kopi hitamnya. Mata cokelat gelap milik pria itu memicing pelan, menangkap setiap detik perubahan raut wajah Raisha yang mendadak berbinar dan tersenyum manis setelah membaca pesan di ponselnya.
Rasa penasaran yang asing dan tak menyenangkan mendadak menyusup halus ke dalam dada Aldo, sebuah benih kecemburuan dan rasa tidak nyaman yang belum pernah dirasakannya selama ini pada wanita mana pun.