Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 34
Tiga hari berlalu, setiap malam Rinda mengalami hal serupa.
Kali ini Jexen tak bisa lagi diam. Dia mengajak Rinda untuk memeriksakan kondisinya.
"Aku tidak apa-apa, Jex. Perusahaan sudah terlalu lama aku tinggal. Jadi aku tidak bisa kalau harus wira-wiri pergi ke rumah sakit cuma buah mendongeng."
"Kamu butuh orang yang ahli untuk masalah mu, Mbak. Sudah beberapa malam ini kamu seperti itu."
Jexen menghembuskan nafasnya kasar. Dia meletakkan dua tangannya di atas meja kerja Rinda. Tubuhnya condong ke depan dan kepalanya sedikit menunduk. Membuat Rinda harus menengadahkan wajahnya.
Rinda bisa melihat tatapan Jexen yang tajam. Wajah pria yang usianya lebih muda darinya itu terlihat berbeda dari sebelumnya.
Tak ada kelembutan, tapi sorot matanya jelas menunjukkan kekhawatiran.
"Jex, aku sungguh tidak apa-apa."
Rinda menundukkan wajahnya, dia tak bisa menatap mata Jexen lebih lama.
"Rinda!"
Degh!
Rinda terjingkat, matanya membulat sempurna mendengar suara Jexen yang melengking sampai memenuhi seluruh ruangannya.
"Jex?"
"Oh Shit. Sorry Mbak, aku tidak bermaksud membentak mu. Aku hanya khawatir dengan keadaan mu. Itu saja tak lebih. Kamu kesulitan tidur. Sekalinya bisa tidur kamu pasti akan bermimpi buruk. Kamu tidak bisa seperti ini terus, Mbak. Kalau ini tak segera ditangani, Mbak akan semakin kehilangan diri Mbak sendiri."
Rinda mengangkat wajahnya. Dia melihat ke arah Jexen dengan mata nyaris tak berkedip. Bahunya menegang, punggungnya reflek menegak.
Jexen bukannya marah, Rinda tahu akan hal itu. Jexen hanya khawatir, sangat khawatir malahan terhadap dirinya.
"Baiklah, aku akan periksa nanti sore. Daftar kan aku, dan cari yang bisa sore hari."
"Yah, baik. Akan aku lakukan segera."
Jexen tersenyum lebar, dia bergegas keluar dari ruangan Rinda untuk melaksanakan perintah.
Fyuuuh
Tatapan Rinda mengikuti punggung Jexen yang menjauh. Dia lalu menghembuskan nafasnya panjang. Rinda lega karena Jexen sudah pergi dari hadapannya.
"Dia bisa semenakutkan itu?" ucapnya lirih.
Sejenak Rinda tadi merasa sangat takut dengan ucapan Jexen. Ada perasaan tertekan dengan aura Jexen. Belum pernah Rinda merasakan seperti demikian di sisi Jexen.
"Mungkin karena dia sangat khawatir sama aku. Jadi begitu," ucapnya lirih.
Rinda sadar bahwa beberapa hati ini dia memang tak bisa fokus sebenarnya. Terlebih mimpi itu terus saja mengganggunya.
Sebenarnya itu bukan lah sebuah mimpi. Namun sebuah ingatan tentang ketakutan yang dialaminya ketika kecelakaan terjadi.
Ingatan tentang betapa takutnya Rinda dalam kesendirian waktu itu ternyata terus menghantuinya.
"Maaaas Ganiii!"
Teriakan Rinda melengking ketika mobil yang dirinya tumpangi dan suaminya terjun bebas. Benturan kayu dan batu benar-benar bisa dirasakan oleh Rinda.
"Rin ... Rindaaaa!" sahut Gani. Dia juga memekik, meneriakan nama Rinda.
Wajah Rinda yang pias menatap Gani. Ia berusaha berpegangan kencang pada kursi dan gagang pintu.
Mereka berdua hanya saling pandang. Rinda berharap jika memang hari adalah nyawa terakhirnya, maka dia sangat bersyukur bisa bersama Gani. Namun perasaan itu sirna saat melihat saat ujung bibir Gani terangkat lalu pria itu melompat ke luar mobil, sendiri.
Degh!
Tubuh Rinda bergetar. Matanya membelalak, dan tanpa sadar air matanya merembes membasahi pipi.
Rasa panas menjalar ke seluruh tubuh. Ia masih menatap ke arah Dani yang melompat dari mobil, kursi itu kosong sekarang dan Rinda measa benar-benar sendirian.
"A-apa yang ku lihat tadi?"
Pertanyaan yang sebenarnya dari relung hati terdalamnya, Rinda sudah memiliki jawabannya.
Dugh!
Mobil membentur sebuah pohon besar membuat Rinda tersadar kembali dari lamunannya.
Di dalam mobil, tubuh Rinda terpontang-panting. Awalnya pegangannya melemah saat melihat Gani yang menyeringai dan melompat tanpa memedulikannya. Namun ia kembali mengeratkan pegangannnya.
"Tidak, aku tdak bisa mati seperti ini."
Rinda memejamkan matanya sejenak, melihat ke sekeliling. Dia ingin melompat juga, namun di kanan kiri hanya ada pohon besar yang menjulang dan juga rapat. Dirinya akan sulit bertahan.
Rinda membiarkan mobil yang terperosok itu membawanya hingga ia tercebur ke sungai.
Haaah
degh degh degh
Degup jantung Rinda sangat cepat. Keringan dingin membasahi wajahnya ketika kembali mengingat hal itu.
Dalam kecelakaan waktu itu, Rinda bisa melihat siapa Gani sebenarnya. Maka dari itu, meski Gani memohon sambil bersujud dan menangis darah, tidak akan pernah Rinda kembali menerimanya.
Lalu fakta bahwa Gani berselingkuh dengan Teani, juga merupakan tambahan fakta yang kuat bagi Rinda menghempaskan pria tak tahu diri itu.
Ceklek
Suara pintu dibuka. Jexen muncul dari luar sambil tersenyum lebar. Pria itu mendorong pintu dengan perlahan dan segea masuk lalu berjalan mendekat ke meja Rinda.
"Aku sudah membuat janji, Mbak. Untuk jam 17.00," ucapnya. Senyum Jexen masih bertahan.
"Baiklah, terimakasih Jex. Untuk pengacara, apa mereka sudah langsung pergi ke pengadilan?"
Rinda bertanya tentang progres pengacara yang diperkenalkan oleh Jexen. Dia ingin segera selesai dengan Gani.
"Tentu, setelah Mbak bertemu dengannya, saat itu juga mereka bergerak. Percaya padaku, semua akan bak-baik saja. Kalau begitu, aku kembali ke ruangan ku dulu. Kalau ada apa-apa panggil saja."
Jexen melenggang pergi. Dia menutup pintu ruangan Rinda secara perlahan.
"Anak itu, seperti ada yang lain dari Jexen. Tapi apa itu, aku tidak tahu. Hanya saja, entah mengapa aku ingin mempercayai semua yang dikatakannya. Terimakasih Jex."
Rinda bercuap lirih. Matanya masih melihat ke arah pintu, padahal Jexen sudah tidak terlihat sama sekali punggungnya.
TBC
Ayo Jexen selidiki lagi