Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Rumah Baru dan Senyum Ibu
Sebuah gerbang besi tempa hitam berdesain minimalis terbuka secara otomatis saat mobil sedan milik Dimas melaju pelan memasuki pekarangan rumah dua lantai di kawasan perumahan privat Bukit Hijau. Lingkungan perumahan tersebut sangat tenang, dikelilingi pepohonan rindang dengan udara bersih yang jauh dari bising jalan utama kota. Rumah bergaya arsitektur modern tersebut berdiri anggun di atas lahan seluas lima ratus meter persegi, dilengkapi halaman rumput hijau yang luas, benteng pembatas beton yang kokoh, serta sistem pengawasan kamera lima belas titik.
Dimas menghentikan mobilnya di depan garasi luas yang muat untuk tiga kendaraan. Ia keluar dari mobil, melepas kacamata hitamnya, dan memandangi fasad bangunan megah tersebut dengan mulut sedikit terbuka.
"Bay... sumpah," panggil Dimas seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Gue tahu uang delapan miliar rupiah itu banyak, tapi melihat rumah ini secara langsung... ini bener-bener luar biasa. Udara di sini sejuk banget, dan privasinya terjaga penuh!"
Bayu melangkah keluar dari mobil, merapikan kemejanya, lalu membetulkan letak kacamata tebalnya dengan senyum tenang. "Ini semua pilihan Jarvis, Dim. Tempat ini memenuhi seluruh kriteria keamanan, kenyamanan, dan ketenangan yang kita butuhkan untuk perawatan Ibu."
Ponsel Bayu berkedip lembut, menyalurkan suara Jarvis melalui pengeras suara internal jam tangan titanium Bayu.
"Seluruh berkas kepemilikan dan sertifikat hak milik atas nama Bayu Anggara telah diverifikasi seratus persen legal oleh notaris," lapor Jarvis mendetail. "Saya juga telah mengintegrasikan sistem keamanan rumah ini dengan jaringan enkripsi internal. Kamera pengawas, sensor gerak perimeter, serta pintu baja basement telah terkoneksi penuh."
"Pintu baja basement?" tanya Dimas penasaran sambil berjalan mendekati Bayu. "Di bawah rumah ini ada ruang bawah tanah, Bay?"
"Ada, Dim," sahut Bayu seraya melangkah menuju pintu utama berpemandu kunci biometrik. "Luas ruang bawah tanahnya sekitar delapan puluh meter persegi, dulunya dipakai pemilik lama sebagai ruang penyimpanan anggur dan teater privat. Jarvis sudah merancang tata letaknya untuk dijadikan laboratorium riset utama dan ruang server tersembunyi kita."
Dimas bersedekap dada sambil terkekeh bangga. "Gokil! Jadi bengkel sempit kita di kontrakan resmi pindah ke ruang bawah tanah bertaraf internasional ini!"
"Bukan cuma laboratorium, Dim," sela Bayu dengan raut wajah yang lebih hangat. "Lihat area lantai satu ini."
Bayu membuka pintu kaca geser besar di sisi kiri bangunan, memperlihatkan sebuah kamar tidur utama berukuran sangat luas yang menghadap langsung ke arah taman bunga dan kolam air mancur kecil di halaman belakang. Kamar tersebut telah dilengkapi dengan tempat tidur medis elektrik modern, tabung oksigen terintegrasi, serta monitor pemantau tanda-tanda vital yang terhubung langsung ke rumah sakit pusat.
"Kamar ini khusus untuk Ibu," ujar Bayu lembut, tatapannya menyiratkan rasa kasih sayang yang mendalam. "Udara pagi dari taman bisa langsung masuk saat jendela dibuka, dan tempat tidurnya dirancang agar Ibu tidak merasa seperti di kamar rumah sakit yang dingin."
"Detail banget lu menyiapkannya, Bay," puji Dimas tulus, menepuk bahu sahabatnya. "Tante Suminah pasti bakal bahagia banget begitu sampai di sini."
Tak lama kemudian, sebuah ambulans privat kelas VIP tiba di pekarangan rumah, diikuti oleh mobil dokter spesialis. Tim medis dengan hati-hati memindahkan Suminah dari dalam ambulans menggunakan kursi roda elektrik yang nyaman. Suminah mengenakan pakaian bersih berbalut selimut hangat, wajahnya yang dulu pucat kini tampak jauh lebih segar meski masih menyisakan sedikit keletihan.
"Ibu..." panggil Bayu hangat, langsung berlari kecil menyambut sang ibu dan mengambil alih kendali kursi roda dari tangan perawat.
Suminah memandangi bangunan megah di depannya dengan mata yang membelalak kebingungan. Tangannya yang agak gemetaran mengelus jemari Bayu yang memegang pendorong kursi roda.
"Bayu... ini... kita ada di mana, Nak?" tanya Suminah dengan suara pelan dan sedikit serak. "Ini rumah siapa? Kenapa dokter dan perawat membawaku ke tempat sebagus ini?"
Bayu berlutut di samping kursi roda ibunya, mengusap punggung tangan sang ibu dengan penuh kelembutan.
"Ini rumah baru kita, Bu," jawab Bayu dengan senyuman paling tulus di wajahnya. "Mulai hari ini, Ibu tidak perlu tinggal di kamar rumah sakit lagi. Ini rumah kita sendiri."
Suminah tertegun, pandangannya beralih dari Bayu ke arah Dimas yang berdiri tersenyum di samping mereka, lalu kembali menatap rumah megah tersebut.
"Rumah kita...?" bisik Suminah tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi Bayu... bagaimana bisa? Rumah sebesar ini pasti mahal sekali, Nak... Kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan, Bayu?"
Dimas segera mencondongkan badan, ikut berlutut di sebelah Bayu untuk menenangkan hati sang ibu. "Tante Suminah jangan khawatir sama sekali! Bayu ini anak yang luar biasa jujur. Bayu berhasil menjual perangkat lunak canggih buatannya dan menang investasi teknologi di perusahaan besar, Tante! Uangnya seratus persen halal dan resmi dari bank!"
"Benar, Bu," tambah Bayu menatap mata ibunya. "Perusahaan teknologi mengapresiasi karya algoritma yang aku kembangkan. Semua biaya pengobatan Ibu, perawatan rumah ini, dan kehidupan kita ke depan sudah terjamin sepenuhnya."
Air mata bahagia menetes perlahan di pipi Suminah. Ia memeluk kepala Bayu dengan erat, mengelus rambut putranya penuh rasa syukur yang membuncah.
"Alhamdulillah... Ya Allah..." bisik Suminah dengan suara terisak haru. "Terima kasih, Nak... Ibu bangga sekali sama kamu. Kamu anak yang sangat berbakti..."
"Ini semua demi kesembuhan Ibu," bisik Bayu lembut di pelukan ibunya.
Dr. Aris, dokter spesialis pribadi yang mendampingi kepindahan Suminah, melangkah mendekati mereka seraya memeriksa lembar pemantauan medis di tabletnya.
"Selamat siang, Pak Bayu," sapa Dr. Aris dengan sikap sangat hormat. "Saya sudah memeriksa seluruh peralatan medis dan ruang perawatan pribadi Ibu Suminah di lantai satu. Pencahayaan, sirkulasi udara, serta sanitasi ruangan ini jauh lebih baik daripada ruang isolasi VIP rumah sakit. Ini akan mempercepat proses pemulihan saraf dan fisik beliau setidaknya dua kali lebih cepat."
"Terima kasih banyak, Dokter Aris," sahut Bayu seraya berdiri dan menjabat tangan sang dokter. "Saya percayakan penuh pemantauan harian Ibu kepada tim Dokter. Jika ada peralatan medis tambahan yang dibutuhkan, langsung beri tahu saya."
"Baik, Pak Bayu. Perawat medis profesional akan bertugas dua puluh empat jam bergantian di rumah ini," jelas Dr. Aris presisi.
Perawat perlahan mendorong kursi roda Suminah masuk ke dalam kamar barunya. Suminah tersenyum lebar saat melihat pemandangan taman hijau berkilauan disiram sinar matahari sore dari balik pintu kaca kamarnya. Rasa nyaman dan kedamaian seketika meliputi raut wajah wanita paruh baya tersebut.
Di teras belakang yang menghadap kolam air mancur, Bayu dan Dimas duduk di kursi bersantai seraya menikmati secangkir teh hangat yang disiapkan perawat.
"Rasanya seperti mimpi ya, Bay," kata Dimas seraya memandangi gemericik air kolam. "Baru beberapa minggu lalu kita pusing mikirin uang obat lima ratus ribu, sekarang lu sudah bisa memberikan istana yang sangat aman dan nyaman buat Ibu lu."
"Ini baru permulaan, Dim," jawab Bayu tenang seraya memandangi jam tangan titanium di pergelangan tangannya. "Ibu sudah aman di rumah ini, memiliki perawatan medis terbaik, dan terlindung oleh sistem Jarvis dua puluh empat jam."
Ponsel Bayu berkedip lembut. Suara Jarvis terdengar ramah dari earphone.
"Seluruh modul pemantau kesehatan Ibu Suminah telah aktif secara independen, Bayu," lapor Jarvis. "Detak jantung, tekanan darah, dan saturasi oksigen beliau akan terpantau secara riil. Sistem pertahanan fisik rumah ini juga telah berada dalam mode siaga penuh."
"Kerja yang sangat bagus, Jarvis," puji Bayu tulus.
Dimas menghembuskan napas puas, menyandarkan badannya ke kursi seraya tersenyum lebar. "Sekarang Ibu lu sudah aman dan tenang, Bay. Masa depan kita makin cerah, dan kita siap menghadapi apa pun tantangan di luar sana."
Bayu mengangguk mantap, membetulkan letak kacamatanya dengan pandangan mata yang jernih dan penuh rasa syukur. Di balik kedamaian rumah barunya yang megah, Bayu Anggara telah berhasil memberikan perlindungan terbaik bagi insan tercinta dalam hidupnya, mengukuhkan pijakan kokoh untuk melangkah ke masa depan tanpa keraguan.