Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Yang Hilang

Zevanna kembali masuk sekolah setelah urusan pemakaman Kak Zoyya selesai kemarin.

Suasana koridor sekolah cukup ramai. Beberapa siswa terlihat berbisik-bisik saat Zevanna lewat. Kabar soal meninggalnya Kak Zoyya ternyata sudah tersebar di sekolah.

Zevanna melangkah datar menaiki tangga menuju kelasnya di lantai dua.

Tisha, Fiona, dan Kanita yang berdiri di depan pintu kelas langsung melambaikan tangan saat melihat Zevanna.

"Zevanna!”

Zevanna mendongak, menatap ketiga temannya.

"Zev... kok lo udah masuk sekolah sih?" tanya Kanita heran.

Zevanna mengernyitkan kening. "Kenapa emangnya kalau gue sekolah?"

Fiona menepuk pelan bahu Zevanna. "Zev, gue turut berduka cita ya atas meninggalnya kakak lo."

Zevanna mengangguk tipis. "Thanks, Fi."

"Zev... lo pasti sedih banget ya ditinggal kakak yang lo sayang?" timpal Tisha menatap cemas.

Zevanna menghela napas pelan. "Awalnya gue emang sedih banget. Tapi ya udah lah, lagian dia udah tenang di sana sekarang." jawab Zevanna berusaha berpura-pura biasa saja, walau hatinya masih terasa sangat hancur.

Tiba-tiba dari arah sudut koridor, suara bisik-bisik beberapa siswi terdengar cukup jelas.

"Eh, kalian tahu nggak? Kakaknya Zevanna meninggal dunia kemarin."

"Serius lo? Kok bisa meninggal mendadak gitu?"

"Katanya sih kepleset terus jatuh di toilet kantor.”

"Hahaha! Lucu banget, masa cuma jatuh di toilet bisa langsung meninggal dunia?"

Mendengar tawa cemohan itu, rahang Zevanna seketika mengeras. Tangannya mengepal kuat di samping tubuh. Ia memutar tubuhnya dan menatap tajam ke arah tiga siswi yang sedang bergosip itu.

"Ngomong apa lo tadi?!" bentak Zevanna dingin, melangkah cepat menghampiri mereka.

Ketiga siswi itu tersentak kaget melihat kedatangan Zevanna dengan tatapan mematikan.

"E-enggak... Kita enggak ngomong apa-apa kok, Zev!" sahut salah satu siswi ketakutan.

Zevanna makin mendekat. "Gue denger ya tadi lo ngomongin kakak gue! Kalian pikir gue tuli, hah?!"

Mata Zevanna membara penuh emosi. Ketiga siswi itu mulai mundur panik. "K-kita cuma ngobrol biasa doang, Zev..."

"Banyak bacot lo pada!"

Sret!

Tanpa ampun, Zevanna langsung menyambar dan menjambak kencang rambut siswi yang tertawa paling keras tadi.

"Arghhh! Sakit! Lepasin, Zev!" jerit siswi itu meringis kesakitan, kepalanya tertarik ke belakang.

"Mati aja lo! Punya mulut nggak bisa dijaga banget!" ketus Zevanna makin mengencangkan jambakannya, menariknya hingga siswi itu membungkuk.

Tisha, Fiona, dan Kanita yang melihat aksi nekat itu langsung panik setengah mati.

"Zevanna! Hei, udah woi! Lepasin!" teriak Fiona berusaha melerai.

"Nggak mau! Cewek kayak gini harus dikasih pelajaran biar mulut sampahnya nggak sembarangan ngomong!" sentak Zevanna tak terkendali.

Siswi itu berusaha memukul tangan Zevanna, tapi tenaga Zevanna yang tersulut emosi jauh lebih kuat.

“Banyak bacot lo! Mulut lo tuh dijaga sedikit bisa nggak?!" Zevanna langsung memindahkan cengkeramannya ke leher siswi tersebut, mencekiknya kencang.

"Udah Zev! Nanti dia mati beneran!" jerit Kanita panik.

"Bodo amat!"

"Zevanna! Udah, lepasin dia!"

Sebuah suara tegas terdengar mendengung. Pak Yanto—guru kedisiplinan—berlari cepat menghampiri mereka dan langsung menarik tubuh Zevanna menjauh.

"Nggak mau, Pak! Dia harus dihukum! Mulutnya kayak nggak pernah di sekolahin!" protes Zevanna keras kepala berusaha melepaskan diri.

"Ya ampun, Bapak bilang udah, Zevanna! Dia bisa kehabisan napas dan mati nantinya!" omel Pak Yanto menahan lengan Zevanna.

Zevanna akhirnya menurunkan tangannya. Siswi tadi langsung terhuyung ke dinding sambil terbatuk-batuk terengah menghirup udara.

Pak Yanto berkacak pinggang menatap Zevanna. "Kamu tuh ya... kerjaannya berantem mulu dari kemarin!"

Zevanna melotot tak terima. "Loh! Kok saya sih Pak yang disalahin?! Dia duluan yang mulai cari gara-gara dan ngomongin kakak saya, Pak!"

Pak Yanto menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau kamu merasa ditindas atau ada yang bikin masalah, kamu bilang sama guru! Jangan gegabah main fisik sendiri!”

"Kelamaan kalau lapor guru! Saya udah keburu emosi pak! Mending langsung dihajar biar kapok!" sahut Zevanna santai.

Pak Yanto menepuk jidatnya frustrasi, menyerah menasihati siswi paling bar-bar di sekolah ini. "Ya sudah, semua bubar! Masuk kelas masing-masing sana! Jangan ada yang bolos atau berantem lagi kayak tadi!"

Zevanna mendengus kasar lalu balik badan dan melangkah pergi. Tisha, Fiona, dan Kanita mengekor di belakangnya dengan napas terengah.

Zevanna menghempaskan tubuhnya di kursi kelas. Dadanya masih naik-turun menahan emosi.

"Zevanna, lo tuh ya... masih pagi udah ngajak perang. Untung lo nggak langsung diseret ke ruang BK lagi sama Pak Yanto," helai Kanita menggeleng.

"Merekanya duluan yang mulai. Udah lah, makin nggak mood gue!" ketus Zevanna melipat kedua tangannya di meja.

***

KRIIINGGG!

Bel istirahat berbunyi nyaring. Seluruh murid berhamburan menuju kantin untuk mengisi perut.

Di meja sudut kantin, Tisha, Fiona, dan Kanita sedang menikmati bakso hangat mereka. Tapi Zevanna hanya duduk diam tanpa menyentuh makanannya sama sekali.

"Woi, lo kenapa diem aja dari tadi, Zev?" tanya Fiona menatapnya cemas.

"Nggak apa-apa," jawab Zevanna pendek sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan.

Tiba-tiba, Jayden bersama Reon, Alan, dan Kevan melangkah masuk ke kantin. Jayden yang melihat Zevanna langsung berjalan menghampiri meja mereka.

"Zevanna," panggil Jayden lembut.

Zevanna menoleh sekilas lalu kembali menatap kosong ke depan.

Jayden menatap raut lelah di wajah Zevanna. Ia menghela napas pelan. "Zev, gue turut berduka cita ya atas meninggalnya kakak lo. Kalau lo butuh bantuan apa pun, gue bisa bantu lo."

"Nggak perlu," sahut Zevanna dingin tanpa minat.

Jayden mengangguk paham. "Oke kalau gitu... Tapi kalau lo butuh temen cerita atau butuh sandaran, cerita aja sama gue, ya?"

Zevanna hanya diam tak membalas sepatah kata pun.

Jayden menghela napas pelan. Ia menatap Zevanna dengan tatapan penuh rasa kasihan sebelum akhirnya berbalik pergi bersama teman-temannya.

***

Sepulang sekolah, Zevanna merebahkan tubuhnya di atas kasur kamar. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang putih.

Pikirannya kembali berputar pada misteri kematian Kak Zoyya. Ia merasa kalau ingin membongkar apa yang sebenarnya terjadi sebelum Kak Zoyya meninggal, ia butuh barang-barang pribadi milik kakaknya.

"Ponsel Kak Zoyya...!" gumam Zevanna mendadak teringat sesuatu.

Zevanna langsung meloncat bangun dari kasur. Ia berlari keluar kamar dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk diam di ruang tamu.

"Ma, Pa!"

Liona mendongak. "Kenapa, Sayang?"

"Aku mau nanya. Hp Kak Zoyya sekarang ada di mana ya?" tanya Zevanna cepat.

Yovandra dan Liona saling berpandangan dengan raut bingung, lalu menggeleng pelan.

"Mama nggak tahu hp Kakak kamu di mana, Zev." ujar Liona.

"Mungkin Hp kak Zoyya hilang. Pas kakak kamu dibawa pulang sama orang kantor kemarin, HP-nya juga nggak ada di dalam tas.” tambah Yovandra menjelaskan.

Zevanna seketika terpaku. Firasat aneh kembali menghantam dadanya. Ponsel adalah benda yang paling melekat pada Kak Zoyya. Mana mungkin bisa hilang begitu saja di hari kematiannya?

"Ya udah deh Ma, Pa. Aku balik ke kamar dulu," pamit Zevanna menahan kebingungannya.

Liona dan Yovandra mengangguk. "Iya, Nak.”

Zevanna kembali ke kamar dan mengunci pintu. Ia duduk di tepi kasur sambil memikirkan semua kejanggalan yang ia temukan.

Pagi hari Kak Zoyya berangkat kerja dalam keadaan sangat sehat.

Malam harinya Kak Zoyya tiba-tiba dinyatakan meninggal dunia.

Ada luka goresan merah yang cukup dalam di lengan Kak Zoyya.

Penyebab kematian yang dibilang orang kantor hanya 'jatuh di toilet'.

Dan sekarang, ponsel pribadi Kak Zoyya hilang tanpa jejak!

"Kok bisa ponsel Kak Zoyya hilang sih? Hilang ke mana coba? Apa jangan-jangan ada yang sengaja ngambil ponsel Kak Zoyya buat ngilangin bukti?!" gumam Zevanna frustrasi menempelkan jemarinya di dahi.

Drt... Drt... Drt...

Ponsel Zevanna di atas meja bergetar kencang. Ia meraihnya dengan malas.

"Duh, siapa lagi sih yang telepon jam segini?" gerutu Zevanna melihat layar. Nama 'Tisha' terpampang di sana.

Zevanna menggeser tombol hijau. "Halo? Ada apa lo telepon gue, Tis?”

"Hehe, maaf ya ganggu, Zev! Gue cuma mau nanya aja nih. Nanti setelah kita lulus sekolah, lo rencananya mau lanjut ke mana?" tanya Tisha dari seberang telepon.

"Nggak tahu," jawab Zevanna singkat.

"Kok nggak tahu sih? Kan kita sebentar lagi udah mau ujian dan lulus sekolah!" omel Tisha.

"Emang lo sendiri setelah lulus mau ke mana, Tis?" tanya Zevanna balik.

"Gue mau langsung kerja sih. Tadinya bokap gue nyuruh kuliah ke luar negeri, tapi gue males banget dan mau mandiri aja," jawab Tisha jujur.

Mendengar ucapan Tisha, tiba-tiba Zevanna kepikiran sesuatu.

"Lo beneran mau langsung kerja, Tis?"

"Iya, Zev. Tapi gue bingung mau melamar kerja di mana..."

"Gue punya ide bagus!" seru Zevanna bersemangat.

"Hah? Ide? Ide apaan, Zev?" tanya Tisha penasaran.

"Gimana kalau lo ikut melamar kerja di perusahan Verion Group?" usul Zevanna.

Tisha di seberang telepon langsung tersentak. "Lamar kerja di Verion Group?! Kenapa harus di sana, Zev?! Itu kan perusahaan raksasa! Nggak mungkin lulusan SMA kayak kita bisa diterima kerja di sana!"

"Bisa lah! Tenang aja, nanti gue bakal minta tolong sama Papa gue buat rekomendasiin kita. Papa kan kenal sama relasi di Verion Group. Dan gue mau lo bantu gue cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan tempat Kak Zoyya kerja!" tegas Zevanna pelan.

Tisha terdiam sejenak di seberang telepon. "Lo... nyuruh gue kerja di sana buat cari tahu penyebab kematian Kak Zoyya?”

"Iya. Lo mau kan bantu gue, Tis? Please..." mohon Zevanna dengan nada serius.

Tisha mendesah pelan lalu mengangguk, walau Zevanna tak bisa melihatnya. "Iya deh... Gue pasti mau bantu lo, Zev."

"Yes! Thank you so much, my bestie! Lo emang sahabat paling baik di dunia!" seru Zevanna lega.

"Iya, sama-sama Zev. Ya udah ya, gue tutup dulu teleponnya. Mau makan nih udah laper banget. Bye Zevanna!"

"Iya, bye Tisha!"

Klik.

Panggilan terputus. Zevanna menyunggingkan senyum tipis yang penuh tekad.

"Yes! Nanti setelah lulus sekolah, gue bakal masuk dan kerja di Verion Group buat cari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Kak Zoyya! Kalau gue cuma nanya ke orang tua gue, nggak akan pernah dapet jawaban apa-apa!" gumam Zevanna mantap.

Tujuannya sekarang sudah sangat jelas. Ia bukan cuma ingin mencari tahu siapa pelakunya, tapi ia harus tahu:

Apa yang terjadi pada Zoyya di hari terakhir hidupnya.

Siapa orang terakhir yang berinteraksi dengannya.

Siapa karyawan yang menemukan jasad Zoyya di toilet.

Dan kenapa ponsel Kak Zoyya bisa hilang!

"Gue harus super hati-hati sama semua orang di kantor itu nanti. Jangan sampai ada satu orang pun yang tahu kalau gue masuk ke sana cuma buat selidiki kematian Kak Zoyya!" bisik Zevanna pada dirinya sendiri.

***

Sementara itu, sebuah pesawat jet pribadi baru saja mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Ravenzo Verion Ganendra akhirnya menginjakkan kakinya kembali di Indonesia setelah menyelesaikan urusan bisnisnya di luar negeri.

Ravenzo melangkah tegap keluar dari bandara, lalu masuk ke dalam mobil Alphard hitam elegan yang sudah disiapkan untuknya.

"Akhirnya Tuan Ravenzo kembali juga ke Indonesia," puji Pak Surya—sopir pribadinya—tersenyum ramah dari kaca spion.

"Urusan saya di sana sudah selesai, Pak. Jadi saya balik ke Indonesia buat mengurus perusahaan pusat di sini," jawab Ravenzo dengan suara berat dan dingin.

"Oh... Kirain saya, Tuan balik ke Indonesia karena mau ketemu sama calon—"

"Jangan bahas soal itu," potong Ravenzo cepat dengan nada menekan.

Pak Surya langsung menciut. "M-maaf Tuan, saya terlalu lancang."

Arvin yang duduk di bangku samping sopir mendadak tertawa kecil.

Ravenzo menyipitkan matanya tajam. "Ketawain apa lo, Vin?"

Arvin tersentak kaget, lalu cepat-cepat menggelengkan kepala. "E-enggak kok! Ini gue cuma keinget adik gue tadi pas berangkat sekolah tasnya ketinggalan di rumah!"

Ravenzo menatapnya datar. "Perasaan lo nggak punya adik."

"Maksud gue... adik sepupu!" sahut Arvin ngeles cepat.

Ravenzo tidak membalas lagi. Ia memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela mobil. Gedung-gedung bertingkat kota Jakarta mulai menyambut kepulangannya. Ravenzo menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

"Indonesia…”

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!