Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Rambut Panjang di Pesta

"Gue nggak mau pakai itu."

Laras menunjuk wig hitam panjang di tangan Nadia seolah benda itu hewan berbisa.

"Sekali saja," bujuk Nadia. "Ini ulang tahun Bima. Semua orang dandan."

"Gue udah pakai baju bersih."

"Kaus hitam dan celana kargo bukan dandan."

Nadia mengunci pintu kamar. Setengah jam kemudian, Laras berdiri di depan cermin dengan gaun sederhana selutut, wig lurus melewati bahu, dan wajah yang hanya diberi bedak tipis.

Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

"Gue kelihatan aneh."

"Lo kelihatan cantik. Itu yang bikin lo merasa aneh."

Pesta Bima diadakan di halaman rumah pamannya. Lampu kecil digantung pada tali, sate dibakar di sudut, dan pengeras suara memutar lagu terlalu keras. Saat Laras masuk bersama Nadia, percakapan di dekat pintu berhenti.

Bima yang sedang memegang kipas arang lupa menggerakkan tangannya. Asap mengepul ke wajahnya.

"Astaga," batuknya. "Laras?"

"Kenapa?"

"Nggak. Takut salah orang."

Galih datang membawa minuman. Langkahnya ikut berhenti. Ia memandang Laras satu detik terlalu lama, lalu menyodorkan gelas tanpa komentar.

"Apa?" desak Laras.

"Wig-nya miring."

"Bohong," kata Nadia. "Dia cuma nggak bisa bilang cantik."

Telinga Galih memerah. Ia pergi membantu Bima sebelum menjadi bahan tertawaan lebih lama.

Rayhan berdiri di tepi halaman dengan seragam kursus dan ransel. Mbah Surti menyuruhnya menyusul Laras karena tidak mau cucunya pulang sendirian. Begitu melihat Laras, ia tidak menyapa.

"Kenapa bengong?" Laras melambaikan tangan di depan wajahnya.

"Bang Laras?"

"Siapa lagi?"

Rayhan menggeser kacamatanya yang belum permanen, seolah pandangannya salah. Rambut panjang membuat garis wajah Laras terlihat lembut. Gaun itu tidak mengubah caranya berdiri dengan kaki terbuka atau kebiasaan menyelipkan tangan ke saku, tetapi justru pertentangan itu membuatnya sulit berpaling.

"Jelek, ya?" tanya Laras.

"Nggak."

Hanya itu. Rayhan menunduk dan berjalan ke sudut, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk sesuatu yang tidak ia pahami.

Pesta berlangsung ramai. Nadia memaksa Laras ikut foto bersama. Bima bersiul, Galih menyuruhnya diam, dan Laras mengancam akan memasukkan wajah mereka ke kue.

Beberapa teman baru dari SMA 12 tidak langsung mengenal Laras. Seorang anak laki-laki meminta nomor ponselnya, lalu pucat ketika Bima menyebut gadis berambut panjang itu orang yang pernah menantang enam orang dengan kunci inggris.

"Itu dilebih-lebihkan," kata Laras.

"Benar. Waktu itu cuma lima yang berani maju," sahut Bima.

"Nggak ada yang maju sama sekali!"

Galih berdiri di samping Laras dengan piring kosong, sengaja memotong jalan anak laki-laki tadi. "Nomor ponselnya buat apa?"

"Kenalan."

"Kenalan di sini saja."

Laras menyikut rusuk Galih. "Lo satpam gue?"

"Nggak. Gue kasihan dia. Belum tahu risiko."

Rayhan melihat semua itu dari sudut halaman. Dulu ia akan ikut tertawa saat Laras mengancam orang. Malam ini, tawa para laki-laki di sekitarnya terasa mengganggu. Mereka memandang wajah yang baru ia sadari indah, seolah berhak mengomentari.

Ia tidak menyukai perasaan itu.

Di luar kelompok, Rayhan mengangkat ponsel sederhana. Ia menunggu Laras menoleh ke arah lampu, lalu menekan tombol kamera.

Hasilnya sedikit buram. Laras sedang tertawa dengan satu tangan menahan wig agar tidak lepas. Namun bagi Rayhan, gambar itu terasa terlalu penting untuk dibiarkan bercampur dengan foto tugas sekolah.

Ia memindahkannya ke folder paling dalam dan mengganti nama file dengan angka.

"Motret siapa?"

Rayhan hampir menjatuhkan ponsel. Bima berdiri di belakangnya membawa dua tusuk sate.

"Lampu."

"Lampu pakai gaun?"

Rayhan mematikan layar. "Jangan bilang."

Bima menatapnya, lalu Laras. Senyumnya berubah nakal. "Masih kecil udah punya rahasia."

"Aku cuma suka fotonya."

"Iya, iya. Suka fotonya."

Bima menyerahkan sate dan pergi tanpa membongkar. Rayhan tidak memakannya. Ia masih mencoba memahami mengapa Galih yang memandang Laras membuat tengkuknya panas.

Nadia datang dan duduk di sampingnya. "Kamu nggak suka sate?"

"Suka."

"Terus kenapa mukanya kayak habis kalah lomba?"

Rayhan memandang Galih yang sedang membetulkan tali lampu di atas kepala Laras. "Bang Laras memang kelihatan beda?"

"Banget. Tapi besok dia juga balik pakai kaus bau oli."

"Semua orang lihat dia."

Nadia mengikuti arah pandangnya. Senyum kecil muncul. "Kamu juga lihat. Dari tadi malah."

Rayhan langsung menggigit sate agar tidak perlu menjawab.

"Tenang saja," lanjut Nadia. "Laras tetap Laras. Rambut panjang nggak bikin dia mendadak jadi milik siapa-siapa."

Kalimat terakhir seharusnya menenangkan. Aneh, justru kata milik menempel di kepala Rayhan.

Ketika acara tiup lilin dimulai, Bima meminta Nadia berdiri di sampingnya. Nadia yang dulu selalu bersembunyi di belakang justru maju. Tepung dari kue mengenai hidungnya saat Bima mengerjai, dan ia membalas dengan mengoleskan krim ke pipi Bima.

Laras tertawa keras. Wig-nya hampir jatuh.

Galih refleks menangkap ujungnya sebelum terlepas. Tangan mereka bertemu di rambut palsu itu. Sorakan teman-teman langsung meledak.

Rayhan berdiri dari kursinya.

"Aku mau pulang," katanya.

"Baru datang," protes Laras.

"Besok ada tes."

Laras meminta waktu lima menit untuk berganti pakaian. Di kamar Nadia, ia mencabut wig dan mengembuskan napas lega. Rambut cepaknya muncul acak-acakan.

Sebelum wig dikembalikan, Nadia memotret Laras satu kali lagi, kali ini dengan ekspresi kesal.

"Simpan," katanya. "Bukti kalau lo pernah nurut sama gue."

"Hapus."

"Nggak. Nanti pas tua kita ketawain."

Laras mengejar Nadia mengelilingi tempat tidur sampai keduanya jatuh tertawa. Di luar pintu, Bima mengetuk dan bertanya apakah mereka sedang berkelahi. Nadia menjawab bahwa ini urusan perempuan, membuat Laras memelototinya karena dua puluh menit lalu ia sendiri yang menyebut Laras tidak pernah mau jadi perempuan.

"Akhirnya jadi manusia lagi."

"Tadi juga manusia. Versi cantik."

"Versi gatal. Kepala gue panas."

Saat Laras keluar dengan kaus dan celana kargo, Rayhan terlihat lebih santai. Mereka berjalan pulang di bawah lampu gang.

"Kenapa tadi buru-buru?" tanya Laras.

"Tes."

"Lo bohongnya mulai jelek."

Rayhan menendang batu kecil. "Galih suka kamu, ya?"

"Tanya sendiri."

"Kamu suka dia?"

"Anak kecil nggak usah ikut urusan orang gede."

Rayhan terdiam. Laras mengira pertanyaan selesai. Ia tidak melihat tangan bocah itu masuk ke saku, memastikan ponsel berisi foto masih ada.

Malam itu, sebelum tidur, Rayhan membuka gambar Laras sekali lagi. Ia memperbesar senyumnya, lalu cepat-cepat mematikan layar saat Mbah Surti masuk.

Untuk pertama kalinya, sebutan Bang Laras terasa tidak cukup untuk menjelaskan apa yang tumbuh diam-diam di dadanya.

Ia belum punya nama untuk perasaan itu. Ia hanya tahu foto tersebut tak boleh hilang, dan tak seorang pun boleh melihatnya tanpa izin.

Bahkan Laras sendiri belum boleh tahu betapa penting gambar sederhana itu baginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!