"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. DSKKR
Pada hari senin pagi di minggu berikutnya. Udara di rumah tua milik Ibu terasa begitu sejuk. Di pekarangan depan, tiga anakku Arka, Arki, dan Kirana sedang asyik bermain mengejar kupu-kupu di bawah pohon mangga. Tawa polos mereka menggema, menjadi obat paling ampuh untuk semua lelah yang kutinggalkan di kota.
Aku duduk di teras seraya menikmati cangkir teh hangat. Di meja kayu di depanku, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal berstempel resmi dari Pengadilan Agama.
Surat Panggilan Sidang Perceraian Pertama.
Ibu keluar membawa piring berisi pisang goreng hangat, lalu duduk di kursi sebelahku. Matanya tertuju pada amplop cokelat itu, lalu beralih menatap wajahku dengan tatapan lembut penuh kasih sayang.
"Kamu sudah mantap, May?" tanya Ibu pelan.
Aku mengambil amplop itu, membelai garis stempelnya tanpa ada sedikit pun keraguan yang tersisa.
"Sudah lebih dari mantap, Bu," jawabku mantap seraya tersenyum tipis. "Masa lalu aku sama Fandi sudah resmi mati sejak dia usir Maya dan anak-anak. Surat ini cuma formalitas hukum buat kebebasan aku."
Ibu mengusap pundakku lembut, matanya sedikit berkaca-kaca. "Anak Ibu hebat. Dulu Ibu sempat takut kamu bakal hancur, tapi lihat kamu sekarang... makin cantik, makin segar, dan makin berani."
"Ini semua karena doa Ibu juga," bisikku tulus seraya menggenggam tangan kasar wanita yang paling kucintai itu.
Ponselku di atas meja bergetar nyaring. Nama Arch tertera di layarnya.
Aku mengangkat telepon itu seraya melangkah sedikit menjauh dari kejaran anak-anak. "Halo, Mas Arch?"
"Maya," suara berat dan tenang khas pria bule itu menyapa renyah di ujung telepon. "Surat panggilan dari pengadilan sudah sampai di rumahmu?"
"Baru aja sampai pagi ini, Mas," jawabku. "Jadwal sidang pertamanya minggu depan."
"Bagus," pangkas Arch cepat. "Pengacara terbaik dari tim hukum VANE sudah aku utus buat mendampingi kamu selama proses persidangan. Tugasmu cuma satu: datang, berdiri tegak, dan pastikan hak asuh Arka, Arki, dan Kirana jatuh 100% ke tanganmu tanpa ada celah buat fandi. Lalu kamu fokus lagi ke pekerjaan mu."
Dada ini berdesir hangat mendengar perhatian detail yang diberikan Arch. Pria itu tidak pernah membiarkanku berjalan sendirian di tengah badai.
"Terima kasih banyak, mas arch. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan."
Arch terkekeh pelan di ujung sana, sebuah kekehan renyah yang bikin suasana hatiku mendadak ringan. "Itu sudah jadi tugas pimpinan VANE buat menjaga aset berharganya. Lagi pula, setelah urusan sidang ini kelar, jadwal perawatan dan eksekusi project summer royalty bakal makin padat. Aku butuh fokus penuh mu."
"Siap, Mas Boss," balasku terkekeh tipis sebelum mengakhiri panggilan.
"Semangat ya. Ya sudah sampai jumpa lagi."
***
(Sementara itu, di sebuah kafe tak jauh dari studio foto Fandi)
Fandi duduk mematung dengan cangkir kopi dingin di tangannya. Di hadapannya, sebuah amplop cokelat serupa dari Pengadilan Agama tergeletak terbuka.
"Mas! Kamu beneran mau dateng ke sidang cerai itu?!" celetuk Siska yang duduk di sebelahnya sambil meniup kuku jarinya yang baru di cat. "Bagus dong kalau gitu! Biar kamu cepet lepas dari si dasteran itu, terus kita bisa resmiin hubungan kita!"
Fandi tidak menjawab. Matanya menatap nama 'maya indah pratama' yang tertulis tebal di lembar gugatan tersebut. Ada rasa sesak yang aneh mengental di dadanya.
Sejak kejadian dipermalukan di lobi VANE Tower minggu lalu, bayangan sosok Maya yang baru yang makin anggun, cerdas, dan dilindungi oleh pria sekelas Arch terus menghantui mimpi buruknya. Ada rasa penyesalan tak kasat mata yang mulai merayap pelan, menggrogoti egonya.
"Mas Fandi! Kamu dengerin aku gak sih?!" gertak Siska seraya menepuk meja kasar.
"Kamu bisa diam sebentar gak, Sis?!" bentak Fandi meledak, menatap Siska dengan urat leher menegang. "Aku lagi pusing! Bisnis studio lagi sepi, tagihan numpuk, dan kamu cuma bisa nuntut ini itu!"
Siska terperanjat, matanya membelalak tak percaya dilabrak Fandi di tempat umum. "Ooh... jadi kamu mulai salahin aku?! Ingat ya Mas, kamu yang ngejar-ngejar aku duluan! Kamu yang bilang Maya itu kusam dan gak selevel sama kamu!"
Siska berdiri, menyambar tas mewahnya dengan penuh amarah. "Kalau kamu masih kebayang-bayang mantan istrimu yang udah kaya itu, ya udah panggil aja dia lagi! Tapi jangan harap aku mau sudi sama cowok bangkrut kayak kamu!"
Siska melangkah pergi dengan high heels nya yang berdetak keras, meninggalkan Fandi sendirian yang mencengkeram kepalanya yang mau pecah.
"Aaaaahhhrrrgg sial! sial!" Ucap Fandi berteriak.
Fandi menatap surat cerai itu sekali lagi. Di dalam hatinya yang paling dalam, dia mulai menyadari sebuah kenyataan pahit: dia bukan cuma kehilangan seorang istri... tapi dia baru saja membuang mahakarya paling berharga dalam hidupnya.
Sebuah telepon berdering 'Intan' terpampang di layar hp fandi.
"Halo ntan? Ada apa?"
"Mas.. Tranferin aku 20 juta dong. Aku butuh nih buat beli sweater merk d*or nih. Limitted mas, cepet transfer ya."
Fandi langsung pusing seketika. "Ntan, Tolong ya kali ini jangan minta uang dulu."
"Kenapa mas? Terus ini gimana ah sweater nya udah mau di bungkus."
"Batalin aja batalin. Kalau mas transfer kamu. Tabungan mas habis"
"Mass.. engga bisa di batalin gitu aja mas.. ini aku udah transaksi loh. Ih aku nanti engga boleh keluar dari store nya mas." Pekik Intan.
Fandi memutar bola mata nya, lalu dia pun mentransfer sesuai permintaan adiknya.
***
(Keesokan harinya)
Gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan berdiri kokoh di bawah langit pagi yang cerah. Suasana koridor luar ruang sidang cukup ramai oleh orang-orang yang sibuk dengan urusan rumah tangga masing-masing. Di antara kerumunan itu, Fandi duduk sendirian di bangku kayu panjang.
Kemeja putih yang dipakainya tampak agak kusut, bayangan hitam di bawah matanya mempertegas betapa buruk kualitas tidurnya beberapa hari terakhir. Fandi gelisah, jari-jarinya tak berhenti mengetuk-ngetuk lutut.
Denting langkah high heels yang teratur berbunyi dari arah pintu masuk.
Fandi mendongak, dan seketika napasnya tertahan. Maya melangkah masuk menyusuri koridor. Dia mengenakan busana blazer terusan berwarna krem elegan dipadu dengan celana bahan berpotongan rapi. Rambut bob layer-nya ditata sempurna, memancarkan pesona wanita berkelas yang tenang dan berwibawa. Di sampingnya, seorang pengacara pria berjas rapi membawa map tebal, mendampinginya dengan penuh rasa hormat.
Tidak ada raut kesedihan, trauma, atau trauma masa lalu di wajah Maya. Yang ada hanyalah ketenangan mutlak seorang wanita yang sudah menang atas emosinya sendiri.
"Maya..." gumam Fandi refleks berdiri, melangkah mendekat.
Pengacara Maya dengan sigap mengambil posisi satu langkah di depan Maya, membentangkan tangan secara sopan. "Maaf, Pak Fandi. Jika ada hal yang ingin disampaikan terkait materi persidangan, silakan bicarakan melalui saya selaku kuasa hukum Mbak Maya."
Fandi menepis tatapan pengacara itu, matanya memohon lurus ke arah Maya. "May... kita gak bisa bicara sebentar saja? Cuma kita berdua."
Maya menghentikan langkahnya, menatap Fandi dengan pandangan datar seperti menatap orang asing yang kebetulan bertanya arah jalan.
"Gak ada lagi yang perlu dibicarakan, Mas," jawab Maya ramah, tapi dinginnya menusuk. "Semua poin tuntutan sudah tertera jelas di berkas pengacara saya."
"Tapi anak-anak, May!" Fandi memajukan badannya, suaranya naik setengah oktav karena panik. "Arka, Arki, sama Kirana itu anak-anakku juga! Kamu gak bisa ambil hak asuh mereka gitu aja!"
Maya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tipis, hampir mirip cibiran halus.
"Hak asuh?" Maya melipat kedua tangannya di depan dada. "Waktu kamu setuju kami keluar, kamu bahkan gak nanya anak-anakmu bakal tidur di mana atau makan apa besok pagi, Mas. Kamu cuma sibuk mikirin Siska dan studio barumu. Sekarang, waktu hidupku sudah tertata, kamu baru ingat kalau kamu punya anak?"
Kata-kata Maya bagai sembilu yang menghujam dada Fandi. Pria itu bungkam, tak sanggup menyusun satu kalimat pun untuk membela diri.
"Sidang Nomor 0412 atas nama Fandi dan Maya Indah Pratama, silakan memasuki Ruang Sidang Utama."
Bersambung...